Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu, Tragedi pembantaian di Takokak – Cianjur Selatan

 

20171224_113417

TAMAN MAKAM PAHLAWAN CIGUNUNG TUGU, TAKOKAK – CIANJUR SELATAN

Dulu.

Dulu sekali.

Sangat dulu sekali.

Ketika saya masih kecil, nenek selalu menceritakan dongeng sebelum tidur tentang perang penduduk di Takokak melawan Walana. Lebih seru lagi kalau kakek yang bercerita langsung serunya pertempuran gerilyawan melawan tentara Walana.

Awalnya, saya berpikir, dongeng sebelum tidur itu merupakan rekayasa. Setelah semakin besar dan kemudian kakek akhirnya diangkat menjadi PEJUANG VETERAN karena jasanya di medan perang sebagai relawan yang membawa perlengkapan P3K untuk pejuang yang terluka dan ransum makanan untuk mengisi perut. Selain itu, bukti lainnya adalah di kamar kakek juga juga dipajang senapan saat ia gunakan melawan Walana, dan beberapa selongsong besi sisa mortir bekas di kolong ranjang.

Dongeng seru sebelum tidur yang diceritakan nenek dan kakek, sekali lagi, bukanlah dongen, tetapi sungguhan terjadi di kaki Gunung Malang.

Menurut sejarah yang tidak pernah ada dalam catatan pemerintahan Indonesia, salah satu pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh Belanda, terjadi di kaki Gunung Malang, Desa Takokak, Kecamatan Cianjur Selatan. Perbatasan Sukabumi – Cianjur Selatan. Secara lokasi strategisnya, harusnya masuk wilayah Sukabumi, tetapi entah kenapa, desa ini masuk wilayah Cianjur Selatan dan tidak pernah pun disentuh oleh pemerintahan Cianjur. Lokasinya memang lebih menguntungkan Sukabumi dan penduduk di kaki Gunung Malang, soalnya hasil pertanian lebih dekat dijual ke Sukabumi dibandingkan harus menempuh jalan menuju kota Cianjur.

Karena lokasi sangat terasing inilah, wilayah ini pada zaman Belanda dijadikan tempat pembantaian kaum pendukun NKRI alias republikan. Konon, ratusan simpatisan NKRI ini dari beberapa spot wilayah Sukabumi, Nyalindung, Sagaranten dan sekitarnya, ditangkap Walana gila dan dibawa ke hutan di Gunung Malang. Di hutan inilah mereka dibantai tentara Walana. Tepatnya mereka dibantai di Puncak Bungah, puncak di mana kita bisa memandang ke perkebunan teh Cikawung, yang juga tempat pembantaian kaum pro NKRI atau pro Soekarno atau zaman itu mereka menyebutnya KAUM REPUBLIKEN.

Tidak heran, ketika nenek bercerita, dulu katanya, truk-truk dan tank baja itu bisa sampai ke desa di Takokak. Toh, juga, selain memang tujuannya membantai pendukung NKRI, juga kepentingan Walana pada jaman itu melakukan tanam paksa berupa KOPI, CENGKEH, TEH dan KINA. Karena kontur di Cianjur Selatan – Perbatasan Sukabumi berbukit-bukit dan dingin, jadi surga bagi Walana untuk memaksa semua penduduk menanam komoditi paling menguntungkan pada zaman itu. Kalau kalian melakukan touring dari Nyalindung melewati Takokak dan menembus Sukanagara, maka sepanjang perjalanan itu lah kalian akan melihat perkebunan teh.

Nah, kembali ke pembantaian di Takokak ya. Kalau kata kakek saya, ketika zaman perang, banyak Walana gila. Mereka kalau nembak suka membutababi. Main berondong saja sampai semua gerilyawan kocar-kacir. Sebagian peluru nyasar mengenai, mati. Sebagian hanya nyerempet, luka dan selamat. Yang tidak terkena apa-apa, hanya bisa trauma di tengah hutan. Menunggu Walana-Walana gila itu kembali ke truknya dan meninggalkan desa. Tenang, kata kakek saya, Walana itu akan balik lagi mencari antek-antek pendukung NKRI.

Menurut cerita para pejuangan veteran, yang kebetulan juga diwawancara wartawan, pembantaian tidak hanya dilakukan di hutan atau jurang-jurang di sekitaran Takokak. Pembantaian dilakukan di Ciwangi, Pal I Cengang, Gamblok, Cikawung dan Pasir Tulang. Nah, yang terakhir, kenapa penduduk menyebutnya Pasir Tulang, karena memang di sini dijadikan bukit pembantaian. Pasir artinya bukit dan Tulang diambil dari sisa belulang yang dagingnya sudah membusuk. Pasir Tulang pada zamannya menjadi tempat angker. Tidak ada yang berani lewat Pasir Tulang pada malam hari. Konon, akan ada saja penampakan di Pasir Tulang jika berani lewat malam-malam. Hiiiii!

Dari cerita-cerita kakek dan nenek sebelum tidur ini memiliki bukti kuat, yaitu dengan adanya TAMAN MAKAM PAHLAWAN CIGUNUNG TUGU. Di taman inilah berjajar rapi makam-makam pahlawan tanpa nama. Mereka pahlawan yang melawan tentara Belanda dan juga korban pembantaian karena merekalah kaum REPUBLIKAN.

Untuk mengenangnya, setiap Agustus, seluruh sekolahan di Cianjur Selatan, khususnya perbatasan Sukabumi, pergi ke Taman Makan Pahlawan Cigunung Tugu dan berziarah sambil berdoa, membersihkan rumput-rumput liar di atas makamnya.

Dongeng sebelum tidur dari kakek, seorang VETERAN PERANG, yang kini sudah meninggal, tidak akan pernah saya lupakan dan akan saya kembali ceritakan ke Virgillyan Ranting Areythuza, sang pendengar DONGENG SEBELUM TIDUR.

Selamat beristirahat, Pahlawan Takokak!

*Walana=Belanda

20171224_11360420171224_11333320171224_11403220171224_11355520171224_11351820171224_11350920171224_11344820171224_11343220171224_11335920171224_11335620171224_11334220171224_113337

Sumber-sumber lainnya bisa ditemukan di:

Horor in Takokak

Horor di Takokak

 

“sonofmountmalang”

Advertisements

Dongeng + Foto (43); Berburu Buah Kupa di Kaki Gunung Malang

         “Malam ini aku akan mendongengkan tentang buah kupa.”

         “Are you ready?!!” teriak saya ke Ranting.

