Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (7)

Hai, Ran…! Lama aku tak menulis surat cinta untukmu. Oh, ya, berapa tahun sekarang ya umurmu? Hmmmm…! Tiga tahun lebih kaannn? Duh, Ran…! Nggak berasa banget. Sudah tiga tahun lebih. Itu kalau pacaran sih sudah mulai berantem, cemburu dan diam-diam pergi sama yang lain. Eh, itu kalau pacaran. Kita kan sahabat yah. Bersahabat tiga tahun lebih, kita sudah ke mana saja ya? Ke Bali sekali saat usiamu dua tahun. Belum bisa ngomong. Traveling setengah Bali. Road trip ke tengah hutan tidak jauh dari Jakarta dan road trip ke pantai di Ujung Kulon dan kita menonton bintang-bintang malam. Kemudian kemping berkali-kali ya. Itu sudah membuatku bahagia. Gimana denganmu, Ran? Senang, ‘kan?

Terkadang ya, Ran, aku merasa terlalu posesif terhadapmu. Beyond posesif. Cintaku melebih batasan apa pun. Padamu, tidak pernah ada celah untuk marah. Eh, ingat kan ya, sekarang kamu sudah bisa menyuruhku membuatkan kopi di akhir pekan. Ya ya ya! You’are my big boss, boss! Demi kamu, aku buatkaann. Meskipun terkadang suka khawatir, apa iya anak seumur kamu sudah bisa menikmati kopi susu. Apalagi kalau kebanyakan susu, kamu bilangnya, “Laka, ini bukan kopi, tapi susu.” Ah! Kamu memang benar, kadang akhirnya aku tambahin kan kopi lagi dan kamu pasti bilang, “Ini balu kopi.” Sambil menyeruput dan membuatku berbunga-bunga bahagia sampai ke surga ketika kamu berujar lugu, “Mmmm…! Kopi Laka enaaakk cekali…!”

Kamu tahu, ‘kan Ran rasanya seperti apa? Rasanya melayang, mendapat pujian darimu. Ya, sama rasa melayangnya pas bisa akhirnya bertemu dengan pacar setelah seminggu tak ketemu, ketika aku masih anak baru gede banget sih. Wisss!

Eh, iya Ran, ini surat cintaku yang ketuju lho di usiamu yang ketiga tahun lebih. Harusnya aku menulis surat cinta ini setiap bulan. Namun terkadang, aku lupa begitu saja. Bukan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, kadang aku suka lupa, aku terlalu asik menikmati persahabatan kita. Meskipun kamu belakang sudah bisa ngambek. Misuh-misuh sendiri di pojokan kamar dengan wajah cemberut, mata kecewa dan bibir manyun-manyun sambil mengeluarkan bahasa semut, nyam nyam menyum menyam, yang aku tidak mengerti.

Tapi tenang, aku senang kok kalau kamu marah. Itu tandanya kamu punya emosi. Hahaha! Iya, kan, lebih baik marah itu dikeluarkan daripada dipendam. Cuma buatku sih lucu. Makanya kan aku suka biarin kamu marah dulu di pojokan kamar. Terus aku masuk, tetapi kamu mencoba menghindar. Ahahahha! Persis kaya pacarku dulu kalau marah. Nggak mau dipeluk, nggak mau dicium dan cenderung menghindar. Tetapi, kamu butuh dipeluk sih Ran dan kita harus bertatap mata. Aku selalu bilang kan, “Hei, Ran…! Nggak apa-apa marah sama aku. Aku nggak marah kok. Cuma, boleh tahu nggak marahnya kenapa?”

Kamu masih misuh-misuh nggak jelas kan ya. Aku suka tegaskan, “Ran, ngomong aja, aku nggak apa-apa kok, kenapa sih marahnya?”

Akhirnya, kamu pun cerita kan. Salah satunya….! Hmmmm…! Apa yah. Aku lupa. Ohh ya ya. Waktu kamu bilang mau beli mobil lagi terus aku bilang, kan udah punya. Lagian sih Ran, kerjaannya beli mobiiiiilllll terus. Mau beli mobil apa waktu kamu marah itu? Garbage truck? Garbage truck rakcaca? Halah! Alesannya apa ya? Kenapa harus beli garbage truck sebesar itu? Sederhana sekali, “Kalna aku belum punya galbage tluk yang becaalll cekali…!”

