The Devil and Miss Prym

 

Kalau Anda menemukan dompet berisi uang kertas sebanyak sebanyak sepuluh ribu dolar di tengah jalan. Di dalam dompet itu, selain uang, ternyata ada juga KTP berikut alamat lengkap si pemiliknya, kira-kira apa yang akan Anda lakukan dengan dompet itu?

 

Sekarang Anda berpikir keras. Sambil berpikir keras, saya akan menguraikan sedikit bocoran novelnya Paulo Coelho, The Devil and Miss Prym. Sebelum membaca ini, saya sempat, semoga tidak salah, membaca twitt-nya Paulo Coelho, yang berisi kalimat, kurang lebih, ”Kita bisa menceritakan cerita hanya dengan enam kata. Sementara penulis-penulis itu menulisnya dengan bahasa njlimet sampai berhalam-halaman.”

 

Dalam novel The Devil and Miss Prym, harusnya Paulo Coelho cukup menuliskannya dalam enam kata. Maka, orang sudah bisa mengerti. Tetapi kemudian, enam kata itu ia kembangkan menjadi ala sinetron panjang. Hasilnya, cerita perjalanan seorang pria yang datang ke Viscos, sebuah desa damai, penuh kejujuran dan tidak pernah terjadi kejahatan sedikit pun. Namun dihuni oleh orang-orang tua, tanpa anak muda (kecuali Miss Prym) apalagi anak kecil. Pertanyaan geli pria ini terlontar, ”Apakah manusia dilahirkan dalam keadaan jahat atau baik?” Pria ini ingin mencari jawabannya. Untuk mencari jawabannya, tentu saja dia harus memerankan tokoh iblis, penggoda penduduk desa untuk melakukan kejahatan.

 

Pria itu pun mulai melancarkan aksinya. Dia menggoda layaknya iblis sejati. Dia menggoda dengan berbatang- batang (11 batang) emas yang ditanam di hutan. Janjinya sederhana, barang siapa yang mampu membunuh salah satu dari penduduk desa itu, maka batangan emas tersebut akan menjadi milik seluruh desa. Lantas, terjadilah pergulatan di dalam diri masing-masing penduduk. Pergulatan ini merupakan pergulatan baik dan jahat. Semua orang memiliki sisi jahat dan semua orang memiliki sisi baik. Tidak ada orang yang hanya memiliki sisi baik. Dia pasti memiliki dua-duanya. Cuma masalah bagaimana mengendalikannya saja. Banyak Ustadz, Pastur, Pendeta atau pemuka agama yang berbuat cabul atau jahat. Padahal mereka sudah memiliki cap baik di mata masyarakat. Kejahatan dan kebaikan itu tidak memandang strata sosial atau pun jabatan seseorang. Karena keduanya lahir pada waktu ketika kita dilahirkan.

 

Sesederhana itu pemikiran novelnya Paulo Coelho. Ada makna yang bisa menjadi renungan. Sisi manakah yang melekat pada diri kita sekarang ini. Atau pertanyaannya, lebih besar mana pengaruhnya dalam diri kita saat ini? Sisi baik atau sisi jahat? Kita bisa dengan mudah mengenalinya, namun mengendalikannya tidak semuda mengenalinya. Tapi jangan sedih, kita bisa mudah mengendalikannya jika kita tahu caranya. Well, SEMUA ADA SENINYA. Ya kan? Hiiiii!

 

Bagaimana caranya? Untuk mengendalikannya, kita perlu lebih mengenal lebih dekat kedua sisi ini. Jika sudah mengenalnya, kita bisa tahu kelemahan dan kelebihannya. Jika sudah tahu, kita bisa menekan, bahkan mengubur sisi jahat kita dan menghidupkan sisi baik kita dan pada akhirnya kita bisa menikmati hidup dalam kedamaian sejati. Ah, gampang ya? Cuma gitu doank.

 

Begitulah. Sepertinya terlihat sederhana ya. Meksipun sederhana, tetap saja membuat kita bertanya-tanya, apakah yang kita lakukan sekarang ini baik atau jahat? Apakah itu kebaikan dan apakah itu kejahatan? Bisakah kita berbuat jahat sekaligus berbuat baik? Kenapa kita harus berbuat baik dan kenapa tidak boleh berbuat jahat? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa kita jawab, bisa juga tidak. Tergantung bagaimana kita memaknai jahat dan baik.

 

Nah, sekarang Anda sudah berpikir lama kan? Bagaimana? Sudah memutuskan uang ribuan dolar yang sekarang di tangan Anda mau dikemanain?

 

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s