INDONESIA, BERSIAPLAH MENGHADAPI 5th WAVE COFFEE!!

Untitled.001

Contoh-contoh brand yang disesuaikan dengan wave coffee masing-masing dan walau ada yang terus beradaptasi hingga sekarang atau menuju 5th wave coffee.

Pertanyaan yang terlintas di kepala saya, apa sih 5th wave coffee? Saya akan coba menjawabnya. Tetapi alangkah baiknya kita mundur sedikit ke postingan saya di 2017 soal  1st, 2nd dan 3rd wave coffee dan 4th wave coffee. Oke! Saya bahas singkat saja ya satu per satu.

Konon, gelombang dunia keukopian itu mengalami beberapa tren gelombang. Gelombang pertama, istilah dunia mengenalnya dengan 1st wave coffee. Oh ya, kita membahas soal “wave coffee” ini lebih ke global ya, bukan terpaku Indonesia saja. Apa sih 1st wave coffee? Adalah terjadi pada tahun 1800-an di mana kopi seharusnya disajikan dengan mudah dan cepat. Jaman itu, lahirnya brand kopi Folgers dan Maxwell House dengan teknologi kemasan Vacuum Packaging atau lebih singkatnya, di 1st wave coffee adalah lahirnya KOPI INSTAN. Pada jaman 1st wave coffee itu, kopi instan dikuasai beberapa brand seperti Folgers, Maxwell House, Mr. Coffee dan Nescafe. Kalau Nescafe semua orang Indonesia tahulah. Di era ini jugalah lahir automatic drip home coffee maker. Bisa dilihat di film-film jadul soal alat ini, di mana adegan artis menuang kopi ke cangkir dari teko kaca. Jadul banget film saya yak! Jadi paham ya soal 1st wave coffee ini. Kesimpulannya, 1st wave coffee ini memiliki karakteristik kopi sebagai mana fungsinya, yaitu kopi untuk memenuhi kebutuhan ngopi konsumennya.

Sekarang ngaku, siapa yang masih suka minum kopi instan? Kalau saya sendiri nggak bisa minum kopi instan, selain rasanya nggak jelas, juga bikin asam lambung saya naik! So, kopi instan bukan selera saya. Tsahhh!

Kita bergerak ke 2nd wave coffee. Gelombang kedua ini lahir karena masyarakat merasakan busuknya rasa kopi instan di era sebelumnya. Konon pada gelombang pertama itu, perusahaan-perusahaan memproduksi kopi secara membabi buta dengan kualitas kacrut. Begitu katanya. Saya nggak tahu juga. Kan nggak hidup di gelombang itu. Karena busuknya kualitas kopi instan itulah memunculkan persepsi di benak masyarakat, bahwa kopi itu harusnya sesuatu yang bisa dinikmati, diperdalam dan diresapi. Bukan hanya sekedar minuman biasa saja. Dari sinilah lahir kopi Starbucks, yang menjual konsep biji kopi freshly roasted beans.

Di gelombang kedua ini mulai dikenalkan istilah café latte, espresso, cappuccino dan french press. Oh ya, kayanya gelombang-gelombangan ini tidak berlaku di Italia dan Turki atau negara-negara yang basic-nya memiliki sejarah dan budaya ngopi yang sangat kental. Gelombang ini berlaku di dunia bisnis keukopian saja, yang pada akhirnya bisa memengaruhi tren ngopi ngopi secara global.

Bisa dibilang juga, di gelombang ini, orang-orang mulai penasaran dengan kopi yang mereka minum, penasaran dengan bagaimana roasting-nya dan seperti apa biji-bijinya, dari mana kopinya dan bisa istilah “specialty coffee beans” mulai muncul di era ini.

Selain Starbucks, lahir juga di era ini Seattle’s Best Coffee, Coffee Bean and Tea Leaf dan Caribou Coffee. Kalian pasti tahu Starbucks dan Coffee Bean and Tea Leaf ya. Nah, inilah coffee shop yang lahir di era 2nd wave coffee. Kemudian baru di tahun 2015 si Caribou Coffee buka cabang pertamanya di Indonesia. Sebelum ada kedai-kedai kopi, saya akui, kedai kopi biasa saya ngopi ya Starbucks atau Coffee Bean and Tea Leaf di awal sampai tengah bulan. Akhir bulan kembali ngopi pakai mokapot jadul saya.