Baiklah. Aku beliin ya. Semoga kamu senang. Ehh, kamu senang belinya doank ternyata yaaaaa. Hahahah! Mainnya hanya berapa hari, setelah itu balik lagi ke mobil kecil dan kamu inget bisikin aku apa lagi setelah sehari membel garbage truck? Nih aku kasih tahu bisikin kamu ke aku itu apa, “Laka, cini aku bicikin cecuatu. Aku mau beli tluk pengangkut diggel…” Eaaaaa!

Kalau itu, aku pikir-pikir dulu deh Ran. Kamu fokuskan dulu dan mikir berat, apa benar mau banget truck pengangkut digger itu. Kalau cuma lapar mata, nggak usahlah.

Ngomong-ngomong, kamu udah sekolah lho. Semenjak sekolah juga kan kamu mulai sibuk. Pagi-pagi mandi, sarapan dan langsung buru-buru ke sekolah. Kadang aku kasihan sih Ran. Soalnya, dulu, aku, di umur sekamu, boro-boro sekolah, palingan masih meringkuk di ranjang atau duduk di depan perapian sambil disuapin singkong berbalut mentega dan garam. Minumnya teh tawar atau numpang minum kopi punya nenek. Kaaannn! Aku sudah ngopi juga dari keciiill. Hahaha!

Nah, karena kamu sudah sekolah, yang semestinya juga nggak perlu sekolah, bikin mood pagi kamu suka berantakaannn. Kalau buatku sih, nggak penting juga kamu mau sekolah atau nggak, kalau memang sedang malas, ya udah sih Ran, bilang malas atau kalau masih ngantuk, jangan dipaksa ya. Tenang kok, dulu, sekolah, bukan hal penting buatku juga. Lhaa kerjaan aku main di sawah, hutan, sungai dan kebun. Ya kaan? Kamu pasti ingetlah DONGENG SEBELUM TIDUR yang menceritakan masa kecilku di kaki Gunung Malang. Sekolah itu menyebalkan, tetapi baru menyenangkan di kelas enam. Karena apa? Mau tahu? Aku suka sama anak ceweeeeee. Hahahaha! Mau tahu namanya siapa? Semoga anaknya nggak baca surat cintaku untukmu ya. Cini aku bicikin, “Namanya Sssssssss Ssssssssssss…” Nanti kan ada dongeng sebelum tidur, aku ceritain yaaa. Lumayan kan, bisa dengerin gimana cintaku sewaktu SD. Weee!

Maunya aku sih nulis banyak banget. Biasa kan kalau sudah nulis surat cinta, maunya nggak berhenti. Tetapi masih bisa buat besok-besok kan ya, Ran….

Pesanku ya Ran di surat cintaku yang ketujuh ini, jangan berhenti berpetualang dan jangan mau disetir oleh siapa pun, termasuk aku ya. Kalau punya pendapat sendiri, ungkapin dan kalau nggak suka, bilang nggak suka. Jangan ditahan, jangan didiamkan, apalagi dipendam. Nanti bisa bucuk!

Love you…, Virgillyan Ranting Areythuza….!

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

Foto Dongeng; Mancing Ikan di Sungai

20160625_105657

Salah satu hiburan anak kampung. 

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendongeng sebelum tidur soal memancing di sungai. Menggunakan joran super sensitif, benang pancing setipis helai rambut dan kail ukuran paling kecil. Ikan yang didapat pun ikan kecil-kecil. Paling besar ikan lele, mujair atau gabus. Sisanya ikan-ikan kecil yang ada di sungai.

Kenapa jorannya harus kecil dan super sensitif? Karena ikan-ikan yang nyangkut ke kail pun kecil, jadi getarannya sangat halus. Kalau jorannya besar, susah sekali perasaan untuk merasa-rasakan ada getaran.

Nah, ini waktu saya ke kaki Gunung Malang dan kebetulan anak-anak di sana masih hobi memancing.

20160625_110757

Siapa bilang di kali segede gini nggak ada ikannya:P

20160625_124429

Nah, ini LASUN nih si pemakan ayam. Larinya cepat dan nggak bisa ditangkap kamera pun.

20160625_111147

Dapat juga tuh ikannya. Ikan mini. Lebih kecil dari kelingking anak-anak itu sendiri.

20160625_111006

Yang kecil cukup nonton ajah yah!

20160625_110825

Banyak spot untuk memancing. Kuncinya satu: SABARRRR!

