coffee

10 tanda Coffee Snob, dinyinyirin so-called coffee expert, so-called barista dan dipuja seller alat kopi dan owner coffee shop!

Di dunia perkopian Indonesia, ini opini saya ya, itu dibagi menjadi tiga kalangan. Pertama, kalangan awam. Kedua kalangan yang menyebut dirinya mendadak “expert” di bidang kopi dan jadi pembicara di sana sini plus opinion leader soal kopi, termasuk barista di dalamnya, dan yang ikut-ikutan kompetisi barista dan semua yang berhubungan dengan keukopian plus perlengkapannya. Ketiga, coffee snob.

Sebelum membahas apa itu coffee snob, saya akan menceritakan sebuah pengalaman menggelikan bersama teman-teman sekantor di sebuah coffee shop heits se-Jakarta.

Ketika saya sedang menikmati coffee latte, tanpa peduli amat dengan bentuk latte art-nya, seorang barista dan juga menyebut dirinya master roaster yang merupakan sahabat dekat owner coffee shop tersebut, kebetulan juga me-roasting sendiri plus cupping sendiri, memberikan tiga cangkir kopi untuk di-cupping sama barista dan master roaster entah dari mana itu. Kebayang kan suasana obrolannya. Tidak jauh dari single origin, washed, semi washed, dry process, light, dark dan segala istilah kopi lainnya.

Kemudian, terjadilah cupping dengan cara menyeruput sekencang-kencangnya sampai gendang telinga mau pecah, kemudian mengomentari semua cangkir kopi yang disajikan sama temannya. Obrolan setelah cupping pun tidak jauh dari persoalan kopi.

Pertanyaan saya, dan juga teman saya, yang hanya sekedar menikmati rutinitas ngopi tanpa peduli amat dengan kopi apa, suhu berapa dan tetek bengek lainnya, APAKAH DIA COFFEE SNOB? Atau, APAKAH DIA BARISTA? APAKAH DIA EXPERT DI BIDANG KOPI?

Pertanyaan berikutnya, apa bedanya coffee snob, expert dan barista?

Dengan susah payah, saya sih mau bilang, sama saja. Yang asik ya orang awam. Bodo amat, yang penting enak.

Nah, lalu, apakah itu coffee snob dan apa tanda-tandanya?

Sebagian orang yang menyebut dirinya expert di bidang kopi, ya banyaklah, termasuk barista-barista hipster, melihat dan mencap coffee snob sebagai sesuatu yang menyebalkan, menggelikan dan apaak siks! Sok banget sih anak-anak kekinian ini! Mungkin kebanyakan yang melihat coffee snob sebagai sesuatu yang menggelikan itu adalah mereka yang hidup di era first wave coffee, kemudian melek ke second wave coffee dan seolah-olah sudah menguasi third wave coffee. Jadinya, menganggap remeh, cenderung nyinyir ke mahluk yang disebut coffee snob. Faktanya, coffee snob adalah orang-orang yang sedang dan atau mulai memahami kopi dan istilah-istilahnya, sehingga dalam kesehariannya, dia membutuhkan praktik untuk membuat dirinya semakin paham tentang dunia perkopian. Memangnya, di tahap kita yang hidup di third wave coffee atau mungkin akan ada fourth wave coffee, salah jika mengenal dengan baik kopi yang kita minum? Tidak kaaann? Yang salah itu justru yang merasa dirinya AHLI BANGET dan sudah jadi opinion leader which is ya sotoy juga lah dan apa bedanya juga dengan mereka-mereka yang mulai belajar memahami.

Dari mereka yang menyebut dirinya sudah ahli banget soal kopi ini, keluarlah ciri-ciri coffee snob.

