Kemping murah meriah bersama legenda Ranca Upas

RancaUpas0124

Spot di Ranca Upas paling ujung, paling jauh dan paling dekat dengan hutan dan lumayan paling jauh ke toilet juga sih. Tapi spot ini paling jauh dari keramaian.

Ada dua legenda yang diracik atas nama RANCA UPAS. Pertama, Ranca Upas berasal dari kata Ranca dan Upas. Ranca artinya rawa. Upas artinya pohon jenis Upas dari keluarga moraceae, yang dulunya, konon, di rawa ini banyak ditemukan Pohon Upas. Salah satu pohon beracun yang biasa digunakan untuk berburu di hutan, dengan mengoleskan racun ke ujung panah atau tombak. Nama Ranca Upas diberikan sesuai dengan kebiasaan ORANG SUNDA sih tepatnya, yang katanya, memberikan nama untuk suatu wilayah diidentikkan sesuai ciri-cirinya, kejadian atau kebiasaan. Alasannya sederhana, supaya mudah diingat. Yas, masuk akal sih.

 

Legenda kedua, menurut saya, ini paling menarik dari nama Ranca Upas. Kenapa? Karena legenda bisa lebih melegenda ceritanya. Jadi, katanya, dulu di daerah ini ada seorang tokoh perhutani orang WALANA. Pasti tahulah yah sejarah Lembang atau Ciwidey dan tempat-tempat gunung teh yang sarat dengan kompeni, di mana mereka memaksa penduduk lokal untuk menanam cengkeh, teh dan kopi. Nah, Si Upas ini menjelajah ranca, eh dia mati di ranca, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan.

RancaUpas0076

Pagi berkabut paling benar itu TEH PANAS atau KOPI PANAS!

 

Dari situlah muncul mitos, katanya, sebenarnya Si Upas ini masih suka ditemui oleh beberapa pencari kayu bakar. Jadilah mitos Ranca Upas sekaligus namanya menjadi nama wilayah Ranca Upas yang terus diceritakan dari jaman ke jaman. Sama lah halnya dengan mitos Tangkuban Perahu kan. Ya keles ada orang nendang perahu, kemudian perahunya kebalik dan jadi gunung. Heloowww! Tapi, itulah legenda. Sah-sah saja dikreasikan. Mungkin, kalau saya hidup di jaman legenda-legenda, saya palingan doyan MENGARANG SEGALA JENIS LEGENDA.

 

Terlepas dari serunya legenda tentang Ranca Upas, berkat namanya yang unik dan kebaikan bapak-bapak dari Perhutani yang sudah membuka Ranca Upas, kini siapa pun akhirnya bisa merasakan KEMPING MURAH di tempat dingin berkabut dan bebas menentukan spot kemping sesuka hati. Mau di bawah pohon-pohon Rasamala. Mau di samping danau kecil. Mau di dekat hutan. Mau di dekat parkiran. Mau di dekat toilet. Mau jauh dari toilet. Mau parkir mobil kemudian membuka tenda di belakang mobil. Bisaaa! Terserah kamu maunya kemping di spot mana. Tergantung mau jalan jauh bawa perlengkapan kemping kemudian terhindar dari keramaian atau selemparan kutang pink dari mobil sudah bisa kemping, namun kok terasa bukan kemping ya kalo masih bisa melihat deretan mobil parkir. Ehhh, terserah yang kemping donk. Suka-suka lah sih!

IMG_9758

Kampung Cai Ranca Upas. Lets goh!

RancaUpas0061

Cukup lumayan kan dinginnya kalau sore mulai berkabut.

RancaUpas0064

Menikmati kabut di sini sambil pelukan saja kalau ada pasangan. Kalau tidak, ya peluk pohon yang jomblo pun tak masalah. Yang penting hangat.

RancaUpas0123

Selain bisa mendirikan tenda di atas tanah, kalian juga bisa mendirikan tenda di atas semen. Ya, siapin kasur aja.

RancaUpas0109

Toilet sudah tidak berfungsi di spot paling ujung. Kalau cuma pipis ya bawa botol minum aja yah.

RancaUpas0062

Jalan setapak menuju spot paling ujung. Bisa dilalui motor kalau kalian mau minta tolong pengurus Ranca Upas untuk dibawakan alat-alat kemping ke spot paling ujung ini.

Lantas, apa yang wajib disiapkan untuk kemping di Ranca Upas?

  1. Bawa tenda dan perlengkapan kemping
  2. Tidak usah bawa tenda karena di Ranca Upas disewakan tenda segala ukuran dan tidak usah takut kehabisan, karena setiap warung menyewakan tenda dan perlengkapannya
  3. Bawa makanan dan sejenisnya untuk dimasak
  4. Tidak usah bawa juga nggak apa-apa, wong warungnya buka 24 jam
  5. Untuk menghangatkan badan di api unggun juga cukup membeli sebuntal kayu bakar seharga 15.000. Dua atau tiga buntal kayu bakar cukuplah sampai pagi kalau mau nongkrong terus di depan api unggun
  6. Bawa uang untuk beli-beli dan bayar tiket susulan, misalnya ngasih makan rusa atau main air di kolam. Nggak ngasih makan sama main air juga nggak apa-apa. Itu nggak penting-penting amat buat kehidupan kemping, kecuali mau narsis kalau loe udah pernah ngasih makan rusa dan foto bareng rusa di Ranca Upas. Alay!:))
  7. Kalau mau kemping lebih hemat lagi, bawa semua perlengkapan dan tinggal beli kayu bakarnya saja.
  8. Hindari ke toilet pada jam-jam genting. Kecuali mau nahan pipis atau nahan kebelet beol sampe lobang pantat melintir.
  9. Kalau mau berangkat kemping untuk personal atau keluarga, kayanya tidak perlu bertanya ke contact person-nya Ranca Upas, selain jawabnya lama, juga nggak begitu pentinglah. Kecuali untuk corporate atau komunitas dengan jumlah peserta ratusan yah. Nah baru deh koordinasi dengan pengurus Ranca Upas.
  10. Jangan terlalu berharap begimana mungkin ya, misalnya membandingkan Ranca Upas dengan Tanakita atau Legok Kondang atau camping ground milik swasta lainnya. Ini punya pemerintah/perhutani, jadi enjoy sajalah, sodara-sodara!
    RancaUpas0072

