The Bang Bang Club

Heran. Lebih tepatnya bingung. Sebenarnya, apa sih yang diributkan orang-orang ketika perang suku. Kulit sama-sama hitam, agama sama-sama nyembah pohon. Apa sih? Hingga sampai bunuh-bunuhan, gorok-gorokan, bakar-bakaran, tembak-tembakan. Saking terpukaunya oleh keanehan itu, salah satu jurnalis foto nanya ke kelompok yang bertikai,”Kenapa sih loe bunuh orang. Apa alasan loe?” Orang yang bertikai itu menjawab,”Nggak perlu alasan untuk membunuh, membacok, membakar.”
Jurnalis foto itu cuma geleng-geleng kepala. “Edan!” sumpahnya.
Itulah catatan sederhana film berjudul The Bang Bang Club. Film tentang empat jurnalis foto, Ken Oosterbroek, Greg Marinovich, Kevin Carter dan Silva,  yang meliput perang antar suku di Afrika Selatan. Mereka mengabadikan setiap momen-momen mengerikan dengan kamera foto. Semakin sadis gambaran tentang perang antar suku, semakin bahaya dan semakin bernilai pulalah fotonya.
Istilah The Bang Bang Club lahir dari sebuah artikel majalah di Afrika Selatan. Sebelumnya bernama The Bang Bang Paparazzi, tetapi para jurnalis foto ini tidak setuju dirinya disebut paparazzi. Karena mereka terjun ke tengah pertikaian, tidak pernah sembunyi-sembunyi ketika mengambil gambar. Atas dasar itulah namanya diubah menjadi “Club” saja.
Kenapa “Bang Bang” ya? Oh, menurut informasi sejarahnya, saat mereka mengambil gambar, terdengar suara tembakan dan ledakan di sana sini. Disebutlah “Bang Bang” oleh jurnalis tulis.
 
Dari The Bang Bang Club itulah lahir jurnalis foto andal. Foto-fotonya mendunia. Salah satu jurnalis foto, Greg Marinovich memenangkan Pulitzer untuk “Spot News Photography” pada tahun 1991. Beberapa

tahun kemudian, Kevin Carter, salah satu anggota The Bang Bang Club, jurnalis foto pecandu narkoba, berkeinginan untuk mendapatkan Pulitzer, akhirnya berhasil juga pendapatkan penghargaan. Karyanya mengguncang dunia berjudul Vulture. Ia menjelajahi Sudan setelah muak melihat pertikaian di Afrika Selatan. Mengabadikan perang, kekerasan antar suku, seperti candu bagi para jurnalis foto ini. Karena di sini lah ladang seni mereka, tetapi bisa jadi, di sinilah juga ladang kematian mereka. Hal itu terbukti dengan tertembaknya Ken Oosterbroek. Ia meninggal setelah terkena peluru tajam saat mengabadikan perang.
 
Menjadi jurnalis foto di medan perang bukanlah pilihan tepat. Terlalu banyak kejadian mengerikan dan tidak masuk logika. Itulah sebabnya, banyak jurnalis menjadi miring, depresi, bahkan bunuh diri. Dan, Kevin melakukannya. Dia bunuh diri di usia 33 tahun dengan menutup knalpot mobil dan menghirup CO2 dengan catatan kecil yang ia tinggalkan.
 
“I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken [recently deceased colleague Ken Oosterbroek] if I am that lucky.”
 
Bagi Anda, penyuka film semi dokumenter atau pun based on true story tentang jurnalis foto, silakan tonton The Bang Bang Club!
 
“sonofmountmalang”
 
 
Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s