  1. Starbucks itu bukan kopi sesungguhnya!

Buat para nyinyirers, pasti akan men-judge dengan mudah ketika mendengar coffee sob berpendapat, bahwa Starbucks bukan kopi sesungguhnya. Meskipun mungkin memang Starbucks bukan diperuntukan untuk pengopi beneran kopi, jadi kopinya dikondisikan untuk flavor coffee, bagi mereka yang nggak suka manis dan campuran kopi rasa-rasa. Kemudian, muncul statement dari para expert kopi yang doyan nyinyir dan merasa udah jago banget soal kopi ini, bahwa kaum coffee snob ini nggak tahu terima kasih ke Starbucks yang sudah membuat kopi Indonesia terkenal di mancanegara. Halo, pak?! Peran exportir kopi apa kabar ya, yang sudah sejak lama menjual kopi Indonesia ke belahan dunia. Kopi Indonesia dikenal diluar negeri bukan karena Starbucks doank sih. Starbucks membuat trend ngopi di Indonesia jadi meningkat mungkin iya, namun kopi yang kaya gimana? Plus juga market-nya siapa? Kamu miskin papa mah tetap ke warung kopi, kopi sasetan, angkringan dan nggak akan ke Starbucks. Kemudian muncul-muncul kedai kopi pun mungkin ada peran Starbucks. Perannya karena Starbuck mahal dan ada kaum yang ingin menikmati kopi enak tapi harganya masuk akal. Maka muncullah coffee shop coffee shop kecil. Mungkin lho ya. Lagi pula, tren ngopi Starbucks pun bukan trend ngopi yang sekarang sedang nge-heits kan? Jadi, kurangin nyinyir dan menempelkan stigma netagif ya ke kaum coffee snob:p. Karena secara tidak langsung, expertise di bidang kopi juga, kalian coffee snooblah! So, nggak usah menyalahkan coffee snob memandang Starbucks dan tidak juga perlu membela Starbucks. Semua akan ada marketnya yeee. Nggak usah takut, tren kopi, menurut AC NIELSEN masih akan terus berkembang dan kedai kopi akan terus menjamur setiap bulannya.

  1. Di mana mana bahas kopi

Di mana ada coffee shop, di situ ada sekumpulan orang ramai dan sibuk membahas rasa kopi yang dipesan, saling bertukar rasa, saling mengomentari rasa kopi dan kemudian membahas dengan khusyuk, bisa jadi dia coffee snob. Tetapi, sekumpulan orang yang merasa experts dan di-expert-kan oleh sekelompok komunitas kopi, sekumpulan barista baru berkumpul dan membahas hal yang sama, saya sih mau bilang, loe juga coffee snob kelesss!

Lagi pula, tidak pernah ada yang melarang, jika beginners di dunia kopi, ingin memahami seluk beluk kopi. Yang masalah kan sudut pandang orang-orang yang merasa dirinya sudah jago banget ini melihat kaum beginners dengan memberi label coffee snob.

  1. Banyak nanya sebelum pesan kopi

Ciri coffee snob yang ketiga adalah, banyak nanya-nanya soal kopi ke barista sebelum memutuskan ingin memesan apa. Misalnya, kopinya apa? Single origin-nya apa? Manual brew apa? Rasanya gimana? Asamnya gimana? Berapa gram sih? Prosesnya apa? Dan detail lainnya ditanya.

Kadang ada barista yang memang barista, menjelaskan dengan senang hati. Tetapi ada juga barista yang tidak tahu sih kalau ditanya, dan ada juga yang sebal kalau ditanya-tanya. Lha ini bagus donk buat konsumen. Anyway, konsumen sudah mulai pintar kan artinya. Mencoba memahami kopi apa sih yang diminum dan benar nggak ya rasanya sesuai yang dijelaskan sang baristanya. Ya, BTW bagi saya, ya keduanya juga sotoy lah soal kopi. Wkwkkwkwk! Lagian nggak ada patokan kopi enaknya pakai apa dan berapa gram. Itu mah bisa-bisanya penjual alat kopi dan so-called expertise aja! Pada akhirnya, kopi is about selera jiwa masing-masing yah. Semacama keimanan kepada Tuhan.

  1. Menuang susu ke kopi itu salah besar

Tanda ke empat coffee snob itu adalah haram jika mencampur kopi dengan susu. Kecenderungan mereka minum kopi pure manual brew tanpa rasa-rasa atau pun susu. Simply black. Jadi, cappuccino, coffee latte (kopi susu), frappe late, macchiato, frappuccino dan flavor coffee is so fucking big mistake.

Anyway, nggak semua orang bisa menikmati pure kopi. Ada yang suka kopi hitam dengan gula aren, gula merah, gula putih, gula cair dan segala jenis manis-manisannya. Ada juga yang doyannya pure black. Tidak ada yang salah dalam menyajikan kopi. Yang salah itu yang membesar-besarkan bahwa minum kopi sesuai etika baik dan benar itu harus black single origin manual brew no sugar dan orang-orang so-called expert di bidang kopi pada akhirnya ambil porsi besar karena menyinyirin coffee snob. Ya, sekali lagi, kaum kaya kalian itu sama saja coffee snobnya. Beda generasi saja. Satu generasi baby boomer, gen X dan satu lagi generasi langgas alias kaum millennials! 

