Sejarah Empal Gentong dan Cirebon serta Kuliner Empal Gentong Paling ENAK sepanjang Se-KOTA Sarumban, Caruban, Carbon, Cerbon, Cai-Rebon atau Cirebon!

20180203_102642

Kalau saya, pergi ke sebuah tempat, lebih suka mencari tahu asal usul nama kota terlebih dahulu sebelum terjun menjelajah kotanya. Namun kadang suka lupa mencari asa usul sebuah kota meski sudah beberapa kali ke kota tujuan wisata. Salah satunya, kota yang tidak begitu jauh dari Jakarta, yaitu Cirebon. Sudah beberapa kali dan lupa mau menuliskan kulineran dan asal usul kota Cirebon.

Ada yang tahu nggak, kenapa namanya Cirebon? Cirebon lahir dari kata Cai dan Rebon. Cai artinya air, dan rebon artinya udang kecil. Kenapa lahir kata Cai dan Rebon? Konon, karena kota ini berlokasi di pesisir, dan mata pencaharian penduduk sekitar nelayan, kemudian hasil nelayan berupa ikan dan udang dijadikan bahan sampingan untuk membuat terasi. Dari mengolah udang dan ikan menjadi terasi, maka ada hasil berupa limbah atau sisa pengolahan, yaitu air rebon. Mungkin AIR REBON pada zamannya sudah tercium ke mana-mana dan menjadi aroma khas penduduk sekitar, sehingga kalimat AIR REBON pun diolah menjadi CIREBON.

Akan tetapi, jauh sebelum istilah Cirebon lahir, ada sebutan lainnya, yaitu SARUMBAN. Sarumban sendiri merupakan dukuh/desa kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Dukuh Sarumban berkembang menjadi desa yang ramai, karena lokasinya di pesisir pantai, jadi Memungkinkan lalu lalang perdagangan berkembang cepat. Desa yang ramai ini, yang tadinya disebut Sarumban beralih sebutan menjadi Caruban. Kenapa beralih nama menjadi Caruban? Hal ini dikarenakan wilayah tersebut, pada jaman kerajaan, merupakan wilayah di mana banyak etnis hidup bercampur berdampingan. Etnis Jawa, Sunda, Arab dan Tionghoa. Mereka hidup berdampingan dengan damai, menjalankan fungsi hidup dan agamanya masing-masing. Jadi kalau sekarang ada yang klaim “GUE ASLI CIREBON”, baca dulu sejarah Cirebon yang bener yah.

Kata Caruban pun seiring dengan berjalannya waktu, pelan-pelan berubah lafalan menjadi Carbon, lalu ganti lagi menjadi Cerbon. Sementara peta dunia yang dibuat oleh Dieogo Ribero pada tahun 1529 menyebut kota Cirebon dengan sebutan Curban. Sebutan Cerbon pun mengalami perubahan lafal, menjadi Cirebon. Cerbon ke Cirebon itu perubahan paling deket. Dibandingan dari Sarumban ke Cirebon. Hebat yah! Mungkin ini yang disebut evolusi nama kota.

Karena di Cirebon inilah dihuni ragam etnis, Jawa, Sunda, Tionghoa dan Arab. Maka dikenalkanlah budaya-budaya dari Tionghoa atau pun Arab. Salah satu budaya, khususnya di kulineran, yang bisa kita nikmati sampai sekarang, adalah EMPAL GENTONG!

Menurut cerita, EMPAL GENTONG sendiri merupakan makanan gulai yang dikenalkan bangsa Arab. Karena di Cirebon belum mengenal teknologi panci dan gas, maka mereka memasak gulai yang isinya daging sapi (empal) beserta babat dan jeroan menggunakan gentong dari tanah liat dan menggunakan kayu bakar untuk memasaknya. Konon juga, pada zaman itu, kayunya juga harus kayu dari pohon mangga. Kenapa kayu dari pohon mangga? Katanya sih kayu dari pohon mangga mengandung getah yang bagus untuk pembakaran, sehingga api yang dihasilkan lebih besar dari kayu biasanya dan kayu pohon mangga lebih tahan lama serta lebih stabil saat dibakar. Ya, masuk akal sih. Masak empal gentong pun jadi memiliki panas yang konsisten.

Bicara SOAL EMPAL GENTOOOONGG! Nah, ke Cirebon kali ini, hanya khusus spesial, meski macet-macetan di Bekasi – Cikarang Utama, demi empal gentong paling enak sedunia empal gentong pun ditempuh! Inilah EMPAL GENTONG H. APUD! Yang sudah beredar di dunia empal gentong sejak 1995. Meski di sosial media ada lima list empal gentong yang wajib dicoba, ternyata EMPAL GENTONG H. APUD selalu ada di posisi pertama. Jadi, tujuan pertama, dari Jakarta subuh-subuh buta itu adalah sarapan siang di Empal Gentong H. Apud.

Lets go!

20180203_10261620180203_09390420180203_09384120180203_09391120180203_09392420180203_09393120180203_09393820180203_09401420180203_10254320180203_10254720180203_09402320180203_09515920180203_09521320180203_09522320180203_09490120180203_09491220180203_09491920180203_09495620180204_12060620180204_12011720180204_120109

Gimana? Bikin ngiler kaaan fotonya? Weee! Menurut saya, menurut lidah saya, menurut selerah saya, sebagai orang yang pertama kali merasakan masakan khas Cirebon, berupa EMPAL GENTONG ini, Empal Gentong H. Apud memang wueaannaakkkk! Saking merasa keenakannya, sampai-sampai, besoknya makan siang lagi di sini. Sudah makan siang, dibawa pulang ke Jakarta pula beberapa porsi.

Dagingnya empuk, sambalnya pedas, kuahnya kental dan bikin kenyaangg! Selain itu, harganya murah, pas di kantong. Cuma sate kambingnya sih biasa aja. Mungkin masih ada sate kambing yang lebih enak dari H. Apud di Cirebon. Tapi kalau empal gentongnya, bagi saya, H. Apud JUARAAA!

Buat yang mau kulineran di Cirebon, isi perut pertama kali ketika keluar pintu tol, memang paling pas diisi Empal Gentong H. Apud! Kalau sudah merasakannya, bolehlah mencoba empal gentong merk lain. Berhubung waktu saya tidak banyak dan lokasi penginapan tidak jauh dari H. Apud, maka ya sudahlah, makan dua kali di sini plus dibungku buat orang-orang di rumah. Lain kali akan mencoba Empal Gentong Amartha, Krucuk, Bu Darma atau Hj. Dian.

Yuk!

“sonofmountmalang”

 

 

Advertisements

BERKAT MELITTA BENTZ, LAHIRLAH 10 POUR OVER PALING MAHAL DI DUNIA PERKEUKOPIAN INDONESIA! CEK YUK APA AJA.

Pour over merupakan satu dari sekian banyak metode menyeduh kopi manual paling cepat, efisien, praktis dan menghasilkan seduhan terbaik di kelas manual brew dengan sejarah yang sangat panjang. Ditemukan seorang entrepreneur wanita Jerman kelahiran 30 Januari 1873, bernama lengkap Amalie Auguste Melitta Bentz. Menurut sejarah di beberapa tulisan digital, Mellita merasa kecewa dengan hasil percolator atau kalau di Italia disebut dengan mokapot atau mokastove. Cara kerja percolator dan mokapot sebenarnya hampir sama. Bisa dibilang samalah. Hanya saja berbeda nama penemunya dan istilahnya saja. Kalau percolator ditemukan oleh Sir Benjamin Thompson (1753 – 1814), sementara Mokapot itu sama Alfonso Bialetti (1888 – 1970). Kalau dilihat-lihat secara tahun, mungkin Alfonso Bialetti itu mengembangkan model percolatornya Sir Benjamin Thompson. Cukup yah. Di sini kan membahasnya Melitta.

Menurut Melitta, kopi yang dihasilkan percolator itu masih mengandung ampas, meskipun sedikit. Bagi dia, ampas kopi ya tetaplah mengandung ampas. Dari situlah Melitta merasa terpanggil untuk mencari cara menyeduh kopi tanpa ampas. Menurut dia juga, kalau menyaring kopi menggunakan kain juga cukup merepotkan karena harus dicuci dan dibersihkan. Nah, kalau kopi saring di beberapa kedai di Jakarta atau daerah kan saringannya sudah berwarna tidak karuan ya, itu kira-kira dicuci atau nggak sih? Weee!