“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (6)

20160326_125505-2

26.03.2016

Dear,

 Ranting….

 Selamat ULANG TAHUN!

*sorry ya baru nulis surat, sibuk pitching:))!*

Jika saja waktu bisa diputar ulang, aku ingin sekali lagi, merasakanmu belajar guling-guling, belajar merangkak dan belajar tertatih-tatih di antara meja-meja serta kursi. Tetapi ya Ting, waktu kan terus bergerak mengikuti poros semesta apa pun yang terjadi di galaksi ini, jadi aku tetap harus melihatmu terus bergerak dari usia dua detik, dua menit, dua jam, dua minggu, dua bulan dan seketika sudah dua tahun.

Dua tahun, Ting! Dua tahun! Kalau pacaran itu sudah berada di titik jenuh, atau jelang serius bicara nikah atau bubaran. Sementara, bersamamu ya, Ting, dua tahun hanyalah TITIK NOL, titik di mana semuanya hanyalah permulaan. Permulaan untuk segala hal. Saking permulaannya, kadang, aku butuh waktu untuk menerjemahkan keinginan dari bahasa absurdmu. Bahasa paling susah yang bisa aku duga-duga terjemahkan menjadi sebuah makna. Kadang salah memaknai, kadang pas, kadang jauh banget dari makna yang ingin kamu sampaikan dan kadang butuh mikir, well sorry ya mas bro. Akan ada saatnya ketika kita bisa saling bicara juga, bisa saling diam. Banyak hal alasannya, aku pernah menjadi anak dari seorang bapak dan tidak selamanya hubungan seperti sepasang ABG jatuh cinta di minggu pertama. Tapi kita nggak akan seperti itu kan ya, Ting. Ya ya ya! Janji ya! Aku janji deh ya.

Ngomong-ngomong, dua tahun sudah bisa apa ya, Ting? Banyak banget ya. Sudah tidak bisa dihitung. Tenang, masih banyak keseruan yang akan kita lakukan, karena kita harus terus bergerak menyelaraskan seiring jalannya waktu dan gerak galaksi.

Dua tahun, untuku dan untukmu, hanyalah sebagian permulaan dari sekian permulaan.

Selamat ulang tahun, ke dua, Virgillyan Ranting Areythuza! I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK!

20160403_111653-2

Jadilah PENJELAJAH!

“Raka, Sahabatmu!”