    Spot kemping di dekat penangkaran rusa. Di sini lumayan di tengah. Tidak ramai, juga ke toilet masih bisa dijangkau dengan jarak sekitar 300 meteran.

    RancaUpas0003

    Pemandangan langsung hutan. Sambil tiduran, ngemil dan membaca buku sudah bahagia.

    RancaUpas0068

    Jangan terlalu siang membongkar tenda. Kecuali hujan, lanjutkan saja kempingnya. Kalau terang benderang seperti ini, meskipun masih berkabut, udara di pegunungan cepat sekali panasnya.

    RancaUpas0088

    Siapkan api unggun pagi hari untuk menghangatkan diri.

    RancaUpas0009

    Bersama si bolang, Virgillyan Ranting Areythuza

    RancaUpas0191

    Is that you wolf merupakan bacaan ringan Virgillyan.

    RancaUpas0212

    Nahhh! Kalau bacaan berat ini sih dia cuma acting doank.

    RancaUpas0077

    Semuanya menyambut matahari. Anyway, bercak di kamera karena jarang dipakai itu bikin KZL!

    RancaUpas0059

    Kabut sore di Ranca Upas siap mendinginkan suasana hati kalian semua!

Terakhir tidak usah takut kehabisan spot kemping. Ranca Upas itu luaasssss! Sewaktu saya kemping, itu ada dua komunitas yang kemping. Pertama, komunitas KEMAH KELUARGA memenuhi blok utama, tepatnya di bawah pohon-pohon rindang Rasamala dan dekat pintu gerbang. Kedua, komunitas mobil Escudo. Selebihnya rombongan-rombongan keluarga, rombongan anak kampus, rombongan ABG galau dan rombongan anak SMA dan ya ada juga sih pasangan yang mau bercinta di dinginnya tenda suasana Ranca Upas. Sotoy sih! Eh, tapi juga siapa larang coba! Mau enak-enak kok dilarang.

Selebihnya, jangan berharap ketemu Si Upas!

Dan,

SELAMAT BERKEMPING MURAH MERIAH DI RANCA UPAS, CIWIDEY, BANDUNG – JAWA BARAT.

RancaUpas0228

Berangkaattt!

RancaUpas0005

Buat yang doyan ngopi, jangan lupa membawa seperangkat alat ngopi ke mana pun pergi.

RancaUpas0084

Teko isi teh hangat selalu selama 24 jam.

RancaUpas0010

Tiga hal yang wajib dibawa untuk isi perut dan menghangatkan badan. Kompor gas untuk masak, anglo isi arang yang bisa hangat 24 jam dan api unggun.

RancaUpas0120

Tidak usah takut kehabisan kayu bakar. Stock di 10-an warung masih banyak.

RancaUpas0006

Seperangkat alat masak.

RancaUpas0024

Kebayang kan aroma pisang goreng ditiup angin dingin. Gleks!

RancaUpas0031

Hayuk kita nyemil dan ngeteh!

RancaUpas0055

Masaknya pun yang simple dan cepat. Macam spageti kaya gini lah yah!

RancaUpas0140

Ngopi paling enak di Ciwidey. Manual Brew Aeropress. SIapa mau?

RancaUpas0142

Jangan lupa temannya si pisang goreng.

RancaUpas0056

Bawa jagung, singkong atau ubi untuk dibakar.

RancaUpas0231

Tiket masuk untuk tiga orang dewasa. All in one.

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

Apakah Surga Sudah Pindah ke Ujung Kulon?

Screen Shot 2017-08-10 at 12.30.28 PM

Surga di Ujung Kulon?

Kalau kamu mencari surga, tidak usah jauh-jauh untuk ibadah dengan tekun sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Hal yang paling sederhana untuk menikmati surga itu ada di mana, kamu cukup mengetik, “SURGA DI UJUNG KULON,” maka akan keluarlah tulisan orang-orang yang pernah merasakan yang dianggapnya surga, dengan judul atau caption bermacam-macam. Mulai dari, “Surga kecil di Ujung Kulon.” “Surga tersembunyi di Ujung Kulon.” Dan judul-judul yang berbau surga lainnya. Google menyediakannya sampai halaman dua, mungkin juga halamana tiga.

