Tim Kopi Digiling Bukan Digunting VS Tim Kopi Digunting Bukan Digiling! Kalian Masuk Tim Mana?

Di Jakarta, sebelum kalian bisa menemukan coffee shop setiap pengkolan, itu mau ngopi enak susah banget. Dulu, selain pilihan ngopi kalian Starbucks, pilihan lainnya Anomali Coffee. Kecuali di mall, mungkin pilihannya cukup ada. Sebut saja Excelso, Liberica juga termasuk barulah hitunganya, bukan ada sejak 2000-an. Siapa coba yang merasakan kantornya di Setiabudi dan sekitarnya. Kalau ke Setiabudi Building, hanya ada satu pilihan ngopi, yakni Starbucks. Muncul kemudian Anomali Coffee yang memberikan nuansa beda dari Starbucks, dengan kopi lebih murah dan variasi pilihan kopi lokal lebih banyak dibandingkan Starbucks. Menurut opini saya, di Jakarta, Anomali Coffee memiliki andil besar dalam mengenalkan kayanya kopi lokal. Sementara kalau Starbucks, menurut opini saya, hanya menjual Sumatera (CMIIW). Selebihnya, Kenya, Colombia, Brazil, Vienna Roast, Italian Roast. Kalau Anomali Coffee lebih mencintai dan mengenalkan kopi lokal ke konsumennya. Papua, Toraja, Flores Bajawa, Kintamani, Sumatera, Aceh Gayo, Java dan beberapa kopi lokal lainnya. Orang bukan Indonesia yang suka kopi lokal lebih memilih membeli biji kopi lokal di Anomali Coffee. Sementara orang Indonesia lebih suka membeli Starbucks karena membeli brand bergengsi. Akui saja yah, nggak usah mungkir:p. Toh nggak salah juga sih.

Sementara pemain lainnya yang cukup besar dan lama juga ada Excelso, Caswell’s coffee dan Quintinos, namun mungkin asing di telinga. Tapi percayalah, mereka pemain lama yang menghasilkan kualitas roasting terbaik di Jakarta. Ya, ini kan sok-sok annya review saya. Nggak setuju juga nggak apa-apa. Nah, khusus Quintinos, saya sudah langganan dari tahun 2009. Untuk membelinya pada jaman itu lumayan susah. Harus ke Hero atau premium supermarket atau langsung ke tokonya di radio dalam. Sekarang, tinggal klik GOJEK. Pesan-pesan. Datang. Begitu juga Caswell’s, ingin menikmati kopinya harus datang ke Kemang Timur Raya, -sekarang pindah ke Ampera Raya,-. Dan mungkin paling mudah itu menikmati beberapa kopi lokal ya di Excelso, yang cukup tersebar ada di mana banyak tempat. Bahkan bisa dibeli di Indomaret beannya.

Baik pengopi Starbucks, Anomali Coffee, Quintinos atau pun Caswell’s dan brand-brand atau coffee shop yang sudah lama hadir di kancah dunia perkopian, selama ini tidak mempermasalahkan pengopi di luar brand yang sehari-hari mereka nikmati. Namun kini, di tengah gegap gempita persaingan kopi di Jakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya, memunculkan istilah baru. KOPI GUNTING dan KOPI GILING.

Apa sih KOPI GUNTING dan apa sih KOPI GILING?

Ini masih sedikit nyambung dengan coffee snob, so-called coffee expert dan barista hipster. Sebagian dari mereka melahirkan istilah KOPI GUNTING. Kopi gunting adalah kopi yang cara penyajiannya digunting. Ini berlaku untuk semua jenis KOPI SACHET. Mulai dari Torabika, Kapal Api, Luwak White Coffee, Top Coffee, Nescafe, Kopi Ayam Merak, Indocafe dan brand-brand kopi yang bersaing di dunia kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix 3in1. Ayo, ada yang tahu bedanya kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix 3in1? Itu kita bahas nanti yah.

Itulah yang disebut kopi gunting, yang oleh kalangan digembor-gemborkan sebagai kopi kasta terakhir di dunia perkopian. Saya setuju, tetapi juga tidak memberikan stigma atau pun label itu, bahwa kopi sachet bukan dari biji kelas satu di kasta perkopian. Ya, rugi donk ya kalau kopi sachet untuk mass market memakai biji kopi kelas satu, kemudian dijual per sachet 1.000 atau lebih parah lagi dijual 500 atau beli dua gratis satu. Pastinya produsen akan lebih memilih mengekspor dengan harga lebih tinggi atau dijual dengan positioning sebagai premium brand dengan premium kualiti dan harga premium. Juga target market-nya pun premium.