Dongeng (38) Mencari Rumput

Sekarang, malam ini, aku mau dongengin soal rumput ya.
       “Kamu tahu, kan? Ting? Rumput?”
Ranting diam saja. Ia hanya melirik ke arahku, kemudian menarik ujung jari-jariku. Ia menggenggamnya. Memainkannya dengan ujung jempol. Sesekali terasa kukunya menekan ujung jari. Ia memang suka iseng. Kadang suka mencubit kecil-kecil, namun tidak begitu sakit.
Rumput, di kaki Gunung Malang, bagi kebanyakan penduduk, memiliki peranan sangat penting. Kalau dibilang kebutuhan premier, bisa dibilang juga begitu ya. Tidak ada rumput, seluruh penduduk kampung bisa panik dibuatnya.
Kenapa rumput begitu penting?
Setiap kepala keluarga, bahkan anak-anaknya, pasti memiliki hewan piaraan. Ada yang punya kambing. Domba. Kerbau. Kelinci. Marmut. Hampir setiap keluarga pasti memiliki kelinci dan marmut. Domba juga pasti. Yang jarang itu memelihara kambing dan kerbau. Hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya, yang memiliki kerbau itu para pembajak sawah. Jadi, Ting, pembajak sawah di kaki Gunung Malang itu bisa disewa untuk membajak sawah. Soalnya, tidak semua bisa membajak sawah menggunakan kerbau. Dibutuhkan keahlian tersendiri untuk mengendalikan kerbau dan menggunakan bajak sawah.
Itulah sebabnya, kenapa rumput begitu penting perannya di kaki Gunung Malang. Karena setiap penduduk harus memberi makan hewan peliharaan setiap pagi dan sore.
Dan ya, Ting, biasanya juga, rata-rata itu setiap penduduk memiliki, minimal, empat ekor domba. Itu minimal ya, Ting. Banyak yang lebih dari empat ekor sih. Ada yang sampai punya 10 ekor per kepala keluarga.
Nah, aku, punya dua ekor domba, ketika itu, pas aku masih di kaki Gunung Malang. Selainnya, aku bantuin kakek, yang memiliki hampir 20 ekor domba. Tapi, aku nggak akan cerita soal dombanya ya. Aku mau cerita soal rumput aja.
Ada banyak jenis rumput yang harus diketahui para pencari rumput. Itu pengetahuan dasar. Ada rumput yang bisa dimakan kelinci. Ada rumput yang bisa dimakan marmut. Ada rumput yang bisa dimakan domba, kambing dan kerbau. Ada rumput yang bisa dimakan semua jenis hewan peliharaan. Ada rumput yang bisa bikin hewan keracunan. Ada rumput yang bisa bikin hewan peliharaan mencret parah. Ada juga rumput yang bisa bikin hewan peliharaan susah BAB. Ada rumput yang nggak boleh disabit sama sekali. Soalnya, pasti tidak bisa dimakan sama semua jenis hewan peliharaan.
Jadi, aku dan para penduduk lainnya harus mengenali semua berbagai secara mendalam, agar hewan peliharaan tetap tumbuh dengan baik dan tidak terkena penyakit.
Tapi, misalnya, kalau hewan peliharaan mencret, esoknya kita harus mencari rumput yang bisa membuat ee-nya itu keras. Nah, soal nama-nama rumputnya, aku sudah lupa. Mungkin aku harus ke kaki Gunung Malang dan bertanya ke penduduk di sana, kemudian memotret jenis rumputnya. Atau, nanti kalau ke kaki Gunung Malang, aku langsung ajak kamu mencari rumput bareng anak-anak di sana.
Yang aku ingat sih, ada namanya rumput katepos, rumput sintrong, rumput, rumput signal, rumput benggala, rumput gajah, daun kaliandra, dan banyak banget rumput lainnya yang harus dikenali. Supaya pertumbuhan hewan ternak lebih sempurna dan tidak penyakitan. Sama halnya kaya kita, manusia, makan sembarangan kan bisa bahaya juga. Berlaku untuk hewan peliharaan.
Khusus untuk kelinci, biasanya dikasih makan rumput sintrong dan legetan. Marmut pun rumputnya beda. Rata-rata marmut dikasih rumput-rumput yang tumbuh di pematang sawah. Rumputnya cenderung kecil-kecil, teksturnya lembut dan lebih ranum. Itu memudahkan mereka dalam proses memakannya. Secara mulut mereka kecil dan giginya tidak sebesar gigi domba, kambing atau pun kerbau.
Aku, Ting, biasanya, mencari rumput untuk tiga kategori. Untuk kambing, kelinci dan marmut,.
Oh, ya Ting.
Satu aturan yang tidak boleh dilanggar.
Di setiap harinya, harus ada stok sekarung rumput. Untuk jaga-jaga kalau ada hari di mana tidak memungkinkan kita mencari rumput. Stok tergantung banyaknya jumlah domba atau pun kambing.
Kalau aku, karena cuma punya dua domba, jadi ya cukup punya sekarung stoknya.
Meknismenya begini.
Rumput yang disabit pagi hari untuk dimakan sore hari. Rumput yang disabit sore hari untuk pagi hari keesokannya. Stok rumput lainnya disabit pada siang hari atau sore hari. Itu berlaku untuk yang tidak punya pekerjaan atau tidak sekolah. Kalau yang sekolah atau pun punya pekerjaan pada pagi harinya, ya pencarian rumput dilakukan pada siang dan sore hari.
Dalam proses pencarian rumput, aku tidak pernah sendirian. Selalu ditemani seekor anjing. Namanya Dora. Kadang, mencari rumputnya bertiga sama temanku. Tapi, biasanya, aku lebih sering ditemanin sama Dora. Kecuali mencari rumputnya ke hutan. Itu baru rame-rame.
Selain ditemanin Dora, aku juga ditemani radio kecil. Lumayan kan, penyemangat sambil dengerin musik. Terus, aku juga bawa minum. Kalau-kalau kehausan, dan ya, biasanya sih, pasti kehausan.
Kalau lagi bersemangat, Ting, aku bisa menyabit rumput dua karung sekaligus. Ya, bawanya saja sih gempor. Dikit-dikit istirahat. Dikit-dikit istirahat. Sampai rumah tewas.
       “Gitu Ting…..!”
Dia sudah tertidur. Pulas.
“sonofmountmalang”

