Foto Dongeng; Mancing Ikan di Sungai

20160625_105657

Salah satu hiburan anak kampung. 

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendongeng sebelum tidur soal memancing di sungai. Menggunakan joran super sensitif, benang pancing setipis helai rambut dan kail ukuran paling kecil. Ikan yang didapat pun ikan kecil-kecil. Paling besar ikan lele, mujair atau gabus. Sisanya ikan-ikan kecil yang ada di sungai.

Kenapa jorannya harus kecil dan super sensitif? Karena ikan-ikan yang nyangkut ke kail pun kecil, jadi getarannya sangat halus. Kalau jorannya besar, susah sekali perasaan untuk merasa-rasakan ada getaran.

Nah, ini waktu saya ke kaki Gunung Malang dan kebetulan anak-anak di sana masih hobi memancing.

20160625_110757

Siapa bilang di kali segede gini nggak ada ikannya:P

20160625_124429

Nah, ini LASUN nih si pemakan ayam. Larinya cepat dan nggak bisa ditangkap kamera pun.

20160625_111147

Dapat juga tuh ikannya. Ikan mini. Lebih kecil dari kelingking anak-anak itu sendiri.

20160625_111006

Yang kecil cukup nonton ajah yah!

20160625_110825

Banyak spot untuk memancing. Kuncinya satu: SABARRRR!

“sonofmountmalang”

Advertisements

Dongeng (39) Halimah dan Goa Gawir

          “Masih ingat Halimah kan? Perempuan penyembah hujan? Anak Pak Endang. Gadis tomboy, liar dengan kulit seputih kabut pagi di atas situ tengah hutan. Badannya lebih bongsor dari gadis seumurannya. Payudara lebih besar dari gadis seumurannya. Gaulnya pun lebih sering dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan di kaki Gunung Malang. Ia sama-sama suka bermain layangan, suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya.”

Aku memulai sebuah dongeng lagi. Dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kehidupan di kaki Gunung Malang.

         “Kali ini aku kasih judul Halimah dan Goa Gawir.”

         “Apa tuh Goa Gawir?” tanya Tala.

         “Dengarkan saja dongengnya.”

         “Owww! Okehlah.”

Halimah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan, satu-satunya sahabat perempuan yang bisa diajak bermain dan melakukan apa saja. Salah satunya adalah membuat goa di gawir. Gawir merupakan tebing yang tidak terlalu tinggi. Hanya mencapai tujuh lima sampai tujuh meteran. Gawir biasanya menjadi tebing pembatas antara persawahan dan perkebunan. Di gawir itulah aku dan Halimah, juga sahabat lainnya membuat goa.

Sebetulnya, jangan membayangkan goa-goa besar seperti kehidupan di jaman manusia goa. Goa yang dibuat hanyalah muat maksimal untuk tiga orang. Tiga orang anak kecil tentunya. Tinggi goa sekitar 70 cm dan dalamnya juga paling sekitar 50 cm dan lebar goa bisa mencapai 100 cm.

Sebelum membuat goa di gawir, pastikan dulu tanah gawir tersebut tidak rentan longsor. Tanahnya harus berupa tanah padat. Entah tanah merah atau tahan putih. Yang jelas bukan tanah gembur. Tapi bukan juga cadas. Kalau cadas, bisa setengah mampus membuat goanya.

Sebisa mungkin juga, gawirnya menghadap ke pemandangan lepas. Supaya bisa mendapatkan udara yang cukup, juga pemandangan yang bagus. Biasanya sih, pemandangannya langsung ke persawahan dan di bawah gawir pasti ada selokan mengalirkan air jernih.

Setelah menemukan lokasi yang bagus, maka langkah pertama adalah membuat undakan dari bawah hingga mencapai titik gawir di mana aku dan lainnya akan menggali tanah di gawir untuk dibuatkan goa. Untuk membuat goa di gawir membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, tidak bisa sehari jadi. Soalnya alatnya juga sederhana, yaitu cuma sekop kecil, cangkul dan perlengkapan sederhana lainnya untuk menggali tanah.

Halimah, satu-satunya anak perempuan yang ikut proses dari awal hingga terbentuk yang namanya goa di gawir. Ia ikut naik ke undakan, ikut menggali pelan-pelan. Pelan-pelan, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan sampai galian di gawir membentuk goa yang diinginkan pun jadi.

Kalau sudah jadi, aku dan yang lainnya membuat tungku dari batu. Tapi, ada juga sih goa yang tidak ada tungkunya. Difungsikan sebagai tempat bermain saja. Tempat membaca buku, tempat ngobrol dan tempat santai-santai bareng teman. Kalau ada tungkunya, sekalian bisa untuk masak-masakan. Dan siap-siap goanya bau asap.

        “Trus? Kamu dah Halimah ngapain di goa gawir itu?” Tala menyelak dongengku.

       “Ya, rebahan sambil ngobrol. Baca buku. Makan rame-rame juga sama teman di goa gawir sebelah.”

        “Yakin?”

        “Iyalah! Tapi, nanti, akan ada cerita soal Halimah yang bikin kaget sekampung!”

        “Kalian ML ya?”