Pada suatu hari. Di kaki Gunung Malang. Sewaktu aku masih keciiillll sekali. Setiap kali habis main bola, main di sawah, main di sungai, main di hutan, main ke kebun teh, main layangan dan main apa saja sesuka hati sampai haus dan lapar, biasanya aku pergi ke kebun mencari pohon apa saja yang sedang berbuah. Bisa manggis, bisa jambu air, bisa jambu batu, bisa nanas. Pokoknya buah apa saja yang bisa dimakan buahnya. Termasuk buah Harendong. Nah, ini buah langka juga.

Tetapi ada buah yang lebih langka lagi dan idola anak-anak di kaki Gunung Malang untuk menyegarkan semangat bermain kembali. Dialah Si Buah Kupa. Buah Kupa ini nama lainnya itu buah Gohok atau ada juga yang bilang buah Gowok. Buah inilah salah satu idola buah anak-anak di kaki Gunung Malang. Karena berbuahnya bukan kaya jambu batu yang berbuah kapan saja. Ini buahnya buah musiman.

Nah, sehabis main sampai lapar tadi dan kekurangan tenaga, aku dan teman-temanku pergi ke sisi hutan di kaki Gunung Malang, menuju pohon kupa yang sedang berbuah. Posisi pohon kupa ini ada di sisi hutan, namun berada di sisi hutan dengan posisi paling tinggi. Jadinya kalau duduk di bawah pohon kupa ini, kita bisa melihat rumah-rumah penduduk desa dari ketinggian. Melihat hamparan sawah, kebun cengkeh, kebun teh dan kebun kopi. Dari ketinggian ini juga aku dan temanku bisa mendengar kehidupan di kaki Gunung Malang.

Kalau sedang beruntung sekali, aku dan temanku tidak perlu memanjat pohon kupa. Biasanya yang sudah matang, sudah berjatuhan di bawah. Tinggal memungutnya saja, kumpulkan di atas daun lebar, gosok-gosok sedikit ke baju dan dimakanlah sambil santai. Kalau tidak, ya salah satu dari kita memanjat. Kalau malas manjat pohonnya, gampang sekali itu, ambil batang pohon sebesar lengan, terus lemparkan saja sekuat-kuatnya ke dahan-dahan yang penuh terisi buah kupa matang. Bruuuulll! Buah kupa berjatuhan. Tinggal dipungut saja bersama-sama, dikumpulkan dan dimakan sambil santai di bukit sisi hutan.

Mau tahu rasanya buah kupa kaya apa?

Rasanya? Hmmm…! Kalau warnya masih hijau bercampur ungu tua atau ungu muda, dijamin, ketika digigit, rasanya, ASEEEEEMMM! Bikin mata melek dan lelah hilang seketika. Kalau mengambil yang warna sudah hitaammmm sekali, nah ini, kalau digigit, rasanya manis dan asamnya tipis. Warna ini yang dicari semua anak-anak di kaki Gunung Malang.

Biasanya, aku dan temanku, makan buah kupa sampai kenyang. Keringat sudah hilang, lelah pun hilang dan semangat bermain kembali datang. Untuk mengetes energi, semua berdiri di atas bukit, menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak ke arah lembah.

Begini teriakan pertama,”HALOOOOOOOO!!!!” dan disambut echo, “HALO..! LOW LOW LOW LOW LOW….!”

Temanku lainnya, teriak lagi, “SIAPA DI SANAAA!” disambut echo, “Siapa di sana…! Na….! Na…! Na…! Na….”

Lalu berlima, teriak dengan kata-kata berbeda. Hasilnya, echo pun jadi kacau. Dan, kalau ada anak di seberang bukit juga sedang bermain, biasanya mereka nyaut. Jadinya, sahut menyahut echo. Nah, kalau sudah begitu, kita janjian deh tuh main bersama di bawah. Ngobrolnya lewah echo. Seru deh, Ting. Kamu beneran harus menemukan spot buat dapetin echo di bukit.

Ranting, yang semenjak tadi mendengarkan Dongeng Sebelum Tidur, matanya melotot dan senyum-senyum saat saya menirukan suara echo.

      “Nah, begitu Ting, dongeng soal kupa. Besok, kita dongeng lagi ya. Sekarang, waktunya bobo…”

Selamat bobo nyenyak…!

Cat.: Mau tahu seperti apa penampakan BUAH KUPA kaya apa? Bisa kalian cek di bawah ini.

20171127_102800

Buah kupa atau gohok atau gowok. Buah asli Indonesia.

20171127_102817

Pilih yang warnanya sudah hitam supaya rasanya manis.

20171127_104534

Ngiler kaann.

20171127_104544

Makan buah ini akan langsung memori kita dibawa ke masa lampau.

20171127_102644

Nah yang paling depan itu masih asem asem menggemaskan.

20171127_102740

Pilih warna sehitam ini ya kalau ingin mencoba.

20171127_104823

Yang ini semu semua manis.

20171127_104815

Yang ini sudah manis.

20171127_104803

Bagian tengahnya ada bijinya. Jangan dimakan, pahit soalnya ya.

20171127_102832

Karena sudah langka, harganya lumayan lah di Jakarta ini.

“sonofmountmalang”

 

DONGENG (42) Hantu Gadis Bunuh Diri di Kebun Tomat Bergentayangan (tamat)

….Bersambung…..

Dongeng Pengantar Tidur “Hantu gadis bunuh diri di kebun tomat bergentayangan” akan kembali dilanjutkan. Beberapa malam lalu, dongeng terhenti ketika para dukun sepakat untuk membongkar kuburan sang gadis.

Dukun pun berkumpul dan beberapa pemuda desa serta orang-orang yang dituakan. Mereka memiliki rencana bersama, yaitu membongkar makam sang gadis. Menurut kepercayaan mereka, jika kaki-kaki sang gadis ditusuk banyak jarum, arwahnya tidak akan bisa berjalan.

Namun entah kenapa, makam yang tadinya akan dibongkar pun tidak jadi. Menurut sebagian gosip penduduk, mereka tidak memiliki budaya membongkar makam dan mungkin ada konsekuensi lainnya. Bisa juga ternyata ada keberatan dari pihak keluarga. Akhirnya dukun, pemuda dan orang yang dituakan memiliki alternatif lain. Mereka menunggu ramai-ramai di kuburan hingga larut malam sambil membacakan ayat suci. Tujuannya hanya satu, supaya si arwah gentayangan tidak berani keluar dari dalam kubur dan mengganggu para penduduk di malam hari.