Dongeng (37) Si Unyil

Malam ini aku akan dongengin soal Si Unyil ya. Tapi bukan tentang Si Unyilnya sih. Ini tentang bagaimana susahnya mau nonton Si Unyil. Bertepatan juga dengan hari di mana Pak Raden meninggal. Sekalian mengenang serunya hidup di jaman dulu.
            “Kamu sudah siap dengerin dongeng, Ting?”
Ranting sudah rebahan di sebelah saya. Dia sudah mulai mengucek-ngucek matanya.
            “Aku mulai ya.”
Jaman dahulu kala, tempat di mana aku menikmati masa kecil, di kaki Gunung Malang, itu belum ada listrik. Semua orang mengandalkan minyak tanah. Eh, Ting, ini ada sesi dongeng tersendiri ya. Jadi, kalau mau nonton TV, pemilik TV harus punya AKI. Itu pun, di kaki Gunung Malang, waktu itu, satu kampung hanya satu orang yang memiliki TV. Jadi, setiap hari Minggu pagi, rumah itu rameeeee banget. Nonton TV sampai nongkrong di jendela kalau di dalam tidak kebagian tempat duduk.
Nah, acara yang selalu ditunggu-tunggu itu ya Si Unyil. Untuk bisa menonton Si Unyil, aku dan temanku yang punya TV itu harus mengambil AKI di tempat penyetruman AKI. Jaraknya sekitar 10 KM. Aku dan temanku menggotong AKI bergantian. Soalnya AKI-nya itu beraaaattt. Lagian kan aku masih kecil waktu itu. Tapi, ya demi menonton Si Unyil, apa pun dilakukan.
Setelah AKI-nya sampai ke rumah, mulai dipasang dan tra raaa! Si Unyil pun siap ditonton. Eh, tunggu. Ada satu sesi lagi, Ting. Kadang, kalau sinyal TV-nya jelek, orang dewasa harus memutar-mutar antena yang tiangnya tinggiiiiiiii banget dan terbuat dari bambu. Nah, kalau sudah dapet sinyal bagus, siaran Si Unyil pun siap ditonton. Kamu jangan bayangin TV kaya sekarang ya. HD-lah, HDTV-lah dan tekonologi canggih lainnya. Waktu itu, TV yang aku tonton masih BEWEEEE alias HITAM PUTIH saja. Ukuran TV-nya pun kecil. Jadi kalau nonton harus dekat-dekat. Kalau perlu duduk di bagian paling depan. Nongkrongin TV.
Meskipun TV-nya hitam putih, aku dan temanku tetap menikmati tontonan seru Si Unyil.
Nonton TV akan bubar kalau acara Si Unyilnya sudah kelar. Kebanyakan sih, yang nonton Si Unyil itu anak-anak. Ada juga yang orang dewasa. Orang dewasa biasanya lanjut nonton acara berikutnya. Kalau anak-anak, lanjut main di luar.
            “Gimana Ting? Seru kan?”
Dijawab suara suara dengkuran.
Ya, begitulah. Dongeng belum selesai, pendengarnya pasti selalu tidur lebih dulu. Dan hampir selalu dijawab dengkuran kalau ditanya. Padahal aku mau lanjut keseruan habis nonton Si Unyil. Hmmm…!
Besok, aku dongengin yang lebih seru deh. Ya ya ya. Selamat tidur.
“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (5)

_MG_4682

Dear,

Ranting

Lama ya tak menulis surat untukmu. Maklum lah. Aku sibuk. Banyak kerjaan. Banyak nongkrong. Dan banyak alasan lainnya untuk menulis. Maaf yak!

Nggak terasa banget ya. Beberapa bulan lalu kamu masih merangkak. Beberapa bulan lalu, kamu masih merambat. Beberapa bulan lalu, kamu tertatih-tatih. Sekarang, aku ngos-ngosan, Ting, mengejarmu. Maklumin juga ya, aku sudah tuwek! Napas nggak secanggih waktu masih muda. Tenaga juga nggak sekuat sewaktu di kaki Gunung Malang. Melihatmu lari, aku jadi suka narik napas. Ngejar nggak ya, ngejar nggak ya. Akhirnya aku cuma bisa teriak kan, “Ting! Jangan lari!” Harusnya aku membiarkanmu lari sih. Lari itu menyenangkan. Seperti sewaktu aku masih bisa berlari kencang, itu terasa menyenangkan. Apalagi kalau lari dari turunan sebuah bukit. Ah, Ting! Itu seruuuuu! Ya udah, besok-besok, kalau kamu lari, aku cuma akan bilang, “Hati-hati ya!”

