mimpi copywriter (27) jose mourinho itu sadis!

 

 

Tidak pernah terpikir bahwa saya akan memiliki bos terkenal di seluruh dunia. Dia adalah Jose Mourinho. Bos baru saya. Dia menjadi pelatih di tim tempat saya kerja sekaligus tim bermain bola. Peranginya galak. Sedikit-sedikit ngebentak. Dia pelatih sekaligus bos emosian.

Darah tinggi tepatnya.

“Kalau mau juara, jangan berhenti latihan! Jangan berhenti mikir! Jangan berhenti kerja! Latihan! Kerja! Latihan! Begitu caranya! Ngerti kalian!” bentaknya di depan kami semua.

Kami manggut-manggut di balik meja. Saya ini pekerja iklan atau pemain bola? Jose Mourinho ini pelatih bola atau Creative Director iklan?

Jawabnya, dia menjabat dua-duanya. Tapi semenjak dia mulai menjadi atasan saya, kehidupan saya dan teman-teman lainnya tidak tenang. Siang malam harus latihan bola sambil memikirkan iklan yang KEREN!

Bayangkan, menggocek bola, melawan musuh dan semua kegiatan persepakbolaan harus disambi dengan ngide iklan. Bos gila! Jose Mournho tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, dia itu orangnya lemah lembut, manis dan tidak banyak bicara. Ternyata, faktanya, dia itu rewel kaya emak-emak, bengis kaya Genghis Khan, galak kaya buldog. Kata-kata pedas kaya cabe rawit. Satu lagi, emosinya meledak-ledak kaya petasan.

Terkadang, ketika kami sedang berpikir keras di balik meja, tiba-tiba saja dia datang sambil menendang meja, menyuruh kami lari ke lapangan, menggiring bola dan latihan sampai tenaga hilang. Setelah itu dia akan bertanya,”Sekarang, idenya mana?”

Gila! Jose Mournho benar-benar tidak manusiawi.

Akhirnya, kami semua tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun dia mencak-mencak di depan kami menagih ide, kami tetap diam seribu bahasa, menahan lelah tak terkira.

“Fuck! Kalau begini, mana kita jadi JUARA! Fuck! Fuck!” umpatnya sambil melempar bola ke atas meja.

Dia pergi penuh amarah.

 

Di sesi lain, ketika kami sedang bercanda ria, Jose Mourinho datang membawa kotak besi.

“Tau ini isinya apa?” tanyanya.

Kami semua geleng-geleng kepala.

“Ini isinya, ratusan ribu dolar. Tapi cara bukanya nggak semua orang tau. Eh, kamu, tolong taroh di bawah kasur.”

Dia menunjuk ke arah saya.

“Buat apa, pak?”

“Ini dana pensiun. Mau liat?”

Jose Mourinho membuka kotak besinya. Dia mengambil bergepok-gepok uang ratusan dolar.

“Ini buat saya. Sisanya simpan di bawah kasur buat jaga-jaga kalau ada bencana.”

Jose Mourinho memberikan kotak besi ke saya. Saya mengambilnya. Masuk kamar. Menyimpannya di bawah kasur. Setelah itu, saya kembali bercanda hangat di keriuhan teman-teman sekantor. Eh, setim bola juga.

“Fuck! Kerja! Latihan! Bangun!”

Di sesi berikutnya Jose Mourinho memaki kami semua. Dia bangkit dari tempat duduknya. Tangannya memegang pistol. 

“Fuck! Pemalas!”

Jose menembakan pistolnya ke para pemain. Satu-satu para pemain, pekerja iklan, teman sekantor tumbang. Saya bergetar di balik meja. Mourinho menembak membabi buta. Saya bersembunyi, tapi pelurunya mengenai bagian kanan perut saya. Agar tidak menjadi sasaran peluru berikutnya, saya menumbangkan diri. Pura-pura mati. Dia terus masih menembaki apa pun yang bergerak sambil teriak-teriak kegilaan.

Darah membanjiri lantai, tubuh berjatuhan dan jeritan orang-orang meninggal terdengar mengerikan. Darah dari perut saya pun mengalir. Bersyukur tidak terasa skait apa-apa.

