Cerita untuk Ranting Areythuza

Dongeng (51); Diculik Kelong Wewe

Dulu, Ting. Dulu sekali, waktu aku di kaki Gunung Malang. Hidup aku dipenuhi dengan mitos-mitos. Banyaaaaak sekali mitos. Salah satu mitos yang bikin kita semua ketakutan adalah Kelong Wewe. Apa sih Kelong Wewe? Konon, kata orang tua di kaki Gunung Malang, dia itu sukanya nyulik anak kecil atau ngumpetin anak kecil, atau bawa anak kecil ke ujung pohon bambu. Begitu katanya. Cerita itu bikin kita sangat takut, kalau sudah sore, beneran harus segera berhenti bermain dan mandi.

Jadi, dulu, anak-anak, kalau main suka lupa diri. Matahari sudah mau tenggelam, masih saja main petak umpet, kucing-kucingan, main bola dan permainan jadul lainnya. Nah, karena kita semua itu susah dibilangin, jadinya kita mulai ditakut-takutin. Katanya, kalau magrib nggak udahan juga mainnya, nanti diculik Kelong Wewe.

Contohnya, kata orang tua, tuh si Rusmana. Rusmana itu salah satu teman main aku, tapi beda kampung. Katanya, Rusmana main petak umpet tuh pas mau magbrib. Saat dicari sama anak-anak, dia tidak ditemukan. Di semua tempat tidak ditemukan. Sampai semua anak jadi panik, dan melaporkan ke orang tuanya. Orang tuanya ikut mencari, tapi Rusmana tidak juga ditemukan. Seluruh penduduk mulai panik, katanya. Lalu dipanggil dukun. Oh ya, nanti soal dukun di kaki Gunung Malang akan aku ceritakan di sesi sendiri ya.

Kembali ke Rusmana, setelah dipanggil dukun terkenal di kaki Gunung Malang, dukun itu jampi-jampi di halaman rumah, kemudian seperti biasa, syarat dukun pada jaman aku sih Ting, itu selalu minta kopi hitam. Nah, setelah meneguk kopi hitam dan menyalakan menyan, dukun itu bergerak ke samping salah satu rumah penduduk, di mana di sampingnya itu ada tumpukan papan kayu untuk membangun rumah. Nahhh! Rusmana, Ting, itu dia ada di bawah tumpukan kayu, paling bawah, tiduran dan nggak bisa keluar. Kata sang dukun, di sini nih Kelong Wewe ngumpetin anak. Kemudian dukun menyemburkan kopi ke sekitar tumpukan papan, dan Rusaman pun berhasil ditarik. Rusmana sudah dalam kondisi lemas. Ia kejepit tumpukan papan kayu dan tak bisa keluar. Entah gimana ceritanya ia bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar.

Cerita itu pun menyebar, Ting. Ceritanya jadi senjata orang tua di kaki Gunung Malang kalau anaknya tidak mau selesai juga main kalau sudah magbrib.

Ada cerita lain juga soal Kelong Wewe ini. Katanya, Ting, ada juga yang anaknya dibawa Kelong Wewe ini ke atas pohon bambo. Jadi, katanya, anak ini tiba-tiba ada di ujung pohon bambu dan tidak bisa turun. Ada juga yang disembunyiin di celan pohon, di goa, di sumur, di setu dan di tempat-tempat horor lah pokonya. Yang bikin semua anak-anak takut kalau sore. Jadinya kita nggak ada pilihan, selain menyudahi permainan seru di sore hari.

Tahu nggak Ting, kenapa aku dan teman-teman aku ditakut-takutin begitu.

“Nggak tahu,” Jawab Ranting.

Karena hanya itulah satu-satunya cara supaya mereka selesai main, dan pulang, mandi dan belajar ngaji, atau mengerjakan PR. Orang tua di kaki Gunung Malang, tidak punya alasan yang rasional supaya anak-anaknya berhenti main. Dan, menakut-nakuti adalah cara yang paling ampuh. Buktinya, kita langsung udahan ketika matahari mulai terbenam. Mandi, menghangatkan diri di depan perapian sambal makan malam dilanjutkan belajar, lalu tidur dengan suara-suara malam di sekitar rumah. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan di kejauhan. Hiiiiiii!

Nah, sekarang sih aku nggak perlu nakut-nakutin kamu soal Kelong Wewe kan ya, Ting. Aku berusaha menjadi orang tua rasional aja ya. Supaya hidup kamu nggak dipenuhi mitos. Hidup aku dulu dipehuni ketakutan. Lewat pohon bambu, ada mitos ini, berenang di curug, ada mitos itu, main di batu besar, ada mitos, main di pohon beringin, lewat makam, di kolong ranjang aja ada mitosnya. Hahahhaha!

Besok aku cerita yang seru-seru aja ya, soal temanku, Rusmana dan Komarudin. Atau, apa ya, yang seru. Atau, aku cerita soal si Jalu ya, ayam nakal piaraanku.

Oke.

Good night, bro…! Sweet dream.

“sonofmountmalang”

komen sebagian dari blogging!:))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s