Berawal masalah kopi berampas itulah, Melitta iseng menggunakan kertas blotting dari buku latihan anaknya bernama Willi. Kemudian dia membuat corong dari kertas. Corong kertas dimasukan ke dalam cangkir logam kuningan dan Melitta melubanginya menggunakan paku. Dipraktekanlah cara menyeduh pour over dan hasilnya memuaskan tanpa ampas. Penemuannya ini kemudian dipatenkan pada 20 Juni 1908 dengan merk dagang M. Bentz dan berhasil menjual 1.200 penyaring kopi pada tahun 1909.

Seiring dengan bergeraknya waktu, Melitta pun menjadi salah satu brand di dunia perkopian Jerman dan terkenal hingga kini. Kalau kalian browsing di e-commerce atau marketplace, kalian akan menemukan brand Melitta dengan beberapa produknya. Tidak percaya, cek saja langsung Melitta. Siapa tahu mau koleksi buat di rumah.

Dari Melitta inilah sejarah pour over dimulai, puncaknya di era MILLENIALS dan GEN Z di Indonesia, perlengkapan kopi manual berkembang cukup pesat. Semua orang berbondong-bondong membeli dan mengoleksi semua perlengkapan manual brew ini, khususnya pour over.

Lalu, ada di range harga berapa sih pour over paling bergengsi di jagat perkeukopian Indonesia yang wajib dimiliki coffee shop atau personal cafe di rumah masing-masing? Inilah 10 pour over termahal yang beredar di pasar Indonesia

1. Kinto – Brewer Stand Set 4 Cups

Peringkat pertama dari alat dengan metoder pour over yang memiliki harga termahal jatuh ke Brand Kinto. Salah satu brand untuk perlengkapan kopi dari Jepang ini berdiri pada tahun 1972. Termasuk cukup tua lah dibandingkan dengan trend kopi di Indonesia yang baru beberapa tahun belakangan naik daun.

Untuk bisa memiliki Kinto – Brewer Stand Set 4 Cups ini, kalian harus mengeluarkan uang receh sekitar 2.550.000 rupiah. Kapasitas kopi yang dihasilkan sebanyak 4 cups atau 700 ml. Bahannya mungkin yang bikin dia mahal ya, terdiri dari kayu walnut, brass, Stainless & Heat-resistant glass. Meskipun brand-nya Jepang dan di-design di Jepang, MADE IN-nya tetap China ya! Kalau MADE IN JAPAN, harganya mungkin nggak 2.550.000, tapi 5.000.000 kali ya.

754387_9e034c35-3419-4b94-a5f9-574dc770d2c4_700_700

Kinto – Brewer Stand Set 4 Cups. Source: Tokopedia

2. Kalita – Wave Tsubame 185 Copper

Pilihan termahal kedua jatuh ke salah satu brand Jepang, lagi, yakni Kalita. Wave Tsubame 185 Copper. Kalau kalian lihat gambarnya, keren, kokoh dan sangat handmade bentukannya. Kalau kebetulan browsing di youtube dan ada iklan Kalita, yang ditunjukkan adalah keseriusan dan ketelitian si pembuatnya secara manual, dengan kemahiran tangannya. Mungkin ini yang menyebabkannya jatuh di harga 2.200.000 rupiah. Bahannya tembaga, dibuat dengan tangan, kapasitas kopi yang dihasilkan bisa mencapai 2 – 4 cups dan tentu saja MADE IN JAPAN.

Untuk kalian yang suka sekali dengan sentuhan handcraft atau handmade, terlebih buatan tangan orang Jepang, silakan beli dua dan kalau sudah tidak dipakai, saya rela beli seperempat harga. Hahaahah!

kalita-wave-tsubame-185-copper-1515466818-43236187-c121b3a32e155472c12e1ac7edfa4dd0-webp-zoom

Kalita – Wave Tsubame 185 Copper. Source: Lazada

3. Melitta Ready Set Joe Single

Posisi ke tiga ditempati brand si empunya penemu pour over, Melitta Ready Set Joe Single. Harganya berada di angka 1.951.000 rupiah. Tidak semua e-commerce atau marketplace ada, dan nampaknya brand Jerman, khusus kopi, masih jarang ditemukan di Indonesia. Untuk beberapa produknya Melita dikirim langsung dari luar negeri jika pun membeli di e-commerce.

Jadi, memang paling gampang membeli brand Jepang. Lebih mudah ditemukan.

melitta-ready-set-joe-single-cup-coffee-brewer-black-8-pack-intl-1516830138-60676048-b8fe9404d7b5a39d0ff8f5c97d0b1b4f-webp-zoom

Melitta Ready Set Joe Single. Source: Lazada

4. Manual Coffeemaker N°2

Setelah melihat brand-brand Jepang, saya jatuhkan peringkat ke empat untuk alat pour over ini ke brand milik USA dengan nama huckberry – Manual Coffeemaker N°2. Udah tahu kan MADE IN-nya mana? Made in China tepatnya. Bahannya perpaduan bambu dan gelas dengan kapasitas air mencapai 600ml. Secara bentuk sih tidak begitu keren ya. Tapi entah apa yang menyebabkannya mahal. Kelebihannya, menurut story brandnya, alat ini bisa langsung dialirkan ke cangkir kesayangan. Padahal Kalita atau Kinto juga bisa langsung dialirkan ke cangkir sih ya. Kecuali nyeduhnya sekaligus 1000ML, baru deh nggak bisa ke cangkir.

Harga yang dijatuhkan untuk Manual Coffeemaker N°2 ini adalah 1.750.000 rupiah!

manual-coffeemaker-n2-1485301108-23366031-eda5871a6768145b4647114acab03897-webp-zoom

Manual Coffeemaker N°2. Source: Lazada

5.Kalita – Wave Tsubame 185 Stainless

Kembali lagi ke Kalita, dengan produk Wave Tsubame 185 Stainless Steel, menduduki posisi ke lima di metode pour over dengan harga di angka 1.350.000 rupiah. Dibuat dengan tangan yang menjadikannya masih terasa mahal dan tentunya MADE IN JAPAN. Kapasitasnya mampu menampung 2 – 4 cups kopi. Sangat pas untuk menjamu 4 orang tamu di rumah dan atau menyeduh sekaligus untuk 4 orang di coffee shop.

kalita-wave-tsubame-185-stainless-1515470868-20301777-dffa42179651e445108e27957a79c153-webp-zoom

Kalita – Wave Tsubame 185 Stainless. Source: Lazada

6. Hario Dripper V60 Copper

Pilihan selanjutnya Hario Dripper V60 Copper ada di posisi ke enam. Harga untuk metode pour over ini berhenti di angka 1.320.000 rupiah. Made in Japan, bahan terbuat dari tembaga dan untuk kapasitas bisa untuk 1 sampai 4 orang alias 1 – 4 cups

hario-v60-metal-coffee-dripper-02-copper-1469432326-2619748-42bf4b473964f685a8730385a7750d31-webp-zoom

Hario Dripper V60 Copper. Source: Lazada

7. Hario Dripper V60 Metal

Kalau kalian pergi ke coffee shop yang di meja baristanya terpajang Hario Dripper V60 Metal dan kalian memesan kopi dengan metode pour over, lalu rasanya kurang cocok dengan lidah kalian, jangan salahkan alatnya. Salahnya siapa yang brew ya. Weeee! Karena alat ini termasuk mahal untuk ukuran kantong saya. Jadi, karena mahal, maka hasil kopinya harus mahal juga dirasa. Harganya stuck di 1.170.000 rupiah untuk posisi ke tujuh termahal versi saya. Sangat cocok dengan konsep coffee shop berbau industrialis. Ya, minimalis juga cocok sih. Yang nggak cocok buat saya harganya aja sih.