Dan, ya, sesuai janji ya, akhirnya aku bisa mengajakmu berkemah. Meskipun bukan di puncak gunung atau di puncak bukit yang tinggi, tapi sudah lumayan cukup ya bisa melihatmu girang berlarian di tengah lapangan rumput dengan udara yang sejuk, masak di alam bebas, bermain di sungai, berburu belalang, dingin-dinginan, mengenalkanmu beberapa jenis pohon, membuat api unggun. Kapan-kapan, kita coba masak belalang yak! Dijamin enaklah. Nggak usah manja. Anak laki harus seliar aliran air. Itu sudah tertanam di namamu, AREYTHUZA!

Tapi, Ting, apa aku masih sanggup naik gunung ya. Secara tracking di hutan sejam saja rasanya dengkul dan napas saingan mau copot. Hahahaha! Kudu banyak olah raga lagi nih ya. Supaya kita bisa kemping bareng di puncak gunung dan berburu foto MILKY WAY.

Lain kali ya. Masih banyak juga kan yang belum kamu coba. Satu per satu. Sedikit demi sedikit. Yang penting kita kurangin pergi ke mol yah. Alam bebas lebih menantang dan lebih seru!

Eh, by the way, kamu udah setahun setengah lho, Ting. SELAMAT SATU TAHUN SETENGAH YA!

JADILAH PENJELAJAH!

26 September 2015!

_MG_4660 _MG_4738 _MG_4749 _MG_4807 _MG_4935 _MG_4611 _MG_4529

 

“sonofmountmalang”

sore-sore manis manis santai

20150816_171617_Richtone(HDR)-01

Selain doyan jalan-jalan nggak penting, nongkrong nggak penting, bercocok tanam nggak penting, saya juga punya hobi nggak penting lainnya. Apalagi kalau bukan masaaaakkk! Haks!

Memasak itu hobi yang seru, apalagi kalau jelang sore-sore sambil nunggu burung di depan rumah nyiapin diri untuk tidur di pohon depan rumah. Lebih seru lagi sih kalau hujan. Cuma sayang ya, hujan sekarang lagi malas datang sepertinya. Jadinya ya, nikmatin sore sambil denger cuitan burung, musik santai dan makan pisang goreng ala suka-suka saya bareng teh poci dan Ranting tentunya.

Sebut saja BANANA CHOCO LAVA aka PISANG GORENG ISI COKLAT.

Mau?
20150816_174354_Richtone(HDR)

20150816_174633-01

20150816_175539

“sonofmountmalang”

Antara Bunga Liar dan Ranting

Ranting di Cimanggis13

Lama tidak hunting foto di kebun depan rumah. Rumput liat dan bunga liar tumbuh subur. Lama juga tidak menggunakan SLR yang beli lensa telenya sampe ngirit-ngirit makan berbulan-bulan. Setelah dibeli malah jarang dipakai. Kebetulan kan libur lebaran lumayan panjang. Jadi ada waktu itu hunting barengan sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza, yang sudah bisa lari ke sana ke mari.
Sementara yang lain posting libur lebaran ke berbagai kota di seluruh Indonesia, saya posting hal yang sederhana di depan rumah. Gimana? Lumayan kan ya. Yayayaya! *maksa*

Virgillyan Ranting Areythuza

“sonofmountmalang”

Liburan bareng Virgillyan Ranting Areythuza di Bali

_MG_3697

Saya bilang ke sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza,”Ran, senjanya memang tidak sempurna, tetapi inilah senja pertamamu di Pantai Kuta, Bali.”

Saya pernah berjanji, jika usianya sudah menginjak setahun, saya akan membawa sahabat kecil yang mungil, Virgillyan Ranting Areythuza, berlibur singkat ke Bali. Meskipun dia tidak tahu apa-apa tentang konsep liburan, tidak mengerti apa-apa konsep Bali, tapi setidaknya, saya mulai menanamkan semangat berpetualang, semangat melangkah menuju satu tempat ke tempat lainnya.

20150502_100459
Bertemu teman baru dan ngobrol dengan bahasanya. Bla bla bla. La la la. Wa wa wa. Hahahahah!