        “Bukan! Bukan itu! Nanti saja ya. Kan ini ceritanya soal goa gawir.”

Tren goa gawir tidak berlangsung lama. Soalnya, akan selalu ada tren membuat tempat bermain dengan gaya baru di kaki Gunung Malang. Goa Gawir salah satunya. Lainnya lagi, ada tren membuat rumah pohon di pinggir sungai.

Itu, aku ceritain lain malam saja ya.

Sekarang, saatnya tidur.

“sonofmountmalang”

Dongeng (38) Mencari Rumput

Sekarang, malam ini, aku mau dongengin soal rumput ya.
       “Kamu tahu, kan? Ting? Rumput?”
Ranting diam saja. Ia hanya melirik ke arahku, kemudian menarik ujung jari-jariku. Ia menggenggamnya. Memainkannya dengan ujung jempol. Sesekali terasa kukunya menekan ujung jari. Ia memang suka iseng. Kadang suka mencubit kecil-kecil, namun tidak begitu sakit.
Rumput, di kaki Gunung Malang, bagi kebanyakan penduduk, memiliki peranan sangat penting. Kalau dibilang kebutuhan premier, bisa dibilang juga begitu ya. Tidak ada rumput, seluruh penduduk kampung bisa panik dibuatnya.
Kenapa rumput begitu penting?
Setiap kepala keluarga, bahkan anak-anaknya, pasti memiliki hewan piaraan. Ada yang punya kambing. Domba. Kerbau. Kelinci. Marmut. Hampir setiap keluarga pasti memiliki kelinci dan marmut. Domba juga pasti. Yang jarang itu memelihara kambing dan kerbau. Hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya, yang memiliki kerbau itu para pembajak sawah. Jadi, Ting, pembajak sawah di kaki Gunung Malang itu bisa disewa untuk membajak sawah. Soalnya, tidak semua bisa membajak sawah menggunakan kerbau. Dibutuhkan keahlian tersendiri untuk mengendalikan kerbau dan menggunakan bajak sawah.
Itulah sebabnya, kenapa rumput begitu penting perannya di kaki Gunung Malang. Karena setiap penduduk harus memberi makan hewan peliharaan setiap pagi dan sore.
Dan ya, Ting, biasanya juga, rata-rata itu setiap penduduk memiliki, minimal, empat ekor domba. Itu minimal ya, Ting. Banyak yang lebih dari empat ekor sih. Ada yang sampai punya 10 ekor per kepala keluarga.
Nah, aku, punya dua ekor domba, ketika itu, pas aku masih di kaki Gunung Malang. Selainnya, aku bantuin kakek, yang memiliki hampir 20 ekor domba. Tapi, aku nggak akan cerita soal dombanya ya. Aku mau cerita soal rumput aja.
Ada banyak jenis rumput yang harus diketahui para pencari rumput. Itu pengetahuan dasar. Ada rumput yang bisa dimakan kelinci. Ada rumput yang bisa dimakan marmut. Ada rumput yang bisa dimakan domba, kambing dan kerbau. Ada rumput yang bisa dimakan semua jenis hewan peliharaan. Ada rumput yang bisa bikin hewan keracunan. Ada rumput yang bisa bikin hewan peliharaan mencret parah. Ada juga rumput yang bisa bikin hewan peliharaan susah BAB. Ada rumput yang nggak boleh disabit sama sekali. Soalnya, pasti tidak bisa dimakan sama semua jenis hewan peliharaan.
Jadi, aku dan para penduduk lainnya harus mengenali semua berbagai secara mendalam, agar hewan peliharaan tetap tumbuh dengan baik dan tidak terkena penyakit.
Tapi, misalnya, kalau hewan peliharaan mencret, esoknya kita harus mencari rumput yang bisa membuat ee-nya itu keras. Nah, soal nama-nama rumputnya, aku sudah lupa. Mungkin aku harus ke kaki Gunung Malang dan bertanya ke penduduk di sana, kemudian memotret jenis rumputnya. Atau, nanti kalau ke kaki Gunung Malang, aku langsung ajak kamu mencari rumput bareng anak-anak di sana.
Yang aku ingat sih, ada namanya rumput katepos, rumput sintrong, rumput, rumput signal, rumput benggala, rumput gajah, daun kaliandra, dan banyak banget rumput lainnya yang harus dikenali. Supaya pertumbuhan hewan ternak lebih sempurna dan tidak penyakitan. Sama halnya kaya kita, manusia, makan sembarangan kan bisa bahaya juga. Berlaku untuk hewan peliharaan.
Khusus untuk kelinci, biasanya dikasih makan rumput sintrong dan legetan. Marmut pun rumputnya beda. Rata-rata marmut dikasih rumput-rumput yang tumbuh di pematang sawah. Rumputnya cenderung kecil-kecil, teksturnya lembut dan lebih ranum. Itu memudahkan mereka dalam proses memakannya. Secara mulut mereka kecil dan giginya tidak sebesar gigi domba, kambing atau pun kerbau.
Aku, Ting, biasanya, mencari rumput untuk tiga kategori. Untuk kambing, kelinci dan marmut,.
Oh, ya Ting.
Satu aturan yang tidak boleh dilanggar.
Di setiap harinya, harus ada stok sekarung rumput. Untuk jaga-jaga kalau ada hari di mana tidak memungkinkan kita mencari rumput. Stok tergantung banyaknya jumlah domba atau pun kambing.
Kalau aku, karena cuma punya dua domba, jadi ya cukup punya sekarung stoknya.
Meknismenya begini.
Rumput yang disabit pagi hari untuk dimakan sore hari. Rumput yang disabit sore hari untuk pagi hari keesokannya. Stok rumput lainnya disabit pada siang hari atau sore hari. Itu berlaku untuk yang tidak punya pekerjaan atau tidak sekolah. Kalau yang sekolah atau pun punya pekerjaan pada pagi harinya, ya pencarian rumput dilakukan pada siang dan sore hari.
Dalam proses pencarian rumput, aku tidak pernah sendirian. Selalu ditemani seekor anjing. Namanya Dora. Kadang, mencari rumputnya bertiga sama temanku. Tapi, biasanya, aku lebih sering ditemanin sama Dora. Kecuali mencari rumputnya ke hutan. Itu baru rame-rame.
Selain ditemanin Dora, aku juga ditemani radio kecil. Lumayan kan, penyemangat sambil dengerin musik. Terus, aku juga bawa minum. Kalau-kalau kehausan, dan ya, biasanya sih, pasti kehausan.
Kalau lagi bersemangat, Ting, aku bisa menyabit rumput dua karung sekaligus. Ya, bawanya saja sih gempor. Dikit-dikit istirahat. Dikit-dikit istirahat. Sampai rumah tewas.
       “Gitu Ting…..!”
Dia sudah tertidur. Pulas.
“sonofmountmalang”

