Dongeng (11) Hantu Caruluk

Mau dongeng apa malam ini? Begitu tanya pacar saya. Saya bingung. Dongeng apa ya kira-kira enaknya. Kamu mau dongeng apa malam ini? Seru, serem, tegang atau sedih?

    “Oh, ada dongeng sedih juga?”

    “Ada.”

    “Aku nggak mau dongeng sedih ah.”

    “Tapi suatu saat, bagian sedih ini akan terdongengkan juga.”

    “Aku belum siap ah. Yang senang-senang dulu aja. Dongengin dua sahabat kamu aja.

     Pasti seru.”

    “Hmmm…! Jangan sekarang. Nanti saja. Sebelum ke mereka,

       sebenarnya aku mau ngasih background banyak dulu soal kehidupan

      di kaki Gunung Malang. Biar nanti nggak nanya-nanya ini apa itu apa.”

    “Ohhhh…!”

    “Sekarang ini aku mau dongeng semua keseruan di kaki Gunung Malang dulu.”

    “Kalau yang serem?”

    “Banyak.”

    “Serem banget nggak?”

    “Banyak!”

    “Serem dikit?”

    “Ada juga. Mau?”

    “Yang serem dikit deh.”

    “Oke!”

    “Tapi aku takuuutt!”

    “Hiyah! Seremnya seru kok.”

    “Bener ya?”

    “Iya.”

    “Okeh! Aku siaappp…!”

Ritual paling menyenangkan sebelum dimulainya mendongeng adalah menuangkan kopi panas super pahit dari termos kecil ke dalam cangkir seukuran lucu sloki. Enaknya menyimpan kopi di termos kecil itu kepanasan kopi tetap terjaga selama dua sampai tiga jam atau lebih. Meskipun barista-barista di seluruh dunia bilang, rasa kopi akan berubah dalam waktu menitan, saya sih tetap tidak peduli. Selama aroma, panas dan pahitnya terjaga, kopi itu masih tetap layak untuk dinikmati. Malam ini saya ditemani kopi Papua Wamena. Wanginya manis dan menggoda. Sluurrpp! Glek!

Tanpa bertele-tele, maka marilah minum kopi, sebagai ritual sakral sebelum mendongeng. Yuk!

Malam ini saya akan mendongengkan sesuatu yang serem. Hiiiiiii….! Judulnya HANTU CARULUK!

Di kaki Gunung Malang, sosok hantu caruluk merupakan sosok paling ditakuti. Khususnya untuk ibu-ibu yang baru melahirkan anaknya. Hantu caruluk dipercaya suka mengambil nyawa bayi yang baru lahir.

Sebelum mengetahui bagaimana caranya hantu caruluk mengambil nyawa bayi, saya akan kenalkan sama hantunya ya.

Hantu caruluk tinggal di pohon caruluk. Dalam bahasa Indonesia disebut pohon aren. Caruluk merupakan buah aren. Bagian dalam buahnya banyak ditemukan saat bulan puasa. Orang Jakarta biasa menyebutnya kolangkaling. Sebagian orang di kaki Gunung Malang, jika bulan puasa tiba, suka mengupas buah caruluk setelah direbus menggunakan drum, untuk dijual ke penduduk lainnya. Mereka melarang anak-anak mendekati buah caruluk mentah. Sebab, jika terkena getahnya, seluruh badan akan gatal sampai biru dan sembuhnya lama.

Apa hubungannya buah caruluk dengan hantu caruluk? Nah, mungkin, karena buahnya saja bikin gatal, apalagi hantunya. Begitu kali ya.

    “Ih, apa seremnya?”

    “Belum kelar ceritanya!”

Hantu caruluk tidak selalu ada setiap malam. Ia hanya ada kalau sedang mengintai rumah-rumah yang di dalamnya ada bayi baru lahir. Kedatangannya ditandai dengan bola api melesat cepat, lalu jatuh di atap rumah penduduk dan terdengar bunyi pasir di atas genteng. Itu tandanya hantu caruluk sudah tiba di atas rumah. Tapi hantu ini tidak selalu jatuh di atap rumah juga. Kadang di sawah, di kebun, di hutan dan di sembarang tempat. Suka-sukanya hantu mau mendarat di mana.

Untuk mengantisipasi kedatangan hantu caruluk,  penghuni rumah disarankan menyalakan perapian, menyalakan lampu patromak, membakar menyan dan jangan berhenti memeluk bayi.