  1. Minum kopi hanya manual brew-single origin

Ciri berikutnya sang coffee snob itu sangat peduli sekali dengan kopi single origin sebagai materi utama untuk diminum. Mereka sudah mulai hapal banget dengan berbagai single origin dari seluruh Indonesia. Mulai dari yang umum semacam Bajawa, Papua, Toraja, Sumatera dan mulai paham sekali dengan Ciwidey Arumanis, Merapi Jahe, Alu Strawberry, Awan Lembah Baliem dan ribuan single origin lainnya dengan karakter kopi yang bisa digali rasanya.

Digali embahmu!

Pernah ke coffee shop dan saya iseng nanya, kopi yang rekomen apa ya? Baristanya dengan mantap, kepala dongak jawab, “Masnya suka kopi kaya gimana?”

Saya jawab, “Ya yang rekomen aja di sini.”

Dia bilang, “Nggak bisa gitu mas. Setiap kopi beda asal, beda karakter dan beda juga cara bikinnya supaya keluar karakter tersembunyinya.” Nah, kalau kaya gini, siapa yang coffee snob? Saya atau dia? Wkwkwkwk! Akhirnya, saya pesan HOT CAPPUCCINO, lebih simple. Lha, mau minum kopi hitam yang rekomen apa, pertanyaannya panjang lebar. Ya, kelesss rasa tanah yang tersembunyi dalam kopi bisa gue icip di ujung lidah tertentu dengan cara tertentu itu hal penting.

Ya, ini terjadi nggak hanya pada kaum millennials atau hipster yang disebut coffee snob sama expertise sih, ini berlaku juga buat so-called expertise. Salah satunya barista-barista coffee snob juga lah. Karena pada akhirnya, obroan kaum expertise coffee snob tidak ada bedanya dengan beginners coffee snob. Eaaaa!

  1. Semua akun sosmednya berisi foto kopi

Katanya, coffee snob itu semua akun IG atau pun akun sosmednya berisikan cangkir isi kopi segala jenis brew. Coba deh cek isi IG kaum expertise kopi. Isinya masa teh. Wkwkwkkw! Jadi, nggak usah nyinyir yah. Memang begini jamannya kalau sedang demam kopi. Kalian nggak sendirian kok. Seluruh negeri sedang demam kopi. Bahkan di pelosok petani saja sudah punya V-60. Tidak dilarang kalau isi sosmed kalian penuh dengan cangkir kopi, coffee shop, coffee bean dan semua yang berhubungan dengan perkopian. Kalau ada nyinyir, toyor aja jidatnya sambil bilang, “Ya lo balik ke zaman first wave coffee aja.”

  1. Beli berbagai alat ngopi

Ciri ke tujuh coffee snob kalau kata so-called pakar kopi itu adalah mereka yang membeli berbagai alat ngopi. Mulai Vietnam Drip yang harganya puluhan ribu sampai cold drip puluhan juta. Kemudian mulai paham bagaimana cara menggunakan manual brew. Dari menimbang sampai grind dan brew. Bahkan beberapa membeli manual hand roasting. Lho bagus donk. Kalau belajar jangan setengah-setengah. Pertanyaan saya, memangnya yang menyebut dirinya expertise kopi, yang memang sudah lebih dulu mengenal kopi, tidak belajar manual brew dari berbagai alat manual brew? Ya, nggak mungkin kan? Masa mau dianggap expertise tapi nggak paham perlengkapan manual brew. Jangan-jangan situ modal congor doank. Ya, masih mendingan orang-orang jujur yang disebut coffee snob donk, belajar memahami dari titik nol dan kelak mereka akan jadi expert juga. Minimal untuk diri mereka sendiri. Dan so-called expertise, byeee.

So, kaum coffee snob, belilah perlengkapan kopi. Selain bisa explore kopi sendiri, juga bisa menghidupkan industri perlengkapan alat kopi. Abaikan kaum so-called expertise kopi yang jadi pembicara di mana-mana. Bicara soal kopi. Wkkwkwkw!

  1. Ke mana pun bawa alat dan kopi sendiri

Ketakutan kaum so-called expertise adalah kehilangan pengikut. Ketika semua orang punya cara sendiri untuk menikmati kopi dan jadilah ke mana pun perginya, di situ alat dan kopi dibawa sendiri. Pertanyaannya, KALAU BISA BIKIN KOPI ENAK SESUAI SELERA SENDIRI DENGAN ALAT SENDIRI DENGAN CARA SENDIRI, BUAT APA MEMBELI KOPI DI TEMPAT LAIN? Nahhh! Begitu mungkin ya. Ini bukan masalah sok-sokannya coffee snob, tapi memang selera hanya kita yang tahu. Lagipula, punya alat sendiri dan kopi sendiri, hemat kaakkkk!