Dongeng (37) Si Unyil

Malam ini aku akan dongengin soal Si Unyil ya. Tapi bukan tentang Si Unyilnya sih. Ini tentang bagaimana susahnya mau nonton Si Unyil. Bertepatan juga dengan hari di mana Pak Raden meninggal. Sekalian mengenang serunya hidup di jaman dulu.
            “Kamu sudah siap dengerin dongeng, Ting?”
Ranting sudah rebahan di sebelah saya. Dia sudah mulai mengucek-ngucek matanya.
            “Aku mulai ya.”
Jaman dahulu kala, tempat di mana aku menikmati masa kecil, di kaki Gunung Malang, itu belum ada listrik. Semua orang mengandalkan minyak tanah. Eh, Ting, ini ada sesi dongeng tersendiri ya. Jadi, kalau mau nonton TV, pemilik TV harus punya AKI. Itu pun, di kaki Gunung Malang, waktu itu, satu kampung hanya satu orang yang memiliki TV. Jadi, setiap hari Minggu pagi, rumah itu rameeeee banget. Nonton TV sampai nongkrong di jendela kalau di dalam tidak kebagian tempat duduk.
Nah, acara yang selalu ditunggu-tunggu itu ya Si Unyil. Untuk bisa menonton Si Unyil, aku dan temanku yang punya TV itu harus mengambil AKI di tempat penyetruman AKI. Jaraknya sekitar 10 KM. Aku dan temanku menggotong AKI bergantian. Soalnya AKI-nya itu beraaaattt. Lagian kan aku masih kecil waktu itu. Tapi, ya demi menonton Si Unyil, apa pun dilakukan.
Setelah AKI-nya sampai ke rumah, mulai dipasang dan tra raaa! Si Unyil pun siap ditonton. Eh, tunggu. Ada satu sesi lagi, Ting. Kadang, kalau sinyal TV-nya jelek, orang dewasa harus memutar-mutar antena yang tiangnya tinggiiiiiiii banget dan terbuat dari bambu. Nah, kalau sudah dapet sinyal bagus, siaran Si Unyil pun siap ditonton. Kamu jangan bayangin TV kaya sekarang ya. HD-lah, HDTV-lah dan tekonologi canggih lainnya. Waktu itu, TV yang aku tonton masih BEWEEEE alias HITAM PUTIH saja. Ukuran TV-nya pun kecil. Jadi kalau nonton harus dekat-dekat. Kalau perlu duduk di bagian paling depan. Nongkrongin TV.
Meskipun TV-nya hitam putih, aku dan temanku tetap menikmati tontonan seru Si Unyil.
Nonton TV akan bubar kalau acara Si Unyilnya sudah kelar. Kebanyakan sih, yang nonton Si Unyil itu anak-anak. Ada juga yang orang dewasa. Orang dewasa biasanya lanjut nonton acara berikutnya. Kalau anak-anak, lanjut main di luar.
            “Gimana Ting? Seru kan?”
Dijawab suara suara dengkuran.
Ya, begitulah. Dongeng belum selesai, pendengarnya pasti selalu tidur lebih dulu. Dan hampir selalu dijawab dengkuran kalau ditanya. Padahal aku mau lanjut keseruan habis nonton Si Unyil. Hmmm…!
Besok, aku dongengin yang lebih seru deh. Ya ya ya. Selamat tidur.
“sonofmountmalang”

Dongeng (36) Perang di kaki Gunung Malang 2

Malam ini saya akan melanjutkan dongeng tentang peperangan di kaki Gunung Malang. Malam sebelumnya kan perang di semak belukar. Kali ini PERANG DI KEBUN TEH.