Jurus itu cukup berhasil. Beberapa malam kemudian, penduduk desa tidak lagi melihat penampakan. Cuma masalahnya, tidak semua merelakan hidup malamnya dihabiskan di kuburan hanya untuk membuat sang arwah tidak berani keluar dari kubur.

Ide brilian pun muncul. Makan ditutup plastik. Semacam diungkep plastik. Ditutup rapat-rapat dari berbagai sisi. Nah, kalau sudah ditutup begini, sang arwah tidak bisa keluar lagi karena tidak bisa menembus plastik. Setelah ditutup plastik, dukun dan pemuda serta orang yang dituakan memberikan pernyataan, bahwa malam-malam selanjutnya akan aman. Arwah tidak bisa lagi keluar dari kubur karena tertutup plastik. Tetapi semua tetap berjaga-jaga sampai kondisi seratus persen aman dari arwah gentayangan.

Malam demi malam pun dilalui oleh penduduk desa. Dari kondisi genting, secara perlahan suasana malam kembali normal. Butuh waktu sekitar tiga bulan untuk kembali normal. Anak-anak mulai berani bermain petak umpet di jelang senja, mengaji sehabis magrib di mesjid, pos ronda mulai membakar api unggun dan suasana malam tidak sebegitu menakutkan.

Setelah melewati tiga bulan, suasana malam 100% normal seperti sedia kala. Semua penduduk sudah melupakan kejadian bunuh diri tergencar, pertama dan satu-satunya dalam sejarah kehidupan di kaki Gunung Malang.

Namun cerita hantu di tempat-tempat mistis lainnya masih selalu ada menjadi bumbu cerita di kaki Gunung Malang. Seperti apa lagi ceritanya?

Tunggu saja sampai Dongeng Sebelum Tidur lainnya.

“sonofmountmalang”

Dongeng (41) Hantu gadis bunuh diri di kebun tomat bergentayangan

Pada suatu hari, di kaki Gunung Malang….

Begitulah awal cerita Dongeng Sebelum Tidur dimulai. Malam ini agak sedikit horor. Jika tidak kuat, merem saja dan tinggal tidur ya.

Siap-siap?

Pada suatu hari, di kaki Gunung Malang, tersebutlah sepasang kekasih belia. Umurnya masih belasan tahun, namun mereka berdua sudah terbakar asmara berapi-api hingga tak kuasa menahan hawa napsu. Bercinta di kebun dan di tempat-tempat sepi di kaki Gunung Malang merupakan kebiasaan yang seringkali mereka lakukan. Begitu menurut cerita dari mulut ke mulut penduduk di kaki Gunung Malang.

Tiba-tiba saja penduduk kampung seketika gempar. Tersiar kabar, sang gadis sekarat di kebun tomat. Dari mulutnya keluar busa dan darah muncrat ke mana-mana. Pemilik kebun tomat panik dan mengabarkan ke seluruh penduduk kampung. Sang gadis pun dibawa ke puskesmas. Sepanjang perjalanan, sang gadis tak berhenti memuncratkan darah dari mulutnya sambil terus berbusa. Ia mendapatkan pertolongan keracunan di puskesmas, namun nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal karena minum racun untuk membasmi hama tomat.

Rupanya cerita punya cerita, sang gadis tengah mengandung bayi usia tiga bulan dan meminta pertanggungjawaban sang pacar. Sang pacar malah memutuskannya. Karena takut, menanggung malu dan sekaligus jadi beban pikiran kepada orang tuanya, ia pun mengakhiri hidupnya dengan meminum racun di kebun tomat.

Masalahnya tidak berhenti di meninggalnya sang gadis. Masalah mulai tersebar ketika penduduk mulai mendengar suara rintihan sang gadis menangis di puskesmas pada malam hari. Rintihan suara sang gadis meminta tolong. Beberapa warga penduduk yang kebetulan melewati puskesmas pada malam hari pun sering mendengar rintihan dari dalam puskesmas. Ketika melongok ke dalam melalui jendela kaca, tidak ada siapa-siapa di dalam puskesmas dan suara itu pun mendadak hilang.

Cerita tentang rintihan sang gadis di puskesmas pun tersebar. Cerita menyebar sangat cepat. Dari satu mulut ke mulut lainnya. Orang-orang mulai takut pergi ke puskesmas kalau seorang diri. Bahkan sekedar untuk melewatinya karena kebetulan harus lewat puskesmas pun biasanya lebih baik melipir mencari jalan lain. Beberapa orang lebih baik menghindar. Kalau pun tidak ada jalan lain, mereka terpaksa melewati puskesmas dan benar saja, lewat malam hari terdengar suara rintihan sang gadis dari dalam.

Pernah suatu malam, seorang penduduk lewat puskesmas, kemudian ia melihat sesosok gadis dengan rambut acak-acakan menatapnya kosong dari balik kaca puskesmas dengan mulut penuh busa. Kebetulan penduduk tersebut tidak menyadari bahwa yang di dalam puskesmas itu sesosok gadis yang bunuh diri. Maka, ia pun mendekati jendela puskesmas dan menanyakan kondisi sang gadis. Hanya saja belum ia begitu dekat dengan jendela, sang gadis itu hilang begitu saja.

Barulah si penduduk tersebut sadar, yang ia lihat adalah sosok hantu gadis yang mati karena minum racun hama tomat. Penduduk tersebut ngacir sambil jejeritan minta tolong saking takutnya.

Puskesmas pun semakin angker. Tidak ada yang berani bertugas sampai sore. Suasana pun jadi mencekam kalau menjelang malam. Tidak satu pun berani melewatinya. Terlebih pada saat itu, di kaki Gunung Malang belum ada listrik. Penerangan ada di rumah masing-masing hanya menggunakan lampu templok, centir* atau pun patromak. Sementara di jalanan gelap gulita. Kecuali sedang bulan purnama. Barulah jalanan terang benderang.

Setiap malam, setelah sang gadis itu meninggal, selalu ada cerita baru tentang penampakannya. Pernah terjadi pada seorang penjaga pos ronda. Ia sedang keliling patroli berjalan kaki. Penerangannya hanya berupa senter. Tiba-tiba, menurut ceritanya, ia melihat sang gadis sedang menyusuri jalanan berbatu. Kebetulan juga kan, pada jaman itu, jalanan belum diaspal. Hanya tersusun dari batu-batu saja.

Ia penasaran dengan kelakukan sang gadis. Malam-malam kok menyusuri jalanan. Penjaga ronda pun iseng bertanya, “Lagi nyari apa neng?”