Awalnya saya khawatir ketika di pesawat. Takut tidak tahan dengan tekanan udara dan tidak tahu cara mengatasinya. Ternyata asik-asik aja ya. Hanya gelisah sedikit saat take off dan molor setelah itu sampai mau mendarat di Bali.

Karena dia baru satu tahun, yang makannya juga masih sedikit ribet, jadi perjalanan tiga hari di Bali dijalani dengan santai. Tidak ada target harus ke mana dan jalan ke mana atau pergi ke mana.

_MG_3618
Jalan jalan ke pasar ubud, santai digendong opahnya.

Jalan ke Bali kali ini lebih santai, mengikuti ritme sahabat kecil saya, Virgillyan Ranting Areythuza, yang ya suka-suka dia.

Beruntung selama di Bali, dia tidak rewel. Sepertinya menikmati suasana Ubud meskipun cuaca di Ubud lagi panas. Biasanya udara malam Ubud terasa lebih dingin, kali ini sedikit panas. Mungkin bermalam di sekitar Bedugul atau Kintamani akan merasakan nikmatnya dingin. Untunglah villanya ber-ac.

_MG_3614
Vila private kolam renang. Bebas mau nyebur kapan pun. Ubud Heaven.

Kali ini juga saya menginap agak sedikit jauh dari keramaian Ubud. Saya menginap di sekitaran Jalan Penestanan. Sedikit ke pelosok. Tidak ada jalan raya menuju penginapan. Jalannya sengaja tidak dibuat untuk mobil. Warga sekitar tidak mengizinkan jalan menuju sekitarnya dibuat untuk lalu lalang mobil.

Mungkin niatnya baik. Selain mengurangi polusi, juga mengurang bising. Buat saya tidak masalah. Ya jalan kaki sekitar 300 meter hitung-hitung olah raga walaupun pihak vila menyediakan antar jemput dengan motor. Tapi, barang bawaan ya pakai motor. Asik kan? Saya menginap di Ubud Heaven, yang sekali lagi hanya saya orang lokal Indonesia yang menginap di sini. Sampai-sampai ada anak kecil setempat bilang, “Wahhh! Ada orang Indonesianya juga yang nginep…” Weleh!

_MG_3395

Bahagia main air.

Penginapan seperti ini dan kebanyakan di Ubud memang sangat cocok untuk berlama-lama, khususnya mereka yang sedang mencari ide menulis. Ya, aura Ubud cocok untuk menjadi tempat menggali tulisan. Banyak inspirasi bisa lahir di Ubud. Terasa lebih sejuk, sakral dan jauh dari hingar bingar macam Seminyak dan sekitarnya.

_MG_3609
Makanan di sini juga enak-enak. Ya, wajib enak sih. Secara kalau makan keluar rada PR.

Setelah kelar tidur di Ubud, tentu saja hal yang wajib dilakukan adalah mengunjungi pusat kerajinan tangan di Tegalalang. Di sini nih tempat yang bikin mata kalap dan isi dompet megap-megap. Di sini juga bisa mendapatkan banyak sekali ide untuk berbisnis. Hmmm…! Hahahaha! Dari dulu, setiap kali ke Tegalalang selalu begitu pikirannya. Berbisnis. Yuk! Bosan kan kerja mulu.

Salah
Mengajak Ranting ke pusat kerajinan di Tegalalang. Beberapa pengrajin di sini mengikuti trend dan cenderung musiman. Ini salah satu yang lagi trend di Tegalalang. Borong yuk!

Tidak lupa juga makan salah satu gelato terenak di Ubud. Gelato Gaya. Glek! Mau?

Gelato Gayo. Panas bolong. Makan beginian. Mau?
Gelato Gayo. Panas bolong. Makan beginian. Mau?

Selanjutnya saya membawa Ranting ke Kuta. Maunya sih membawa di ke Lovina atau Amed, cuma berhubung liburan cuma dua malam dan itu anak juga masih belum bisa diajak jalan ke sana ke mari terlalu jauh, jadinya pantai pertamanya di Bali ya Kuta. Saya sendiri tidak begitu suka ke Kuta, ya sekali ini sajalah. Next time, kalau ke Bali lagi, akan saya ajak di ke Bali Utara atau Bali Selatan atau Bali Timur. Pantainya lebih alami dan tidak banyak sampah.

Di Kuta, saya menginap di Hotel Bene. Enak dan nyaman untuk bayi. Jarak ke pantai juga tinggal jalan kaki empat menitan.