Kemudian saya mendengar letusan terakhir. Tubuh Jose Mourinho ambruk di depan saya.

Dia bunuh diri.

Saya ketakutan. Berteriak minta tolong. Orang-orang mulai berdatangan. Saya melarikan diri menggunakan mobil Suzuki Katana warna pink. Entah punya siapa itu mobil. Tapi sebelum kabur, saya mengambil kotak besi berisi uang ratusan ribu dolar. Lumayan bisa kaya mendadak nih. Begitu pikir saya. Tancap gas.

Saya mencari kamar mandi untuk membuka kotak besinya. Namun, setiap kali masuk ke dalam kamar mandi, di sana ada cowok-cowok sedang mandi. Bugil pula. Mandinya pun ramai-ramai. Mereka mengajak saya untuk bergabung mandi bareng. Yaks!

Saya segera pergi mencari tempat aman untuk membuka kotak besi ini. Mungkin pergi ke kebun bisa membuat saya tenang.

Saya pun pergi ke kebun. Mirip perkebunan teh, tapi banyak persimpangan-persimpangan jalan setapak beraspal. Di setiap persimpangan-persimpangan jalan terdapat banyak penunjuk arah dari kayu lapuk. Tulisan di penunjuk arahnya itu saya lupa. Seinget samar-samar saya, tulisannya bersifat ilmiah. Susah dimengerti.

Di salah satu persimpangan, saya bertemu wanita berkulit putih, rambut lurus sebawah bahu, membawa tas selempang warna hitam, gelang beads warna pelangi, kalung kulit hitam melingkar di lehernya, pipi sedikit chubby, bibir gendut-gendut seksi, kaos coklat dan rok sedengkul. Saya lupa warna roknya. Ban pinggang warna merah hijau putih.

“Nyari siapa?” tanyanya saat melihat saya kebingungan.

“Nggak nyari siapa-siapa.”

“Jose Mourinho mati ya?”

Saya kaget dalam hati. Kok dia bisa tahu ya.

“Iya,” jawab saya, “Kok bisa tau?”

“Saya pegang rohnya di botol.” Ia mengambil botol dari tasnya, “Nih.” Ia menyodorkan botol ke depan saya,”Rohnya masih bisa bicara dengan saya, tapi memorinya belum komplit. Bicaranya masih suka hilang-hilang.”

Mati gue! Kotak berisi uang dolarnya ada di tangan saya. Jangan-jangan wanita itu tahu saya yang mengambil kotak besinya. Saatnya menjauhi wanita itu.

“Maaf ya. Saya buru-buru.”

“Kalau butuh bantuan, kita ketemu di persimpangan ini ya. Sekalian saya kenalin sama temen-temen saya.”

“Terima kasih.”

Saya pergi menjauh. Mencari tempat sepi untuk membongkar kotaknya.

Ketika saya pergi mencari tempat sepi, saya bertemu hal-hal aneh. Badak bercula satu lari-lari riang kaya Sherina di film Petualangan Sherina, preman-preman bermuka kuda merokok di pinggir jalan sambil ngamen, orang-orang makan di kandang kambing, sapi berkulit macan memanggul gelondongan kayu dan saya bertemu banyak binatang aneh lainnya. Untungnya tidak ada satu pun dari mereka yang mengganggu saya.

Saya sampai di atas bukit yang rimbun. Di situ saya membongkar kotak berisi uang dolar menggunakan batu. Saat dibuka, isinya bukan uang dolaran melainkan air teh dalam kantong plastik.

“Gukanan sandi untuk membuka kotak berisi agar jadi uang. Kalau salah, maka hanya jadi cairan.”

Begitu bunyi tulisan di dalam kotak besinya. Cakep dah! Cape-cape nyari tempat sepi, eh tahunya salah sandi. Bukan dolar yang didapat tetapi the dalam plastik.

Ini gimana? Mungkin wanita pembawa roh Jose Mourinho tahu caranya mengembalikan teh jadi uang dolar. Saatnya menemui wanita itu di persimpangan.

