Pengalaman Melihat Penampakan Sebuah Kerajaan Halimun dengan Keraton Perak di Tebing Keraton Bandung

20171003_054926

Spot Tebing Keraton. Dikasih pagar jadi nggak menarik ya, tapi ga dikasih pagar juga banyak orang bisa mati kepeleset, meski begitu ya banyak juga yang manjat pagar.

Di pagi-pagi buta sekali, ketika itu, di Kota Kembang, saya berangkat dari Fave Hotel Ciampelas menuju ke arah Tebing Keraton di Ciburial. Sepanjang perjalanan, saya ngobrol dengan sopir orang Bandung, Kang Ibing namanya, biasa dipanggil temannya Bibing. Kang Bibing sempat bertanya tujuan saya dan teman-teman pergi ke daerah Ciburial untuk apa. Saya bilang dong, buat keperluan stock tayangan Diplomat Success Challenge 2017 di TV ONE. Tanpa ditanya apa-apa lagi, Kang Bibing cerita soal kemistisan Tebing Keraton. Oh ya? Mistis? Mistis kenapa? Teman-teman saya mulai penasaran. Maklum, teman-teman saya ini lebih percaya tahayul ketimbang percaya cerita berlogika. Tapi nggak apa-apa lah, pengen denger juga gimana cerita mistis Tebing Keraton.

Menurut Kang Bibing, sebelum namanya menjadi Tebing Keraton, penduduk sekitar, dulu, lebih mengenalnya sebagai Cadas Jontor atau Pasir Jontor. Mungkin maksudnya Jontor itu semacam benjolan atau tonjolan yang menjorok ke jurang. Seiring berjalannya waktu kekinian, terjadilah hal-hal gaib yang menimpa warga setempat yang sedang berada di lokasi. Kejadian apa? Kesurupan karena melihat hamparan keraton dari atas Pasir Jontor. Ah elah! Halu kali tuh warga abis nelen Magic Mushroom, gerutu saya dalam hati. Eh, teman-teman saya makin penasaran dengan cerita gaib, jadilah mereka banyak nanya ke Kang Bibing. Dengan senang hati pun Kang Bibing bercerita banyak.

Kang Bibing, sambil melajukan kendaraannya di kegelapan dinginnya kota Bandung, terus bercerita soal kegaiban Tebing Keraton. Katanya, tidak hanya satu dua orang yang melihat keraton dari Pasir Jontor. Sudah beberapa warga melihatnya tanpa sengaja, dan setelah melihatnya, warga tersebut pun mendadak kesurupan. Kesurupan penunggu Tebing Keraton. Saya manggut-manggut kesel. Karena saya tidak suka cerita tahayul ngawadul. Kemudian, Kang Bibing bercerita lagi, katanya, dulu, ada warga setempat bermimpi didatangi penunggu Tebing Keraton. Penunggu ini meminta warga menyerahkan setandan buah kawung alias buah caruluk alias buah pohon aren. Warga setempat mengartikan mimpi tersebut sebagai permintaan tumbal atas nyawa manusia sebanyak tandan buah kawung. Suka-suka aja mengartikan mimpi yah.

Selain meminta warga menyerahkan setandan buah kawung, penunggu Pasir Jontor juga meminta warga mengganti nama tempat tersebut. Nama itu harus diganti sesuai dengan kemistisan yang selama ini dilihat beberapa orang yang datang dan warga setempat. Namanya harus menjadi Tebing Keraton. Bisa ajeee yeee penunggu punya ide.

Teman saya, yang sangat penasaran dengan kegaiban Tebing Keraton, bertanya dong ke Kang Bibing.

“Kita bisa melihat keraton?”

“Oh, nggak semua orang bisa melihat. Hanya orang-orang pilihan.”

“Yah, nggak seru donk,” balas saya nyinyir.

“Tapi, ada satu caranya, supaya bisa melihat keraton.”

“Gimana caranya?” Semua serentak bertanya.

Kang Bibing melanjutkannya. Katanya, pertama-tama, sebelum memasuki pintu gerbang, kita harus mengusap wajah kita sebanyak tujuh kali. Lalu memungut dua bunga puspa. Bunga puspa tersebut harus diusapkan ke kelopak mata sebanyak tujuh kali sambil meminta izin dalam hati untuk bisa melihat keraton ke penghuni Tebing Keraton. Biasanya, kalau sudah mengikuti petunjuk itu, hampir semua yang melakukannya, pasti melihat kerajaan di bawah Pasir Jontor. Namun, semua itu harus dilakukan sendirian, tidak boleh berbarengan dan dilakukan sebelum matahari terbit serta ayam berkokok. Itu artinya harus dilakukan sekitar jam empat atau setengah lima. Ya, paslah. Toh, jalan dari hotel setengah empat.

