coffee

SALAH SATU KOPI TERTUA DI DUNIA, ETHIOPIAN YIRGACHEFFE SI NENEK MOYANGNYA SEGALA JENIS KOPI DI DUNIA

LRM_EXPORT_20180731_081015

Belakangan ini sedang ramai-ramainya orang menyuarakan tentang ras “ASLI INDONESIA!” sebagai embel-embel demi tujuan politik. Harusnya, selain mengusung tema tentang keaslian ras, juga mengusung tentang agama asli nenek moyang Indonesia. Cukup adil, ‘kan? Eh, tapi kan postingan ini tidak akan membahas soal suku atau pun agama ya. Cukup sensian kalau membahas soal suku apalagi agama.

Jadi mau bahas apa sih? Tenang, jauh-jauhlah saya dari agama. Apa pun agamanya. Kecuali agama satu ini. Yaitu agama kopi. Karena belakangan ini, apa pun dihubungkan dengan agama, maka kopi pun tidak mau kalah, dihubung-hubungkan dengan agama. Maka dari itulah muncul pertanyaan, “KOPI ITU AGAMANYA APA?”

Sebelum menjawab kopi itu agamanya apa, sebaiknya sedikit mengulang asal-usul kata KOPI itu dari mana. Pertama, sebelum menjadi kata kopi dalam Bahasa Indonesia, zaman di mana dataran Indonesia masih tidak diketahui rimbanya, bangsa Arab sudah menyebutnya Qahwah. Artinya kekuatan, karena pada zamannya Qahwah dimanfaatkan sebagai makanan pembangkit energi. Kemudian peredaran Qahwah mulai menyebar ke negeri Turki, namanya pun menjadi Kahveh. Setelah sekian lama budaya Qahwah dan Kahveh dinikmati oleh bangsa Arab, akhirnya kopi dikenal juga oleh bangsa Eropa. Khususnya Belanda, dan merupakan negara Eropa pertama yang berhasil membudidayakan kopi. Maka Kahveh pun berubah nama menjadi Koffie dalam Bahasa Belanda. Lantas Belanda mencari induk semang untuk membudidayakan kopi dengan cara paksa dan kita mengenalnya dalam Bahasa Indonesia, yaitu kopi.

Qahwah – Kahveh – Koffie –  Kopi. Itu lah sejarah nama kopi. Cukup ya.

Kembali lagi ke pertanyaan pertama. Kalau begitu, agama kopi itu Islam donk. Secara budaya berkembangnya di Arab sana kan. Belum tentu. Karena Qahwah bukan lahir di Arab, melainkan di Etiopia, negeri tertua di dunia, tempat di mana peradaban dunia dimulai. Tanaman ini ditemukan oleh seekor kambing milik penggembala bernama Khalid yang seorang Abyssinia atau Abbesinia atau Habsyah, mereka adalah suku Habesha, yaitu suku yang mendiami Etiopia sejak 3000 SM. Sementara nama Etiopia sendiri berasal dari Ityopp’is. Nama anak cucu Ham, pembentuk kota Aksum. Ham sendiri adalah salah satu dari anaknya Nuh yang selamat dari bencana air bah yang membinasakan penduduk di muka bumi di mana Nuh berada saja sih.

Jadi, kesimpulannya tanaman yang kita sebut kopi sekarang ini, di asal usulnya adalah tumbuh dan ditemukan pada zaman di mana agama Kristen Ortodox dianut oleh kaum Abyssinia pada zaman Kerajaan Aksum. Nah, jadi kopi itu agamanya adalah Kristen Ortodox dan penemunya KAMBING!

Seru kaannn? Makanya baca sejarah dunia secara tetek bengeknya. Biar nggak buta-buta amat melihat segala sesuatu hal, termasuk belajar sejarah agama dunia di dalamnya. Biar nggak cinta buta-buta amat sama agama yah. Eaaaa!

Cukup ya sampai di sini aja ya intronya.

Karena selanjutnya saya akan membahas Ethiopian Yirgacheffe, salah satu kopi terbaik di dunia! Tapi tetap saja, banyak faktor juga untuk membuat kopi menjadi yang terbaik. Selain tingkat kematangan kopi, proses penjemuran dan tahapan paling krusial juga adalah roasting. Gaya banget ya guweeeehh! Kek ngerti aja soal perkopian. Anyway, kita harus sok teyu di era di mana semua orang sok tahu! Hahahah!

Nah, bicara soal Ethiopian Yirgacheffe, ada satu roastingan yang menurut lidah saya itu termasuk kategori enak. Sebab, tidak gampang juga bisa menemukan kopi yang roastingannya cocok dengan lidah kita. Walau pun jenis kopinya sama. Beberapa kali mencicipi Etiopia di beberapa kedai kopi, belum menemukan rasa yang pas di lidah. Kebanyakan bikinnya cemplang dan super less coffee. Mungkin mereka pakai takaran umum, yaitu 12 gram dengan 150-180 ml air dan tidak cocok di lidah saya. Terlebih lagi roastingannya cenderung light, jadi asamnya masih tajam dan tidak cocok di lambung saya. Kalau mau minum pun harus dikondisikan perut terisi makanan sebelumnya. Kalau tidak, bisa oe oe karena asam lambung naik. Namun roastingan Etiopia kali ini berbeda dari beberapa roastingan Etiopia yang pernah saya beli. Kali ini sangat pas di lidah saya, tentunya dengan takaran dan racikan saya sendiri. Tidak begitu asam, tidak begitu cemplang. Semi light, namun tetap bold di mulut. Tsahh! Gaya loe pakkk! Wkwkwkwk! Kaya orang bener pada umumnya aja ngemengin kopi. Waks!

 

 

Jadi saya bisa bilang, Ethiopian Yirgacheffe hasil roastingan dari Worcas merupakan salah roastingan terbaik yang pernah saya cicipi. Tidak begitu light, tidak juga medium to semi dark. This one is perfectolah! Bukannya muji sih, cuma saya suka berbagi dan mengabarkan kopi enak aja. Supaya kosakata lidah kita semua tentang kopi semakin kaya. Dan pengetahuan kita akan kopi pun semakin luas, tidak melulu ngomongin kopi Indonesia. Meski yes, kita kaya akan keberagaman kopi, tetapi juga kita harus tahu, bahwa dunia lebih kaya juga dengan kopi dan menunggu kita untuk mengeksplornya.

 

 

Sekian dan semangat ngopi semuanya!

 

“sonofmountmalang”

Advertisements

2 replies »

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s