Saya turun dari bukit. Menemui wanita itu di persimpangan. Di sana sudah menunggu dua wanita muda lainnya.

“Kenalkan, ini teman saya,” wanita itu mengenalkan dua temannya,”Yang ini jomblo. Yang ini lagi nyari pacar.”

Saya menyalami wanita muda pertama, kemudian mencium pipi wanita kedua. Saatnya menyatakan cinta. Saya merasakan, serius, kalau saya naksir wanita muda itu. Cinta dan rasa yang absurd. Tiba-tiba muncul di situasi yang tidak pernah saya inginkan.

Pembicaraan di persimpangan tidak terekam jelas. Terlalu banyak memori blur. Saya harus kembali fokus ke bagaimana caranya supaya teh ini berubah menjadi dolar.

“Nanya deh sama rohnya Jose Mourinho. Cara bikin teh jadi dolar gimana?”

Saya mendekati wanita itu.

“Oh, itu. Kalau nggak salah, dia pernah bilang, kotak besinya dicuri orang. Hanya yang tahu cara bukanya yang bisa menemukan dolar di dalamnya.”

“Nah, itu caranya gimana?”

“Katanya tinggal diputer kuncinya.”

“Segampang itu?”

“Katanya sih gampang. Kaya gini caranya,”

Wanita itu mengambil kotak besi yang sudah rusak. Jantung saya berhenti ketika melihat kotak besi itu. Jangan-jangan dia sudah tahu siapa yang mengambil kotak besinya.

Celaka!

Dia menunjukkan cara membuka kotak besinya di depan saya. Mudah sekali caranya. Andai saja saya tahu dari dari beberapa jam lalu, saya pasti sudah memegang ratusan dolar. Bodoh ah!

“Kamu tahu siapa yang bongkar kotak besi ini?”  saya ngetes wanita itu.

“Saya tidak tahu, tapi roh Jose Mourinho akan ngasih tau nanti kalau rohnya sudah pulih 100 persen.”

“Kapan pulihnya?”

“Beberapa jam lagi.”

“Terus kalau pulih jadi apa?”

“Rohnya akan berubah lagi jadi orang.”

“Hah!?”

Saya kaget bukan kepalang. Takutnya bukan main. Kalau dia kembali berwujud manusia, dia pasti akan balas dendam karena kotak besinya saya ambil. Jadi, sebelum dia kembali ke dunia, saya harus enyah dari tempat ini. Saya harus menjauh dari wanita ini.

“Maaf, saya ada urusan. Ketemu lain kali ya.” Pamit saya.

“Mau kemana?”

Wanita itu menahan saya. Dia ingin saya tinggal lebih lama di persimpangan. Saya ingin tinggal dengan wanita muda imut-imut ini, tapi demi lepas dari cengkraman Jose Mourinho, saya harus pergi sekarang juga.

Sebelum pergi, saya ngecek teh di saku celana. Belum berubah jadi uang juga. Nanti deh kalau ada kesempatan mengambil kotak besi, saya akan melakukan instruksi tepat supaya teh ini berubah menjadi uang ratusan dolar.

Niatnya saya ingin pergi keluar dari persimpangan, tetapi saya terus berputar-putar di situ. Sudah jalan jauh, saya kembali lagi ke persimpangan. Bertemu wanita-wanita itu lagi. Seperti berjalan di lingkaran setan. Saya kembali ke titik awal.

Setiap bertemu persimpangan itu, pandangan saya mengabur sekian persen. Terus berulang sampai pandangan saya terhadap wanita-wanita itu semakin mengabur, mengabur dan mengabur. Hingga akhirnya mata saya tidak bisa lagi melihat yang terjadi di depan mata dan tidak ada lagi yang bisa saya ceritakan kelanjutannya. Karena saya menghentikan perjalanan saya di mimpi dengan membuka mata.

Selamat pagi, dunia! Mari kerja dan jangan berharap kantong-kantong teh itu menjadi uang ratusan dolar. *:p* *Hiks*

 

“sonofmountmalang”

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s