Cerita Kang Bibing berhenti di lokasi parkiran Hutan Juanda. Katanya, mobil tidak bisa dan tidak boleh naik sampai ke lokasi dekat pintu gerbang Tebing Keraton. Dari parkiran semua pengunjung wajib memakai jasa ojek PP sebesar 40.000/orang. Lumayan yah, padahal biaya masuk ke Tebing Keraton tidak semahal itu pun per orang. Itu sih namanya memaksakan dalam kesempatan. Ya, nggak apa-apahlah. Namanya juga cari uang. Sah-sah saja bagi warga sekitar dan kecuali mau jalan kaki, silakan saja.

Saya dan teman-teman tiba di pintu gerbang itu sekitar setengah lima. Jalanan masih gelap dan sepi. Penduduk sekitar masih tidur di dinginnya Desa Ciburial dan warung penjaja makanan ringan pun ditinggal tiduran sang pemilik. Teman-teman saya, yang percaya tahayul habis-habisan ini rupanya tidak berani berjalan sendirian ke pintu gerbang yang masih tutup. Penjaganya masih harus dipanggil petugas. Ketika saya tanya, kalian beneran mau melihat keraton? Mereka geleng kepala sambil bilang, “Loe aja kalau mau!”

20171003_050708

Warung di subuh buta.

Ya, sudah kalau begitu. Saya melakukan ritual seperti Kang Bibing instruksikan. Sendirian di pintu gerbang sesaat setelah mendapatkan bunga puspa yang berguguran di tepi jalan. Tiba-tiba, beberapa detik setelah melakukan ritual dan membuka mata, saya melihat sesosok hitam besar tinggi di hutan dekat gerbang. Sesosok itu menatap saya dengan tajam di gelapnya hutan dengan pohon-pohon puspa tinggi. Sesosok itu melambaikan tangan sambil bicara pelan, namun suaranya terdengar berbisik di telinga saya, “Ayo, datanglah melihat kerajaan halimun.”

Saya melihat balik badan ke teman-teman yang sedang duduk di warung sambil merokok. Saya teriak, “Oiii! Di sini ada orang nih, badannya gede tinggi hitam dan nyuruh kita masuk!”

Mereka kesel,”Apaan sih lo! Nakut-nakutin aja!”

Saya bilang, “Seriusan iniiii!” ketika balik badan, sesosok itu sudah hilang.

“Auk ah!” mereka beneran ketakutan. Lhaa, katanya mau melihat keraton.

“Tunggu gerbangnya dibuka penjaga aja sama agak terangan dikit!” teriak mereka dari warung. Jarak saya dari gerbang ke warung itu hanya berjarak sekitar 20 meteran. Dan jarak pandang saya dari gerbang ke gelapnya hutan di Pasir Jontor itu ya 10 meteran.

Saya dan beberapa teman saya akhirnya menunggu penjaga gerbang Tebing Keraton itu sekitar setengah jam. Artinya, ya sekitar jam lima lebih, saya baru bisa masuk ke areal Tebing Keraton. Teman saya pun tidak berani langsung menuju ujung Tebing Keraton. Sementara saya, karena ingin melihat kerajaan dengan keratonnya, langsung menuju ke ujung tebing.

Percaya tidak percaya, di remang-remang subuh jelang pagi buta, saya melihat hamparan keraton sebuah kerajaan megah yang disebut sebagai Kerajaan Halimun. Semua serba keperakan. Ini mungkin keraton yang dibangun dengan perak dan kental sekali atap bangunannya dengan warna hijau. Lampu-lampu di beberapa sudut ujung keraton kerlap-kerlip menyala. Lalu lalang orang-orang menunggani kuda. Rupanya itu penjaga Kerajaan Halimun. Di salah satu bangunan paling megah, terparkir kereta kencana yang semua meterialnya terbuat dari silver berkilau. Mereka nampak memiliki kehidupan sendiri. Seperti berada di dunia kita, namun mereka masih dalam bentuk kerajaan. Seluas mata memandang.

Ckckckc! Saya berdecak. Baru kali ini melihat sebuah kerajaan megah. Pantas saja disebut Tebing Keraton dan penunggunya sangat ngebet banget ingin nama Pasir Jontor diganti namanya dengan Tebing Keraton, karena memang dari ketinggian tebing ini, saya bisa menyaksikan sebuah keraton megah. Merinding sekaligus takjub. Tak disangka, dalam hidup bolak-balik ke Kota Bandung, yang memang secara sejarah merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Pasundan, baru kali ini bisa melihat kerajaan lengkap dengan keratonnya.

Namun, ketika sedang menikmati hamparan indahnya Kerajaan Halimun, tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “YUK FOTO BARENGG DONG!”

Sekejap saya melihat ke belakang, rombongan alay sudah tiba dan mereka mulai foto-foto sambil membuka baju, dan ketika saya membalikkan badan ke arah jurang, hamparan keraton masih ada. Cahaya siang pun rupanya sudah datang. Semburat fajar perlahan menyalak di balik gunung. Hamparan di jurang pun nampak tetap megah. Kerajaan Halimun masih tampak semakin jelas dibantu cahaya pagi. Namun, seiring berjalannya matahari pagi, Kerajaan Halimun akan perlahan menghilang. Karena memang mereka hanya akan menampakkannya pada pagi buta sampai matahari pagi saja. Esoknya akan kembali menampakkan diri lagi.