Sang gadis menjawab, “Ngumpulin sisa darah sepanjang jalan, mang…..”

Penjaga roda keliling bingung, “Darah…?” dengan bulu roma mulai berdiri.

Sang gadis menjawab lagi, “Iya, mang. Darah saya…” Dengan wajah tetap menunduk menatap jalan berbatu. Abang penjaga ronda tidak berani bertanya lagi, ia baru sadar kalau yang ia tanya adalah hantu sang gadis yang bunuh diri di kebun tomat. Tanpa menunggu panjang, si abang langsung balik badan dan ngibrit ke pos ronda. Ia tidak berani melihat ke belakang sama sekali.

Sesampainya di pos ronda, ia terengah-engah dan bercerita ke teman serondanya. Mendengar cerita temannya yang melihat sang gadis di jalan, mereka langsung bubar meninggalkan pos ronda. Ngibrit ke rumahnya masing-masing.

Esok paginya, kabar penampakan sang gadis di jalan sedang mengumpulkan sisa darah yang tercecer sepanjang jalan dari kebun tomat ke puskesmas pun menyebar dalam sekejap ke kampung-kampung. Suasana malam berikutnya mulai mencekam. Tidak seorang pun penduduk berani keluar jam setelah magrib. Dukun masing-masing kampung sudah memberikan instruksi untuk tidak kelayapan malam hari. Karena katanya, hantu sang gadis ini memang sungguh tidak rela membuat penduduk kampung tenang. Ia akan terus mengguncang penduduk kampung dengan penampakan-penampakannya. Bahkan kata dukun-dukun kampung, kemungkinan ia akan membalas dendam sampai sang pacar yang memutuskan hubungannya ikut mati bersamanya.

Kejadian mencekam itu baru seminggu semenjak ia meninggal di puskesmas dengan darah menyembur dari mulutnya dan di perutnya mengandung bayi usia tiga bulan.

Karena hamilnya ini juga, beberapa penduduk yang rumahnya tidak jauh dari puskesmas, seringkali mendengar suara bayi menangis diselingi rintihan sang gadis tengah malam. Sementara suasana di kaki Gunung Malang jika malam sudah tiba itu sangat hening, senyap dan sunyi. Suara gemirisik angin pelan di belakang rumah saja terdengar jelas. Apalagi suara rintihan dibarengi hujan rintik atau pun sayup-sayup lolongan suara anjing di kejauhan. Lebih horor lagi jika dari tengah hutan terdengar lolongan suara ajag. Dijamin semua penduduk kampung langsung menciut dan tidak berani tidur sendirian.

Dari cerita-cerita menyeramkan inilah, dukun di kampung asal di mana gadis tersebut tinggal, sudah memberikan “tembok pembatas” supaya si gadis tidak gentayangan di kampungnya. Yang terjadi adalah, hantu sang gadis gentayangan di kampung-kampung terdekat dari puskesmas dan kampung-kampung sepanjang jalan di mana ia dibawa dari kebun tomat ke puskesmas. Termasuk kampung di mana aku tinggal, di kaki Gunung Malang. Bisa dibilang, kampungku merupakan kampung paling telat memberikan “tembok pembatas” supaya sang gadis tidak masuk ke wilayah kampungku. Tapi semua itu sudah terlambat. Arwah sang gadis sudah merasuki tubuh perempuan di kaki Gunung Malang.

Tembok pembatas itu istilah dukun memberikan jampi-jampi di selingkaran kampungnya dengan menaburkan garam dan air yang sudah diberikan kekuatan gaib. Termasuk memberikannya ke seluruh penduduk kampung agar masing-masing rumah diberikan “tembok pembatas” demi terhindar dari kepenasaran arwah sang gadis.

Karena sebagian kampung telat memberikan tembok pembatas, dan gentayangannya sang gadis membuat malam-malam semakin mencekam, akhirnya gabungan dukun dari beberapa kampung pun bersatu. Mereka merencakan akan membongkar makam sang gadis dan menusukkan jarum-jarum ke telapak kakinya. Agar, katanya, sang gadis tidak lagi bisa berjalan dan menghantui seluruh penduduk kampung.

….Bersambung…..

Bagaimana dongeng selanjutnya, tunggu saja ya, yang mendengar dongeng sebelum tidur di samping saya sudah tidak ingin mendengar lanjutan dongengnya. Kita lanjutkan besok lagi….

 

Dongeng (40) Hantu Awi Temen

Tidak maksimal rasanya jika Dongeng Pengantar Tidur tidak dilanjutkan kembali. Itulah sebabnya, dongeng ini akan hadir untuk menemani jelang tidur sebelum mata sungguhan terpejam.

Malam ini, saya akan menceritakan tentang Hantu Awi Temen. Siap-siap ya.

Dulu, di kaki Gunung Malang, negeri sejuta mitos dan sejuta cerita hantu serta tempat-tempat angker, tersebutlah salah satu tempat horor di kalangan penduduk. Ceritanya sederhana, seperti biasa, dari mulut ke mulut dan jadilah viral. Semua percaya benar adanya.

Jadi, di salah satu jalan, kebetulan, jalan-jalan pada jamannya itu masih belum beraspal dan kanan kiri masih ditumbuhi pohon-pohon cengkeh, kopi dan pohon-pohon tinggi lainnya. Di salah satu pengkolan jalan, tumbuh rimbun pohon awi alias bambu. Pohon-pohon bambu ini saking banyak dan tingginya, bisa melengkung menyeberangi jalan. Jadilah dia seperti gapura. Tidak hanya satu yang melengkuh ke seberang jalan tetapi ada beberapa pohon awi. Rata-rata sih yang sudah tua dan belum juga ditebang oleh pemiliknya. Malah kadang suka sampai tumbang di tengah jalan. Nah, kalau sudah begitu, siapa pun boleh menebang. Karena sudah menghalangi jalan.

Namun, masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah ketika mulai tersiar beberapa kabar. Jika malam-malam melewati rumpunan pohon awi, beberapa sudah mengalami kejadian aneh. Ada yang pernah sepulang apel dari kampung sebelah, kemudian melewati jalan tersebut. Tiba-tiba pohon awi melengkung membentuk gapura jalan dan rupanya pohon tersebut kelebihan beban. Beban itu berupa seorang perempuan berbaju putih, rambut panjang, sedang asik duduk di pohon awi tersebut dan membelakangi si pejalan kaki yang baru balik apel malam minggu dari rumah pacarnya.

