mimpi copywriter (12) interview dengan shesheque

Sore itu, di bengkel mesin yang bercampur dengan bengkel kayu, tukang-tukang sibuk dengan komputernya masih-masing. Mereka merangkai kayu menjadi satu design print ad keren. Gergaji mesin menyala. Api biru dari las menjilat-jilat ujung besi. Tai kayu terbang kemana-mana. Kompresor untuk mengisi angin terdengar bising. Sebenarnya, ini bengkel, tempat kerajinan kayu atau kantor biro iklan ya? 

Saya berpikir keras.

Belum juga berpikir keras saya menjawab teka-teki di kepala, bengkel, tempat kerajinan kayu atau kantor biro iklan berubah jadi dapur untuk memasak.

Di dapur ini ada komputer, talenan, sayuran dan pisau. Seorang pria duduk di samping kompor gas sambil memegang pisau dan wortel. Sepertinya saya kenal pria ini. Pernah bertemu, tapi di mana ya? Saya lupa sama sekali.

Dari gerak-gerik dan garis wajahnya, sekilas saya tahu dia itu Shesheque.

Yep! Shesheque!

Saya tidak salah. Pria yang duduk di samping kompor gas itu adalah Shesheque. Seorang Creative Director salah satu biro iklan terkenal di Jakarta. Kenapa dia ada di dapur?

“Bawa porfolionya?” tanyanya tiba-tiba.

“Gue?”

“Iyah.”

Tangannya masih memegang pisau dan wortel.

“Ada nih.”

Saya mengeluarkan map warna coklat dari balik baju.

Dia mengambilnya. Membuka-buka map tersebut. Saat itu datang seorang wanita berkulit putih ke dapur. Usianya mungkin 40-an. Tante-tante matang. Tubuhnya masih molek. Masih cantik. Ini kali ya yang namanya MILF!

Begitu panas dilihatnya. Sepanas kompor gas di samping Shesheque.

Rambutnya si tante tergerai basah-basah. Sepertinya baru selesai mandi. Ia mengenakan gaun putih setengah paha. Belahan dada sedikit terbuka. Dengan manja wanita itu langsung mendekati Shesheque. Memeluknya dari belakang sambil merayu-rayu Shesheque untuk pergi dari dapur.

Antara risih dan merinding. Itulah yang saya rasakan ketika melihat adegan itu.

“Sebentar ya. Ini lagi mau ngebrief anak baru nih. Mau gue suruh bikin iklan radio.”

Shesheque mengibaskan tangannya ketika wanita itu menggelayut.

“Loe bisa bikin iklan radio, ’kan?” tanya Shesheque.

“Ya, bisalah!” jawab saya, tetapi mata saya tetap tertuju ke arah wanita itu.

“Okeh. Loe bikin iklan radio. Sama satu lagi ya. Tolong cariin gue copywriter senior.”

Shesheque menyodorkan selembar kertas. Kemudian dia mengiris-ngiris wortel di atas layar komputer.

“Gue mau masak dulu. Selesai masak. Kasih gue ya iklan radionya.”

“Sip!”

Saya keluar dari dapur tersebut. 

Ternyata dapurnya ada di pinggir jalan. Jalannya saya lupa-lupa ingat. Tapi kalau melihat pohon-pohonnya, ini seperti jalan menuju ke Pelabuhan Ratu. Banyak pohon karet di sekitarnya. Saya berjalan di pinggirnya hingga waktu yang tidak bisa saya hitung dan saya tidak pernah sampai ke tempat tujuan. Karena saya tidak tahu harus kemana. Sementara iklan radio pun tidak pernah saya buat atau pun pikirkan. Saya sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya perjalanan ini segera berakhir.

Perjalanan saya baru berakhir ketika alarm berbunyi tepat pukul lima pagi.

31012010

“sonofmountmalang”

Note: Di dunia nyata, saya bertemu Shesheque hanya sekali di Tea Addict, waktu ada acara kumpul-kumpul para copywriter. Sebelumnya saya bertemu dengannya di dunia maya saja

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s