Pertanyaannya, apakah surga yang kita anggap sakral ini, memang ternyata ada di Ujung Kulon? Bukan di lokasi di mana kita kelak sudah mati? Lalu, apakah surga di Ujung Kulon itu akan dirasakan sama seperti surganya alikitab masing-masing agama? Kemudian, apakah di Ujung Kulon ada surga sungguhan? Atau pertanyaannya lebih mendalam. Apakah surga di Ujung Kulon di mana kaum lelaki memang bisa mendapatkan 72 bidadari cantik dan segala kebutuhan lainnya?

IMG_9209

Ini bukan surga di Ujung Kulon. Ini semberut cahaya pagi di pantai di Desa Kertajaya, di depan Honje Ecolodge.

Ya ampuuunnn! Pada serius banget sih bacanya. Tidak ada surga di Ujung Kulon, teman-teman sekalian. Kalau ada judul-judul yang berbau surga di Ujung Kulon, itu surga versi kita semua masing-masing. Toh, pada akhirnya, siapa pun, belum pernah ada yang merasakan, menikmati dan melihat surga seperti yang disebutkan di alkitab – alkitab mana pun. Jadi, siapa pun juga, bebas menerjemahkan surga masing-masing.

Sama halnya dengan surga di Ujung Kulon. Terkadang orang menyebut Surga di Peucang bagi yang ingin menikmati jernihnya air dan pulau liar. Bagi yang suka surfing, surga di Pulau Panaitan. Bagi yang suka petualang ke hutan, surga di hutan belantara Ujung Kulon untuk mendalami kekayaan hayati dan berburu foto Badak.

Bagi saya, Ujung Kulon bukanlah surga tersembunyi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bukan sih. Pula, jaraknya dibanding jalan-jalan ke Pulau Seribu, jaraknya cukup jauh. Tapi, sah-sah saja, siapa pun claim, bahwa Ujung Kulon bisa dijangkau dengan selemparan kolor ijo. Sah-sah saja kok.

Jadi, apa sih poinnya tulisan ini? Sebenarnya sederhana saja sih. Karena beberapa orang bertanya, memangnya di Ujung Kulon ada penginapan sebagus itu?

Karena sudah sampai pada pertanyaan itulah saya menulis kembali ulasan tentang Ujung Kulon, khususnya tempat di mana saya menginap. Soalnya, beberapa postingan saya tentang Ujung Kulon hanya highlight saja. Rupanya sebagian orang membutuhkan informasi pengalaman menginap di Ujung Kulon lebih detail. Ohh, baiklah…!

Ini kali pertama saya ke Ujung Kulon. Seperti pemikiran awal, sebelum memutuskan untuk menginap di suatu tempat, yang harganya cukuplah, saya terpikir untuk menginap di ujungnya Ujung Kulon. Tepatnya di Ujung Kulon Wild. Itu setelah saya tanya-tanya, harga sekitar 350.000/malam + AC dan 250.000/malam + kipas angin. Tempatnya oke sih, tapi kalau untuk membawa anak kecil kaya saya, kayanya akan sedikit rempong. Karena, kemungkinan, melihat dari foto-fotonya, selain keluarga, juga berisi komunitas motor dan kayanya akan ramai.

Jadilah saya memutuskan tempat yang lebih private, santai dan tanpa keriuhrendahan banyak penginap. Pilihan saya jatuh ke HONJE ECOLODGE. Lebih mahal dari Ujung Kulon Wild, tapi melihat foto-fotonya lebih asik. Saya putuskan di Honje Ecolodge. Mengambil paket dua malam. Khusus untuk weekend memang harus dua malam. Harga yang harus dibayar untuk dua malam itu sekitar 3 juta. Sudah termasuk makan sarapan pagi dan makan siang pas kedatangan. Selebihnya, makan siang hari berikutnya dan makan malam hari berikutnya, bayarlah. Masa mau gratis terus.

IMG_8728

Cukup untuk tidur bertiga bersama bocah. Jika ingin bertiga dewasa semua, bisa diminta nambah ekstra bed.

IMG_8734

Morning chit chat di rumah pohon. 

IMG_8857

Menatap hampa lautan. Tsaaah!

IMG_9165

Virgillyan amazed dengan banyaknya serangga terbang di sekitaran lampu.

IMG_9205

Rumah Pohon sungguhan. Kalian bisa gelayutan di pohonnya sih kalau mau.

IMG_8929

Tinggal kasih perosotan sih sebenarnya dari sini langsung ke laut.

IMG_9267

Momen paling nikmat inih!

IMG_9355

Main bersama laut, lapar, makan, ngantuk dan siap molor!

Kira-kira, total yang saya habiskan untuk menikmati RUMAH POHON di HONJE ECOLODGE selama 2 malam tiga hari plus makan itu sekitar 3,5 juta. Ya, okeh kan untuk tempat yang cukup private dan pantai yang tidak begitu ramai.

Kalau kalian membawa gerombolan si berat, santai saja. Di Honje Ecolodge, selain RUMAH POHON, juga ada penginapan yang bisa muat ramai-ramai. Ada Rumah Biru, Rumah Merah dan paling besar itu Rumah Kuning. Namun, jika ingin lebih khidmat berduaan, sebaiknya Rumah Pohon.