Bahannya terbuat dari metal dan karet, dilengkapi dengan sendok kopi dan masih MADE IN JAPAN! Mau? Yuk! Cek isi dompet dulu.

hario-v60-metal-dripper-cokelat-1512747072-0624637-bbbd73f06f2c3b6434ade980f74b6cd2-webp-zoom

EntHario Dripper V60 Metal. Source: Lazada

8. Kono – Meimon 4 Person Coffee Dripper Set

Hampir semua ya, produk-produk pour over kebanyakan dari Jepang. Kalau dilihat di coffee shop dan marketplace, memang brand Jepang paling banyak dijumpai dan gampang dicari. Harganyanya bervariasi. Mulai dari 150.000 sampai 2.000.000. Kalau saya sih mampunya beli Hario Dripper V60 Red VD-02R yang harganya cuma 100.000 rupiah saja. Secara fungsi 100% sama. Hanya secara estetika, penampilan dan gengsi saja bedanya sih. Plus, harga juga beda. Untuk Kono Meimon 4 Person Coffee Dripper Set ini kalian harus menggelontorkan uang sebanyak 1.160.000. Saya tempatkan dia di posisi ke delapan termahal. Ya, kan. Mahal kannn? Beli 4 lah untuk membuat mini coffee shop. Yuk!

kono-meimon-4-person-coffee-dripper-set-sakura-wood-handles-1515485830-91788577-cb965897d3c9ff19890a3dda7fdcb46f-webp-zoom

Kono – Meimon 4 Person Coffee Dripper Set. Source: Lazada

9. Alto Air II

Kalau tidak suka dengan brand Jepang, ada juga nih brand dari Inggris yang menempati posisi ke sembilan termahal versi saya, yaitu Bairro Alto dengan harga 1.090.000 rupiah. Bahannya alumunium dengan lapisan copper dan kapasitasnya 1 – 4 cups. Kalau punya uang, saya tetap mau Kinto yang ada di urutan pertama saja. Hahaha!

alto-air-ii-copper-aluminium-coffee-dripper-1478853914-24093511-fb542c742a293e3cbdacab25fa1a6da4-webp-zoom

Alto Air. Source: Lazada

10. Hario – V60 Pour Over Decanter

Posisi ke sembilan ditempati lagi-lagi brand Hario, namun kali ini untuk produk Hario – V60 Pour Over Decanter. Bahannya glas tahan panas dan stainless steel dengan kapasitas mencapai 700 ml. Untuk jualan maual brew metode pour over, bisa lah sekali brew menghasilkan 3 botol kopi kurang 50 ml. Harga jual harus 35 ribu ya, supaya cepet balik modal. Eeehhh!

Untuk mendapatkan Hario – V60 Pour Over Decanter ini, cukup meneteskan uang sebesar 1.040.000 rupiah! Murah kaannn!? : P

59f842b826b7e786849788

Hario – V60 Pour Over Decanter. Source: Otten.

Nah, itulah list 10 produk untuk metode pour over yang ditemukan Amalie Auguste Melitta Bentz, kemudian menjadi brand pour over M. Bentz, seiring perkembangan zaman, brand-nya kini lebih simple, yaitu Melitta dan memiliki karyawan sampai 2014 itu sekitar 3.737 karyawan. Amazing, Mel! Sok kenal ya saya.

Kalau kalian sudah membeli salah satu dari list di atas, kita siapkanlah belajar brew ala-ala pour over. Siapkan grinder, siapkan timer, siapkan timbangan, siapkan kettle, siapkan air panas 94 derajat, siapkan alat pour over, filter paper dan siapkan single origin idola kalian masing-masing.

Selanjutnya, giling kopi, kalau saya sih gilingnya suka-suka, tidak ada aturan baku harus khusus menggunakan gilingan untuk V-60. Saya giling sesuai selera saya maunya lagi digiling. Kadang coarse, kadang medium, kadang fine. Kalian juga bisa bebas menentukan selera kopi sendiri kalau punya alat sendiri. Kalau aturan orang-orang di coffee shop itu 12 gr per 150-180 ml air, saya mah 18 gram per 150 ml air. Tidak suka kopi cewer-cewer meskipun pakai pour over, kopi harus tetap kuat! Yah, namanya juga selera.

Sudah siap semuanya. Yuk! Bikin! Selamat ngopi manual ala pour overrrrrrr!

Screen Shot 2018-02-08 at 10.50.24 AM

Foto diambil dari keukopian

“sonofmountmalang”

Kalong-Kalong Nakal aka Giant Fruit Bats di Kebun Raya Bogor

IMG_1298

Banyak hal menarik di Kebun Raya Bogor, Kota Hujan. Selain bisa belajar berbagai jenis tumbuhan, buah-buahan, palem-paleman dan semua hal berbau botani, juga bisa menikmati cuitan burung di suasana hutan. Pastinya bisa berolah raga dan menghirup udara segar perhutanan di tengah perkotaan. Membakar ribuan kalori dan lemak di tubuh yang sudah menumpuk tahunan. Untuk ABG kekinian, bisa juga duduk-duduk di bangku sisi hutan sambil membicarakan masa depan. Pacaran sambil mengumbar rayuan. Pedekati juga bisa sambil obral gombalan. Bisa juga jalan ringan sambil pegangan tangan seolah dunia milik berduaan. Kalau kuat, bisa banget lelarian sampai ngos-ngosan di jalanan datar, tanjakan atau turunan. Mau selfie segala posisi pun bisa dilakukan. Di Kebun Raya Bogor, kalian bebas menghabiskan waktu dengan segala cara, hanya dengan membayar dua puluah ribuan per orangan.

Kalau saya sih bukan mencari pelarian, juga bukan mengumbar gombalan. Namun untuk sekedar menikmati gerimisan bau hujan di suasana pagi Kota Hujan. Plus mencari objek untuk diabadikan dan ditulis untuk bahan postingan.

Hasilnya, menemukan ratusan kalong si kelelawar alias Giant Fruit Bats sang pemakan buah-buahan. Berisik di ketinggian pucuk pepohonan dan sebagian iseng-iseng nakal terbang seliweran.

Kalau ada di kaki Gunung Malang, mereka sudah jadi korban untuk dijadikan santapan. Sayangnya mereka ada di Kebun Raya Bogor, di mana semua objek mendapatkan perlindungan. Kalau pun ada yang iseng, misal mencoret-coret pepohonan atau buang sampah sembarangan, itulah kampret sialan dalam wujud kemanusia-manusiaan.

Inilah hasil jepretan CANON 550 dengan lensa TAMRON 70-200 FOR CANON saat kalong-kalong nakal seliweran di siang bolong, bukannya molor buat isi energi buat melek semaleman nyari buah-buahan.

Selamat hunting-hunting ringan di Kebun Raya Bogor, selanjutnya akan saya cari objek menarik lainnya untuk dijadikan bahan postingan.

IMG_1285IMG_1328IMG_1327IMG_1324IMG_1322IMG_1321IMG_1317IMG_1316IMG_1315IMG_1313IMG_1311IMG_1309IMG_1308IMG_1306IMG_1305IMG_1304IMG_1303IMG_1302IMG_1301IMG_1295IMG_1294IMG_1292IMG_1291IMG_1289

“sonofmountmalang”

 

 

 

Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu, Tragedi pembantaian di Takokak – Cianjur Selatan

 

20171224_113417

TAMAN MAKAM PAHLAWAN CIGUNUNG TUGU, TAKOKAK – CIANJUR SELATAN

Dulu.

Dulu sekali.

Sangat dulu sekali.

Ketika saya masih kecil, nenek selalu menceritakan dongeng sebelum tidur tentang perang penduduk di Takokak melawan Walana. Lebih seru lagi kalau kakek yang bercerita langsung serunya pertempuran gerilyawan melawan tentara Walana.

Awalnya, saya berpikir, dongeng sebelum tidur itu merupakan rekayasa. Setelah semakin besar dan kemudian kakek akhirnya diangkat menjadi PEJUANG VETERAN karena jasanya di medan perang sebagai relawan yang membawa perlengkapan P3K untuk pejuang yang terluka dan ransum makanan untuk mengisi perut. Selain itu, bukti lainnya adalah di kamar kakek juga juga dipajang senapan saat ia gunakan melawan Walana, dan beberapa selongsong besi sisa mortir bekas di kolong ranjang.

Dongeng seru sebelum tidur yang diceritakan nenek dan kakek, sekali lagi, bukanlah dongen, tetapi sungguhan terjadi di kaki Gunung Malang.

Menurut sejarah yang tidak pernah ada dalam catatan pemerintahan Indonesia, salah satu pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh Belanda, terjadi di kaki Gunung Malang, Desa Takokak, Kecamatan Cianjur Selatan. Perbatasan Sukabumi – Cianjur Selatan. Secara lokasi strategisnya, harusnya masuk wilayah Sukabumi, tetapi entah kenapa, desa ini masuk wilayah Cianjur Selatan dan tidak pernah pun disentuh oleh pemerintahan Cianjur. Lokasinya memang lebih menguntungkan Sukabumi dan penduduk di kaki Gunung Malang, soalnya hasil pertanian lebih dekat dijual ke Sukabumi dibandingkan harus menempuh jalan menuju kota Cianjur.