Di kaki Gunung Malang banyak sekali perkebunan teh. Hampir semua keluarga memiliki kebun teh di belakang rumahnya atau di kebunnya. Meskipun luasnya hanya dua kali lapangan voli. Intinya, memiliki kebun teh sendiri itu seperti sudah sebuah kewajiban. Nah, biasanya, kalau untuk perang, dibutuhkan kebun teh yang cukup luas. Seluas lapangan bola, minimal. Kebun tehnya pun posisinya harus diperbukitan. Lagipula jarang sih perkebunan teh di kaki Gunung Malang yang posisinya berada di tanah datar. Pasti selalu berbukit-bukit. Karena kontur tanah di kaki Gunung Malang memang berbukit-bukit.

Perang di kebun teh bisa dibilang perang semi terbuka. Karena hampir dari awal kita secara langsung bisa melihat musuh di jarak dua puluh meteran. Memang jarak perang di sini harus segitu. Terlalu dekat rada bahaya.

Senjata perang di kebun teh hanya satu, yaitu BABAWANGAN. Pasti kamu nggak tahu kan babawangan itu apa?

Babawangan itu semacam bawang liar. Bentuknya persis bawang. Hanya teksturnya lebih keras dan daunnya lebih alot. Babawangan banyak banget di kebun teh. Babawangan kita cabut. Saat dicabut itu, bawangnya di tanah ikut tertarik dan masih ada tanah-tanahnya. Aku kumpulin dan kalau sudah banyak, perang siap dimulai. Perang terbuka ya. Jadi, dalam teriakan kata,”SERBUUUU!” maka babawangan melayang-layang di udara menghantam lawan. Babawangan diibaratkan bom yang kita lempar dan ya paling mengenai kepala, badan atau tangan. Tidak boleh melempar secara horizontal. Melemparnya harus ke atas dulu, lalu sebisa mungkin jatuh tepat di gerombolan musuh. Kalau cuma satu babawangan yang kena sih masih baik-baik aja rasanya. Kena sebuntal babawangan tuh lumayan sih. Pedes di kepala. Kaya dijitak cukup keras.

Salah satu trik supaya tidak terkena bom babawangan, ketika musuh mulai melempar bertubi-tubi ke atas, kita langsung merunduk dan bersembunyi di bawah pohon teh. Kalau pun kena, tidak terlalu sakit dan palingan juga kena ceceran tanah hingga memenuhi kepala atau punggung. Saat musuh sudah kehabisan bom babawangan dan mereka sedang sibuk mencabut babawangan lagi, baru kita bangkit dan melempar babawangan bertubi-tubi. Begitu seterusnya sampai tangan pegal dan kehabisan bom babawangan.

Biasanya, peperangan terhenti karena memang sudah sama-sama capai, haus, lelah dan puas. Setelah itu, kita pergi ke padang rumput di bukit dekat kebun teh, di bawah pohon rindang aku dan teman-temanku rebahan bareng sampai rasa capai hilang. Selanjutnya, pergi ke bendungan dan berenaaanngggg!

Oh ya, kalau lapar, aku cari ubi liar di kebun teh dan makan ubi liar. Atau, nyari pohon jambu batu dan makan jambu batu, atau apa saja yang bisa kita makan di kebun ya kita makan.

     “Gimana, Ting? Ting? Ting? Lanjut nggak ceritanya?”

Rantingnya sudah bobo. Suara ngorok ringan terdengar.

      “Besok aku ceritain perang di sawah yaaaa…”

Selamat tidur…..

“sonofmountmalang”

Dongeng (35) Perang di kaki Gunung Malang

Malam ini, Ranting dan Tala sudah siap kembali mendengarkan dongeng sebelum tidur. Sesuai janji, saya akan mendongengkan tentang serunya PERANG DI KAKI GUNUNG MALANG.

“Sudah siap semuanya?”

Ranting sudah rebahan di lengan saya dan Tala alias Madre-nya Ranting sudah menyelimutkan dirinya.

Sepertinya semua sudah siap.

Di kaki Gunung Malang, aku tidak pernah kehabisan permainan. Salah satu permainan yang semua pemainnya anak laki-laki itu perang.

Perang di kaki Gunung Malang ada tiga jenis. Pertama, perang di padang semak belukar. Kedua, perang di kebun teh. Ketiga, perang di sawah setengah kering yang habis panen beberapa bulan.

Aku ceritain yang perang di padang semak belukar ya.

Perang di sini dibagi menjadi dua tim. Banyaknya tergantung yang ikutan. Sepuluh lawan sepuluh atau lima lawan lima juga bisa. Semakin banyak sih semakin seru.

Padang semak belukarnya harus memiliki kondisi seperti ini ya. Harus memiliki ilalang dan rerumputan setinggi minimal 30 senti meter. Semakin tinggi ilalang atau rerumputan semakin baik. Harus memiliki pohon-pohon setinggi dua meteran di beberapa titik. Biasanya, pohon yang tumbuh bernama KITEBLE. Fungsinya sebagai menara pengawas dan tempat bersembunyi. Harus memilik luas minimal selapangan sepak bola.