Bayi bayi yang sudah terkena hantu caruluk warna kulitnya akan berubah menjadi biru. Biasanya bayi baru tujuh hari dilahirkan sangat rentan terkena hantu caruluk. Jika bayi sudah berwarna biru, dia harus tetap dalam kondisi hangat, tidak boleh lepas dari pelukan ibunya dan tidak boleh terkena udara dingin atau pun udara luar. Kalau perlu, jangan membiarkan pintu terbuka.

Tidak semua bayi selamat dari hantu caruluk. Ada beberapa bayi meninggal dalam kondisi tubuh membiru. Penduduk kampung percaya, bayi tersebut sudah diambil nyawanya oleh hantu caruluk. Karena pengalaman soal hantu, seluruh ibu yang baru melahirkan, tidak pernah melepaskan anaknya dari pelukan selama tujuh hari. Lewat dari tujuh hari, hantu caruluk sudah tidak tertarik lagi dengan bayi tersebut. Jadi dia hanya mengincar bayi-bayi baru dilahirkan.

Setelah saya sekolah dan belajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam, barulah sadar, bahwa selama ini, setiap kali melihat bola api melesat dari langit dan jatuh di sembarang tempat itu bukanlah hantu caruluk. Itu adalah bintang jatuh. Nyaris setiap malam, saya bisa melihat hantu caruluk atau bintang jatuh di kaki Gunung Malang. Saya pun tidak pernah takut lagi dengan hantu caruluk. Malah suka menunggu di halaman rumah tengah malam, melihat ke langit dan tidak lama kemudian akan terlihat lesatan bolah api di langit. Rasanya sangat mudah mendapati bintang jatuh di kaki Gunung Malang. Semalam bisa dua sampai tiga kali melihat bintang jatuh.

     “Wahhhh! Seruuu!”

     “Mau?”

     “Mauuuu!”

Kapan-kapan kita ke Gunung Malang ya. Saya siapin tiker di halaman rumah, tiduran melihat langit dan tunggu saja bintang jatuh melesat ke sawah, kebun atau tengah hutan. Kapan-kapan ya. Kalau ada libur cukup panjang.

Nah, soal bayi biru setelah dilahirkan, itu juga bukan karena hantu caruluk. Kulitnya biru karena bilirubinnya rendah. Kalau di rumah sakit bayi harus disinari dan dihangatkan supaya tidak biru lagi.

Masuk akal juga ya soal hantu caruluk, bayi biru, harus tetap dipeluk dan harus selalu hangat. Mungkin itu yang namanya kearifan lokal. Alih-alih bayi biru karena hantu caruluk dan harus diselamatkan dengan tetap menghangatkan sang bayi. Terlepas dari tahayulnya, kearifan lokal sangat berguna untuk mereka yang tidak tersentuh informasi dan teknologi.

     “Serem kan?”

     “Ahhh! Apanya yang seremm!?”

     “Hantu caruluknya.”

     “Itu sih bukan serem, malah seru, kan bisa lihat bintang jatuh setiap malam.”

     “Awalnya kan serem. Setelah tahu, jadi seru

      dan ketagihan lihat hantu caruluk alias bintang jatuh.”

     “Aku mau dong liat bintang jatuh. Di Jakarta nggak pernah lihat.”

    “Kapan-kapan ya kita bermalam di kaki Gunung Malang.”

    “Bener ya?”

    “Iya.”

    “Janji?”

    “Swearrr!”

    “Horeeee! Aku belum ngantuk. Dongeng seremnya nanggung.

     Dongengin yang lainnya dong. Yang lebih serem nggak apa-apa deh.”

    “Buat besok aja gimana? Kan satu malam satu cerita.”

     “Yahhhh!”

     “Aku mau gosok gigi dulu ya. Abis ini ngobrol ringan aja.”

     “Oke.”

Saya menggosok gigi.

Sekembalinya dari kamar mandi, pacar saya, Tala, sudah tertidur. Kali ini tidak terdengar suara ngoroknya. Dasar ya! Tidur kok secepat bintang jatuh. Enyom enyom…..!

Saya mematikan lampu, mematikan musik pengantar tidur, menarik selimut dan menutup mata di jam setengah dua belas malam. Mimpi yang manis buat semuanya.

Sampai di dongen berikutnya ya.

“sonofmountmalang”

Advertisements

17 thoughts on “Dongeng (11) Hantu Caruluk

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s