Karena lokasi sangat terasing inilah, wilayah ini pada zaman Belanda dijadikan tempat pembantaian kaum pendukun NKRI alias republikan. Konon, ratusan simpatisan NKRI ini dari beberapa spot wilayah Sukabumi, Nyalindung, Sagaranten dan sekitarnya, ditangkap Walana gila dan dibawa ke hutan di Gunung Malang. Di hutan inilah mereka dibantai tentara Walana. Tepatnya mereka dibantai di Puncak Bungah, puncak di mana kita bisa memandang ke perkebunan teh Cikawung, yang juga tempat pembantaian kaum pro NKRI atau pro Soekarno atau zaman itu mereka menyebutnya KAUM REPUBLIKEN.

Tidak heran, ketika nenek bercerita, dulu katanya, truk-truk dan tank baja itu bisa sampai ke desa di Takokak. Toh, juga, selain memang tujuannya membantai pendukung NKRI, juga kepentingan Walana pada jaman itu melakukan tanam paksa berupa KOPI, CENGKEH, TEH dan KINA. Karena kontur di Cianjur Selatan – Perbatasan Sukabumi berbukit-bukit dan dingin, jadi surga bagi Walana untuk memaksa semua penduduk menanam komoditi paling menguntungkan pada zaman itu. Kalau kalian melakukan touring dari Nyalindung melewati Takokak dan menembus Sukanagara, maka sepanjang perjalanan itu lah kalian akan melihat perkebunan teh.

Nah, kembali ke pembantaian di Takokak ya. Kalau kata kakek saya, ketika zaman perang, banyak Walana gila. Mereka kalau nembak suka membutababi. Main berondong saja sampai semua gerilyawan kocar-kacir. Sebagian peluru nyasar mengenai, mati. Sebagian hanya nyerempet, luka dan selamat. Yang tidak terkena apa-apa, hanya bisa trauma di tengah hutan. Menunggu Walana-Walana gila itu kembali ke truknya dan meninggalkan desa. Tenang, kata kakek saya, Walana itu akan balik lagi mencari antek-antek pendukung NKRI.

Menurut cerita para pejuangan veteran, yang kebetulan juga diwawancara wartawan, pembantaian tidak hanya dilakukan di hutan atau jurang-jurang di sekitaran Takokak. Pembantaian dilakukan di Ciwangi, Pal I Cengang, Gamblok, Cikawung dan Pasir Tulang. Nah, yang terakhir, kenapa penduduk menyebutnya Pasir Tulang, karena memang di sini dijadikan bukit pembantaian. Pasir artinya bukit dan Tulang diambil dari sisa belulang yang dagingnya sudah membusuk. Pasir Tulang pada zamannya menjadi tempat angker. Tidak ada yang berani lewat Pasir Tulang pada malam hari. Konon, akan ada saja penampakan di Pasir Tulang jika berani lewat malam-malam. Hiiiii!

Dari cerita-cerita kakek dan nenek sebelum tidur ini memiliki bukti kuat, yaitu dengan adanya TAMAN MAKAM PAHLAWAN CIGUNUNG TUGU. Di taman inilah berjajar rapi makam-makam pahlawan tanpa nama. Mereka pahlawan yang melawan tentara Belanda dan juga korban pembantaian karena merekalah kaum REPUBLIKAN.

Untuk mengenangnya, setiap Agustus, seluruh sekolahan di Cianjur Selatan, khususnya perbatasan Sukabumi, pergi ke Taman Makan Pahlawan Cigunung Tugu dan berziarah sambil berdoa, membersihkan rumput-rumput liar di atas makamnya.

Dongeng sebelum tidur dari kakek, seorang VETERAN PERANG, yang kini sudah meninggal, tidak akan pernah saya lupakan dan akan saya kembali ceritakan ke Virgillyan Ranting Areythuza, sang pendengar DONGENG SEBELUM TIDUR.

Selamat beristirahat, Pahlawan Takokak!

*Walana=Belanda

20171224_11360420171224_11333320171224_11403220171224_11355520171224_11351820171224_11350920171224_11344820171224_11343220171224_11335920171224_11335620171224_11334220171224_113337

Sumber-sumber lainnya bisa ditemukan di:

Horor in Takokak

Horor di Takokak

 

“sonofmountmalang”

Kemping murah yang kemping sebenarnya di Bravo Camp Cidahu – Sukabumi

20171231_101447

Di sekitaran Cidahu, Sukabumi, sebenarnya banyak ditemukan camping ground. Jika iseng menyisir sepanjang sisi hutan Gunung Salak, lebih banyak lagi ditemukan camping ground. Hanya beberapa saja yang bisa dideteksi dengan search engine google. Sebagiannya lagi masih dari mulut ke mulut. Sepertinya yah.

Salah satunya itu camping ground yang lokasinya berdekatan dengan Batutapak Camping Ground. Tepatnya berada di lembah dan di sisi sungai. Jadi ketika saya tracking ke sungai dan hutan, lalu nyasarlah ke salah satu camping ground yang posisinya berada di sisi hutan dan dekat sungai. Ini camping ground ekstrimlah karena susah dijangkau kaki manja kaya kita. Kecuali untuk adik-adik pramuka dan keluarga yang beneran kemping mandiri di mana bawa barangnya sangat minimalis. Baru deh bisa kemping di sini. Nama kempingannya CAMP DAM. Lebih natural, sisi sungai, sisi hutan dan tetap sih ada warung indomie. Jika ingin mencobanya, bisalah tes kekuatan kaki kalian kemping di sini. Sementara saya masih kemping yang tidak jauh dari parkiran mobil.

20171231_095614

20171231_09560620171231_09594820171231_10003420171231_10041620171231_100145

Salah duanya adalah Bravo Camp Cidahu. Kalau kempingan satu ini berada di sisi sungai dari aliran Curug Undak Dua. Spot-spotnya juga tidak jauh dari sungai. Bersih, rapih dan nyaman kalau dilihat sekilas. Saat saya nyasar ke kempingan Bravo Camp ini dan bertanya ke penjaganya, dia bilang sih meski jauh dari jalan raya dan posisinya dekat hutan, Bravo Camp dijaga 24 jam, dijamin aman dan tentunya sih lebih murah dibandingkan Batutapak Camping Ground. Hanya saja nih, hanya saja ya, masalahnya satu buat saya, untuk sampai ke Bravo Camp Cidahu ini, kita harus berjalan kaki dari parkiran umum di mesjid deket jalan raya. Selanjutnya harus jalan kaki sekitar 20 – 30 menit katanya. Kalau mau dibantu sama petugasnya dengan diangkut motor. Tetapi ya, berhubung kalau saya kemping membawa segambreng perlengkapan, kayanya tetap tidak bisa. Masalah jalan kakinya sih tidak apa, masalah bawa barangnya itu yang masalah. Hahhaha! Yah namanya juga pemuja kemping ala-ala.

Lepas dari soal jalan kaki, kalau kalian kemping di Bravo Camp Cidahu, ada satu yang menyenangkan, apalagi membawa anak, yaitu bisa nyebur main air sampai puasa kapan sajaaaaa! Lebih asik lagi mendirikan tendanya di sisi sungai dan membuka pintu tenda langsung sungai. Begitu juga dengan tidur, akan diiringi gemericik sungai. Dijamin asik bangeettt! Cuma sayang sekali, saya belum bisa meski pengen banget next-nya kemping di sini.

Nunggu Virgillyan Si Bolang gedean dikit saja ya, akan saya ajak ke sini, ke Bravo Camp Cidahu. Kalau pun kalian ingin mencoba, saya berbaik hati nih memberikan info paketannya. Silakannn.

20171231_10210420171231_10211020171231_10210020171231_10211520171231_10211920171231_10214620171231_10222520171231_10225820171231_10140420171231_10143520171231_10133720171231_10124420171231_10123120171231_10111320171231_10112220171231_10111620171231_10113620171231_10150020171231_10145620171231_10241120171231_10241820171231_10252620171231_10252920171231_10205320171231_10131520171231_10120920171231_10113020171231_10115620171231_101525

Tiket Camp Bravo

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

Pemandangan Amazing di Semi Glamping Semi Murah Batutapak Camping Ground – Gunung Salak Sukabumi (Part-3)

20171231_051110

Selamat pagiiiii dari ketinggian Batutapak Camping Ground!

