Mabok ngopi di Ujung Kulon

IMG_9150

Karena tidak ada bir di Ujung Kulon, selain haram, juga dilarang dan tidak dijual. Jadi manual brew coffee is a must!

“I Love You For Sentimental Reasons” Nat King Cole itu soundtrack yang pas untuk menelan jingga di secangkir kopi hitam bersama lenguhan-lenguhan ombak, bisikan-bisikan daun dibelai angin darat, di Ujung Kulon di mana kita semua bisa melarungkan ke-stress-an. Lupakan deadline, lupakan brainstorm, lupakan keynote, lupakan rasional creative dan jangan lupakan gajihan tapi yah.

Berhubung di Ujung Kulon tidak dijual bir, jadi disarankan membawa bir sendiri dari Jakarta, dan atau seperti saya, membawa seperangkat alat ngopi dan mem-brew sendiri demi menikmati senja jingga tidak membara di balkon rumah pohon. Ah! Asik sekali, bukan?

Ingin sesekali mencoba? Bisa banget. Hanya selemparan kutang dari Jakarta – Ujung Kulon. Jalannya pun hanya ada dua belokan. Belok kiri dan belok kanan. Ya, paling ada tanjakan dan turunan, tapi itu pun tidak akan terasa. Karena tujuannya mulia, yaitu menghiburkan diri di tempat sepi. Ya, anggap aja semacam tempat untuk berkontemplasi sambil memikirkan harus dibayar dengan apa menginap dua malam di Rumah Pohon ini.

Lupakanlah bayarnya pakai apa. Urusan belakangan. Sekarang, yang terpenting adalah, kita bisa duduk di balkon, santai, ngopi sembari diselingi ngobrol-ngobrol impian, bahwa kelak, suatu masa, ketika langit menjatuhkan emas dua ton di depan rumah, maka kita akan bangun rumah pohon di sisi pantai. Amin!

Jadi, gimana? Akan menikmati kopi di mana weekend ini dan akan kamu beri soundtrack apa weekend-mu?

Teruslah liburan meskipun kere habis-habisan!

IMG_9330

Virgillyan Ranting Areythuza, menikmati secangkir kopi penuh khidmat.nter a caption

IMG_9144

KOPI SENJA untuk kamu yang sakau KOPI.

IMG_9250

NGOPI bersama LAUT.

IMG_9297

Keringat kopi di siang hari. Siapa yang tidak tahan godaannya.

IMG_9314

Hidup tanpa kopi itu kaya pacaran sama pohon.

IMG_9318

IMG_9320

Di Honje Ecolodge tersedia kulkas, jadi kamu bisa bikin es untuk membuat ICE KOPI MOKAPOT!

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

Apa narkobamu sekarang?

20160119_093631-01

Resep Kopi Enak Gilak: Kopi Kolombia dibekuin selama 24 jam. Setelah dibekuin, dikeluarin dan dikasih susu kental manis sesuai selera. Biarkan susu mengalir ke sela-sela kopi dan menyatu. Setelah menyatu, kocok sampai berbuih dan minum sambil santai mendengarkan musik kesukaan. Kalau bisa, dinikmati di atas gunung atau pun di tepi pantai. Haaaahahaha! Mau?

Pernah mendengar Narkoba Digital dalam bentuk musik yang ada di Apps bernama I-Doser dan sempat heboh di sosial media. Tapi emang ya, sosial media kita ini, orang beol di jalan aja bisa jadi heboh. Apa saja bisa heboh. Bener kan?

Kembali ke Narkoba. Menurut para pakar yang mendalami kesotoyan, narkoba yang beredar dikonsumsi tidak hanya dalam bentuk obat-obatan. Semisal itu tadi, Narkoba Digital. Narkoba Digital dibagi-bagi lagi. Ada yang larinya ke Games Online, ke Path, ke Youtube, WhatApps dan banyak lagi Narkoba Digital lainnya, yang katanya, menurut pakar kesotoyan ini, Narkoba Digital lebih berbahaya dan eksistensinya tidak bisa ditolak atau pun dipidanakan.

Ada lagi narkoba yang sudah menjelma dalam bentuk kopi. Bukan kopi ganja lho ya, yang kaya di Aceh atau pun Dodol Ganja yang bikin kepala keliyengan terus seru sendiri. Ini kopi. Murni kopi. Kopi yang sudah menjadi narkoba dan tidak lepas dari ngopi sehari pun!

Rasanya, dunia hampa kalau tidak ngopi sehari. Gelisah. Resah. Seolah dunia mau kiamat. Apa pun dilakukan demi menikmati secangkir kopi. Sampai bela-belain jalan kaki untuk membeli kopi, bela-belain panggil panggil GOJEK dan kerja jadi nggak bisa konsen. Tangan ngetik, tapi otak isinya kopi, kopi, kopi dan kopi. Kecanduan yang sudah parah. Sama kaya orang kehabisan stock sabu sabu dan barang sejenisnya, yang lebih elit efeknya. Halah! Elit! Preett!