Ternyata, kejadian seperti itu tidak hanya dialami sang pejalan kaki. Beberapa penduduk di kaki Gunung Malang pernah mengalami hal sama. Melihat pohon bambu tiba-tiba melengkung tumbang ke atas jalan dan rupanya ada perempuan duduk membelakangi pejalan kaki. Ceritanya selalu berulang dan terus menyebar viral dari mulut ke mulut.

Cerita tentang keangkeran Awi Temen tidak berhenti di situ. Beberapa penduduk mengalami kejadian aneh. Ketika mereka lewat Awi Temen, tiba-tiba salah satu pohon awi seperti digoyangkan. Namun tidak ada apa-apa. Hanya bergoyang sendirian. Biasanya, hampir semua penduduk yang mengalami kejadian aneh tersebut, tidak menunggu aba-aba untuk lari. Mereka langsung tunggang langgang berlari sampai ke depan pintu rumah. Besoknya, cerita soal pohon bambu bergoyang sendiri pun tersebar dengan cepat.

Waktu itu, saya masih SD. Mendengar cerita-cerita dari orang tua yang nampaknya ketakutan dan tidak berani melewati jalan di Awi Temen, membuat saya dan teman-teman percaya, ohhh di Awi Temen itu banyak penunggunya. Meskipun sih saya belum pernah melihat penampakan apa pun. Tapi karena sudah melekat hebat tentang keangkeran Awi Temen, setiap melewati jalan itu sendirian, pasti ambil ancang-ancang berlari dan tidak pernah berani melihat ke belakang. Karena saran dari orang tua di sana, kalau melewati Awi Temen, jangan sampai melihat ke belakang. Dijamin, katanya, akan melihat hal-hal menakutkan.

Cerita lainnya lagi, beberapa anak yang baru pulang dari ngaji dan membawa obor dari bambu, mereka mengalami kejadian menyeramkan. Katanyaaaa! Ketika mereka melewati Awi Temen, obor mereka tiba-tiba ada yang meniup sampai obornya mati, kemudian terdengar suara tertawa ngikik di tengah rumpun pohon awi dan suara gemirisik pohon awi digoyangkan dengan kencang. Anak-anak yang baru pulang ngaji pun berhamburan kabur sekencang mereka bisa. Cerita soal anak pulang ngaji yang obornya ditiup pun tersebar cepat. Saya dan teman lainnya semakin percaya dan tidak berani melewati Awi Temen sendirian. Kalau sendirian lebih baik ambil jalan lain meskipun lebih jauh. Rame-rame pun kalau melewati siang bolong sepi tetap saja lari sekencang-kencangnya ketika posisi sudah mendekati Awi Temen.

Selain cerita-cerita itu, ada juga beberapa penduduk yang berangkat subuh-subuh untuk berkebun, melihat sesosok perempuan tidak berada di pohon awi, tetapi sedang uncang-uncang kaki di dahan jambu air, yang posisinya persis di sisi jalan, tepatnya seberang pohon awi. Katanya sih, uncang-uncang aja gitu sambil nunduk benerin rambut. Bertambah lagi cerita horor bikin males kan. Tadinya cuma di pohon awi, sekarang merambah ke pohon jambu. Hadeeehh! Bikin perasaan makin males kalau harus lewat jalan melewati Awi Temen.

Gongnya, cerita hantu Awi Temen itu adalah, ketika salah satu penduduk pulang dari nonton layar tancap. Kalau tidak salah sih katanya sekitar jam 12 malam lebih. Kebetulan dia pulang sendirian. Biasalah, habis mengantar pacar pulang ke rumahnya. Jadilah dia pulang sendirian. Sementara teman-temannya sudah pulang duluan.

Ketika ia berjalan, sambil merokok dan tentu saja merasakan ketakutan dan tetap harus lewat Awi Temen, tiba-tiba saja dia terpaku. Kakinya seolah beneran dipaku di jalan tersebut. Itu, tiba-tiba, pohon awi melengkung hingga ke atas jalan. Sekitar satu meter dari jalanan berbatu. Iya, berbatu. Kan jalan pada jaman itu belum diaspal. Masih susunan batu sebesar kepala bayi, tajam-tajam dan sebagian dari tanah yang sudah membatu. Tiba-tibaaaa, di depannya, di pohon awi itu, duduklah perempuan berbaju serba putih, rambut panjang menutupi wajahnya. Udah gitu aja katanya. Dia diem aja, si cewek itu diem aja sementara bambunya goyang-goyang dikit naik turun. Sementaraaa, si perempuannya dingin diam seribu bahasa dan si pemuda juga kaku setengah mampus dibarengi kaki gemeteran. Mau lari tidak bisa, mau teriak tidak bisa, akhirnya ia cuma bisa menggigil ketakutan sambil meneteskan air seni.

Lalu ia tak sadarkan diri. Esoknya, pagi-pagi, ia tersadar dan bangun. Ia kaget bukan kepalang. Ia mendapati dirinya tertidur di tengah rumpun Awi Temen. Tanpa basa-basi, si pemuda ngibrit melewati jalanan kampung sambil teriak kesetanan. Duaarrr! Berita hantu Awi Temen makin santer dan seketika saja menjadi viral.

Maka, Awi Temen pun sudah fix menjadi tempat di mana perempuan berbaju putih dengan rambut terjuntai itu tinggal dan menampakkan dirinya ke beberapa penduduk di kaki Gunung Malang.

Males! Mulai saat itu, kalau jalan sendirian, lebih baik mencari jalan lain. Melewati sawah dan sungai. Biarinlah lebih jauh dari pada harus berhadapan dengan perempuan sedeng!

Info: Ketika saya kembali ke Gunung Malang setelah lulus kuliah, Awi Temen sudah dibumihanguskan. Tidak ada pohon awi yang tersisa satu pun. Ketika saya tanya kenapa kok sudah ditebang semua dan bahkan sampai dibakar supaya tidak ada yang tumbuh lagi. Katanya, kata beberapa penduduk desa, sengaja dibumihanguskan katanya. Tempatnya sudah semakin horor dan harus diusir penghuninya dengan cara ditebang habis dan sampai dibakar ke akar-akarnya itu rumpun Awi Temen. Katanya, penghuninya pindah entah ke mana. Hiiii….! Semenjak Awi Temen ditebang dan dibakar, cerita horor tengan Awi Temen tidak pernah terdengar lagi. Akan tetapi, kata penduduk di kaki Gunung Malang, beberapa orang sering melihat sesuatu di pohon awi di jalan menanjak. Nahhh lhoooo!