Kalau di beberapa camping ground sebelum-sebelumnya saya selalu mengeluhkan dengan kondisi malam hari tidak ada pemandangan amazing untuk nongkrong malam di depan tenda dan menikmatinya, kali ini hati saya senang. Malam hari bisa duduk-duduk di depan tenda sambil menikmati city light, dan pagi bisa menikmati matahari muncul dari balik gunung. Bisa dibilang, pemandangan di Batutapak Camping Ground ini memuaskan.

Kalau pagi, kalian harus bangun jam lima. Udara dingin, kabut dan terpaan angin, bikin mata kalian langsung melek. Untuk mengurangi dinginnya di tubuh, menyeduh kopi atau teh, lalu membuat pisang goreng dan duduk di bale-bale saung atau duduk santai di kursi depan tenda sampai matahari pelan-pelan terbit di balik Gunung Gede Pangrango. Untuk yang doyan selfie dengan matahari terbit, di sinilah kalian bisa membuat siluet dengan segala kondisi body kalian. Selain itu, bisa juga menikmati hangatnya matahari pagi sampai benar-benar keluar semua dan badan sedikit hangat.

kalau tidak percaya, cobalah tengok hasil jepretan SAMSUNG GALAXY S8. Aiihhh! Pamer. Habisnya, bawa Canon DSLR sama sekali nggak dipakai. Selain berat, juga nggak simple yah. Lebih cepat dan untuk blogging doank sih cukuplah pakai SAMSUNG GALAXY S8. Check it out!

20171231_054255

Matahari dari bali Gunung Gede Pangrango yah.

20171231_054337

Langit pagi mulai kebakaraannnn!

20171231_054732

Puas juga dengan hasil Samsung Galaxy S8 ini yah.

20171231_054806

Bisa mainin cahaya juga.

20171231_054825

Sunrise di Batutapak Camping Ground.

20180101_055715

Makin siang semakin keren yah.

20171231_055550

Kalau spot di sini, kalian akan langsung terkena siraman rohani pagi.

20171231_054044

Spot terbaik buat menikmati sunrise.

20171231_053923

Kabut di atas kota.

20171231_053107

Main paragliding dari sini langsung ke atas kota berkabut. Dijamin seruuuu!

Setelah kenyang melihat sunrise, dan kemudian perut lapar, kalian bisa menikmati sarapan pagi sambil menikmati pemandangan di jauh sana. Jangan lupa untuk mengenyangkan perut, karena setelah kalian kenyang, kalian bisa membakar kalori dan lemak dengan tracking ke Taman Nasional Gunung Salak Halimun, ke Kawah Ratu, Situ Hiang. Kalau energi cukup banyak dan kuat, kalian bisa tracking ke Gunung Sumbul, puncak Gunung Salak, Puncak Mossa, Prabu Salak dan Kencana.

20180101_085009

Rute wisata dan pendakian di Gunung Salak.

20180101_085000

Ikutin aturan supaya nggak mati tersesat di hutan dan jangan jadi  tukang nyampah!

20180101_084946

Yuk! Naik Gunung Salak yuuukk!

20180101_084938

Tarif berkegiatan di Gunung Salak.

20180101_085552

Sarapan pagi sepuasnya.

20180101_091919

Family camp!

20180101_091508

Yaya dan Virgillyan Ranting Areythuza.

20180101_091423

Pemandangan sarapan pagi, makan siang atau makan malam.

20180101_091302

Virgillyan Ranting Areythuza! Si Bolang Tukang Kemping!

20180101_090408

Sarapan nikmat!

20180101_085831

Restoran untuk makan-makan.

20180101_085731

Di ujung sana, itu Gunung Gede Pangrango.

20180101_055401

Yah, kalau kaki kalian kuat. Kalau nggak kuat, ya cukup sampai ke Kawah Ratu saja, lalu balik ke kempingan dan bermain air saja di bawah. By the way, selain kalian bisa menikmati kemping di atas, juga bisa di sisi kali. Mau? Cuma lokasi ini diperuntukan bagi kalian yang dengkul dan napasnya masih kuat naik turun tangga curam.

20171230_154009

Track menuju sungai di bawah.

20171230_154203

Istirahat dulu ya.

20171231_094024

Virgillyan Ranting Areythuza!

20171231_094603

Camping Ground Batutapak yang berada di lokasi sisi sungai. So far hanya ada satu orang yang kemping di sini.

20171231_102845

Berenang ringan di sini saja.

20171231_102902

Sungainya bersih!

20171231_103224

Kuatkan iman buat kembali masuk ke air yah!

20171231_103506

Bbbbrrrrr!

20171231_103539

Dingin bangettt!

20171231_103841

Untungnya nggak begitu ramai sih di sini.

Kenyang bermain air sampai menggigil, sorenya kita bisa menikmati kabut menyerbu perkempingan. Sekali lagi, kita bisa menyeduh kopi, teh dan menikmatinya bersama pisang goreng. Untuk yang suka kabut, nikmatilah sepuasnya di sini. Sayangnya ya, kita tidak bisa menyimpan kabut itu di toples untuk dibawa ke Jakarta. Sementara kalian nikmati saja sepuasanya di sini.

20171231_162822

Nah! Kabut sore mulai menyerang.

Kalau sudah malam, siapkan DSLR kalian untuk bisa meng-capture city light. Karena saya malas mengeluarkan DSLR plus juga lupa membawa tripod, jadinya pakai Samsung S8 sajahlahyah. Hahaha! Pamer banget sik! Ya, abisnya beneran ribet pakai DSLR. Next time lah saya akan gunakan kembali DSLR-nya ya. Supaya hasil fotonya lebih maksimal. Memang kalau pakai smartphone sih tidak sebagus DSLR kalau menangkap city light. Meski juga pakai Samsung S8 tidak sememuaskan Samsung K ZOOM yaaaa!

Cobalah yuk cek hasilnya.

20180101_000447

Happy new yearrrrrr!

20171231_235732

Acara tiap tahunan di akhir tahun selalu ada pesta kembang api di sini.

20171231_235558

Asiiikk kaannn!

20171231_235556

Duuuaaarrr!

20171231_222106

Kabut malam!

20171231_221810

Kalau beruntung, saat begini, tiba-tiba di depan mata ada kunang-kunang terbang.

20171230_192324

Selamat kemping dan selamat boboooo!

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

 

 

 

Asiknya masak apa sih kalau menginap di camping ground semi glamping batutapak (part-2)

20171230_063049

Kemping dua malam kaya mau keluar kota seminggu yah.

Kalau saya, kemping boleh semi glamping atau kemping kere, tetapi makanan tetap wajib berkelas, semi berkelas dan jangan sampai makan mie instan! Hahaha! Itu prinsip kemping saya. Jadi, asiknya masak apa saja enaknya ya. Sebelum membahas lebih lanjut, apa saja sih yang biasa saya bawa saat pergi kempingan sampai dua malam.

20171230_100854

Karena ini berada di ketinggian dan anginnya cukup kencang, maka kompor yang cocok adalah ini. Kompor portbale tahan angin. Harganya berputar di 150.000. 

20171230_111457

Salah satu benda masak yang wajib punya untuk kempingan supaya menghasilkan nasi liwet enak itu adalah KASTROL!

Pertama, membawa satu kontainer berbagai perlengkapan makan, bumbu, minyak, beras dan lainnya. Ini penting banget! Jangan sampai ketinggalan. Kedua, ini yang harus dipunyai, yaitu Box Styrofoam yang bisa dibeli di marketplace atau e-commerce. Sebenarnya, saya punya coolbox Igloo Marine, tetapi setelah dites malah awetan pakai Box Styrofoam. Pakai Box Styrofoam itu menginap dua malam di camping ground, lalu memberi es batunya di malam sebelum saya berangkat kemping. Kalau dihitung total, itu tiga malam dan es batu di Box Styrofoam masih lumayan utuh. Dengan kata lain, membawa daging segar, ikan segar, kentang beku dan makanan beku lainnya dijamin masih aman. Saya putuskan dan yakinkan berikutnya kalau kemping membawa ikan segar dan daging segar, menggunakan Box Styrofoam itu cara terbaik.

20171230_104755

Seboks untuk memanjakan perut.

Lalu, bawa apa enaknya supaya kehidupan makanan di camping ground terasa mewah?