  1. Bangga bisa cupping

Cupping is the new bla bla bla buat kaum bla bla bla. Ciri kaum coffee snob ke-9 adalah bisa cupping. Paham soal cupping. Mulai ngerti banget soal cupping. Berbagi cerita diajak cupping di coffee shop xyz. Pamer cupping. Belajar cupping sendiri.

Itu sama saja dengan kaum expertise yang pamer cupping di IG-nya dia dan menceritakan single origin kopi xyz dengan karakter A to Z. Itu cuma loe dan Tuhan loe aja yang tahu karakter kopi yang dimaksud. Kalau iya ada, nggak sebegitu lebaynya juga sih. Biasa aja kelesss kaakk!

  1. Pergi ke semua coffee shop

Coffee shop semakin menjamur di penjuru kota di Indonesia. Dengan varieties single origin dan berbagai menu kopi plus berbagai cara manual brew. Mulai dari Papua sampai Etiopia. Muai dari V60 sampai X900. Semua dicoba. Dirasa-rasa. Dikomen. Di-review. Di-sharing. Memang begitu ciri kaum kekinian. Sharing is the new way of life. Jika ada yang nyinyir dengan hasil review-nya, merekalah tidak bisa menerima kids zaman now!

Itulah 10 coffee snob versi saya. Mungkin masih ada 10 ciri lainnya. So, kalau kalian merasa memiliki salah satu ciri dari 10 di atas, maka sudah bisa dipastikan kalian akan di-judge sebagai coffee snob dan nggak usah pedulikan judgement-nya so-called coffee expert. Karena pada akhirnya kalian semua berada wilayah yang sama.

Teruslah meng-explore kopi dan mencipta-cipta kopi seenak lidah sendiri. Sebab, jangan takut, kita baru saja memulai babak baru KEUKOPIAN. Selain bisa memperkaya pemahaman kita soal kopi, juga bisa menghidupkan industri kopi dari HULU hingga HILIR.

Enjoy! Dan hidup coffee snob! Less lebay is good lah soal kopi:P.

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

10 replies »

  1. “Nggak bisa gitu mas. Setiap kopi beda asal, beda karakter dan beda juga cara bikinnya supaya keluar karakter tersembunyinya.”

    Ini sok filosofi banget ye (annoying as hell for me), org mau minum doank dibuat susah + bingung, padahal lagi bingung mau milih yang mana. Sontoloyo banget.

    • Makanya paling enak itu memosisikan diri nggak tau apa apa soal kopi, kemudian nanya yang seolahnya tau banget soal kopi. Kan jadinya geli ya. Dalam hati, lebay sih ah kopi doank. Tapi memang begitu lah siapa pun kalau sedang dalam kondisi demam. Tidak memandang generasi pada akhirnya:p

  2. Ngakak-ngakak baca tulisanmu, Mas. I really can relate. Gara-gara iseng datang ke festival kopi di Pluit beberapa bulan lalu, niatnya nyicip2 kopi enak dari seantero negeri, tapi malah ketemu sama orang-orang yang ngobrol (sok) serius tentang cita rasa kopi, cupping, fruity nutty taste, hantu blau entah apa-ala lah. Mak jegler merasa geli sendiri sambil berdoa amit-amit semoga saya nggak termasuk golongan ini.
    Nggak salah sih kalo memang itu hobinya, tapi ya nggak usah sok jago dan nyinyirin orang lain yang beda selera.
    Kalo buat saya kopi enak itu ada dimana-mana. Kopi starbuck enak, kopi kafe-kafe kecil juga enak, kalo lagi kepepet nyeduh kopi instan pun jadi. Cuma satu protes saya: mbok ya harga kopi di kafe jangan mahal-mahal, indonesia tuh produsen kopi lho, tapi masak harga satu cangkir di sini sama kayak harga secangkir di melbourne?


    https://polldaddy.com/js/rating/rating.js

  3. Saya paling males sih datang ke festival. Banyak yang paham, sok paham, paham tapi sok paham, nggak paham juga sok paham. Sami mawon semuanya yah:d. Paling enak kaya kitalah, apa aja, yang penting murah, enak dan gratis lebih asik. Hahahaha!

  4. Kl dr segi pedagang, mau snob kek, mau expertise kek, yg penting beli kopi di tempat kita. Kl cocok ya besok juga balik lagi, kl nggak ya anggep aja nggak jodoh :D.

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s