makanan

Sejarah Empal Gentong dan Cirebon serta Kuliner Empal Gentong Paling ENAK sepanjang Se-KOTA Sarumban, Caruban, Carbon, Cerbon, Cai-Rebon atau Cirebon!

20180203_102642

Kalau saya, pergi ke sebuah tempat, lebih suka mencari tahu asal usul nama kota terlebih dahulu sebelum terjun menjelajah kotanya. Namun kadang suka lupa mencari asa usul sebuah kota meski sudah beberapa kali ke kota tujuan wisata. Salah satunya, kota yang tidak begitu jauh dari Jakarta, yaitu Cirebon. Sudah beberapa kali dan lupa mau menuliskan kulineran dan asal usul kota Cirebon.

Ada yang tahu nggak, kenapa namanya Cirebon? Cirebon lahir dari kata Cai dan Rebon. Cai artinya air, dan rebon artinya udang kecil. Kenapa lahir kata Cai dan Rebon? Konon, karena kota ini berlokasi di pesisir, dan mata pencaharian penduduk sekitar nelayan, kemudian hasil nelayan berupa ikan dan udang dijadikan bahan sampingan untuk membuat terasi. Dari mengolah udang dan ikan menjadi terasi, maka ada hasil berupa limbah atau sisa pengolahan, yaitu air rebon. Mungkin AIR REBON pada zamannya sudah tercium ke mana-mana dan menjadi aroma khas penduduk sekitar, sehingga kalimat AIR REBON pun diolah menjadi CIREBON.

Akan tetapi, jauh sebelum istilah Cirebon lahir, ada sebutan lainnya, yaitu SARUMBAN. Sarumban sendiri merupakan dukuh/desa kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Dukuh Sarumban berkembang menjadi desa yang ramai, karena lokasinya di pesisir pantai, jadi Memungkinkan lalu lalang perdagangan berkembang cepat. Desa yang ramai ini, yang tadinya disebut Sarumban beralih sebutan menjadi Caruban. Kenapa beralih nama menjadi Caruban? Hal ini dikarenakan wilayah tersebut, pada jaman kerajaan, merupakan wilayah di mana banyak etnis hidup bercampur berdampingan. Etnis Jawa, Sunda, Arab dan Tionghoa. Mereka hidup berdampingan dengan damai, menjalankan fungsi hidup dan agamanya masing-masing. Jadi kalau sekarang ada yang klaim “GUE ASLI CIREBON”, baca dulu sejarah Cirebon yang bener yah.

Kata Caruban pun seiring dengan berjalannya waktu, pelan-pelan berubah lafalan menjadi Carbon, lalu ganti lagi menjadi Cerbon. Sementara peta dunia yang dibuat oleh Dieogo Ribero pada tahun 1529 menyebut kota Cirebon dengan sebutan Curban. Sebutan Cerbon pun mengalami perubahan lafal, menjadi Cirebon. Cerbon ke Cirebon itu perubahan paling deket. Dibandingan dari Sarumban ke Cirebon. Hebat yah! Mungkin ini yang disebut evolusi nama kota.

Karena di Cirebon inilah dihuni ragam etnis, Jawa, Sunda, Tionghoa dan Arab. Maka dikenalkanlah budaya-budaya dari Tionghoa atau pun Arab. Salah satu budaya, khususnya di kulineran, yang bisa kita nikmati sampai sekarang, adalah EMPAL GENTONG!

Menurut cerita, EMPAL GENTONG sendiri merupakan makanan gulai yang dikenalkan bangsa Arab. Karena di Cirebon belum mengenal teknologi panci dan gas, maka mereka memasak gulai yang isinya daging sapi (empal) beserta babat dan jeroan menggunakan gentong dari tanah liat dan menggunakan kayu bakar untuk memasaknya. Konon juga, pada zaman itu, kayunya juga harus kayu dari pohon mangga. Kenapa kayu dari pohon mangga? Katanya sih kayu dari pohon mangga mengandung getah yang bagus untuk pembakaran, sehingga api yang dihasilkan lebih besar dari kayu biasanya dan kayu pohon mangga lebih tahan lama serta lebih stabil saat dibakar. Ya, masuk akal sih. Masak empal gentong pun jadi memiliki panas yang konsisten.

Bicara SOAL EMPAL GENTOOOONGG! Nah, ke Cirebon kali ini, hanya khusus spesial, meski macet-macetan di Bekasi – Cikarang Utama, demi empal gentong paling enak sedunia empal gentong pun ditempuh! Inilah EMPAL GENTONG H. APUD! Yang sudah beredar di dunia empal gentong sejak 1995. Meski di sosial media ada lima list empal gentong yang wajib dicoba, ternyata EMPAL GENTONG H. APUD selalu ada di posisi pertama. Jadi, tujuan pertama, dari Jakarta subuh-subuh buta itu adalah sarapan siang di Empal Gentong H. Apud.

Lets go!

20180203_10261620180203_09390420180203_09384120180203_09391120180203_09392420180203_09393120180203_09393820180203_09401420180203_10254320180203_10254720180203_09402320180203_09515920180203_09521320180203_09522320180203_09490120180203_09491220180203_09491920180203_09495620180204_12060620180204_12011720180204_120109

Gimana? Bikin ngiler kaaan fotonya? Weee! Menurut saya, menurut lidah saya, menurut selerah saya, sebagai orang yang pertama kali merasakan masakan khas Cirebon, berupa EMPAL GENTONG ini, Empal Gentong H. Apud memang wueaannaakkkk! Saking merasa keenakannya, sampai-sampai, besoknya makan siang lagi di sini. Sudah makan siang, dibawa pulang ke Jakarta pula beberapa porsi.

Dagingnya empuk, sambalnya pedas, kuahnya kental dan bikin kenyaangg! Selain itu, harganya murah, pas di kantong. Cuma sate kambingnya sih biasa aja. Mungkin masih ada sate kambing yang lebih enak dari H. Apud di Cirebon. Tapi kalau empal gentongnya, bagi saya, H. Apud JUARAAA!

Buat yang mau kulineran di Cirebon, isi perut pertama kali ketika keluar pintu tol, memang paling pas diisi Empal Gentong H. Apud! Kalau sudah merasakannya, bolehlah mencoba empal gentong merk lain. Berhubung waktu saya tidak banyak dan lokasi penginapan tidak jauh dari H. Apud, maka ya sudahlah, makan dua kali di sini plus dibungku buat orang-orang di rumah. Lain kali akan mencoba Empal Gentong Amartha, Krucuk, Bu Darma atau Hj. Dian.

Yuk!

“sonofmountmalang”

 

 

Advertisements

3 replies »

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s