Singapura, Negeri Mainan

Saya tidak pernah keluar dari Indonesia. Di kepala saya, jika pun ingin keluar Indonesia, saya ingin ke Italia, Spanyol, Tibet, Jerusalem, Maldives, Afrika dan negara-negara dengan ragam budaya lainnya. Jika pun tidak diberi kesempatan untuk bisa pergi keluar negeri, maka keliling Indonesia menjadi cita-cita saya sebelum meninggal dunia.

Tetapi suratan takdir berkata lain. Saya mendapatkan jalan keluar negeri untuk tugas kantor.

Bukan liburan ya.

Catat itu!

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negeri orang. Norak ya! Padahal dalam batin saya, tidak sekali pun merasa bangga bisa pergi ke negeri yang tanahnya hanya secuil saja. Di sisi lain saya juga bersyukur karena bisa mencicipi rasanya udara luar negeri.

Oh, begini tho rasanya luar negeri.

Lantas negeri apakah itu? Negeri yang tidak asing lagi di telinga. Negeri dimana banyak perusahaannya berkembang dan membeli saham perusahaan di Indonesia. Negeri dimana para koruptor pergi untuk mengaburkan diri dan menyembuhkan sakit. Negeri yang konon meluaskan tanahnya dengan menutup lautan dengan pasir curian dari Indonesia. Gosip ajah.

Inilah negeri Singapura. Bersih, teratur, rapi dan terpola. Hidupnya seperti kota mainan. Ritme geraknya sama. Cepat. Gesit. Orang-orang berjalan, orang-orang berhenti tanpa memerdulikan ada apa di sekitarnya.

Saya salut dengan negeri tetangga satu ini. Penduduknya dimanjakan dengan fasilitas umum yang nyaman. Trotoar lebar, udara plong, jalanan bersih, transport enak dan cepat. Anak-anak muda bermanja-manjaan di sudut kota, di bawah pohon, di depan mall. Cocok sepertinya membuat membuat film romantis modern di sini. Sepertinya lho. Ini tebakan saya ya.

Dan banyak hal menarik lainnya di negeri ini. Semuanya dirawat dan ditata dengan baik. Tapi ada pertanyaan geli di kepala saya, ini gedung setinggi-tinggi begini, jalanannya kok lengang ya, malnya juga tidak seramai mal-mal di Indonesia. Kemanakah orang-orang dan siapakah yang menghuni bangunan bertingkat itu? Jangan-jangan, gedung ini dibangun hanya untuk icon bahwa ini negeri maju. Eh, jangan-jangan lho ya.

Sudah ya memuji-mujinya. Kini, bicara soal makanan. Singapura, kasarnya saya, khususnya warga sana, tidak memiliki lidah seistimewa orang Indonesia. Makanan sucks! Hambar. Tidak enak. Mungkin karena saat melayani mereka tidak pernah tersenyum ramah, menyapa seperti, “Giordanonya kakaaakkkk!!” atau “Silakan, mau pesan apa?” sambil senyum. Ternyata, senyum di negeri ini memang lebih mahal.

Selain geraknya yang cepat, bicara mereka pun cepat. Entah saya yang tidak bahasa Inggris atau gimana ya. Setiap kali saya pesan makan, orang Singapura itu selalu nanya,”Sirllll! i hir!?” sambil nunjuk ke lantai. “i her?!” (dibaca i bukan ai ya:p)

Maksud lho?!

Oh, eat here. Lama-lama saya ngerti. Jadi tiap kali pesan makan, penjualnya ngomong i her, tanpa basa-basi saya langsung jawab yes! Kelar masalah.

“I her?!”

“Yes!”

“I her?!”

“Yes!”

Plaaaak!

Sadar ‘kan, negeri sendiri memang terasa memiliki nilai lebih. Makanan, orang-orangnya dan banyak lagi yang kita miliki tetapi tidak dimiliki negeri lain. Tidak heran kan Malaysia mencuri-curi budaya kita. Karena kita memang negeri kaya raya! Dan boleh saya berkata jujur, satu-satunya makanan enak yang bisa saya nikmati dengan mata merem melek adalah Burger King. He’hoh!

Lidah saya disiksa dengan harus menikmati makanan tidak enak. Kalau sudah begini, saya ingin segera kembali ke Indonesia, melahap Nasi Goreng, Nasi Padang, Gado-Gado, Rawon, Sop Buntut, Sate Kambing, Soto Betawi, Nasi Uduk dan makanan super dahsyat lainnya, yang hanya dimiliki negeri super KAYA RAYA, negeri Indonesia.

Kesimpulannya, Singapura memang negeri yang membuat saya berdecak hebat, geleng-geleng kepala, membandingkannya dengan negeri sendiri. Dan saya masih berani bilang sebusuk apa pun pemerintahan, birokrasi dan tetebengek, ”Indonesia tetaplah negeri saya. Tetap mencintainya dan bangga sudah lahir, tinggal dan kelak akan mati juga di tanah Indonesia!”

Jadi, apa pun alasannya, ke negeri mana pun saya akan pergi, sepertinya saya akan tetap merindukan Indonesia. Negeri yang kaya di semua sendi kehidupan, ramah, murah, namun sayangnya negeri kita dibangun dan dipimpin mahluk KEMPRUL korup sampai napas di ujung tembolok. Hiuh…..! Sedih ya. Eaaa!

Next time, tunggu tulisan saya kalau sudah jadi backpacker ke negara EROPA! Tibet, Turki, China, Jepang Libya, Somalia, Afrika…..*ngimpinya*

Tapi sebelum keliling dunia, kelilingi Indonesia dulu ya! Mari!

“sonofmountmalang”

 

 


 

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s