Selain kopi, selain narkoba digital itu tadi, selain agama, yang konon lho ya, bisa bikin mabuk kepayang juga dan membuat orang lupa daratan, selain minuman penuh alkohol, selain nonton bokep, selain TRAVELING, selain belanja, narkoba dalam bentuk apa yang kini sedang menghantui kalian?

Kalau saya, lebih baik putus cinta semiliar kali daripada nggak bisa ngopi sehari!

Tsahhh! Prettt!

“sonofmountmalang”

ngopi bukan budaya kita

20151218_110232_Richtone(HDR)-01

Mungkinkah bahwa ngopi dan kopi bukan budaya kita. Bukan sesuatu yang telah tertanam sejak jaman purba, yang sudah mendarah tanah ketika daratan nusantara ada, bukan sesuatu yang lahir sebelum mahluk bernama manusia menjejali pulau di Indonesia.

Kalau rela dibilang, kopi memang bukan budaya asli kita. Kalau mau tahu, baca saja sejarah kopi di Indonesia dan sejarah kopi dunia. Sejarah bilang, bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalulah yang menemukan, menyadari, bahwa kopi ternyata bisa diminum sebagai minuman berkhasiat berenergi. Tetapi, meksipun, masih ada perdebatan juga sih, katanya, kopi ditemukan 800 SM. Tidak begitu pentinglah soal selisih tahun. Yang jelas, budaya kopi dan ngopi di daratan Afrika, kemudian berlanjut ke Timur Tengah dan Turki jauh lebih mendarah tanah. Tidak heran kan, banyak penulis, filsuf atau pun sastrawan, menggambarkan kopi dengan bahasa seanjing-anjingan. Bahkan, di negara-negara yang mungkin juga di semua nadi penduduknya sudah mengalir cafein sejak lahir, lahir juga peribahasa yang bisa jadi tidak bisa kita punya. Ya kan?

Karena memang kopi bukan budaya asli kita. Kopi merupakan komoditas, sama halnya dengan teh, kina dan rempah-rempah lainnya, yang dimiliki Belanda. Jadi, kopi, pada waktu itu, milik Belanda dan negara-negara tujuan ekspor Belanda.

Skip soal Belanda yah. Kita kembali ke soal kopinya saja.

Nah, karena ngopi bukan budaya bangsa kita, jadi tidak banyak orang yang seolah menutup mata soal kopi jelek, busuk, baik, terbaik dan metode-metode pembuatannya. Dan, cara yang kita pakai tidak pernah, kayanya, berkembang terlalu jauh. Setuju?

Coba, siapa yang pernah mendengar klaim, bahwa budaya KOPI TUBRUK itu milik asli Indonesia? Semua orang pasti pernah mendengar dan membacanya. Menurut sejarah juga, karena kita bukan bangsa yang ngopi banget, maka prosesnya pun masih mengikuti cara pengopi dari benua lain. Karena konon, cara membuat KOPI TUBRUK itu adalah cara yang dibawa oleh PEDAGANG TIMUR TENGAH, yang sudah menjadi budaya mereka, menyeduh kopi dengan cara DITUBRUK ke Indonesia. Bahasa kerennya, TURKISH COFFEE dengan cezve-nya dan sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia.

Kita hanya mengadaptasi dan kemudian menjadi ‘kebudayaan kita’ dan cara menyeduh kopi kita tetap ditubruk. Belum berkembang jauh meskipun kita memiliki ratusan jenis kopi di seluruh pelosok Nusantara. Mungkin karena itu tadi, ngopi bukan budaya kita, jadi apa peduli kita.

Tetapi, bersyukurlah sedikit, budaya ngopi mulai menjamur di negeri ini. Meskipun metodenya dan alatnya made in Jepang, Cina, USA atau pun Italia dan kita masih lebih suka kapucino, prapucino, mokacino, kokocino, cicicino, kakacino dan cino-cino lainnya. Setidaknya, ada harapan bagi petani yang bersusah payah menanam kopi, sehingga mereka bisa hidup sedikit makmur dari kopi dan bangsa kita bisa belajar mengerti dan menikmati kopi berkualitas, bukan kualitas asal-asalan.

Dan, kita, semoga bisa mengembangkan metode brewing-brewing yang belum dikembangkan atau pun ditemukan negara lain, sehingga kita bisa memiliki metode brewing kopi yang lebih mendunia dan milik kita, kebudayaan kita, asli! Dan kita MEMPRODUKSINYA!

Jadi, tujuannya apa sih nulis beginian?

Nggak ada. Pada akhirnya, tidak penting kita punya budaya atau metode apa soal ngopi. Yang penting itu, selalu sedia kopi terbaik dari berbagai belahan dunia di rumah dan di meja kantor dan perlengkapannya. *NYEMBAH HARIO dan KALITA*

Selamat ngopi!

*Tulisan ini tulisan sotoy, nggak usah diprotes yah:)))))))

“sonofmountmalang”

 

Sunda Aromanis

Pernahkah kamu, ketika aroma petrikor mengalir di pembuluh bumi, terperangkap di balik jeruji kaca, menyerap makna wangi dari secangkir surga dari tanah Sunda.