Tunggu dongeng pengantar tidur lainnya ya. Pendengar dongengnya sudah molor duluan tuh. Dia takut kalau ceritanya horor. Padahal masih ada banyak cerita horor lainnya di kaki Gunung Malang. Tunggu yaaa. Hiiiiihihihihiihihihih!

 

“sonofmountmalang”

Catatan Kaki:

Awi Temen merupakan salah satu jenis bambu yang ada di Indonesia. Bahasa lainnya bambu ater . Biasa tumbuh di lahan yang lembab dan daerah kering. Sering dipakai untuk membuat sumpit, tusuk gigi, bahan bangunan dan alat musik.

Foto Dongeng; Mancing Ikan di Sungai

20160625_105657

Salah satu hiburan anak kampung. 

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendongeng sebelum tidur soal memancing di sungai. Menggunakan joran super sensitif, benang pancing setipis helai rambut dan kail ukuran paling kecil. Ikan yang didapat pun ikan kecil-kecil. Paling besar ikan lele, mujair atau gabus. Sisanya ikan-ikan kecil yang ada di sungai.

Kenapa jorannya harus kecil dan super sensitif? Karena ikan-ikan yang nyangkut ke kail pun kecil, jadi getarannya sangat halus. Kalau jorannya besar, susah sekali perasaan untuk merasa-rasakan ada getaran.

Nah, ini waktu saya ke kaki Gunung Malang dan kebetulan anak-anak di sana masih hobi memancing.

20160625_110757

Siapa bilang di kali segede gini nggak ada ikannya:P

20160625_124429

Nah, ini LASUN nih si pemakan ayam. Larinya cepat dan nggak bisa ditangkap kamera pun.

20160625_111147

Dapat juga tuh ikannya. Ikan mini. Lebih kecil dari kelingking anak-anak itu sendiri.

20160625_111006

Yang kecil cukup nonton ajah yah!

20160625_110825

Banyak spot untuk memancing. Kuncinya satu: SABARRRR!

“sonofmountmalang”

Dongeng (39) Halimah dan Goa Gawir

          “Masih ingat Halimah kan? Perempuan penyembah hujan? Anak Pak Endang. Gadis tomboy, liar dengan kulit seputih kabut pagi di atas situ tengah hutan. Badannya lebih bongsor dari gadis seumurannya. Payudara lebih besar dari gadis seumurannya. Gaulnya pun lebih sering dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan di kaki Gunung Malang. Ia sama-sama suka bermain layangan, suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya.”

Aku memulai sebuah dongeng lagi. Dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kehidupan di kaki Gunung Malang.

         “Kali ini aku kasih judul Halimah dan Goa Gawir.”

         “Apa tuh Goa Gawir?” tanya Tala.

         “Dengarkan saja dongengnya.”

         “Owww! Okehlah.”

Halimah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan, satu-satunya sahabat perempuan yang bisa diajak bermain dan melakukan apa saja. Salah satunya adalah membuat goa di gawir. Gawir merupakan tebing yang tidak terlalu tinggi. Hanya mencapai tujuh lima sampai tujuh meteran. Gawir biasanya menjadi tebing pembatas antara persawahan dan perkebunan. Di gawir itulah aku dan Halimah, juga sahabat lainnya membuat goa.

Sebetulnya, jangan membayangkan goa-goa besar seperti kehidupan di jaman manusia goa. Goa yang dibuat hanyalah muat maksimal untuk tiga orang. Tiga orang anak kecil tentunya. Tinggi goa sekitar 70 cm dan dalamnya juga paling sekitar 50 cm dan lebar goa bisa mencapai 100 cm.

Sebelum membuat goa di gawir, pastikan dulu tanah gawir tersebut tidak rentan longsor. Tanahnya harus berupa tanah padat. Entah tanah merah atau tahan putih. Yang jelas bukan tanah gembur. Tapi bukan juga cadas. Kalau cadas, bisa setengah mampus membuat goanya.

Sebisa mungkin juga, gawirnya menghadap ke pemandangan lepas. Supaya bisa mendapatkan udara yang cukup, juga pemandangan yang bagus. Biasanya sih, pemandangannya langsung ke persawahan dan di bawah gawir pasti ada selokan mengalirkan air jernih.

Setelah menemukan lokasi yang bagus, maka langkah pertama adalah membuat undakan dari bawah hingga mencapai titik gawir di mana aku dan lainnya akan menggali tanah di gawir untuk dibuatkan goa. Untuk membuat goa di gawir membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, tidak bisa sehari jadi. Soalnya alatnya juga sederhana, yaitu cuma sekop kecil, cangkul dan perlengkapan sederhana lainnya untuk menggali tanah.

Halimah, satu-satunya anak perempuan yang ikut proses dari awal hingga terbentuk yang namanya goa di gawir. Ia ikut naik ke undakan, ikut menggali pelan-pelan. Pelan-pelan, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan sampai galian di gawir membentuk goa yang diinginkan pun jadi.

Kalau sudah jadi, aku dan yang lainnya membuat tungku dari batu. Tapi, ada juga sih goa yang tidak ada tungkunya. Difungsikan sebagai tempat bermain saja. Tempat membaca buku, tempat ngobrol dan tempat santai-santai bareng teman. Kalau ada tungkunya, sekalian bisa untuk masak-masakan. Dan siap-siap goanya bau asap.

        “Trus? Kamu dah Halimah ngapain di goa gawir itu?” Tala menyelak dongengku.

       “Ya, rebahan sambil ngobrol. Baca buku. Makan rame-rame juga sama teman di goa gawir sebelah.”

        “Yakin?”

        “Iyalah! Tapi, nanti, akan ada cerita soal Halimah yang bikin kaget sekampung!”

        “Kalian ML ya?”

        “Bukan! Bukan itu! Nanti saja ya. Kan ini ceritanya soal goa gawir.”

Tren goa gawir tidak berlangsung lama. Soalnya, akan selalu ada tren membuat tempat bermain dengan gaya baru di kaki Gunung Malang. Goa Gawir salah satunya. Lainnya lagi, ada tren membuat rumah pohon di pinggir sungai.

Itu, aku ceritain lain malam saja ya.

Sekarang, saatnya tidur.