Kalau sudah memiliki medan tempur seperti itu, perang siap disusun. Pertama, harus membuat markas. Markas berjauhan. Satu markas di ujung semak belukar dan satunya lagi di ujung lainnya. Markas dibuat di pohon KITEBLE. Di dalam markas harus diberi daun-daun kering.

Markas sudah siap, senapan dibuat dari pelapah pisang. Cara membuatnya gampang. Pelapah pisang dibuat menjadi senapan AK-47. Aturannya sederhana, kalau sudah ketembak dengan kata DOR dari belakang atau duluan teriak, ya sudah pura-pura mati.

“Paham ya Ting aturannya?”

Ranting mulai gusel-gusel. Ngucek-ngucek mata.

Senapan sudah siap. Markas sudah siap. Korek api sudah siap. Perang pun siap dimulai.

Aku biasa bertugas menjadi pengatur strategi. Siapa yang harus merangkak pelan-pelan di bagian mana. Siapa yang harus menjaga markas. Siapa yang harus menyerang musuh. Siapa yang harus mengalihkan perhatian musuh.

Kalau semuanya sudah mantap, genderang perang pun dimulai. Saling intai. Saling mengendap. Saling teriak DOR. Paling seru itu mengendap-ngendap di balik ilalang tinggi dan memergoki musuh sedang lengah. Kita tembak dari belakang, “DOR!” dan musuh langsung pura-pura tumbang.

Perang biasanya berlangsung agak lama dan alot. Karena harus hati-hati dan jangan sampai kalah. Perang di medan seperti ini butuh strategi tajam. Kaya perang-perang di hutan belantara pada umumnya. Kita harus menguasi medan dan pergerakan lawan. Itulah gunanya menara pengawas.

Biasanya, komunikasi dari markas dengan para penyerang dilakukan melalui kode. Kodenya bisa bermacam-macam. Sesuai kesepakatan tim. Jangan sampai kode itu diketahui musuh. Kodenya biasa dibagi menjadi beberapa jenis. Ada untuk bilang musuh di kiri, musuh di kanan, musuh di depan, musuh di belakang atau musuh masih jauh. Kodenya bisa menirukan suara serigala, ayam, sapi, kambing dan sejenis. Kalau bisa, bikin kode suara yang nggak bisa ditebak itu jenis suara apa. Bisa hanya berupa batuk. Bersin dan kode-kode rahasia aneh.

Saat aku tahu musuh-musuh semakin berkurang, aku ikut keluar dari markas dan menyerang dengan cara langsung berlari melewati pinggiran semak belukar. Tentu saja sambil teriak,”SERBUUUUUU!” kalau sudah ada kode itu, semua langsung berdiri dan menyerbu markas musuh. Kita tembakin semuanya. Soalnya mereka kan panik ya. Jadi mereka tidak sempat mengokang senjatanya. Biasanya juga ya Ting, penjaga markas keluar dan ikut perang. Nah, aku menyelinap dari belakang, lalu membakar markas dengan korek api. Kan di dalam markasnya sudah disediakan daun kering. Itulah tujuannya, supaya markasnya bisa dibakar. Markas yang sudah ngebul, pertanda musuh harus menyerah dan tim aku pun menang. Kita semua bersorak. Salaman dan ngecek teman-teman lainnya apakah ada yang terluka atau tidak. Lukanya sih cuma goresan dari daun ilalang atau terkena duri putri malu. Ya, baret-baret sedikit sih nggak apa-apa lah. Nah, yang luka kita obatin. Obatnya dari daun kiteble atau batang kiteble muda dikerik atau daun babandotan dikucek-kucek sampai keluar airnya. Lalu ditempelkan dikulit yang tergores. Diikat menggunakan tali dari kulit kitble yang sudah tua. Kadang, kalau lagi iseng, kita membuat tandu dan menandu yang terluka itu ke bendungan terdekat. Di situ kita BERENANG DI BENDUNGANNNNN! Lumayan kan menghilangkan keringat, bikin segar dan membersihkan tanah.

“Seru kan, Ting?”

Anaknya sudah bobo enak di lengan saya.

       “Besok, aku ceritain perang di kebun teh dan sawah ya, Ting….”

Selamat bobo! Mimpi yang seru yak!

Cat.: Karena saya belum sempat membuat senapannya, kaya inilah senapannya.

“sonofmountmalang”

Dongeng (34) Balapan Mobil Bambu Gilak

Seminggu lalu, saya membelikan Ranting Radio Flyer Red Wagon. Salah satu mainan yang mengingatkan saya ke mainan di masa lalu. Jadi, malam ini, saya akan mendongengkan BAPALAN MOBIL BAMBU GILAK!

Jadi, Ting, di kaki Gunung Malang itu kan dingin banget ya. Karena dingin, kegiatan harus selalu seru dan bikin keringat. Kalau nggak begitu, biasanya cari selimut terus meringkuk di kursi atau ranjang. Sekarang, aku mau cerita yang seru-seru aja ya. Aku kasih namanya balapan mobil bambu gilak.