Kesimpulannya, di 2nd wave coffee ini adalah era di mana ngopi menjadi lifetsyle atau bahasa kerennya gaya hidup. Nongkrong di kedai kopi modern menjadi gaya-gayaan, terlebih bawa minuman di cup ke mana-mana. Seolah sudah menjadi orang paling bener saja. Saya juga begitu sih. Kalau shooting iklan atau meeting, minumnya Starbucks dan brainstorm juga di Starbucks. Termasuk menulis novel yang nggak pernah terbit atau pacaran juga di Starbucks. Oh ya, soal tren atau gelombang-gelombangan ini, pasti sampainya ke Indonesia beberapa puluh tahun lebih telat ya. Misalnya, 2nd wave coffee itu muncul di tahun awal-awal Starbucks membangun bisnisnya, yaitu sekitar tahun 1971an hingga besarnya di tahun hingga 2000an. Kemudian gerai pertama di Indonesia baru ada tahun 17 Mei 2002 di Plaza Indonesia. Barulah ketika Starbucks sudah booming di Indonesia, beberapa usaha kopi sejenis muncul. Walau sangat berdekatan, lahir juga Caswell di 1999, kemudian Quintinos di tahun 2005, Anomali Coffee di tahun 2007, tanamera di 2013 dan disusul beberapa kedai lainnya. Bayangkan, berapa jarak tren 2nd wave coffee di luar negeri di Indonesia. Semoga asumsi saya salah yah.

Setelah 2nd wave coffee cukup matang, di luar sana muncul 3rd wave coffee. Mahluk apa lagi itu? Di Amerika sendiri, 3rd wave coffee dimulai di tahun 2000an atau istilah lainnya adalah dengan kemunculan “ARTISAN COFFEE” dan di sinilah lahir juga istilah coffee snob. Udah pernah saya bahas coffee snob di blog saya juga. Salah satu coffee shop yang lahir di era 3rd wave coffee ini sudah sangat besar dan terkenal adalah Blue Bottle Coffee. Sekarang memiliki valuasi 700 juta dolar. Haaaa!? Akan buka cabang di Indonesia kayanya yak.

Sementara ARTISAN COFFEE kopi di Indonesia sendiri sebenarnya lahir di coffee shop atau individual roaster macam Anomali, Djournal Coffee (mungkin), Tanamera, Caswell’s Coffee dan disusul beberapa coffee shop fancy macam 1/15 coffee dan banyak lagi kedai-kedai yang menyajikan kopi dengan teknik manual brew banyak gaya hingga cold brew. Di era inilah orang-orang mulai mendalami istilah-istilah specialty coffee, single origin, body, acidity, bitterness, sweetness, aroma dan berbagai cara manual brew plus notes-notes atau karakter-karakter kopi. Di era inilah semua orang “sok tahu” soal kopi. Dari kota hingga pedesaan. Semuanya demam manual brew, demam roasting kopi sendiri, dan menebak-nebak serja menjelaskan notes kopi serta segala rupa yang urusannya dengan kopi. Pokoknya era ini adalah era paling malesin. Bagi saya sih. Plis deh, nggak segitunya kali gali rasa kopi. Emang siapa peduli juga. Wkwkwk! Tapi di era ini layak diapresiasi juga. Karena di sinilah lahirnya era di mana kopi di-crafting sedemikian rupa dengan penuh cinta. Lomba-lombaan di era ini pun booming dengan spesialiasi alat tertentu. Era ini era di mana kopi diperlakukan sangat manusiawi, namun nampak lebay.

Tetapi nampaknya booming gelombang crafting kopi di Indonesia tidak begitu lama dan tidak semenarik di Jepang atau Amerika (Harap benarkan kalau saya salah data:D). Kenapa? Ada beberapa alasan. Pertama, artisan coffee itu menciptakan harga kopi per cupnya cukup mahal. Di 1/15 misalnya, per cup untuk manual brew bisa mencapai 30 – 40 ribuan kalau tidak salah. Sehingga, kemunculan demam kopi single origin, ngulik kopi pun di coffee shop di Indonesia hanya bisa dinikmati segelintir orang juga aka orang-orang berduit! Apa bedanya kalau begitu ya dengan harga Starbucks yang harganya mahal juga. Yang pada akhirnya, karena demam artisan coffee ini, Starbucks pun menyediakan manual brew juga. Walau hanya untuk Starbucks Reserve saja. Sekali lagi, tetap saja, tidak semua orang bisa dan mau menikmati kopi hitam single origin cewer-cewer atau kopi artisan atau kopi di-crafting. Selain harganya mahal, banyak orang nggak nggak peduli dengan notes-notes itu. Mahhahah!

