Mitos Suara Tonggeret Pertanda Musim Hujan Telah Usai

LRM_EXPORT_14233813271390_20181019_165442090

Oktober baru saja memulai menghitung harinya di tengah bulan. Hujan di belahan banyak Indonesia tidak juga kunjung datang. Kekeringan melanda penjuru negeri. Bahkan Situ Cileunca surut beberapa meter. Pertanda musim hujan belum datang, juga belum berakhir. Namun salah satu pertanda musim hujan akan berakhir, Sang Tonggeret, menurut mitos-mitos beredar di kalangan penduduk dunia, sudah lantang di sore-sore sahut menyahut di penjuru pohon-pohon teh, kopi dan pohon-pohon pinus. Suaranya mendebarkan perasaan akan rindunya kita pada sebuah tempat di mana Sang Tonggeret pernah menjadi alarm, sebuah tanda, bahwa permainan di kaki sebuah gunung bersama anak-anak harus segera disudahi.

Setiap sore, suara tonggeret akan terus menjadi pertanda, semua penduduk harus kembali ke rumah.

Kini, pecahnya suara Tonggeret tidak menyurutkan saya dan orang-orang untuk terus melakukan Romusa di perkebunan teh demi sebuah iklan TV Commercial. Hahahah!

Di sela-sela Romusa ini saya iseng mendekati suara Tonggeret di segala penjuru. Mereka adu kekuatan, rupanya, suara mereka bukan diperuntukan untuk manusia, namun untuk menarik pasangannya.

Jika tertarik satu salam lain, lantas MAKE LOVE di kebun teh!

Setelah MAKE LOVE, bertelur di pohon lantas mereka mati. Lalu telur yang sudah berubah menjadi larva-nya akan berdiam di dalam tanah selama 17 tahun. Setelah 17 tahun, larva yang sudah berubah wujud menjadi setengah serangga akan muncul ke permukaan tanah dan bergerak menuju pohon. Di batang-batang pohon, mereka akan bermetamorfosis menjadi Tonggeret, bersayap dan siap mencari pasangan.

Secara siklus, di pohon, mereka hanya hidup 3 hari ada yang bilang dan beberapa minggu saja sampai mereka bertelur. Berapa pun, tidaklah sepadan dengan lamanya berdiam hidup selama 17 tahun di dalam tanah. Di dalam tanah, bentuk larva mereka sebenarnya mirip dengan White Grub atau Larva Kumbang Badak. Hanya mungkin ukuran larva Tonggeret lebih kecil. Lebih detailnya bisa dibaca google atau ditonton di youtube.

Jadi buat yang suka berburu Tonggeret untuk dijadikan cemilan kriuk dengan cara digoreng kering, ingat ya pakkk, mereka butuh 17 tahun untuk bisa kita dengarkan suaranya saat sore di sisi hutan atau di kebun-kebun dekat rumah. ,-Setelah melihat video di youtube, orang berburu Tonggeret sekantong besar, lalu dicopotin sayapnya, dimasukin ke ember badannnya dan kemudian digoreng kering! SAKIT JIWA!

Dan, sore ini, Tonggeret berbunyi bukan untuk memberi isyarat kepada semesta, bahwa musim hujan telah usai, tetapi berbunyi untuk mencari pasangan bercinta.

Selebihnya, kita lihat yuk dari dekat Sang Tonggeret.

LRM_EXPORT_14236359266465_20181019_165444636LRM_EXPORT_14227319312933_20181019_165435596

LRM_EXPORT_14235146801735_20181019_165443423LRM_EXPORT_14228848180932_20181019_165437125LRM_EXPORT_14230791793854_20181019_165439068LRM_EXPORT_14229895328008_20181019_165438172LRM_EXPORT_14231752323776_20181019_165440029LRM_EXPORT_14237695934887_20181019_165445972LRM_EXPORT_14238818892925_20181019_165447095

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

Categories: Uncategorized

2 replies »

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s