Di kaki Gunung Malang, struktur tanahnya berbukit-bukit. Gampang sekali menemui jalan turunan dengan kemiringan 45 derajat atau 60 derajat dengan panjang panjang 500 meteran. Bahkan jalanan di tengah hutan Gunung Malang yang dibangun pemilik PUNCAK BUNGAH itu panjang turunan kayanya sih ada dua kilo meteran ya.

Jalanan menurun itu aku pakai, sama teman-teman aku, untuk bermain mobil balapan kayu.

Kaya apa sih mobil balapan bambu itu?

Mobil bambu ini dibuat oleh orang dewasa. Anak-anak kaya aku waktu itu belum bisa buat. Soalnya susah.

Bahan membuat mobil balap bambu itu gelondongan kayu nangka, bambu gombong, rotan, paku, batang pohon rasamala, lima tutup botol, gergaji, palu. Kira-kira itu bahannya.

Cara membuatnya, gelondongan kayu nangka seukuran paha orang dewasa atau seukuran kaleng biskuit itu dipotong menjadi bentuk ban. Jumlahnya harus empat. Tebal bannya sesuai keinginan saja. Ban kayu nangka itu ditatah bagian tengahnya untuk dibuatkan lubang seukuran jempol kaki orang dewasa. Lalu bambu gombong yang sudah tua dibelah menjadi dua. Panjangnya kira-kira berapa satu meter. Bambu yang sudah dibelah itu dirapihkan supaya tidak tajam pinggirannya. Potong dua batang pohon rasamala untuk dijadikan as depan dan as belakang. As belakang lebih panjang dari as depan. As belakang bisa 60 cm dan as depan bisa 45 cm. Pohon rasamala untuk jadikan as ini besarnya sebesar lengan orang dewasa. Kedua pohon rasamala untuk dijadikan as ini bagian ujung digergaji, lalu dibuat ujungnya menjadi lebih kecil dari aslinya. Susah ya bayanginnya. Kamu tahu Rolling Pin untuk menipiskan adonan kue kan. Kan ujungnya ada bagian kecilnya tuh. Nah ujungnya itu berfungsi untuk menaruh ban. Nanti kalau bannya sudah masuk, bagian paling ujungnya kayu itu kita paku melintang supaya bannya tidak lepas.

Panjang ya cara buatnya. Itu belum beres. Masih ada proses lainnya. Bambu yang tadi itu dipaku di as belakang. Masing-masing di ujung kiri dan ujung kanan. Kalau sudah dipaku kuat, bambu yang depan disatukan tumpang tindih. Jangan lupa bambu yang ditumpang tindih ini dilubangi sekitar sebesar kelingking. Ujung bambu yang tumpang tindih ini diikat rotan sampai kuat atau dipaku. Lalu ambil paku yang paling besar dan paku paling besar ini kita masukin tutup botol sepuluh, kemudian bambu yang tumpang tindih dan berlubang besar itu kita masukin paku dan pasang di bagian tengah as depan, lalu paku sampai kuat. Jadi paku besar di depan itu fungsinya sebagai poros yang cukup kuat agar as depan bisa fleksibel bergerak ke kanan dan ke kiri.

Selanjutnya, pasang setir dari rotan seukuran jempol kaki orang dewasa. Rotan itu dibuat menjadi huruf U dan masing-masing ujungnya dipaku ke as depan sebelah kiri dan sebelah kanan. Setir rotan inilah yang menjadi kendali mobil mau belok kiri, lurus atau belok kanan.

Rangka mobil bambu sudah jadi, tinggal membuat dudukan sederhana di belakang. Dudukannya dari bambu dan kayu dibuat kaya jojodog atau dingklik, lalu dipaku ke bambu gombong bagian paling belakang atau biasanya kalau mau lebih enak, bekas ban mobil diambil bagian ratanya dan langsung dipaku ke bagian belakang untuk dudukan.

Mobil bambu sudah jadi. Saatnya lobang ban yang bersentuhan dengan as diberi pelumas. Nah, pelumasnya itu alami. Aku biasa nyari batang daun talas yang sudah tua dan basah. Batang talas yang berlendir itu jejelin saja ke dalam lubang ban dan asnya. Putar ban untuk memastikan pelumasnya merata. Alternatif lain untuk pelumas itu terbuat dari daun ware. Daun ware dikucek-kucek sampai hancur, diberi air dan rendam. Airnya akan berlendir kaya oli gitu. Cuma pembuatannya lebih lama dibandingkan langsung mencari batang talas yang sudah busuk.

Sudah siap semuanya?

Oke. Kita gotong mobil bambu ke ujung tanjakan. Dari ujung tanjakan itulah mobil bambu meluncur dengan cepat dengan bunyi sangat khas, bunyi kerincingan tutup botol dan geluduk dari roda ban kayu. Di sepanjang turunan 500 meteran itu mobil dikendalikan meliak-liuk saling kejar.