Setelah ramai dengan kopi artisan, muncullah era kopi murah yang bisa diminum secara massal. Rasanya bisa diterima oleh orang-orang yang baru mau mulai minum kopi, dan atau ingin minum kopi lebih sering tapi dompet nggak boncos. Minum kopi mudah, sederhana, tidak ada notes-notes yang bikin ribet, tidak ada rasa yang harus dirasa-rasa dan dipelajari ketika minum kopi. Asal glek saja. Ready to go. Oke, tahan dulu ya tulisan soal kopi ini.

Dari 3rd wave coffee, muncullah 4th wave coffee. Gelombang ini sebenarnya kelanjutan dari 3rd wave coffee. Ketika era artisan coffee mencuat dan hanya basic-nya saja pengehatahun tentang kopi. Sebatas memahami single origin coffee dan notes-notes pada umumnya. Di 4th wave coffee ini justru pemahaman tentang kopi lebih mendalam lagi. Di sini bicara prinsip-prinsip metode ilmiah tentang kopi, meneliti lebih dalam tentang keakuratan timbangan kopi, keakuratan bagaimana membuat manual brewing, airnya dihitung, suhunya disesuaikan dengan keilmuannya masing-masing supaya rasa yang diinginkan bisa keluar, sumber airnya bagaimana dan dari mana, keasaman air, mineral air dan segela detail seluk-beluknya kopi beserta instrumen di dalamnya. Di tahun inilah lahir juga specialty coffee dengan harga ampun-ampunan. Panama Geisha contohnya. Serta di era ini jugalah lahir banyak sekali metode manual brew dari A to Z. Alat-alat untuk menghasilkan kopi pun semakin canggih. Berkembang dengan pesat plus sangat mudah ditemui. Jadi, khusus untuk di Indonesia, coffee snob di era ini sudah babay. Karena gelombang keempat ini adalah eranya pemahaman 360 derajat tentang dunia keukopian. Di 4th wave coffee, konsumen dihadapkan pada tahan eksplorasi rasa kopi jauh lebih dalam. Bagi yang tertarik saja. Bagi yang bodo amat, tetap pesannya coffee latte, cappucino dan temen-temennya yang mengandung susu-susuan. Kesimpulan sederhananya, 4th wave coffee ini kelanjutan dari 3rd wave coffee secara berkesinambungan. Bedanya, di 4th wave coffee, pemahaman tentang kopi jauh lebih kompleks lagi dan semakin menarik. Kecuali melihat perkembangan di Indonesia ya. Seperti kita ketahui, kita adalah, merupakan, salah satu negara late follower soal trend kopi ini. Bahkan banyak juga mengadopsi tren kopi-kopi di luar negeri tentunya. Hanya saja masyarakat Indonesia kadang suka culture shock. Bukan nyinyir lho ya, fakta ini!

Ciri-ciri coffee shop di gelombang ini adalah instrumen atau perlengkapannya udah kayak lab.

Sayangnya, seiring dengan 4th wave coffee mulai mem-booming di Indonesia dan edukasinya belum sematang di negara lain. Nah ini saya sok tahu! Hahahah!  Lahirnya dengan segera 5th wave coffee. Saya tidak menyebut bahwa di Indonesia, dalam hal ini konteks brand lokal, semisal Tuku, merupakan salah satu penggebrak bergulirnya dengan cepat 5th wave coffee di Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya. Kenapa saya bilang begitu? Karena dari Tukulah, pelopor kopi susu kekinian di harga 18.000 mulai menularkan ide bisnis kopi sejenis, dengan racikan kurang lebih sama. Bedanya hanya di jenis blend kopi, susu dan gula yang digunakan. Walau beberapa mengembangkan kopi kekiniannya masing-masing. Tetapi basic-nya adalah kopi, susu segar atau susu full cream, kreamer dan gula merah cair. Dari sinilah perberlombaan membuka cabang sebanyak mungkin terjadi. Masuknya venture capital serta pendanaan dari bank-bank dengan nominal super fantastis.