“sonofmountmalang”

Dongeng (38) Mencari Rumput

Sekarang, malam ini, aku mau dongengin soal rumput ya.
       “Kamu tahu, kan? Ting? Rumput?”
Ranting diam saja. Ia hanya melirik ke arahku, kemudian menarik ujung jari-jariku. Ia menggenggamnya. Memainkannya dengan ujung jempol. Sesekali terasa kukunya menekan ujung jari. Ia memang suka iseng. Kadang suka mencubit kecil-kecil, namun tidak begitu sakit.
Rumput, di kaki Gunung Malang, bagi kebanyakan penduduk, memiliki peranan sangat penting. Kalau dibilang kebutuhan premier, bisa dibilang juga begitu ya. Tidak ada rumput, seluruh penduduk kampung bisa panik dibuatnya.
Kenapa rumput begitu penting?
Setiap kepala keluarga, bahkan anak-anaknya, pasti memiliki hewan piaraan. Ada yang punya kambing. Domba. Kerbau. Kelinci. Marmut. Hampir setiap keluarga pasti memiliki kelinci dan marmut. Domba juga pasti. Yang jarang itu memelihara kambing dan kerbau. Hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya, yang memiliki kerbau itu para pembajak sawah. Jadi, Ting, pembajak sawah di kaki Gunung Malang itu bisa disewa untuk membajak sawah. Soalnya, tidak semua bisa membajak sawah menggunakan kerbau. Dibutuhkan keahlian tersendiri untuk mengendalikan kerbau dan menggunakan bajak sawah.
Itulah sebabnya, kenapa rumput begitu penting perannya di kaki Gunung Malang. Karena setiap penduduk harus memberi makan hewan peliharaan setiap pagi dan sore.
Dan ya, Ting, biasanya juga, rata-rata itu setiap penduduk memiliki, minimal, empat ekor domba. Itu minimal ya, Ting. Banyak yang lebih dari empat ekor sih. Ada yang sampai punya 10 ekor per kepala keluarga.
Nah, aku, punya dua ekor domba, ketika itu, pas aku masih di kaki Gunung Malang. Selainnya, aku bantuin kakek, yang memiliki hampir 20 ekor domba. Tapi, aku nggak akan cerita soal dombanya ya. Aku mau cerita soal rumput aja.
Ada banyak jenis rumput yang harus diketahui para pencari rumput. Itu pengetahuan dasar. Ada rumput yang bisa dimakan kelinci. Ada rumput yang bisa dimakan marmut. Ada rumput yang bisa dimakan domba, kambing dan kerbau. Ada rumput yang bisa dimakan semua jenis hewan peliharaan. Ada rumput yang bisa bikin hewan keracunan. Ada rumput yang bisa bikin hewan peliharaan mencret parah. Ada juga rumput yang bisa bikin hewan peliharaan susah BAB. Ada rumput yang nggak boleh disabit sama sekali. Soalnya, pasti tidak bisa dimakan sama semua jenis hewan peliharaan.
Jadi, aku dan para penduduk lainnya harus mengenali semua berbagai secara mendalam, agar hewan peliharaan tetap tumbuh dengan baik dan tidak terkena penyakit.
Tapi, misalnya, kalau hewan peliharaan mencret, esoknya kita harus mencari rumput yang bisa membuat ee-nya itu keras. Nah, soal nama-nama rumputnya, aku sudah lupa. Mungkin aku harus ke kaki Gunung Malang dan bertanya ke penduduk di sana, kemudian memotret jenis rumputnya. Atau, nanti kalau ke kaki Gunung Malang, aku langsung ajak kamu mencari rumput bareng anak-anak di sana.
Yang aku ingat sih, ada namanya rumput katepos, rumput sintrong, rumput, rumput signal, rumput benggala, rumput gajah, daun kaliandra, dan banyak banget rumput lainnya yang harus dikenali. Supaya pertumbuhan hewan ternak lebih sempurna dan tidak penyakitan. Sama halnya kaya kita, manusia, makan sembarangan kan bisa bahaya juga. Berlaku untuk hewan peliharaan.
Khusus untuk kelinci, biasanya dikasih makan rumput sintrong dan legetan. Marmut pun rumputnya beda. Rata-rata marmut dikasih rumput-rumput yang tumbuh di pematang sawah. Rumputnya cenderung kecil-kecil, teksturnya lembut dan lebih ranum. Itu memudahkan mereka dalam proses memakannya. Secara mulut mereka kecil dan giginya tidak sebesar gigi domba, kambing atau pun kerbau.
Aku, Ting, biasanya, mencari rumput untuk tiga kategori. Untuk kambing, kelinci dan marmut,.
Oh, ya Ting.
Satu aturan yang tidak boleh dilanggar.
Di setiap harinya, harus ada stok sekarung rumput. Untuk jaga-jaga kalau ada hari di mana tidak memungkinkan kita mencari rumput. Stok tergantung banyaknya jumlah domba atau pun kambing.
Kalau aku, karena cuma punya dua domba, jadi ya cukup punya sekarung stoknya.
Meknismenya begini.
Rumput yang disabit pagi hari untuk dimakan sore hari. Rumput yang disabit sore hari untuk pagi hari keesokannya. Stok rumput lainnya disabit pada siang hari atau sore hari. Itu berlaku untuk yang tidak punya pekerjaan atau tidak sekolah. Kalau yang sekolah atau pun punya pekerjaan pada pagi harinya, ya pencarian rumput dilakukan pada siang dan sore hari.
Dalam proses pencarian rumput, aku tidak pernah sendirian. Selalu ditemani seekor anjing. Namanya Dora. Kadang, mencari rumputnya bertiga sama temanku. Tapi, biasanya, aku lebih sering ditemanin sama Dora. Kecuali mencari rumputnya ke hutan. Itu baru rame-rame.
Selain ditemanin Dora, aku juga ditemani radio kecil. Lumayan kan, penyemangat sambil dengerin musik. Terus, aku juga bawa minum. Kalau-kalau kehausan, dan ya, biasanya sih, pasti kehausan.
Kalau lagi bersemangat, Ting, aku bisa menyabit rumput dua karung sekaligus. Ya, bawanya saja sih gempor. Dikit-dikit istirahat. Dikit-dikit istirahat. Sampai rumah tewas.
       “Gitu Ting…..!”
Dia sudah tertidur. Pulas.
“sonofmountmalang”