  • Ikan segar
  • Steak
  • Paha Kambing
  • Ikan Dori
  • Kentang Beku
  • Ayam Kuning
  • Jamur Sitake
  • Pizza Goreng
  • Sayuran

Nah itulah list makanan di Box Styrofoam untuk makan dua malam dan memberi makan 6 peserta kemping. Oh ya, next-nya akan saya unboxing kali ya isi box kempingan saya.

20171231_153743

Mewah kaaann. Steak Autraslia dan paha kambing. Steak australia seharga 65 ribuan kali dua potong.

20171231_153249

Paha kambing seharga 80.000

20171231_153253

Ini chef yang sibuk ngeladain. Supaya ladanya tetap segar, beli saja lada yang plus gilingan. Bisa dicari di sini. Harganya juga murahlah.

20171231_153242

Chefnya abis ngasih garam, lanjut ngasih lada lagi.

20171231_152852

Giliran garemin.

20171231_152841

Jangan sampai keasinan yaaaa!

20171231_152837

Enter a caption

20171231_15251920171231_15300320171231_18493420171231_184815

20171231_185539

Manggang paha kambing.

20171231_191511

Setelah matang, masak jamur, paprika, bawang merah, bawang putih, lada dan garam. Tumis dan siramlah ke atas daging kambing.

20171231_19152920171231_19214720171231_19213820171231_192128

 

Gimana? Kebayang kan manjanya makanan kemping saya. Jadi kadang ya, kempinganya sih Nampak biasa saja, namun makanannya dong ya, dijamin BIKIN KALIAN GONDUTTTTSS!

Selanjutnya, makaan lagiiii. Hahahhaha!

20171231_11312020171231_11362720171231_11364620171231_11365020171231_11420920171231_11520320171231_11180120171231_11520720171231_115616

Selesai makan, istiharat, main dan makan lagiiiii!

20171230_12163220171231_11175820171231_111808

Jangan lupakan juga cemilan dan kopi.

20171231_06450220171230_170353

Kalau sudah malam, ya makan lagiiii!

20171230_18215520171230_18492620171230_185812

Kurang lebih, begitulah acara makan kalau saya kemping. Ini sebanarnya mau kemping apa mau makan yaaaa.

Sama satu hal yang tidak boleh dilupakan saat kemping, seperangkat perlengkapan kopi, ngeteh, susu full cream dan gula tentunya. Kalau sudah lengkap begini, nikmati saja kempingannya, yang akan diisi makan, leyeh-leyeh, makan dan leyeh-leyeh dan makan. Heits! Tenang, masih ada kegiatan seru lainnya sih yang bisa kalian lakukan. Apakah itu? Kita tunggu lagi ya postingan selanjutnya.

“sonofmountmalang”

 

 

Mencoba Asiknya Semi Glamping Semi Murah di Batutapak Camping Ground – Gunung Salak Sukabumi (part-1)

20180101_091531

Kalian tahu, kan? Ada empat kategori kemping buat saya pribadi. Pertama, GLAMPING. Kedua, SEMI GLAMPING. Ketiga, KEMPING ALA-ALA dan keempat, KEMPING BENERAN.

Glamping, semua orang sudah tahu yah. Kalau di list saya, saya ulangi lagi ya, ada Legok Kondang, Glamping Lake Side Ciwidey, Green Hills Ciwidey, Trizara Resort, Pondok Rasamala Glamping, Highland Park Bogor dan bisa ditambahkan kalau ada yang pernah GLAMPING di selain nama yang saya sebutkan. Sementara kalau SEMI GLAMPING itu sejenis Rakata Adventure, Ciwidey Valley Camping Ground, Pangrango Panorama Camping Ground, Batutapak Camping Ground, Javana Spa Camping Ground, Alang-Alang Camping Ground, Maribaya Lodge, Dusun Bambu Camping Ground, Ciwangun Indah Camp, Grafika Cikole Camping Ground, Situ Cileunca Lakeside Camping Ground, Sari Ater Camping Park, Pine Forest Camp Maribaya dan list-list lainnya yang masuk dalam kategori SEMI GLAMPING.

Ketiga, KEMPING ALA-ALA itu semacam di Kampung Cai Rancaupas, Panorama Camping Ground Gunung Bunder, Papandayan Camping Ground, Mandalawangi Camping Ground, Cibodas Padang Gold Camping Ground dan kemping-kemping lainnya yang di mana ada lokasi kemping di situ masih tersedia toilet dan penerangan sesuai kebijakan pengelola. Maksudnya ada yang bayar, dan ada juga yang sepaketan di camping ground-nya sudah dikasih lampu.

Keempat, KEMPING BENERAN. Nah inilah kempingers sejati. Tidak ada listrik, tidak ada toilet dan semuanya serba mandiri. Biasanya memang ini para pendaki gunung, yang nggak mungkin bawa sekontainer alat masak beserta bahannya dan ikan segar se-coolbox!

Kalian termasuk yang mana?

Kalau saya masih sebatas GLAMPING, SEMI GLAMPING dan KEMPING ALA-ALA.

Nah, SEMI GLAMPING terakhir dilakukan di BATUTAPAK CAMPING GROUND. Kenapa saya menyebutnya SEMI GLAMPING. Pertama, toilet di luar tenda meskipun ada pilihan air hangat dan air dingin. Tempat tidur bukan ranjang dan masih kasur biasa. Tenda dibuat tidak permanen dan masih bisa dilakukan kemping mandiri. Bisa masak sendiri, bisa pesan makanan juga di restonya. Itulah yang saya sebut semi glamping.

Dari sini, saya akan bahas SEMI GLAMPING di Batutapak Camping Ground. Are you readyyyy!??

Batutapak Camping Ground berada di 88,8 KM dari Sunter ke arah Sukabumi, Cidahu, Gunung Salak. Posisinya berada di sisi hutan Gunung Salak. Perjalanan normal ditempuh hanya dengan waktu 2,5 jam. Palingan kena macet di Pasar Caringin dan Cicurug sama pasar Ciawi. Selebihnya hambatan-hambatan ringan saja. Setelah berbelok kanan ke arah Jalan Bangbayang sebelum macetnya pasar Cicurug, jalanan akan lancer total. Saya sarankan jalan belok kanan di Jalan Cidahu Raya, karena kalian akan terkena macet lumayan di Pasar Cicurug.

Screen Shot 2018-01-05 at 2.13.28 PM

Jakarta – Batutapak Camping Ground Cidahu

Selanjutnya, perjalanan akan naik turun belok kiri belok kanan, melewati perkampungan, melewati sawah-sawah dan jalanan akan menembus ke Jalan Cidahu Raya. Tinggal melanjutkan perjalanan ke Batutapak Camping Ground. Plangnya jelas terlihat dan posisinya ada di sebelah kanan beberapa jengkal sebelum gerbang ke Wisata Alam Gunung Salak. Parkirkan mobil, ke marketing office dan check in. Selanjutnya, kemping yuk!

Di Batutapak tersedia beberapa paket kemping. Karena saya membawa opa omah, jadi kemping kali ini memesan paket VIP TENDA DOME 6 ORANG. Kaya gimana sih? Kasur di dalam ada tiga, meja makan sekaligus buat ngopi dan duduk-duduk menikmati pemandangan serta udara sejuk. Listrik, lampu, air panas 24 jam, kopi, teh, sarapan pagi dan kamar mandi air hangat. Saya kemping dua malam. Mulai 30 Desember – 1 Januari. Alias menghabiskan tahun baru di tempat kemping. Tiga hari dua malam di Batutapak sangat memuaskan. Apalagi udara siang di Batutapak pun sejuk, jadi masih nyaman tiduran siang di tenda atau pun nongkrong di depan tenda sambil ngopi. Dibandingkan semi glamping di Rakata atau Ciwidey Valley, Batutapak masih lebih dingin dan enak udaranya.

Selain kemping, bisa apa saja? Bisa menyusuri sungai Cidahu, berenang di air terjun kecil Batapak yang lokasinya ada di bawah lokasi kemping, dan kalau energy kalian berlebih, bisa juga kemping di dekat sungainya. Cuma bawa perlengkapannya saja dijamin bikin dengkul kopong kalau kalian mau kemping di sisi sungai. Kalau kurang menantang hanya sekedar turun ke lokasi air terjun kecil, ada acara tracking ke air terjun undak dua atau air terjun di dekat Javana Spa dan tracking ke hutan di Gunung Salak.

