Dongeng (40) Hantu Awi Temen

Tidak maksimal rasanya jika Dongeng Pengantar Tidur tidak dilanjutkan kembali. Itulah sebabnya, dongeng ini akan hadir untuk menemani jelang tidur sebelum mata sungguhan terpejam.

Malam ini, saya akan menceritakan tentang Hantu Awi Temen. Siap-siap ya.

Dulu, di kaki Gunung Malang, negeri sejuta mitos dan sejuta cerita hantu serta tempat-tempat angker, tersebutlah salah satu tempat horor di kalangan penduduk. Ceritanya sederhana, seperti biasa, dari mulut ke mulut dan jadilah viral. Semua percaya benar adanya.

Jadi, di salah satu jalan, kebetulan, jalan-jalan pada jamannya itu masih belum beraspal dan kanan kiri masih ditumbuhi pohon-pohon cengkeh, kopi dan pohon-pohon tinggi lainnya. Di salah satu pengkolan jalan, tumbuh rimbun pohon awi alias bambu. Pohon-pohon bambu ini saking banyak dan tingginya, bisa melengkung menyeberangi jalan. Jadilah dia seperti gapura. Tidak hanya satu yang melengkuh ke seberang jalan tetapi ada beberapa pohon awi. Rata-rata sih yang sudah tua dan belum juga ditebang oleh pemiliknya. Malah kadang suka sampai tumbang di tengah jalan. Nah, kalau sudah begitu, siapa pun boleh menebang. Karena sudah menghalangi jalan.

Namun, masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah ketika mulai tersiar beberapa kabar. Jika malam-malam melewati rumpunan pohon awi, beberapa sudah mengalami kejadian aneh. Ada yang pernah sepulang apel dari kampung sebelah, kemudian melewati jalan tersebut. Tiba-tiba pohon awi melengkung membentuk gapura jalan dan rupanya pohon tersebut kelebihan beban. Beban itu berupa seorang perempuan berbaju putih, rambut panjang, sedang asik duduk di pohon awi tersebut dan membelakangi si pejalan kaki yang baru balik apel malam minggu dari rumah pacarnya.

Ternyata, kejadian seperti itu tidak hanya dialami sang pejalan kaki. Beberapa penduduk di kaki Gunung Malang pernah mengalami hal sama. Melihat pohon bambu tiba-tiba melengkung tumbang ke atas jalan dan rupanya ada perempuan duduk membelakangi pejalan kaki. Ceritanya selalu berulang dan terus menyebar viral dari mulut ke mulut.

Cerita tentang keangkeran Awi Temen tidak berhenti di situ. Beberapa penduduk mengalami kejadian aneh. Ketika mereka lewat Awi Temen, tiba-tiba salah satu pohon awi seperti digoyangkan. Namun tidak ada apa-apa. Hanya bergoyang sendirian. Biasanya, hampir semua penduduk yang mengalami kejadian aneh tersebut, tidak menunggu aba-aba untuk lari. Mereka langsung tunggang langgang berlari sampai ke depan pintu rumah. Besoknya, cerita soal pohon bambu bergoyang sendiri pun tersebar dengan cepat.

Waktu itu, saya masih SD. Mendengar cerita-cerita dari orang tua yang nampaknya ketakutan dan tidak berani melewati jalan di Awi Temen, membuat saya dan teman-teman percaya, ohhh di Awi Temen itu banyak penunggunya. Meskipun sih saya belum pernah melihat penampakan apa pun. Tapi karena sudah melekat hebat tentang keangkeran Awi Temen, setiap melewati jalan itu sendirian, pasti ambil ancang-ancang berlari dan tidak pernah berani melihat ke belakang. Karena saran dari orang tua di sana, kalau melewati Awi Temen, jangan sampai melihat ke belakang. Dijamin, katanya, akan melihat hal-hal menakutkan.

Cerita lainnya lagi, beberapa anak yang baru pulang dari ngaji dan membawa obor dari bambu, mereka mengalami kejadian menyeramkan. Katanyaaaa! Ketika mereka melewati Awi Temen, obor mereka tiba-tiba ada yang meniup sampai obornya mati, kemudian terdengar suara tertawa ngikik di tengah rumpun pohon awi dan suara gemirisik pohon awi digoyangkan dengan kencang. Anak-anak yang baru pulang ngaji pun berhamburan kabur sekencang mereka bisa. Cerita soal anak pulang ngaji yang obornya ditiup pun tersebar cepat. Saya dan teman lainnya semakin percaya dan tidak berani melewati Awi Temen sendirian. Kalau sendirian lebih baik ambil jalan lain meskipun lebih jauh. Rame-rame pun kalau melewati siang bolong sepi tetap saja lari sekencang-kencangnya ketika posisi sudah mendekati Awi Temen.