Soal makanan, jangan khawatir, saya termasuk rewel kalau makanan. Di Honje Ecolodge, menurut saya, makanannya lumayan enak dan segar. Karena ibu-ibu di Honje memasak sesaat sebelum kalian akan menyantap makanan. Kalau tidak ingin makan siang di Honje juga bisa, keluar saja sampai menemukan restoran. Bakalan PE ER banget pastinya. Saran saya, sudahlah, nikmati saja semua fasilitasnya. Oh ya, satu ya, kalau nanti nanya ada air terjun bagus, kemudian jawabnya ada tapi di hutan. Saran saya jangan ke sana. Itu bukan air terjun yaaa, man temannn! Hhahahah! Kasihan kaki gempor dan hasilnya di bawah ekspektasi. Sampai tadinya mau semangat foto, akhirnya kembali menyarungkan kamera.

Udah lah, yang paling bener banget, main air, snorkeling, banana boat-an, mancing atau main ke Pulau Mangir. Kalau ada waktu, sewa perahu untuk bermain di Pulau Peucang. Sementara malamnya bisa hunting foto MILKY WAY dengan kamera dan lensa yang ampuh untuk menangkap barisan bentangan bintang yang UANYING kerennya! Kasar ah bahasanya.

IMG_8805

Jangan lupa membawa kamera yang lebih proper dari ini yah. Hasilnya pasti lebih keren bisa mendapatkan Milky Way di Ujung Kulon.

IMG_9168

Langit laut pun penuh bintang!

IMG_9182

Orang Jakarta paling jarang bisa melihat bintang sebanyak ini. Jadi jangan heran kalau mendadak norak.

Selebihnya, nikmati saja liburan sambil tanpa berhenti ngunyah cemilan ringan atau pun berat.

Selamat menemukan SURGA versi kalian masing-masing. Weeee!

“Bagi saya, inilah surga, malaikat kecil, Virgillyan Ranting Areythuza, bocah petualangan, teman baru bertualang!”

IMG_9281IMG_9280IMG_9275IMG_9270IMG_9237IMG_9287IMG_9282IMG_9305IMG_9308IMG_9410IMG_9396IMG_9425IMG_8937

a-2IMG_9446

“sonofmountmalang”

 

 

Glamping itu tidak sehat!

20161120_054808

Glamping di Lembang, Bandung. Trizara Resort.

Kenapa Glamping itu tidak sehat? Bisa dibaca sampai akhir tulisan untuk tahu kenapanya. Sementara, sambil menunggu, kita bisa menikmati alternatif Glamping di tempat dingin yang tidak begitu jauh dari Jakarta. Selain Ciwidey Valley yang bising dan pelayanan kurang memuaskan. Selain Legok Kondang yang enak banget. Selain Glamping Lake Side di Situ Patenggang. Selain Glamping Maribaya Ecolodge. Dan lainnya di kota macam Sukabumi atau pun Bogor, yang tidak begitu jauh, tentunya, dari Jakarta.

Lainnya lagi ada juga nih glamping di Lembang, Trizara Resort. Lho? Ini Glamping atau resort? Ya, Glamping itu resort. Bisa juga. Hanya masalah istilah kan ya. Kalau googling dengan mengetik Trizara Resort, akan langsung keluar mulai booking, agoda sampai website resminya.

Lagi-lagi, kalau glamping seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah menikmati suasana sejuk, santai, ngemil, ngopi, makan dan rebahan di kursi malas. Lagi pula, ke Lembang atau ke Bandung kan bukan seperti pergi ke Bali, di mana kita bisa menikmati banyak wisata alam, mulai pantai sampai gunung. Di Bandung atau Lembang, ya itu-itu saja kan. Jadi, sebaiknya, dengan sudah membayar sekian juta untuk glamping per malam, ya habiskan waktu di glamping. Ogah rugi banget yak!

“Kebayang kan ademnya glamping di sini?”

 

Lalu apa saja yang wajib dibawa untuk glamping ke Trizara? Bawa diri yang penting. Bawa pasangan lebih penting. Bawa cemilan juga penting. Bawa seperangkat alat ngopi juga penting. Yang jelas, tidak perlu repot masak-masak seperti kemping kere di alam bebas. Karena mau apa pun tinggal telepon atau WA. Kemudian datang pesanan. Makanan berat atau cemilan ringan. Enak kan?

“Jangan lupa untuk bahagia,-Virgillyan Ranting Areythuza.”

 

Namun, keenakan ini lah yang menjadi tidak sehat. Tidak sehat buat dompet. Hahahah! Karena seperti saya, mengambil kamar Svada ditimbah satu extra bed. Jadi, untuk menginap di sini, kalau kalian berlima, ya minimal harus mengeluarkan uang sekitar 5.200.000/dua malam. Karena juga, kalau semalam, untuk menginap di glamping itu, tidak berasa. Jadi baiknya ya dua malam. Kecuali kalian punya uang lebih, ya tiga malam dengan pasangan cukup puas. Eaaaa!

Selain harus membayar kamar, juga yang harus dibayar itu makan siang dan makan malam. Sarapan dapat sih. Cukuplah untuk mengenyangkan perut. Tapi kalau kalian mau makan siang keluar dari Trizara juga bisa. Kalau daerah sini makannya lebih dekat ke arah Lembang. Macam Omah Seniman dan teman-temannya. Buat apa jauh-jauh untuk makan siang kan. Kalau sudah glamping, ya jangan nanggung. Nikmati saja semuanya. Nanti, menderita bayar belakangan.

Oh ya, satu hal yang perlu diperhatikan. Jika membawa anak kecil yang harus tidur lebih cepat atau orang tua yang tidak suka berisik, sebaiknya jangan pilih kamar dekat api unggun ya. Karena terkadang, kita tidak bisa mengontrol suara alay-alay kota yang bahagia menikmati api unggun. Weee!