Semakin bertanah jalanannya dan semakin banyak lobang serta curam dan sempit, maka semakin seru dan menantang balapannya. Semua jalanan turunan di kaki Gunung Malang sudah aku taklukan. Mulai dari yang hanya setapak kanan kiri penuh ilalang, kanan kiri kebun teh, kakan kiri kebun kopi, kanan kiri kebun cengkeh, kanan kiri hutan sampai kanan kiri sawah. Pernah nyusruk ke sawah, ke tebing tanah, ke selokan. Pernah jungkir balik di turunan tajam. Pernah juga tabrakan beruntun. Ya, baret sedikit sih masih wajarlahyah. Kecuali satu teman yang jungkir balik dan bijinya kejepit. Keesokannya bijinya bengkak sampai sebesar bola tenis. Horor. Tapi aku sih tetep main ya, kan udah mahir nyetir mobil bambunya.

Paling seru lagi kalau musim hujan. Itu surga balapan bagi semua anak laki-laki di kaki Gunung Malang.

Nanti ya, Ting, kalau kamu sudah besaran sedikit, kita coba bikin dan rasakan sensasi meluncur dari turunan 45-60 derajat sepanjang 500 meter.

Kemudian, anaknya dan emaknya, sudah ngorok. Besok, aku ceritain serunya perang-perangan di kaki Gunung Malang yah.

Selamat boboh!

ILUSTRASI APA ADANYA MOBIL BAMBU GILAK

ILUSTRASI APA ADANYA MOBIL BAMBU GILAK

Gimana? Mau nyoba balapan mobil bambu gilak?

Cat.:

1. Kayu nangka dibuat ban karena kayu ini tipe kayu yang sangat alot dan kuat. Tidak mudah retak atau pecah.

2. Pohon rasamala dipilih untuk as karena pohonnya juga kuat dan banyak yang lurus. Lalu kenapa asnya juga tidak dari pohon nangka? Soalnya pohon nangka jarang ada yang lurus batangnya. Sementara untuk as dibutuhkan batang yang lurus.

“sonofmountmalang”

Dongeng (33) Marasi Buah Ajaib!

Sudah lama tidak menulis Dongeng Sebelum Tidur. Sekarang, pendengar DST ada dua. Ranting dan Tala aka anak dan emak. Biasanya juga, kebanyakan, rata-rata, dongengnya belum kelar, dua-duanya udah molor duluan.

Sebelum memulai dongeng, saya memutar aura hutan hujan, kicauan burung dan gemiricik air di sungai.

      “Ranting sudah siap? Aku mau dongeng nih. Dongeng seru.”

Ranting yang belum bisa ngomong, tetapi mengerti, langsung merebahkan badanya dan tiduran di bantal.

Jaman aku kecil, Ting, kataku. Aku sering main ke hutan. Main di hutan itu seru. Aku bisa ngapain aja di hutan. Teriak-teriak. Manjat pohon. Nyari kayu bakar. Nyari rumput buat domba. Oh ya, nanti ada sesi ya serunya mencari kayu bakar di hutan. Bareng dua sahabatku. Nanti aku ceritain juga dua sahabatku itu.

Malam ini aku mau ceritain satu buah unik yang sering aku makan di hutan itu. Nama buahnya MARASI.

Kalau ke hutan, aku selalu diajarkan nenek dan kakek, katanya, jangan pernah takut kelaparan kalau tersesat di hutan. Ada air, ada daun, ada akar, ada batang dan banyak buah-buahan yang bisa dimakan. Salah satunya, ya itu, MARASI itu.

Marasi itu salah satu kategori buah ajaib yang bisa ditemuin di tengah hutan atau di sisi hutan dan di sisi sungai hutan. Nama latinnya Curculigo Latifolia. Kata nenek, kalau kurang tenaga atau haus, makan buah MARASI saja. Dijamin, katanya, badan kembali segar bertenaga dan minum air apa pun jadi MANIIIISSSSSS!

            “Kok bisa manis?” Emaknya Ranting nanya.

MARASI itu mengandung senyawa Curuculin. Semacam protein yang memiliki rasa manis. Jadi, mau minum air apa pun, rasanya akan manis. Caranya sih gampang. Cari saja pohon MARASI dengan ciri-ciri berdaun lebar, tingginya paling 30 cm – 50 cm dan buahnya ada di pangkal dahan. Kaya salak gitu tempat berbuahnya. Warna buahnya putih seukuran kacang merah paling besar. Bagian dalam buahnya ada biji-biji berwarna hitam. Ambil yang sudah matang dan kunyah. Rasanya dingin sedikit berlendir. Kunyah-kunyah sampai lunak. Kalau cuma mau merasakan sensasi minum air jadi manis, lepehin saja. Kalau untuk mengisi energi saat lelah di hutan, telan saja.

Nah, kalau sudah mengunyah buah Marasi. Cari air. Airnya bisa dicari di banyak tempat. Bisa memotong bambu air dan minum airnya. Bisa pergi ke sungai di hutan. Mencari daun yang biasa bisa menampung air atau minum air bawaan dari rumah juga bisa. Kalau mau iseng lagi, bisa juga mencari buah CANAR atau buah SUSU SAPI yang asamnya seasam buah LEMON. Rasanya dijamin jadi manis kalau sudah mengunyah buah MARASI.

            “Gimana? Seru kan? Kapan-kapan kita coba ya pas ke hutan.”

Nggak ada jawaban.

Keduanya sudah molor.