20171003_052153

Panorama Kerajaan Halimun dari Pasir Jontor.

 

20171003_061057

Pengunjung sedang menikmati Kerajaan Halimun. Sebagian sibuk ngedit untuk postingan di media sosial, dan sebagain sibuk foto-foto.

20171003_061104

Lihat kan, ini yang disebut Kerajaan Halimun dan Tebing Keraton merupakan menara pandang sang Kerajaan Halimun. Ehhh!

20171003_054247

Di bawah ini mengalir sungai dan terdapar air terjun kalau kalian menyusuri jalan setapak dari Hutan Juanda.

20171003_054304

Inilah Batu Jontor. Bahaya memang berdiri di sini, tetapi begitulah tantangannya dan di sini spot paling keren buat selfie. Weeee. Di bawahnya terdapat pertanian dan balong kayanya. Mungkin itu pertanian milik Kerajaan Halimun.

20171003_054339

Terpikir juga akhirnya membeli tanah di hutan pinus, tepat di sisi sungai. Bikin rumah langsung menghadap sungai. Isi salmon yang banyak dan bisa sarapan pagi salmon langsung mancing dari sungai. Kaya beruang gitu lah.

20171003_051914

Terbit matahari di timur ini akan segera menguapkan Kerajaan Halimun di bawah Pasir Jontor atau Tebing Keraton.

20171003_051933

Enter a caption

20171003_052834

20171003_052847

Nah, ini penampakannya.

20171003_052939

Rumah penduduk sebagian ditutupi halimun.

20171003_053523

Kan lihat kan Kerajaan Halimun begitu jelas di sini.

20171003_053636

Cahaya datang, kerjaan hilang.

20171003_055818

Bikin ayunanlah di sini.

20171003_055650

Bunga liar, namun tak seliar Bunga.

20171003_054353

Semua hanya sesaat.

20171003_052449

Nyembah alam semesta.

20171003_060209

Bercahayalah.

20171003_053244

Imut kaannnn?

20171003_054541

Ngopi sasetan.

 

20171003_052557

Semakin siang Kerajaan Halimun semakin hilang.

Gimana? Kalian percaya kan dengan cerita kemistisan Pasir Jontor atau disebut juga Tebing Keraton yang disebarkan dari mulut ke mulut dan bikin orang penasaran? Atau, kalian percaya kan dengan penglihatan saya di Pasir Jontor?

 

Kalian harus percaya, di Pasir Jontor atau Tebing Keraton, memang ada penampakan Kerajaan Halimun. Alias Kerajaan Kabut. Karena di hutan pinus itu, setiap pagi akan diselimuti kawanan kabut, hingga nampak hanya pucuk-pucuk pohon pinus yang terlihat. Soal kerajaan sesungguhnya, itu hanya karangan manusia, yang kebenarannya tidak pernah ada bukti visual dan terekam oleh alat apa pun.

Jika ditelaah secara logika, spot ini memang spot lumayan untuk selfie. Meski bukan spot terbaik di Bandung pun, menurut saya. Saya lebih suka Dago Pakar dan Dago Atas atau Bukit Moko jika bicara spot di Bandung untuk melihat pemandangan keren. Karena spot ini lumayan oke untuk selfie sementara, haruslah diciptakan kisah, supaya orang penasaran dan supaya orang tertarik. Begitu kan mekanisme untuk menarik minat wisatawan lokal. Harus dikasih bumbu mistis, gaib dan sedikit dikasih “penghuni” supaya orang-orang yang sukanya sembarangan berperilaku, sedikit bisa ngerem dan lingkungan di Pasir Jontor pun bisa terjaga dengan baik. Ah, tidak juga. Alay-alay itu buang sampah bekas botol air mineral ya seenak udelnya aja. Memanjat pagar pengaman dan berdiri di Batu Jontor, yang sewaktu-waktu bisa menggelinding, ya dilakuin juga. Jadi, cerita mistis di Tebing Keraton rupanya tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap perilaku pengunjung.

Buat kalian yang memang penasaran dengan Tebing Keraton, demi juga menghidupkan spot-spot wisata di negeri ini, datanglah dan sekedar pamer diri di Instagram atau pun sosial media. Kan memang begitulah generasi milenial. Datang, cari spot bagus, cekrek, edit dan sebarkan. Saya juga. Weeee!

Hepi wiken dan gunakan akal sehat, jangan seperti kasus tabrak tiang listrik yaaa akalnya! Ehhh!

20171003_060011

Jendela rumah kita kelak beginilah. Amiiinnnn!

“sonofmountmalang”

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Melihat Penampakan Sebuah Kerajaan Halimun dengan Keraton Perak di Tebing Keraton Bandung

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s