Dongeng (18) Babi vs Petani

    “Malam ini aku ada dongeng seru.”

    “Oh ya?”

    “Dongeng apa?”

    “Ini soal babi sama petani tapinya.”

    “Siap dengeriinnn!” ucapnya segirang  pada malam-malam sebelumnya.

Di kaki Gunung Malang, sekarang, kata penduduk, babi-babi semakin melunjak parah. Mereka sudah tidak takut manusia. Malah sebaliknya. Manusia takut sama babi. Jumlah babinya pun lebih banyak dari jaman apa apun. Sebabnya sederhana. Pertama, pemburuan babi dilarang polisi kampret. Hutan-hutan di pedalaman Gunung Malang ditebang dan dijual oleh antek-antek pemerintahan daerah. Kerja sama dengan kepala desa, polisi hutan dan dua penduduk serakah.

Efeknya, babi turun ke perkampungan. Mereka mencari makanan. Mereka datang ke kampung secara rombongan. Jumlahnya bisa mencapai 20 babi dalam satu rombongan. Babi-babi ini mengincar kebun ubi, kebun singkong, kebun tomat, pohon pisang, padi, kacang, jagung dan segala jenis hasil perkebunan. Babi-babi ini bisa menebang pohon pisang. Bisa mengupas tomat. Bisa menghabiskan setengah hektar jagung dalam semalam.

Untuk menjaga hasil perkebunan dari serangan babi di malam hari, para petani memasang bedug di tengah perkebunan. Sepanjang malam mereka menabuh bedug. Suaranya saling bersahutan dari satu kebun ke kebun lainnya. Para petani ini sempat memasang petasan karbit dari bambu. Katanya, babi-babi itu tidak takut petasan karbit. Sekalinya dinyalakan, babi-babi itu malah melotot. Ngajak ribut. Petani mana berani melawan babi. Kecuali mereka dipesenjatai senapan khusus berburu babi seperti ketika jamannya SI RIWEUH.

Nah, suatu pagi, seorang petani wortel dan bawang mendatangi kebunnya. Sebut saja namanya Pak Apri. Dia, kata penduduk kampung, datang ke kebunnya hanya untuk bersih-bersihin tanaman liar. Ia, Pak Apri itu, hanya membawa parang dan golok kecil.

Betapa ia kaget setengah mati ketika berada di tengah kebun, sesosok hitam pun kaget melihat Pak Apri. Rupanya, babi seberat dua kintal lupa balik ke hutan. Babi itu ketiduran di ladang bawang dan wortel. Kayanya sih kekenyangan bego. Oalahhh! Ternyata yang kekenyangan sampe bego bukan manusia saja ya. Babi jugaaa!

Berhubung Pak Apri kaget, babi kaget. Keduanya dalam posisi siaga. Pak Apri merasa terancam. Babi juga merasa terancam. Pak Apri yang ringkih, berusia 50 tahun, dengan golok kecil pun pasang kuda-kuda.

    “Kenapa Pak Aprinya nggak lari aja kaya kamu waktu itu?”

    “Kata pendudu kampung, Pak Apri berpikir, udah kadung di hadapan babi. Mati ya mati di tangan babi.”

    “Hebat juga prinsipnya.”

    “Hebat apaan? Kalau melawan babi dua kilo sih hebat tuh prinsipnya. Lha ini babi 2 kintal! Apa kata engkong babi!”

    “Hahhhahaah! Terus terus?”

Karena keduanya dalam posisi kadung, maka tanpa banyak kata, sang babi menyerang Pak Apri, Pak Apri pun menyerang sang babi. Pak Apri bermodalkan badan ringkih renta dengan golok kecil, sementara babi mengandalakan badan keker dua kintal dengan taring melenting. Mereka pun duel di tengah ladang bawang dan wortel. Hasilnya, lima jari Pak Apri digigit babi, dengkul bolong dihajar taring. Pak Apri babak belur. Babinya santai dengan luka hasil golok kecil. Beruntung para petani lainnya mendengar suara gaduh dan teriakan di tengah ladang. Mereka melihat duel tidak seimbang. Penduduk kampung pun menyerbu ladang. Mereka mengepung ladang dengan membawa berbagai senjata. Golok, pedang, celurit, arit dan kapak siap dihantamkan ke tubuh babi.

Tanpa bisa berucap maaf sang babi kepada petani, petani lainnya sudah menyapa kepala babi dengan kapak. Disambut sapaan-sapaan ganasnya golok, parang, celurit dan senjata tajam lainnya. Babi hitam seberat dua kintal itu rubuh di tengah ladang. Darah membanjiri tanah.

Babi pun mati. Pemuda setempat mengambil dua taringnya. Sementara tubuhnya dikuburkan di tengah ladang. Pak Apri yang terluka parah dibawa ke puskesmas. Sampai sekarang, kata penduduk, Pak Apri belum bisa jalan. Luka di dengkulnya belum sembuh. Kata mereka, racun dan segala jenis bakteri dari taring babi membuat lukanya semakin parah.

Begh! Dasar babi! Kelakuannya semakin menjadi-jadi. Kaya koruptor ya. Ehhhh!

    “Sudah ya. Dongeng BABI vs PETANINYA. Sudah selesai.”

    “Mau dongeng lainnya dong.”

   “Tentang BUKIT TINGGI kayanya seru. Mau?”

    “Mauuuu!”

    “Tapi aku mau bikin kopi dulu ya. Boleh?”

    “Boleh.”

Sebelum dongeng tidurnya berlanjut, saya ke lantai bawah. Rencana mau membuat kopi barang setengah cangkir. Rasa-rasanya, kian hari, kecanduan terhadap kopi kian parah. Ingin berhenti saja, tapi kopi ini seperti narkotika atau pun agama ya lama-lama. Nyandu keterlaluan. Bahaya untuk dompet masa depan.

Demi memuaskan hawa napsu ngopi, malam ini saya membuat kopi ala Moka Pot. Lumayan lama prosesnya.

Ketika kembali ke kamar, seperti biasa, Tala si pendengar dongeng sebelum tidur, sudah meringkuk tidur. Dongeng BUKIT TINGGI pun tidak jadi saya dongengkan malam ini. Dilanjutkan besok malam saja ya. Sekarang, saya akan santai ngopi sambil menuliskan list dongeng untuk malam-malam berikutnya. Masih ada ribuan halaman lebih Dongeng Tidur Tala yang siap saya ceritakan setiap malam, sebelum tidur.

SELAMAT TERTIDUR!

“sonofmountmalang”

Advertisements

5 thoughts on “Dongeng (18) Babi vs Petani

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s