Kalau kalian berbanyak orang, bisa melakukan serangkaian acara seru sih. Semacam paint ball atau pun outbound, tetapi kalau tim kecil, semi glamping di Batutapak sebaiknya dinikmati detik demi detik. Main air, masak, makan, leyehan, nyemil, main air, jalan-jalan ke hutan, makan, leyehan, nyemil dan diulang sampai badan kalian tetiba terasa begitu gondut! Wkwkkwkw!

Seperti yang kami lakukan di Batutapak. Hari pertama tiba, angkutin perlengkapan ke kempingan. Berhubung ramai sekali dan petugasnya terbatas, jadi angkut barang sendiri saja. Ada container isi perlengkapan makan, masak, minum, alat panggang, kompor, bumbu dan lainnya. Sementara coolbox berisi daging, ikan segar, jamur segar dan makanan beku untuk tiga hari dua malam.

Selanjutnya, kita kemping dulu yaaaaa. Akan dibahas lagi enaknya ngapain aja di Semi Glamping Batutapak. Cus!

 

 

“sonofmountmalang”

 

Road Trip Singkat Jakarta – Sukabumi – Cianjur Selatan – Sukanagara – Pagelaran – Cianjur Kota – Puncak – Jakarta!

Pernah iseng ketika tidak begitu banyak kerjaan saat long weekend dan memutuskan untuk pergi mengikuti google map atau waze ke satu tujuan dan pulangnya mengambil rute berbeda? Yes! Itu saya lakukan seminggu lalu. Tepatnya seminggu sebelum tahun baru. Rute yang diambil adalah Jakarta menembus Sukabumi, menembus perbatasan Sukabumi dengan Cianjur Selatan sampai ke Sukanagara dan Pagelaran. Jika belok kanan, akan menuju Pagelaran dan menembus Rancabali dan Ciwidey. Berhubung kalau pulang lewat Ciwidey dan melewati Cikampek, terbayang kan macetnya Cikampek. Jadinya, saya memutuskan tidak menembus Ciwidey, tetapi ke Cianjur Kota, yang akan keluarnya di perempatan Tugu Maenpo.

Seperti apa perjalanan sepanjang itu? Akan saya uraikan ya sedikit perjalanan aneh ini. Lets goh!

Pertama, berangkat subuh dari Jakarta. Menembus Bogor sampai berhenti di kota Sukabumi. Berangkat setengah lima subuh, sampai kota Sukabumi jam 8 pagi. Kalau jalan siangan sedikit, kelar deh kena macet di jalur Sukabumi. So, sampai di jam sarapan, pilihan tepat untuk kenyang sekali itu adalah KFC Griya Yogya Sukabumi. Sarapan sampai kenyang.

Perjalanan dari Sukabumi dilanjutkan menuju Takokak. Jalanan menuju Takokak kalau melewati rute Nyalindung itu dijamin babak belur jalanannya. Banyak kubangan kerbau di tengah jalan dan batu-batu sisa aspal. Jadi, lupakan lewat Nyalindung. Saya memotong jalan dari Terminal Jubleg menuju ke jalan Tangkil – Agrabinta dan belok kiri ke Jalan Legok Bandung Dua. Pemandangan di sepanjang Jalan Legok Bandung Dua itu super amazing!

Pemandangan langsung menuju ke Gunung Gede Pangrango. Jalanan naik turun bebukitan melewati Cikeuyeup, Pasir Huni, Pasawahan Girang, Pamoyanan, Kampung Tugu dan SDN Takokak. Di Takokak ini saya menginap semalam sambil ngecek kebun kopi dan kebun cabai plus ajak Virgillyan Ranting Areythuza menjadi SI BOLANG bersama anak-anak setempat.

Setelah menginap semalam, perjalanan dilanjutkan menuju Cianjur Selatan. Kali ini melewati Kampung Cikawung, Cikawung Hilir, Pasir Layung, Kali Baru, Sindang Sari, Ciguha, Gunung Sari, Cimapag – Sukanagara. Nah, sampai di titik ini, di perempatan Sukanagara, tinggal memutuskan, akan menuju Rancabali atau ke Cianjur Kota melewat Campaka, Cibeber dan sampailah di Cianjur Kota.

Rutenya terlihat sangat sederhana ya, hanya melewat desa-desa, kampong-kampung, hutan-hutan dan perkebunan teh sepanjang perjalanan, namun tidak semua jalanan yang dilalui mulus. Total KM dari Jakarta – Sukanagara itu sekitar 177 KM, 47 KM dari perbatasan Sukabumi – Cianjur dan sampai Sukanagara itu jalanan hancur lebur. Kecepatan mobil rata-rata 10 KM/Jam. Belum lagi jalanannya baru belok kiri, eh sudah belok kanan, tanjakan, turunan. Seru bercampu deru. Tetapi menikmati pemandangan serba perkebunan teh, sungai dan hutan, itu tidak kalah juga menariknya.

Disempatkan juga, mampir di Taman Makam Pahlawan Takokak. Nanti ada tulisan sendiri soal PERJUANGAN MELAWAN BELANDA di TAKOKOK. Karena kakek saya, salah satu VETERAN PERANG, yang selalu menceritakan dongeng sebelum tidur tentang betapa BELANDA itu kejam pada zaman old. Terlebih, di Takokak ini, dulu, dipenuhi perkebunan teh, kopi, cengkeh dan kina, yang merupakan hasil tanam paksa bangsa Belanda. Ini seru dibahas sendiri ya. Nanti kita bahas. Okeh! Sekarang, lanjutkan dulu perjalanan menuju Sukanagara.

Karena sepanjang perjalanan dari Takokak – Sukanagara itu tidak melewati perkotaan dan lebih banyak melewati perbukitan teh, hutan rasamala atau hutan puspa atau pun hutan kopi, maka saya tidak terlalu banyak berhenti untuk memotret. Hanya berlalu berjalan pelan sambil menikmati pemandangan. Soalnya, kalau kemalaman di jalan, bias repot. Selain gelap gulita, jalanan busuk dan ya jaga-jaga saja kalau ada mahluk jahat macam begal. Kan kita tidak pernah tahu ya. Namanya juga melewati hutan. Sukur-sukur yang lewat hantu, bodo amat itu mah sih. Nggak takut. Lha kalau yang lewat begal bawa golok, sementara saya hanya semobil tanpa rombongan, ya amit-amit. Makanya perjalanan terus berlanjut. Padahal niatnya ketika sampai Pagelaran, saya bisa mampir di Curug Ngebul atau Curug Citambur dan curug-curug di sekitarnya. Niatnya dibatalkan dulu. Takut sampai Jakarta malah subuh. Sementara hanya dadah-dadah ke curug dari pinggir jalan.

Setelah lepas dari Sukanagara, perjalanan diputuskan berlanjut ke Campaka, Cibeber dan Tugu Maenpo. Sepanjang perjalanan Sukanagara sampai Cibeber itu relatif tidak ditemukan tempat makan atau resto semacam Bumi Aki atau sejenisnya. Hanya ada warung Indomie, Mie Ayam dan Bakso. Jadi kalau lapar, ya itulah makanannya. Kalau bisa nahan lapar dan cemilan di mobil banyak, enaknya lanjutkan saja atau jika mau, ya mampirlah ke warung bakso. Selebihnya, kalau sudah kenyang, lanjutkan ke arah Puncak dan makanlah sampai puas. Karena ONE WAY menuju Jakarta atau macetnya Cisarua akan menyiksa betis kalian.

Cukup seru kan? Jalan-jalan singkat yang lama sekali waktu tempuhnya karena jalanan berkelok dan rusak. Jam 12 di Sukanagara kalau tidak salah, sampai Jakarta, dipotong makan siang merangkap makan sore dan malam, itu jam 11 malam.

Senang, segar, dan melelahkan, tapi kami bertiga bahagia. Gimana dengan perjalanan acak kalian?

“sonofmountmalang”

Tim Kopi Digiling Bukan Digunting VS Tim Kopi Digunting Bukan Digiling! Kalian Masuk Tim Mana?