Selain cerita-cerita itu, ada juga beberapa penduduk yang berangkat subuh-subuh untuk berkebun, melihat sesosok perempuan tidak berada di pohon awi, tetapi sedang uncang-uncang kaki di dahan jambu air, yang posisinya persis di sisi jalan, tepatnya seberang pohon awi. Katanya sih, uncang-uncang aja gitu sambil nunduk benerin rambut. Bertambah lagi cerita horor bikin males kan. Tadinya cuma di pohon awi, sekarang merambah ke pohon jambu. Hadeeehh! Bikin perasaan makin males kalau harus lewat jalan melewati Awi Temen.

Gongnya, cerita hantu Awi Temen itu adalah, ketika salah satu penduduk pulang dari nonton layar tancap. Kalau tidak salah sih katanya sekitar jam 12 malam lebih. Kebetulan dia pulang sendirian. Biasalah, habis mengantar pacar pulang ke rumahnya. Jadilah dia pulang sendirian. Sementara teman-temannya sudah pulang duluan.

Ketika ia berjalan, sambil merokok dan tentu saja merasakan ketakutan dan tetap harus lewat Awi Temen, tiba-tiba saja dia terpaku. Kakinya seolah beneran dipaku di jalan tersebut. Itu, tiba-tiba, pohon awi melengkung hingga ke atas jalan. Sekitar satu meter dari jalanan berbatu. Iya, berbatu. Kan jalan pada jaman itu belum diaspal. Masih susunan batu sebesar kepala bayi, tajam-tajam dan sebagian dari tanah yang sudah membatu. Tiba-tibaaaa, di depannya, di pohon awi itu, duduklah perempuan berbaju serba putih, rambut panjang menutupi wajahnya. Udah gitu aja katanya. Dia diem aja, si cewek itu diem aja sementara bambunya goyang-goyang dikit naik turun. Sementaraaa, si perempuannya dingin diam seribu bahasa dan si pemuda juga kaku setengah mampus dibarengi kaki gemeteran. Mau lari tidak bisa, mau teriak tidak bisa, akhirnya ia cuma bisa menggigil ketakutan sambil meneteskan air seni.

Lalu ia tak sadarkan diri. Esoknya, pagi-pagi, ia tersadar dan bangun. Ia kaget bukan kepalang. Ia mendapati dirinya tertidur di tengah rumpun Awi Temen. Tanpa basa-basi, si pemuda ngibrit melewati jalanan kampung sambil teriak kesetanan. Duaarrr! Berita hantu Awi Temen makin santer dan seketika saja menjadi viral.

Maka, Awi Temen pun sudah fix menjadi tempat di mana perempuan berbaju putih dengan rambut terjuntai itu tinggal dan menampakkan dirinya ke beberapa penduduk di kaki Gunung Malang.

Males! Mulai saat itu, kalau jalan sendirian, lebih baik mencari jalan lain. Melewati sawah dan sungai. Biarinlah lebih jauh dari pada harus berhadapan dengan perempuan sedeng!

Info: Ketika saya kembali ke Gunung Malang setelah lulus kuliah, Awi Temen sudah dibumihanguskan. Tidak ada pohon awi yang tersisa satu pun. Ketika saya tanya kenapa kok sudah ditebang semua dan bahkan sampai dibakar supaya tidak ada yang tumbuh lagi. Katanya, kata beberapa penduduk desa, sengaja dibumihanguskan katanya. Tempatnya sudah semakin horor dan harus diusir penghuninya dengan cara ditebang habis dan sampai dibakar ke akar-akarnya itu rumpun Awi Temen. Katanya, penghuninya pindah entah ke mana. Hiiii….! Semenjak Awi Temen ditebang dan dibakar, cerita horor tengan Awi Temen tidak pernah terdengar lagi. Akan tetapi, kata penduduk di kaki Gunung Malang, beberapa orang sering melihat sesuatu di pohon awi di jalan menanjak. Nahhh lhoooo!

Tunggu dongeng pengantar tidur lainnya ya. Pendengar dongengnya sudah molor duluan tuh. Dia takut kalau ceritanya horor. Padahal masih ada banyak cerita horor lainnya di kaki Gunung Malang. Tunggu yaaa. Hiiiiihihihihiihihihih!

 

β€œsonofmountmalang”

Catatan Kaki:

Awi Temen merupakan salah satu jenis bambu yang ada di Indonesia. Bahasa lainnya bambu ater . Biasa tumbuh di lahan yang lembab dan daerah kering. Sering dipakai untuk membuat sumpit, tusuk gigi, bahan bangunan dan alat musik.

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s