Dongeng (37) Si Unyil

Malam ini aku akan dongengin soal Si Unyil ya. Tapi bukan tentang Si Unyilnya sih. Ini tentang bagaimana susahnya mau nonton Si Unyil. Bertepatan juga dengan hari di mana Pak Raden meninggal. Sekalian mengenang serunya hidup di jaman dulu.
            “Kamu sudah siap dengerin dongeng, Ting?”
Ranting sudah rebahan di sebelah saya. Dia sudah mulai mengucek-ngucek matanya.
            “Aku mulai ya.”
Jaman dahulu kala, tempat di mana aku menikmati masa kecil, di kaki Gunung Malang, itu belum ada listrik. Semua orang mengandalkan minyak tanah. Eh, Ting, ini ada sesi dongeng tersendiri ya. Jadi, kalau mau nonton TV, pemilik TV harus punya AKI. Itu pun, di kaki Gunung Malang, waktu itu, satu kampung hanya satu orang yang memiliki TV. Jadi, setiap hari Minggu pagi, rumah itu rameeeee banget. Nonton TV sampai nongkrong di jendela kalau di dalam tidak kebagian tempat duduk.
Nah, acara yang selalu ditunggu-tunggu itu ya Si Unyil. Untuk bisa menonton Si Unyil, aku dan temanku yang punya TV itu harus mengambil AKI di tempat penyetruman AKI. Jaraknya sekitar 10 KM. Aku dan temanku menggotong AKI bergantian. Soalnya AKI-nya itu beraaaattt. Lagian kan aku masih kecil waktu itu. Tapi, ya demi menonton Si Unyil, apa pun dilakukan.
Setelah AKI-nya sampai ke rumah, mulai dipasang dan tra raaa! Si Unyil pun siap ditonton. Eh, tunggu. Ada satu sesi lagi, Ting. Kadang, kalau sinyal TV-nya jelek, orang dewasa harus memutar-mutar antena yang tiangnya tinggiiiiiiii banget dan terbuat dari bambu. Nah, kalau sudah dapet sinyal bagus, siaran Si Unyil pun siap ditonton. Kamu jangan bayangin TV kaya sekarang ya. HD-lah, HDTV-lah dan tekonologi canggih lainnya. Waktu itu, TV yang aku tonton masih BEWEEEE alias HITAM PUTIH saja. Ukuran TV-nya pun kecil. Jadi kalau nonton harus dekat-dekat. Kalau perlu duduk di bagian paling depan. Nongkrongin TV.
Meskipun TV-nya hitam putih, aku dan temanku tetap menikmati tontonan seru Si Unyil.
Nonton TV akan bubar kalau acara Si Unyilnya sudah kelar. Kebanyakan sih, yang nonton Si Unyil itu anak-anak. Ada juga yang orang dewasa. Orang dewasa biasanya lanjut nonton acara berikutnya. Kalau anak-anak, lanjut main di luar.
            “Gimana Ting? Seru kan?”
Dijawab suara suara dengkuran.
Ya, begitulah. Dongeng belum selesai, pendengarnya pasti selalu tidur lebih dulu. Dan hampir selalu dijawab dengkuran kalau ditanya. Padahal aku mau lanjut keseruan habis nonton Si Unyil. Hmmm…!
Besok, aku dongengin yang lebih seru deh. Ya ya ya. Selamat tidur.
“sonofmountmalang”

Dongeng (36) Perang di kaki Gunung Malang 2

Malam ini saya akan melanjutkan dongeng tentang peperangan di kaki Gunung Malang. Malam sebelumnya kan perang di semak belukar. Kali ini PERANG DI KEBUN TEH.

Di kaki Gunung Malang banyak sekali perkebunan teh. Hampir semua keluarga memiliki kebun teh di belakang rumahnya atau di kebunnya. Meskipun luasnya hanya dua kali lapangan voli. Intinya, memiliki kebun teh sendiri itu seperti sudah sebuah kewajiban. Nah, biasanya, kalau untuk perang, dibutuhkan kebun teh yang cukup luas. Seluas lapangan bola, minimal. Kebun tehnya pun posisinya harus diperbukitan. Lagipula jarang sih perkebunan teh di kaki Gunung Malang yang posisinya berada di tanah datar. Pasti selalu berbukit-bukit. Karena kontur tanah di kaki Gunung Malang memang berbukit-bukit.

Perang di kebun teh bisa dibilang perang semi terbuka. Karena hampir dari awal kita secara langsung bisa melihat musuh di jarak dua puluh meteran. Memang jarak perang di sini harus segitu. Terlalu dekat rada bahaya.

Senjata perang di kebun teh hanya satu, yaitu BABAWANGAN. Pasti kamu nggak tahu kan babawangan itu apa?

Babawangan itu semacam bawang liar. Bentuknya persis bawang. Hanya teksturnya lebih keras dan daunnya lebih alot. Babawangan banyak banget di kebun teh. Babawangan kita cabut. Saat dicabut itu, bawangnya di tanah ikut tertarik dan masih ada tanah-tanahnya. Aku kumpulin dan kalau sudah banyak, perang siap dimulai. Perang terbuka ya. Jadi, dalam teriakan kata,”SERBUUUU!” maka babawangan melayang-layang di udara menghantam lawan. Babawangan diibaratkan bom yang kita lempar dan ya paling mengenai kepala, badan atau tangan. Tidak boleh melempar secara horizontal. Melemparnya harus ke atas dulu, lalu sebisa mungkin jatuh tepat di gerombolan musuh. Kalau cuma satu babawangan yang kena sih masih baik-baik aja rasanya. Kena sebuntal babawangan tuh lumayan sih. Pedes di kepala. Kaya dijitak cukup keras.

Salah satu trik supaya tidak terkena bom babawangan, ketika musuh mulai melempar bertubi-tubi ke atas, kita langsung merunduk dan bersembunyi di bawah pohon teh. Kalau pun kena, tidak terlalu sakit dan palingan juga kena ceceran tanah hingga memenuhi kepala atau punggung. Saat musuh sudah kehabisan bom babawangan dan mereka sedang sibuk mencabut babawangan lagi, baru kita bangkit dan melempar babawangan bertubi-tubi. Begitu seterusnya sampai tangan pegal dan kehabisan bom babawangan.

Biasanya, peperangan terhenti karena memang sudah sama-sama capai, haus, lelah dan puas. Setelah itu, kita pergi ke padang rumput di bukit dekat kebun teh, di bawah pohon rindang aku dan teman-temanku rebahan bareng sampai rasa capai hilang. Selanjutnya, pergi ke bendungan dan berenaaanngggg!

Oh ya, kalau lapar, aku cari ubi liar di kebun teh dan makan ubi liar. Atau, nyari pohon jambu batu dan makan jambu batu, atau apa saja yang bisa kita makan di kebun ya kita makan.

     “Gimana, Ting? Ting? Ting? Lanjut nggak ceritanya?”

Rantingnya sudah bobo. Suara ngorok ringan terdengar.

      “Besok aku ceritain perang di sawah yaaaa…”

Selamat tidur…..

“sonofmountmalang”