Jadi gimana? Akan glamping atau kemping sederhana ke mana kalian minggu ini?

“Kalau ada uang lebih, ajak keluarga untuk bahagia bersama dan tentu saja, jangan lupakan alat kopi! Karena itu lah salah satu belahan jiwa. Ehh!”

 

Trizara Resort
Jl. Cihideung Gombong, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
155 KM dari Jakarta
3 – 4 Jam dari Jakarta tergantung jalannya jam berapa dan hari apa sih.

“sonofmountmalang”

Bangsa Indonesia dalam kondisi darurat liburan!

Legok Kondang0346

Glamping seru di Legok Kondang, Ciwidey – Bandung.

Kita terlalu sibuk memantau dan mengurusi dunia maya, dunia bijital dan keributan-keributan antara mahluk satu dengan lainnya. Kalau sudah begitu, sibuknya, mungkin kita butuh liburan dan hiburan dalam bentuk lain. Misalnya, liburan keliling Eropa, keliling Antartika, keliling Asia, keliling Asutrasia, keliling Asia Selatan, keliling Amerika Latin, keliling Islandia, dan kalau perlu keliling dunia!

Dengan begitu, mungkin kita tidak akan terlalu sibuk mengurusi kagaduhan di dunia maya, tetapi kita sibuk bagaimana caranya membayar tagihan kartu kredit seusai liburan. Well, itu derita kamu sih.

Lalu, dengan uang apa adanya kita-kita ini, selayak-layaknya pergi ke mana kah selain berbau luar negeri? Tenang…! Masih bisa naik gunung di belahan bumi pertiwi, masih bisa belusukan ke hutan, masih bisa ke pantai-pantai cantik di sepanjang garis pantai Indonesia, masih bisa masang tenda di tengah kebun teh, di hutan pinus, di hutan rimba, di sisi danau, di puncak bukit.

Atau, seperti saya ini, menikmati kemping ala-ala, yang jauh dari gaduhnya jalanan raya dan hanya bertemankan suara tonggeret, burung elang dan ricauan burung-burung di tepi hutan. Di sini kita menikmati GLAMPING, di Legok Kondang yang memang sudah terkondang-kondang di jagat pengemping manja. Mandi air hangat, teh dan kopi panas 24 jam, api unggun, kasur, selimut, makan dan fasilitas untuk memanjakan diri yang manja.

Kalau sudah ada di posisi santai seperti ini, apa masih rela membuka ramainya suasana dunia maya, yang sebagian terus menyebarkan ketidaksukaan atas suatu suku, satu agama, suatu pemerintahan dan segala tetek bengeknya….? Kan males kaannn?!

Coba deh, kalau masih menemui teman seperti itu, kasih tahu tempat-tempat liburan untuk rehat sejenak mewaraskan diri. Supaya bangsa kita ini terhindar dari darurat liburan.

Sambil bingung mau liburan ke mana minggu ini, kita tengok coba Legok Kondang* di Ciwidey, GLAMPING** tanpa pusing tapi kemudian bayarnya tuing-tuing tujuh keliling! Haaaaa?!

Lalu, apa yang harus disiapkan kalau mau GLAMPING. Semisal di Legok Kondang.

Bawa diri aja, makan tinggal pesan, sarapan pagi tinggal makan, mau teh atau kopi tinggal seduh. Tapi jika ingin berseni sedikit, bisa membawa sekarung jagung, singkong, ubi dan ikan segar pakai coolbox. Jadi malamnya bisa bakar-bakar murah. Pastikan glamping dengan bakar-bakaran ini memiliki banyak. Kalau sedikit jadi cape kan nggak ada yang bakarin. Jangan lupa bawa perlengkapan kemping miskin. Kaya kompor, penggorengan, minyak dan lain-lain. Supaya bisa iseng masak makanan kesukaan di balkon. Ya, sesederhana pisang goreng saja lah sih. Selebihnya, kamu custom sendiri apa yang ingin kamu bawa saat glamping.

*Untuk Glamping di Legok Kondang, cukup siapkan budget kurang lebih 2.500.000/malam.Jadi, kalau dua malam ya sekitar kurang lebih lima jutaan. Baiknya ya sih dua malam. Kalau semalam cuma cape di jalan, meksipun hanya 4 – 5 jam-an dari Jakarta.

**Glamping di Indonesia sebenarnya hanya memindahkan kamar hotel bintang 4 – 5 ke kebon atau sisi hutan dengan bungkusan tenda.

Ya udahlah, apa pun itu, marilah kita LIBURAN biar WARAS!

Legok Kondang0453

Legok Kondang0325

Jangan lupa bawa hammock untuk bersantai ayun-ayun.

Legok Kondang0139

Mata hijau bukan mata duitan kan yah.

Legok Kondang0262

Bubble of happiness.

Legok Kondang0263

Jump, Virgil! Jump!

Legok Kondang0303

Kalau mau mencoba Glamping di Legok Kondang, enaknya sih pilih yang dapat Sunrise.

Legok Kondang0466

Kalau atapnya tembus pandang, enak buat malam malam bisa melihat bintang dan bulan.

Legok Kondang0457

Enter a caption

Legok Kondang0456

Cukup untuk 8 orang menginap di kamar ini plus extra bed.