Seperti biasa, kebanyakan bayi pada umumnya, doyan maen aiirrrr. Ranting nggak mau beranjak dari pantai. Diajak pulang karena cuaca Kuta sedang kurang asik, dia nggak mau. Apalagi dia kalau diajak ke pantai-pantai bersih di belahan Indonesia lainnya, kayanya bakalan kemping di pantai dia.

20150502_175956
Jadilah penjelajah, Virgil!
20150502_181825
Selamat jalan, Bali.

Next time ya, kita jelajahi Indonesia lebih jauh lagi. Amin!

_MG_3687

Pantai Kuta – Bali.

_MG_3674

Senja di Kuta lagi kurang asik dan pantainya pun lagi banyak sampah. Ya, Kuta memang sudah nggak asik lagi.

“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (4)

"dari satu minggu ke satu tahun."

“dari satu minggu ke satu tahun.”

Berapa waktu yang sudah aku habiskan bersamamu, Ran?
1 tahun
12 bulan
52 minggu
365 hari
8.760 jam
525.600 menit
31.536.000 detik
Akan ada jutaan detik lainnya yang akan kita habisi. Sampai hidupku benar-benar terhenti di satu titik, akhir perjalanan di duniawi. Semua waktu tidak akan pernah terasa, Ran. Seperti 31.536.000 detik yang kita jelajahi.
Melihatmu pertama kalinya menangis kencang dan aku tertawa girang. Tegang bukan kepalang ketika asi ibumu kering kerontang. Hari itu aku berlari kencang di terik siang, naek ojek sih, menuju rumah Laluna, demi sebotol ASIP, untukmu yang mulai kehausan.
Beberapa jam berikutnya, banyak bantuan ASIP yang ditawarkan. Kita semua senang, dan kamu, Ran, ada banyak saudara sepersusuan. Terima kasih, ketika itu, untuk semua bantuan.
Lalu, kita semua, selanjutnya berjuang. Supaya kamu, Ran, mendapatkan ASI untuk semakin tumbuh berkembang. Segala jenis jus untuk ibumu dibuatkan. Segala sayuran dimakan. Segala ramuan penyubur ASI ditelan. Sampai obat-obatan perangsang ASI pun dijejalkan. Ibumu sudah segalanya dimakan, untukmu, tersayang. Dan, semangat terus aku berikan, agar ASI ibumu mengalir kencang.
Kami berdua, Ran, tidak pernah menyerah. Tidak pernah berpasrah. Hingga ASI untukmu meruah-ruah. Asupanmu mewah.
Seru, Ran. Bisa melihatmu tumbuh. Tanpa sangat terasa.
Dari tak berdaya digendong, di ranjang, dimandiin. Mulai berguling ke kiri dan ke kanan ranjang. Jatuh dua kali dari ranjang. Demam hingga 39,8 derajatan. Berkicau tidak karuan. Belajar duduk dengan bantuan. Enam bulan mulai makan. Kita berdua sibuk mencari menu untukmu, Ran, sarapan, makan siang dan makan malam. Rasanya, bisa melihatmu mengunyah, tak bisa terbayarkan. Saat itu, aku mulai kehabisan kata-kata untuk dituliskan, satu rasa di luar batas kata menyenangkan.
Di waktu 31.536.000 detik itu, aku juga melihatmu merangkak cepat. Merambat cepat. Merayap dari anak tangga ke anak tangga, bahkan sampai ke puncak. Aw! Kamu semakin hebat. Semakin banyak gerak. Digendong pun semakin berontak. Kamu semakin tahu makanan enak, minuman enak dan tahu caranya menolak.
Kini, di titik 31.536.000 detik, aku sudah melihat banyak hal, belajar banyak hal, untuk bisa aku tuangkan dalam halaman demi halaman, hingga menjadi sebuku tebal.
31.536.000 detik, Virgillyan Ranting Areythuza, hanyalah sebuah awal yang sangat permulaan.
Kita masih ada detikan tak terhingga untuk melakukan petualangan, seperti yang aku bilang, sampai hidupku terhentik di satu detik terakhir.

Selamat ulang tahun yang pertama, Virgillyan Ranting Areythuza!

Jadilah penjelajah!

"Virgillyan Ranting Areythuza"

“Virgillyan Ranting Areythuza”

26 Maret 2015

“sonofmountmalang”