Seven Days in Bali; Cafe Seniman

 

Sore-sore di hari ketiga saya kembali jalan-jalan santai di sekitaran Ubud untuk mencari tempat ngopi yang enak. Sebenarnya ada niat lain, yaitu menyambangi Toko Smile. Toko yang menjual barang dengan harga ala kadarnya. Barang-barangnya unik-unik. Sayang sekali tokonya tutup. Yah, begitulah Bali. Tutup buka tidak bisa diduga.

Beruntung di sebelahnya ada café lucu. Cafe Seniman   namanya. Ini tempat ngopi yang unik. Bisa duduk-duduk di kursi goyang sambil menunggu kopi pesanan diracik barista di hadapan kita. Duduk di balkon menghadap jalan melihat orang lalu lalang. Duduk di meja berbagi besar ramai-ramai dengan sofa nyaman. Silakan pilih tempat duduk yang pas untuk bersantai.

Sekarang, mari kira memesan Bali Kintamani. Saya memesan Kintamani Dark. Yuk! Kita lihat bagaimana barista ini menciptakan secangkir Kintamani maha dahsyat!

Pertama dia menimbang biji kopi. Setelah timbangannya pas, kopi digiling. Aromanya mulai tercium tajam. Khas wangi Kintamani. Lalu dia menyiapkan Siphon, menyiapkan pemanas, air biasa dan air dingin dan pengukur suhu air. Setelah semua siap, dia menuangkan air dan menyalakan api. Dengan hati-hati dia mengukur suhu air. Suhu airnya harus mencapai 60-80 derajat. Jangan sampai lebih dari 80. Harus di bawah 80 derajat dan di atas 60 derajat. Kopi terbaik yang bisa menghasilkan aroma dan rasa pas, suhunya di sekitaran itu. Jika lebih atau kurang, bersiaplah menikmati kopi dengan rasa biasa saja. Begitu kata baristanya.

Saat suhu mencapai di atas 60 derajat, sang barista menuangkan kopi. Dia mengaduknya dengan sangat hati-hati. Sesekali mencium aromanya. Ketika sudah pas, dia menuangkan kopi dari Siphon ke dalam toples bekas selai dan sejenisnya yang sudah beralih fungsi menjadi penyimpan kopi panas. Dia menyajikannya dalam sebuah nampan kecil yang terdiri dari toples berisi kopi panas, gelas kecil untuk menuangkan kopi, cemilan roti kecil dan gelas berisi air dingin. Ini penyajian yang cukup unik.

Dengan penuh nafsu, saya langsung menelan bulat-bulat segelas kecil Kintamani pahit. Wangi dan rasa pahitnya sangat Kintamani sekali. #sotoy!

Sementara itu, di sebelah saya, enyom @dwiyuniartid pun terlihat kagum dengan cara penyajiannya dan pelan-pelan menikmati kopi susunya.

Seru ya! Saya jadi ingin berlama-lama duduk di Cafe Seniman  . Memanjakan penciuman dengan aroma kopi dan suasana café yang begitu santai.

Sambil menunggu pembisik saya, @megalomankoe, datang untuk gabung dalam rangka ngobrol rencana hari keempat mau kemana, saya memesan satu lagi Bali Kintamani. Kali ini saya memesan yang Kintamani Light. Dan ya memang, rasanya lebih ringan, namun tetap nikmat.

Tidak lama berselang, @megalomankoe datang dengan vespa kinclong warna krem. Rupanya dia sering ke Cafe Seniman   untuk Open Class mengajar Bahasa Indonesia, dan tentu saja mengenal barista plus pemiliknya. Pemiliknya bule rupanya. Wah! Asik sekali hidupnya ya. Tenang ya, soal siapa @megalomankoe akan ada tulisannya nanti di ujung cerita.

Jika punya uang lebih, di Cafe Seniman   ini juga bisa membeli perlengkapan untuk membuat kopi, sekaligus kopinya. Kopi yang dijual berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Harganya juga tidak mahal. Paslah untuk dompet. Sayang seribu sayang, saya harus sedikit berhemat. Padahal ngiler ingin membeli Shipon dan penggilingan kopi kecil. Hiuh! Dompet dan ATM sudah mulai mengerang nih. #liburankere!

 

Lalu, akan pergi kemanakah hari keempat besok? Saya, @dwiyuniartid dan @megalomankoe serius membahas rute jalan-jalan. Sepertinya pantai menarik juga ya. Okeh! Kami memutuskan untuk meleyeh-leyehkan diri di pantai sepi hasil temuan @megalomankoe.

Pantai apa namanya? Di Bali bagian mana? Tunggu postingan berikutnya ya.

Sekarang, mari mengangkat pantat dengan berat untuk mengisi perut di warung murah meriah tidak jauh dari Cafe Seniman  . Warung Ijo. Warna catnya hijau ngejreng. Di sini menyediakan makanan prasmanan. Makan bertiga hanya 44 ribu saja. Murah meriah, bukan? Isi makanannya sangat warteg sekali. Buat para backpacker pengiritan, Warung Ijo tempat yang pas untuk menggembungkan perut tanpa harus menyiksa dompet.

 

Perut sudah kenyang. Badan sudah lemes. Itu tanda-tanda harus istirahat. Besok akan diberikan kejutan oleh @megalomankoe dengan membawa saya dan @dwiyuniartid suatu tempat tersembunyi.

Mari memejamkan mata di bawah bulan purnama yang mengintip di balik jendela kaca. Zzz….!

 

Sssttt….! Jangan lupa. Tunggu postingan hari keempat di Seven Days in Bali ya:)

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Seven Days in Bali; Cafe Seniman

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s