Legok Kondang0455

 

Legok Kondang0360

Jangan lupa untuk meminum secangkir matahari pagi di kopi. 

Legok Kondang0350

Sunrise rasa sunset.

Legok Kondang0354

Legok Kondang0359

Lampu dari tenaga matahari.

Legok Kondang0124

Kawah Putih. Sedikit basi sih kalau sudah ke sini dua sampai tiga kali. Tapi untuk menemani yang belum pernah, tidak apa-apa lah. Sama satu lagi, kalau dibilang, “Belerangnya lagi naik! Belerangnya lagi naik! Beli masker.” Ya, baiknya mikir dulu sih untuk beli.

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Mabok ngopi di Ujung Kulon

IMG_9150

Karena tidak ada bir di Ujung Kulon, selain haram, juga dilarang dan tidak dijual. Jadi manual brew coffee is a must!

“I Love You For Sentimental Reasons” Nat King Cole itu soundtrack yang pas untuk menelan jingga di secangkir kopi hitam bersama lenguhan-lenguhan ombak, bisikan-bisikan daun dibelai angin darat, di Ujung Kulon di mana kita semua bisa melarungkan ke-stress-an. Lupakan deadline, lupakan brainstorm, lupakan keynote, lupakan rasional creative dan jangan lupakan gajihan tapi yah.

Berhubung di Ujung Kulon tidak dijual bir, jadi disarankan membawa bir sendiri dari Jakarta, dan atau seperti saya, membawa seperangkat alat ngopi dan mem-brew sendiri demi menikmati senja jingga tidak membara di balkon rumah pohon. Ah! Asik sekali, bukan?

Ingin sesekali mencoba? Bisa banget. Hanya selemparan kutang dari Jakarta – Ujung Kulon. Jalannya pun hanya ada dua belokan. Belok kiri dan belok kanan. Ya, paling ada tanjakan dan turunan, tapi itu pun tidak akan terasa. Karena tujuannya mulia, yaitu menghiburkan diri di tempat sepi. Ya, anggap aja semacam tempat untuk berkontemplasi sambil memikirkan harus dibayar dengan apa menginap dua malam di Rumah Pohon ini.

Lupakanlah bayarnya pakai apa. Urusan belakangan. Sekarang, yang terpenting adalah, kita bisa duduk di balkon, santai, ngopi sembari diselingi ngobrol-ngobrol impian, bahwa kelak, suatu masa, ketika langit menjatuhkan emas dua ton di depan rumah, maka kita akan bangun rumah pohon di sisi pantai. Amin!

Jadi, gimana? Akan menikmati kopi di mana weekend ini dan akan kamu beri soundtrack apa weekend-mu?

Teruslah liburan meskipun kere habis-habisan!

IMG_9330

Virgillyan Ranting Areythuza, menikmati secangkir kopi penuh khidmat.nter a caption

IMG_9144

KOPI SENJA untuk kamu yang sakau KOPI.

IMG_9250

NGOPI bersama LAUT.

IMG_9297

Keringat kopi di siang hari. Siapa yang tidak tahan godaannya.

IMG_9314

Hidup tanpa kopi itu kaya pacaran sama pohon.

IMG_9318

IMG_9320

Di Honje Ecolodge tersedia kulkas, jadi kamu bisa bikin es untuk membuat ICE KOPI MOKAPOT!

“sonofmountmalang”

 

Banjir Bintang di Ujung Kulon!

IMG_8806

Galaksi Bima Sakti di langit Ujung Kulon menggunakan kamera 550 saja sih. 

Siapa yang pernah memiliki keinginan untuk bisa menghabiskan masa tua, atau, setidaknya, memiliki rumah di atas bukit tinggi atau di pesisir laut bebas polusi cahaya, dengan rumah dan tempat tidur serta ruang membaca beratapkan kaca, sehingga ketika malam menaburkan benih-benih cahaya semiliar warna bentuk dan ukuran, kita bisa dengan penuh khidmat menikmatinya.

Ini yang kita sebut kemewahan tanpa batas yang jauh lebih berharga bintang kelas sembilan di tengah kota. Ini pula yang disajikan malam di Ujung Kulon di pesisir sepi berombak dan di balik jendela kamar dan di taman-taman. Adalah menikmati langit berbanjir bintang. Seperti memuntahkan brutal begitu saja dengan keagung-anggunan yang menjadikan bibir terus berdecak dan pikiran langsung tenggelam ke level bahagia sambil sesekali bilang membilang dan mengajak bocah “Virgillyan Ranting Areythuza” petualang di pangkuan saya menghitung bintang yang tak terhitung.

Andai saja membawa lensa lebih bermartabat, kamera terhormat dan tripod lebih manusiawi, mungkin saya bisa mengambil bintang-bintang dan galaksi bima sakti secara paripurna ala-ala fotografer NATGEO. Haaaaaa?!!!! *ngayal babu!

Karena semua keterbatasan, jadinya lebih banyak duduk rebahan sambil ngopi, ngobrol dan menikmati orkesta langit malam.

Siapa mau?

IMG_9171

Bintang tanpa batasan di tepian pantai Honje Ecolodge, Ujung Kulon.

IMG_8784

Tidur bersama bintang-bintang di Rumah Pohon Honje Ecolodge.

IMG_8786

Milky Way di langit Ujung Kulon. Beruntung langit cerah sekali.