*buat yang penasaran seperti apa buah marasi, klik saja di google Curculigo Latifolia*

*marasi ini khasiatnya banyak, untuk mereka yang punya penyakit diabetes.*

*silakan browsing untuk apa saja khasiatnya*

“sonofmountmalang”

Foto Dongeng (22) Pohon Aren – Peu’eut

Inilah penampakan Peu'eut. Nasi disiram peu eut, salah satu tahap dalam proses pembuatan gula.

Inilah penampakan Peu’eut. Nasi disiram peu eut, salah satu tahap dalam proses pembuatan gula.

Akhirnya.

Salah satu materi Dongeng (22) Pohon Aren terisikan juga oleh foto-foto PEU EUT. Satu proses penting dalam pembuatan gula aren atau gula merah. Hanya reminder saja, proses pembuatan gula merah dari pohon aren memakan proses yang sangat panjang. Dari mulai membelai tangan buah aren, menembang, memijit, menggoyang-goyangkan, memotong, menyadap, mengambil bambu berisi air tuak aren setiap pagi dan sore, memasaknya dari LAHANG beberapa jam menjadi WEDANG beberapa jam hingga menjadi PEU EUT beberapa saat dan menjadi gula merah yang dicetak dibambu seukuran gelas, kemudian didiamkan menjadi keras dan dibungkus menggunakan pelapah pisang kering. Dijual dengan harga 18 ribu per empat buah alias GANU kalau dalam bahasa SUNDA.

Setelah hampir 20 tahun tidak merasakan sensasi memakan PEU EUT, dan kebetulan sekali, ketika sampai di kaki Gunung Malang, salah satu generasi pertama pembuat gula merah, sedang melakukan proses pembuatan gula merah.

Saya mengajak sahabat seperjalanan saya untuk ikut mencicipi sensasi PEU EUT. Idealnya, kalau makan beginian, harus dibarengi dengan TEH PAHIT panas. Akan sedikit menetralisir rasa manis di otak yang berlebihan. Saya pun merasakan kembali sensasi manis yang bikin pusing kepala, namun rasanya enak. Kalau digambarkan, otak berasa ngilu. Saking manisnya. Biasanya, saya, dulu, bisa menghabiskan satu piring penuh, kemudian sensasi otak ngilu pun mulai merasuki dan enaknya rebahan sambil bengong.

Kini, satu piring tidak bisa habis. Sudah keburu berasa keleyangan dan begitu juga dengan sahabat seperjalanan saya. Dia tidak mampu menghabiskannya.

Dan ada satu pantangan, makan beginian tidak boleh dibawa keluar dari rumah si pembuatnya. Kalau dibawa keluar, biasanya, katanya, pohon aren akan berhenti menghasilkan tuak.

Percaya tidak percaya dan tidak pernah ada seorang pun yang berani melakukannya. Saya pun makan di tempat di mana seorang nenek membuat gula merah. Dia, si nenek itu, merupakan ibu dari sahabat dekat saya semasa kecil ketika melakukan sejuta keseruan di kaki Gunung Malang, tempat dulu di mana juga saya sering menikmati PEU EUT.

Gimana? Akan terbayangkah jika kalian melihat fotonya, sebuah sensasi super manis yang bikin otak ngilu?

Yuk!

Air tuak dari pohon aren digodok berjam jam menjadi bentuk warna begini. Disebut Peu'eut.

Air tuak dari pohon aren digodok berjam jam menjadi bentuk warna begini. Disebut Peu’eut.

Ini NENEK EMPAT namanya. Dia dari jaman muda hingga nenek nenek menjadi pembuat gula. Suaminya yang bertugas menyadap pohon aren. Dia biasa memasak pagi dan sore.

Ini NENEK EMPAT namanya. Dia dari jaman muda hingga nenek nenek menjadi pembuat gula. Suaminya yang bertugas menyadap pohon aren. Dia biasa memasak pagi dan sore.

Kebayang kan manisnya kaya apah.

Kebayang kan manisnya kaya apah.

Enak! Manis! Mau?

Enak! Manis! Mau?

Ini dia nih anak kota yang belum pernah makan beginian dan makan juga akhirnya.

Ini dia nih anak kota yang belum pernah makan beginian dan makan juga akhirnya.

Sama-sama tidak habis. Sudah tidak kuat. Kepala mulai ngilu:))

Sama-sama tidak habis. Sudah tidak kuat. Kepala mulai ngilu:))

“sonofmountmalang”

Dongeng (32) Puncak Bungah

Salah satu Dongeng Tidur Tala adalah bercerita tentang Puncak Bungah. Kalau dalam bahasa Indonesia artinya Puncak Kebahagiaan atau Puncak Kesenangan.

Duduk di puncak ini, saat ini pun, tanpa adanya pemandangan berbagai jenis bunga, hanya ilalang liar, tetap menyenangkan. Kapan waktu, saya akan ajak Tala dan Ranting ke sini kayanya. Kemping. Yuk!

Jalan setapak menuju Puncak Bungah di hutan Gunung Malang

Puncak Bungah yang sudah puluhan tahun bangkrut dan tinggalah bukit belantara ilalang dengan pemandangan perkebunan teh. Dan sebagian tanahnya sudah digarap penduduk sekitar, bahkan ada juga petani dari Lembang.

 

“sonofmountmalang”