Cerita untuk Ranting Areythuza

Dongeng (44); Mengejar Layar Tancap di Kaki Gunung malang

Dulu. Dulu sekali. Ketika aku masih kecil. Di kaki Gunung Malang. Salah satu hiburan paling ditunggu penduduknya adalah layar tancap. Ada dua jenis layar tancap. Pertama, layar tancap berbayar. Kedua, layar tancap gratis. Layar tancap berbayar biasa diadain di lapangan sepak bola atau lapangan-lapangan yang cukup luas. Layar tancap gratis biasanya diadain saat ada orang kaya kawinan dan hajatan-hajatan besar lainnya yang diadakan oleh penduduk di kaki Gunung Malang.

Aku ceritain layar tancap gratisan dulu ya. Layar tancap paling sering hadir di kaki Gunung Malang lebih banyak berkat orang mampu yang mengawinkan anaknya. Kalau orang berada iseng, sunatan juga suka mengadakan layar tancap. Karena gratisan, biasanya, pemuda di kaki Gunung Malang atau pun anak-anak seumuran SD, akan menonton layar tancap di mana pun. Jalan kaki sejam dua jam sih tidak masalah. Demi menikmati tontonan gratis. Kalau nonton layar tancapnya terlalu malam, biasanya aku mencari rumah teman yang kebetulan tidak jauh dari perhelatan layar tancap dan numpang tidur. Paginya baru pulang. Kebayang kan kalau layar tancap baru mulai jam delapan malam, lalu baru kelar jam satu malam, sementara jarak dari acara layar tancap ke rumah di kaki Gunung Malang itu ditempuh dengan jalan kaki sekitar dua jam, bisa-bisa jalan sambil tidur. Kalau pun tetap harus pulang, ya nonton filmnya cukup dua judul saja atau jam 11 malam sudah harus pulang. Biasanya tergantung geng nonton layar tancap juga sih. Mereka maunya sampai bubar, ya hajar sampai bubar.

Karena waktu itu belum ada telepon. Hih! Jangankan telepon, listrik saja belum ada. Tapi kok bisa tahu ya ada layar tancap di mana saja. Penciuman anak-anak di kaki Gunung Malang setajam penciuman anjing mencium bau babi di hutan. Mereka bisa mencium aroma layar tancap gratisan di mana saja dan kapan saja.

Itu layar tancap gratisan. Akan dikejar ke mana pun.

Bagaimana kalau layar tancap berbayar? Kalau yang ini nih lumayan harus berduit saat menontonnya. Tiketnya juga tidak mahal. Palingan sekitar 1000 – 500 rupiah per dua judul film. Layar tancap diadakannya di lapangan luas, lalu diberi penutup sekelilingnya setinggi dua meter menggunakan trepal tebal. Woro-woro akan ditayangkannya layar tancap dilakukan penyelenggara menggunakan pengeras suara keliling kampung menggunakan mobil bak terbuka. Kalau sudah mendengar itu, saatnya merayu orang tua supaya dikasih uang untuk nonton layar tancap. Kalau sedang tidak beruntung, terpaksa gigit jari. Oh, tenang…! Ada cara lain menonton gratis di layar tancap berbayar.

Langkah pertama, pastikan ada pohon yang bisa dipanjat. Langkah kedua, biarkan film jalan beberapa menit, sementara anak-anak menyisir penutup area layar tancap dan mencari celah untuk masuk ke dalam diam-diam. Semacam tikus gitu sih. Hahahah! Pastikan jangan barengan. Nanti ketahuan sama petugasnya yang jaga. Cara terakhir, cari lobang sebesar apa pun untuk mengintip. Kalau semua jalan buntu, aku dan teman-teman, duduk-duduk di dekat pintu masuk sambil ngobrol dan makan kacang, serta tentu saja sambil mendengarkan adegan film. Ya, anggap saja sedang mendengarkan sandiwara radio. Jika sedang beruntung, abang-abangan penjaga di saat film sudah 40 menitan berjalan, biasanya mereka menyuruh kita masuk. Mungkin kasihan melihat kami mendengarkan layar tancap dan mungkin juga karena kami masih anak-anak.

Begitulah, Ting, kehidupan aku mengejar layar tancap di kaki Gunung Malang. Ranting, si pendengar dongeng sebelum tidur, masih bingung dengan konsep layar tancap. Boro-boro layar tancap, nonton di bioskop saja dia belum pernah. Setiap kali diajak, “Aku nggak mau. Aku nggak cuka nonton bioskop.”

Lalu, film apa sih yang biasa aku tonton di layar tancap. Buanyaakk! Warkop, film-film pendekar Berry Prima dan tentu saja, SUSANAAAAAA!

Sekarang, hampir tidak bisa ditemukan ada layar tancap di kaki Gunung Malang. Orang sudah mengenal CD, lalu DVD dan nonton online.

Besok-besok ya, kalau ada layar tancap, kita nonton bareng yuk!

 

“sonofmountmalang”

 

 

 

Advertisements

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s