IMG_8790

Ayo tebak bintang yang paling terang ini apa ayooo. Kalau ketebak dapet sebotol manual brew keukopian:p

IMG_8799

Milky way bisa dilihat dengan mata telanjang. 

IMG_8803

Bahagia tidur di rumah pohon Honje Ecolodge. 

“sonofmountmalang”

Piknik jiwa di Ujung Kulon

IMG_8739

BEST VIEW dari balkon rumah pohon HONJE ECOLODGE.

Nenek lo Ujung Kulon! Sampai juga di Ujung Kulon. Bukan untuk bertemu nenek. Karena nenek saya bukan dari Ujung Kulon. Melainkan bertemu semerbak aroma laut tenang bersama ombak-ombak santai, pasir-pasir berbaring menikmati siraman rohani dari laut sembari dipanaskan teriknya matahari yang memaksa keluar dari lingkaran awan.

Kedatangan saya disambut meriah. Ah, jadi malu. Rasanya seperti artis papan penggilesan. Senyum ramah pengurus penginapan, cuitan burung di pohon-pohon rindang dan tentu saja ajakan laut untuk segera menyatukan tubuh bersamanya. Untuk basah bersama. Lets goh!

Inilah, setitik, sempilan, serpihan sebagian dari segugusan pantai di Ujung Kulon. Sebuah teluk mini di Desa Kertajaya, tepat di depan penginapan Honje, saya bisa menikmati sejenak meditasi hati di atas pohon dari keriuhkeruhan suasana Jakarta dan kota-kota penuh serapah. Di sini, tepatnya, saya bisa membersihkan pikiran dan kembali bercengkerama dengan kesederhanamewahan semesta raya. Haishhh!

Terbayang, ‘kan? Betapa selama itulah rindunya saya, juga mungkin tujuh juta umat lainnya, untuk bisa menikmati piknik pikiran ini.

Gimana? Mau bergerak  ke ujung barat pulau jawa dan menikmati heningnya penginapan. Oh, tenang! Tidak usah takut ramai. Penginapannya hanya ada empat vila dan pengunjung pantai juga hanya penginap saja. Jadinya tidak secendol yang siapa pun bayangkan. Terasa memiliki pantai pribadi. Asal, jangan bugil ya, nanti diarak keliling desa.

Lalu, apa yang bisa dilakukan di Ujung Kulon? Khususnya di Honje. Banyak hal. Bisa menyeberang ke Pulau Mangir dan snorkeling, berenang, memancing atau menyeberang ke Pulau Peucang dan snorkeling, berenang, memancing. Bisa juga seperti saya, hanya duduk di balkon Rumah Pohon, turun ke pantai. Berenang, lapar, makan, haus, minum, makan, santai dan diulang sampai lupa harus kembali ke Jakarta. Hahaha!

Oh, tenang, masih ada keseruan lainnya yang mungkin ingin banyak orang lihat, tanpa harus menguras tenaga untuk mencapainya. Karena juga, tujuan ke sini hanya satu, LEYEH-LEYEH! Buat apa cape-cape yah:p

IMG_8729

Pojokan santai untuk ngemil di  rumah pohon.

IMG_8730

Sensasi tidur di atas pohon.

IMG_8732

Coba ditambah ayunan di sini yah.

IMG_8745

Senja yang kental.

IMG_8747

Untuk kalian yang berduaan, ini tempat yang asiklah sih. Cobain sensasi di rumah pohon goyang-goyang. Eaaa!

IMG_8748IMG_8749

IMG_8846

Bobo yuk!

 

IMG_8849

Pagi pagi buka jendela dan menghirup aroma laut pagi.

IMG_8864

Virgillyan Ranting Areythuza menikmati laut Ujung Kulon.

IMG_8946

Semakin ingin ke sini kan?

IMG_9127

Senjanya kurang sempurna, tapi cukup menyempurnakan wikenmu.

IMG_9128

Oh ya, jangan lupa bawa hammock yaaa!

IMG_9224

 

“sonofmountmalang”

 

NENEK LO UJUNG KULON!

Nenek lo ujung kulon! Pernah kan mendengar kalimat itu? Selain nenek lo kiper! Nenek lo peang! Nenek lo salto! Dan nenek-nenek lo lainnya! Lantas, selain nenek lo ujung kulon, ada apa lagi sih? Itu yang saya tidak tahu. Belum tahu tepatnya. Maka dari itu saya akan melancong ke Ujung Kulon.

Jakarta - Ujung Kulon

Butuh waktu yang lumayan untuk sampai ke Ujung Kulon. Yah, namanya juga Ujung Kulon, ya pasti di ujung kan jauhnya:p

Setelah browsing, nanya-nanya penginapan di Ujung Kulon, ternyata banyak sekali pilihannya. Dari bisa mendirikan tenda, di rumah penginapan, vila-vila tanpa pendingin dan dengan pendingin.

Berhubung membawa “Virgillyan Ranting Areythuza”, yang masih belum memahami konsep makan apa saja yang ada selama bisa dimakan, jadinya saya memutuskan tidak sampai ke Ujung Kulon, meskipun niatnya ingin menyeberangi Pulau Peucang dan menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon. Tapi, ya sudahlah. Sudah beruntung masih bisa menyambangi setitik ujungnya Ujung Kulon.