Di Jakarta, sebelum kalian bisa menemukan coffee shop setiap pengkolan, itu mau ngopi enak susah banget. Dulu, selain pilihan ngopi kalian Starbucks, pilihan lainnya Anomali Coffee. Kecuali di mall, mungkin pilihannya cukup ada. Sebut saja Excelso, Liberica juga termasuk barulah hitunganya, bukan ada sejak 2000-an. Siapa coba yang merasakan kantornya di Setiabudi dan sekitarnya. Kalau ke Setiabudi Building, hanya ada satu pilihan ngopi, yakni Starbucks. Muncul kemudian Anomali Coffee yang memberikan nuansa beda dari Starbucks, dengan kopi lebih murah dan variasi pilihan kopi lokal lebih banyak dibandingkan Starbucks. Menurut opini saya, di Jakarta, Anomali Coffee memiliki andil besar dalam mengenalkan kayanya kopi lokal. Sementara kalau Starbucks, menurut opini saya, hanya menjual Sumatera (CMIIW). Selebihnya, Kenya, Colombia, Brazil, Vienna Roast, Italian Roast. Kalau Anomali Coffee lebih mencintai dan mengenalkan kopi lokal ke konsumennya. Papua, Toraja, Flores Bajawa, Kintamani, Sumatera, Aceh Gayo, Java dan beberapa kopi lokal lainnya. Orang bukan Indonesia yang suka kopi lokal lebih memilih membeli biji kopi lokal di Anomali Coffee. Sementara orang Indonesia lebih suka membeli Starbucks karena membeli brand bergengsi. Akui saja yah, nggak usah mungkir:p. Toh nggak salah juga sih.

Sementara pemain lainnya yang cukup besar dan lama juga ada Excelso, Caswell’s coffee dan Quintinos, namun mungkin asing di telinga. Tapi percayalah, mereka pemain lama yang menghasilkan kualitas roasting terbaik di Jakarta. Ya, ini kan sok-sok annya review saya. Nggak setuju juga nggak apa-apa. Nah, khusus Quintinos, saya sudah langganan dari tahun 2009. Untuk membelinya pada jaman itu lumayan susah. Harus ke Hero atau premium supermarket atau langsung ke tokonya di radio dalam. Sekarang, tinggal klik GOJEK. Pesan-pesan. Datang. Begitu juga Caswell’s, ingin menikmati kopinya harus datang ke Kemang Timur Raya, -sekarang pindah ke Ampera Raya,-. Dan mungkin paling mudah itu menikmati beberapa kopi lokal ya di Excelso, yang cukup tersebar ada di mana banyak tempat. Bahkan bisa dibeli di Indomaret beannya.

Baik pengopi Starbucks, Anomali Coffee, Quintinos atau pun Caswell’s dan brand-brand atau coffee shop yang sudah lama hadir di kancah dunia perkopian, selama ini tidak mempermasalahkan pengopi di luar brand yang sehari-hari mereka nikmati. Namun kini, di tengah gegap gempita persaingan kopi di Jakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya, memunculkan istilah baru. KOPI GUNTING dan KOPI GILING.

Apa sih KOPI GUNTING dan apa sih KOPI GILING?

Ini masih sedikit nyambung dengan coffee snob, so-called coffee expert dan barista hipster. Sebagian dari mereka melahirkan istilah KOPI GUNTING. Kopi gunting adalah kopi yang cara penyajiannya digunting. Ini berlaku untuk semua jenis KOPI SACHET. Mulai dari Torabika, Kapal Api, Luwak White Coffee, Top Coffee, Nescafe, Kopi Ayam Merak, Indocafe dan brand-brand kopi yang bersaing di dunia kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix 3in1. Ayo, ada yang tahu bedanya kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix 3in1? Itu kita bahas nanti yah.

Itulah yang disebut kopi gunting, yang oleh kalangan digembor-gemborkan sebagai kopi kasta terakhir di dunia perkopian. Saya setuju, tetapi juga tidak memberikan stigma atau pun label itu, bahwa kopi sachet bukan dari biji kelas satu di kasta perkopian. Ya, rugi donk ya kalau kopi sachet untuk mass market memakai biji kopi kelas satu, kemudian dijual per sachet 1.000 atau lebih parah lagi dijual 500 atau beli dua gratis satu. Pastinya produsen akan lebih memilih mengekspor dengan harga lebih tinggi atau dijual dengan positioning sebagai premium brand dengan premium kualiti dan harga premium. Juga target market-nya pun premium.

Jadi, sekali lagi, kopi gunting itu juga pilihan. Mungkin sebagian dari kalian mampu membeli kopi di coffee shop hipster atau branded coffee shop. Berapa persen konsumen Indonesia yang mampu kopi di coffee shop atau branded coffee shop? Marketnya jauuuhh lebih banyak kopi sachet! Atau pertanyaanya, apakah abang-abangan terminal atau SES C D sangat concern dengan kopi yang diminum itu KOPI GILING atau KOPI GUNTING? Nggak kan?! Mereka yang penting bisa ngopi, enak dan murah. Apa pun koar-koar kalian soal KOPI GUNTING, semua brand kopi gunting akan tetap hidup dengan mass market-nya masing-masing. Terlebih lagi mereka sudah mengedukasi konsumen Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan rasa kopi instan, kopi tubruk dan kopi mix. Lidah kalian saja yang mengalami gegar budaya kopi. Ya kan?

Namun ada juga sebaliknya, gegar budaya kopi sachet. Sebagai contoh ironi di Gunung Malang dan neneknya teman saya yang tinggal di Aceh Timur. Dulu, orang-orang di Gunung Malang, termasuk nenek saya, pasti memiliki kebun kopi. Minimal, di pembatas kebun teh dan kebun cengkeh itu ditanamin pohon kopi. Kemudian panen kopi, diolah sendiri dan dinikmati sendiri. Tidak pernah dijual hasilnya, karena zaman itu kopi memang tidak ada harganya. Namun kemudian, nenek meninggal dan generasi kopi sachet mulai masuk ke market Gunung Malang, menanamkan rasa baru ngopi dengan cepat. Mulai dikenal dan kopi asli setempat mulai ditinggalkan. Pohon-pohon kopi mulai ditebang karena tidak menguntungkan. Panennya musiman. Ketika masa panen pun, mengolahnya ribet. Jadinya lebih baik menyeduh kopi sachetan. Begitu pun terjadi pada neneknya teman saya di Aceh Timur. Sang nenek menyebut, kopi sachet lebih enak dibandingkan kopi dari kebunnya sendiri. Jadi, panen kopi di kebun sendiri, dijual ke tengkulak dan duitnya sebagian buat stock kopi sachet. Aneh? Nggak. Begitulah market bergerak. Saling makan dan dimakan antara satu budaya dengan budaya lainnya.

Lalu, bagaiman dengan kopi yang seharusnya KOPI DIGILING? Nah, istilah kopi digiling itu diperuntukan kepada semua ‘pengopi nubi’ yang menikmati kopinya dari biji, giling dan diseduh, lalu diserupuuuut! Lalu, baru ngeuh, ohhhh! Dari oooohh-nya ini lah memunculkan label, bahwa kopi itu digiling sebagai kopi sesungguhnya. Kopi digunting itu bukan kopi sesungguhnya. Lantas disebarkan, digembor-gemborkan soal kebenaran kopi yang benar. Benar menurut siapa?

Pertanyaannya, mamang-mamang, mbo-mbo itu mampu membeli hand grinder seharga 200 ribu sampai tiga jutaan? Memangnya mamang-mamang, mbo mbo itu mampu membeli automatic grinder seharga 700 ribuan sampai 50 jutaan? Tentunya sepaket dengan perlengkapan ngopi yang tidak muraahhh!

Nah, coba bayangkan, buat mass market yang sudah teredukasi rasa kopi sachetan 1.000 rupiah per seduh, harus membeli alat ratusan ribu dan biji kopi puluhan ribu dengan keribetan membikin kopi setiap kali ingin menikmatinya, ya keles mauk! Bisa ngopi sachetan saja sudah bahagianya kaya mendapatkan minuman sorgaaa!

So, guys! Buat kalian yang gegar budaya baru ngopi ala-ala new wave, ya sudahlah, ngopilah dengan baik dan benar menurut esensi hidup kalian. Tidak perlu menggembar-gemborkan kopi yang baik itu gimana. Sekarang, semua orang sudah tahu kok. Permasalahannya mampu atau nggak. Mau atau nggak. Itu saja. Saya saja maunya punya semua manual brew segala cara. Tapiii…! Ampun kakkk duitnya jejeritannn. Ahahahha!

Terakhir, pertanyaannya, kalian termasuk TIM MANA ayoooo. Wkwkkwkwkw!

Note: Tulisan berdasarkan opini dan pengamatan serta pengalaman sendiri aja yah. Kalau ada yang melenceng dari data, ya sudahlah jangan diambil hati.

“sonofmountmalang”