Jadi, sekali lagi, kopi gunting itu juga pilihan. Mungkin sebagian dari kalian mampu membeli kopi di coffee shop hipster atau branded coffee shop. Berapa persen konsumen Indonesia yang mampu kopi di coffee shop atau branded coffee shop? Marketnya jauuuhh lebih banyak kopi sachet! Atau pertanyaanya, apakah abang-abangan terminal atau SES C D sangat concern dengan kopi yang diminum itu KOPI GILING atau KOPI GUNTING? Nggak kan?! Mereka yang penting bisa ngopi, enak dan murah. Apa pun koar-koar kalian soal KOPI GUNTING, semua brand kopi gunting akan tetap hidup dengan mass market-nya masing-masing. Terlebih lagi mereka sudah mengedukasi konsumen Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan rasa kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix. Lidah kalian saja yang mengalami gegar budaya kopi. Ya kan?

Namun ada juga sebaliknya, gegar budaya kopi sachet. Sebagai contoh ironi di Gunung Malang dan neneknya teman saya yang tinggal di Aceh Timur. Dulu, orang-orang di Gunung Malang, termasuk nenek saya, pasti memiliki kebun kopi. Minimal, di pembatas kebun teh dan kebun cengkeh itu ditanamin pohon kopi. Kemudian panen kopi, diolah sendiri dan dinikmati sendiri. Tidak pernah dijual hasilnya, karena zaman itu kopi memang tidak ada harganya. Namun kemudian, nenek meninggal dan generasi kopi sachet mulai masuk ke market Gunung Malang, menanamkan rasa baru ngopi dengan cepat. Mulai dikenal dan kopi asli setempat mulai ditinggalkan. Pohon-pohon kopi mulai ditebang karena tidak menguntungkan. Panennya musiman. Ketika masa panen pun, mengolahnya ribet. Jadinya lebih baik menyeduh kopi sachetan. Begitu pun terjadi pada neneknya teman saya di Aceh Timur. Sang nenek menyebut, kopi sachet lebih enak dibandingkan kopi dari kebunnya sendiri. Jadi, panen kopi di kebun sendiri, dijual ke tengkulak dan duitnya sebagian buat stock kopi sachet. Aneh? Nggak. Begitulah market bergerak. Saling makan dan dimakan antara satu budaya dengan budaya lainnya.

Lalu, bagaiman dengan kopi yang seharusnya KOPI DIGILING? Nah, istilah kopi digiling itu diperuntukan kepada semua ‘pengopi nubi’ yang menikmati kopinya dari biji, giling dan diseduh, lalu diserupuuuut! Lalu, baru ngeuh, ohhhh! Dari oooohh-nya ini lah memunculkan label, bahwa kopi itu digiling sebagai kopi sesungguhnya. Kopi digunting itu bukan kopi sesungguhnya. Lantas disebarkan, digembor-gemborkan soal kebenaran kopi yang benar. Benar menurut siapa?

Pertanyaannya, mamang-mamang, mbo-mbo itu mampu membeli hand grinder seharga 200 ribu sampai tiga jutaan? Memangnya mamang-mamang, mbo mbo itu mampu membeli automatic grinder seharga 700 ribuan sampai 50 jutaan? Tentunya sepaket dengan perlengkapan ngopi yang tidak muraahhh!

Nah, coba bayangkan, buat mass market yang sudah teredukasi rasa kopi sachetan 1.000 rupiah per seduh, harus membeli alat ratusan ribu dan biji kopi puluhan ribu dengan keribetan membikin kopi setiap kali ingin menikmatinya, ya keles mauk! Bisa ngopi sachetan saja sudah bahagianya kaya mendapatkan minuman sorgaaa!

So, guys! Buat kalian yang gegar budaya baru ngopi ala-ala new wave, ya sudahlah, ngopilah dengan baik dan benar menurut esensi hidup kalian. Tidak perlu menggembar-gemborkan kopi yang baik itu gimana. Sekarang, semua orang sudah tahu kok. Permasalahannya mampu atau nggak. Mau atau nggak. Itu saja. Saya saja maunya punya semua manual brew segala cara. Tapiii…! Ampun kakkk duitnya jejeritannn. Ahahahha!

Terakhir, pertanyaannya, kalian termasuk TIM MANA ayoooo. Wkwkkwkwkw!

Note: Tulisan berdasarkan opini dan pengamatan serta pengalaman sendiri aja yah. Kalau ada yang melenceng dari data, ya sudahlah jangan diambil hati.

“sonofmountmalang”

Advertisements

6 thoughts on “Tim Kopi Digiling Bukan Digunting VS Tim Kopi Digunting Bukan Digiling! Kalian Masuk Tim Mana?

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s