Seperti biasa, salah satu problem bangsa Indonesia yang sudah merdeka puluhan tahun dalam hal akses adalah BABAK BELURNYA JALAN. Beruntung juga tidak melanjutkan sungguhan ke ujungnya Ujung Kulon. Kalau iya, goyang karawang sepanjang jalan. Ya, tidak busuk semua sih. Kalau dari Jakarta sampai Pasar Cibalung sih jalanan melesat bagaikan pembalap F1. Namun setelahnya, jalanan harus berhati-hati, selain berlubang di kanan kiri depan belakang, juga di beberapa lokasi sedang dalam perbaikan. Jadi, lupakan kekebutan di jalanan naik turun melewati sawah, hutan dan tikungan-tikungan tajam ya.

Maka, karenanya, perjalanannya pun cukup sampai di Kertajaya saja. Kasihan tulang belulang yang sudah renta dan durasi perjalanan yang cukup panjang, ditambah anak kecil yang terus bertanya, “Kok kita nggak sampe-sampe cih?”

Setelah 7 jam perjalanan, akhirnya saya bilang, “Oke! Kita sampaaiiii!” kemudian berhenti di Desa Kertajaya.

Lalu, akan menginap di manakah di Desa Kertajaya? Apakah kemping di hutan, menginap di rumah penduduk, vila mewah atau nyeberang Pulau Mangir dan mendirikan tenda di sisi pantai berpasir putihkah? Sabar ya, pelan-pelan nulisnya.

Pulau apa?

Bocoran pemandangan di Kertajaya. Nampaknya menarik yah. Hmmm…!

“sonofmountmalang”

Kembali goblog(ing)!

Selamat Agustus!

Apa kabar dunia blogger? Sudah kalahkah dengan dunia Vlogger? Ada yang bisa jawab? Weee!

Tidak apahlahyah kalau pun kalah. Karena menulis dan bervideo ria dua hal berbeda. Pada akhirnya, orang sebagian di belahan dunia mana pun, masih  membaca. Bahkan di Indonesia, situs-situs hoax masih asik dibaca dan disebarkan. Jadi, semangat untuk menulis harus tetap ditumbuhkembangbiakkan secara rutin.

Tetapi, selalu, ada saja faktor yang menghambat. Bagi saya sih yang tidak mau pusing dengan urusan layout blog dan teman-temannya, jadinya pusing dengan urusan bayar tahunan dan ternyata quota media saya sudah habis. Alhasil, tidak bisa posting apa pun. Pilihannya, menghapus semua foto di media atau membayar quota lebih mahal per tahunnya.

Apa yang terjadi?

Demi tetap bisa nge-blog, akhirnya, saya relakan duit untuk membayar sekian rupiah per tahun. Mahal ya, tapi demi hobi, tidak apa-apa kan. Masa mampu bayar tiket pesawat 5 juta PP ke mana untuk liburan, tapi tidak mampu bayar hobi lainnya yang hanya setahun sekali bayar sih. Ah, kan ada yang gratisan. Nahhh, masalahnya yang gratisan sudah tidak bisa menampung quota. Dan, selain itu juga, yang berbayar cukup banyak kelebihannya ya.

Apa sih kelebihannya? Sambil saya memilah-milih mau posting apa selanjutnya, saya akan pelajari dulu yaaa. Katrok yak!

Screen Shot 2017-07-31 at 3.31.44 PM

Pilih yang mana ya…?

Screen Shot 2017-07-31 at 3.33.21 PM

Lumayan mahal yah:d

 

“sonofmountmalang”

Kemping ala ala di Ciwidey Valley

ciwidey-valley14

Paling seru itu kemping yang bukan ala-ala. Alias kemping beneran di tengah hutan, di atas gunung, di samping situ atau danau belantara, di sisi sungai berbatu dan di tempat di mana sangat jauh dari hiruk pikuk jalanan dan kebisingan kota serta manusia. Namun juga ada kalanya, kita terlalu malas untuk kemping serius karena harus masak sendiri, pasang tenda sendiri, mandi air dingin dan sebagainya. Dan kalau lagi malas, carinya ya tempat kemping yang menyediakan semua fasilitas, sementara kita tinggal santai-santai manis dan menikmati semuanya.

Makanya saya coba Ciwidey Valley Resort dengan harga 850 ribu/malam, dapat sarapan pagi dan tersedia restoran tinggal telepon atau kalau mau makan ya tinggal keluar Jalan Raya Ciwidey. Mau makan apa saja atau beli apa saja ada. Tapi ya itu, jadi nggak ada seninya. Terasa tidak kemping. Terlebih lagi, posisi tempat kempingnya persis tidak jauh dari Jalan Raya Ciwidey pas tanjakan, jadinya kalau malam, yang harusnya kita menikmati suasana khidmat kemping pun sedikit terganggu dengan ngedennya suara kendaraan dan ngegasnya suara knalpot motor di tanjakkan.

Buat yang nggak terbiasa bising dan ingin menikmati kemping sunyi, kayanya kurang mantap nih. Tapi kalau buat kemping ala-ala, masih sah-sah saja sih untuk bisa menikmati kemping bersama keluarga atau pasangan cabul Anda.

Silakan. Nextnya kita di Ranca Upas aja yuk!

20161022_172645_richtonehdr-01ciwidey-valley05ciwidey-valley08ciwidey-valley09ciwidey-valley13ciwidey-valley15ciwidey-valley20ciwidey-valley25ciwidey-valley27

“sonofmountmalang”