Kalau di luar, contoh nyata adalah Blue Bottle Coffee. Salah satu coffee shop yang lahir di 3rd wave coffee dan bertahan hingga ke 5th wave coffee serta menjadi brand kopi dengan valuasi super mahal. Bukti nyata di Indonesia adalah KOPI KENANGAN dan FORE. Kopi Kenangan sendiri dapat suntikan dana dari Alpha JWC Venture senilai kurang lebih 114 MILIAR di tahuan 2018 dan kembali disuntik Sequoia India di tahun 2019 sebesar kurang lebihnya 284 MILIAR. Kemudian ada FORE disuntik sekitar 135 MILIAR dari East Venture dan beberapa venture capital lainnya. Ambisi besar di 5th wave coffee ini untuk bisa membangun kerajaan kopi dengan valuasi yang kelak akan bombastis. Kopi di era ini sangat kekinian, berbasis teknologi, punya team tersendiri untuk membangunnya menjadi raksasa bisnis. Ketika kopi-kopi semacam Blue Bottle dari Amerika, Luckin Coffee dari China dan Kopi Kenangan, Fore atau siapa tahu Tuku juga akan disuntik ratusan miliar dana dari venture capital, maka pemain-pemain besarlah yang akan menjadi pusat perhatian konsumen massal. Kelak, semoga analisis saya salah, gerai-gerai kopi kecil, yang menjual kopi sejenis, akan tergerus atau bahkan diakusisi oleh calon-calon raksasa kopi di 5th wave coffee atau juga kalau saya sendiri lebih berani bilang, kopi start up. Walau pun juga banyak coffee shop besar dari yang lahir di 2nd wave coffee dan 3rd wave coffee terus beradaptasi mengikuti perkembangan tren ngopi di 4th wave coffee. Bahkan mereka sudah siap menghadapi 5th wave coffee.

Untitled.002

Ini salah satu contoh, menurut saya, 5th wave coffee di Indonesia.

Dan, 5th wave coffee secara global atau pun di Indonesia, baru memulai babak awal. Saya tidak bisa membayangan beberapa tahun ke depan, akan seperti apa. Sementara itu, kita ngopi saja dengan cara kita. Karena, pada akhirnya, yang tahu selera kita, adalah, lidah kita sendiri. Bukan ambisi dari kopi-kopi kekinian yang setiap hari buka cabang baru, namun dengan kualitas rasa kopi asal kopi.

Semoga kita, dalam menikmati kopi, tetap merasakan cinta ketika menyeruputnya dan tetap mengeksplorasi untuk mendapatkan pengalaman lebih dalam tentang kopi. Tidak asal glek seperti di 1th wave coffee. Tidak asal minum kopi karena harganya murah.

Catatan: Pembagian periode tahun tentang gelombang kopi dunia.

1st wave coffee – Abad ke 20 atau tahun 1800-an
2nd wave coffee – Pertengahan 1990-an
3rd wave coffee – Pertengahan 2000-an
4th wave coffee – Tahun 2010-an
5th wave coffee – Pertengahan 2010-an

Dari sini, kalian bisa menarik kesimpulan juga seberapa telat kita di dunia keukopian.

Semangat ngopi semuanya!

“sonofmountmalang”

*Tulisan ini mungkin bisa jadi hanya sekedar opini saya belaka dengan didukung beberapa data dari worldcoffeeportal. Kalau tidak setuju, ya silakan komeng. Sama kalau ada taipo, tolong dimaafkan. Edisi males ngedit.

Kalau mau seru, yuk! Join obrolan bareng saya dan teman ala ala suka suka di youtube:P

 

 

 

Categories: Uncategorized

2 replies »

  1. Halo, terimakasih untuk tulisannya,
    Mungkin saya termasuk coffe snob atau tukang ngopi lebay, dan jatuh cinta dengan kopi di era ke 4, heheheheh
    Tapi karena sebuah pemkiran bagaimana 1 biji dari pohon yang sama jika diproses berbeda menghasilkan rasa berbeda, alasan inilah yang membuat saya jatuh cinta, penasaran dan tertarik mempelajari tentang kopi,

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s