Apa yang kamu bayangkan? Secarik kertas berdebu, tertulis kata memori, tumpukkan kenangan semanis gula-gula, mengisi beberapa jengkal masa di mana kamu melangkahi setapak jalan.

Aku, merenungkan pantulan, seolah, jeruji kaca, pelayaran sederhana berisi masa di mana cinta mengalir dari langit begitu deras, untuk bumi, membawaku ke tanah berkabut Ciwidey, menutupi pucuk-pucuk pohon kopi, teh dan basahnya atap-atap genteng.

Di tanah suburnya, telah tumbuh sejuta bebijian, juga cinta di musim panen, kopi, milik seorang petani, bernama Dadang, seluas lima hektar dan gadis kampungan berparas langit senja, malu-malu menggoda dibalut senyum semanis ceri kopi.

Ah, sudahlahya. Tidak usah dilanjutkan.

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

 

 

UNTUK KAMU YANG INGIN MELLOW!

20150515_135353-1

“Mokapot yang selalu saya bawa ke mana mana.”

Akhir-akhir ini, kedai kopi semakin menjamur. Macam penyakit latah yang memang dimiliki negeri ini. Mulai dari design interior yang wah sampai biasa saja. Mulai dari kopi yang serius enak sampai yang rasanya acak-acakan, asal-asalan. Asal nongkrong enak, rasa dan kuliatas kopi bukanlah hal yang penting. Yang penting itu eksis di kedai kopi yang lagi hits.

Menurut saya, masalah kopi itu masalah kepekaan lidah. Tempat bagus bukan jaminan kopi bagus. Rasanya, kebanyakan yang saya temui, ya asal bikin. Hanya beberapa yang serius membuat kopi dengan cita rasa luar biasa. Semisal Rumah Ranin di Bogor.

Itulah sebabnya, saya sengaja menciptakan kedai kopi sendiri di rumah dan di kantor dan bahkan saya membawa perlengkapan untuk membuat kopi ke mana pun saya pergi. Bukan tidak suka nongkrong, tetapi karena saya bebas meracik rasa kopi yang sesuai dengan selera dan tidak harus keluar uang mahal hanya demi secangkir kopi hambar di kedai hipster alay-alay yang baru mengenal kopi.

Lalu, kopi apa yang bagus dan memiliki rasa luar biasa?

Salah satu produsen kopi yang menurut pancaindera saya itu pas, adalah QUINTINO’S, dengan berbagai varian KOPI ASLI INDONESIA yang memiliki kualitas kopi kelas satu dan hasil roasting yang ENAK.

Saya suka semua jenis kopi yang keluar dari QUINTINO’S. Nah, salah yang tidak pernah kosong di koleksi box kopi saya adalah SUMATRAN MELLOW. Paduan ACEH GAYO dan MANDHELING atau orang asli sana lebih suka disebut MANDAILING.

Kenapa mellow? Karena perasaannya begitu lembut dan aromanya kuat yang bisa mengundang teman seruangan untuk datang ke meja kerja.

Gimana?

Mau nyoba?

Yuk ke sini!

“sonofmountmalang”

Santai Santai di Sensa Koffie

_MG_3931

Kalau ke Bali, bosan dengan yang itu-itu aja, tongkrongan & masakan eropa kebarat-baratan atau warung ke bali-balian, mungkin sudah saatnya kalian mampir ke Sensa Kueh, Pia & Koffie di Jalan Dewi Sri, Kompleks Ruko Parwata. Tepatnya di seberang Central Park Kuta. Tempatnya, untuk di Kuta, sedikit berbeda dari hingar bingar pada umumnya. Seperti bukan berada di Kuta. Kaya lagi di daerah Jawa. Hahahah! Lha? Pergi ke Bali kok nyari suasana keJawa-Jawaan. Ahey!

20150502_115159

Bukan itu maksudnya, ini simply tempat ngopi yang cozy dan tenang. Untuk penulis atau blogger, mungkin tempat ini bisa dijadikan tempat singgah dan menuliskan perjalanan-perjalanan yang akan dijual atau pun di-posting.

_MG_3901

Kopi di Sensa juga banyak jenisnya dengan proses yang berbagai jenis juga. Sesuai selera. Nah, ini prosesnya adalah airpresso ya kalau nggak salah. Hahahah! Lupa prosesnya. Ini adalah Toraja yang jadi ringan rasanya, namun sedikit membekas sisa pahitnya di ujung belakang lidah hingga tenggorokan.

_MG_3856

Enaknya ruang di Sensa tidak umpel-umpelan. Jadi terasa leluasa dan nyaman ngobrol sambil ngopi berjam-jam, sampai kembung dan kenyang.

 _MG_3854

Buat kalian yang ingin menikmatinya sambil melihat lalu lalang jalanan, duduk di balkon pun enak. Cuma ya asal tahan saja dengan udara Kuta. Enaknya kalau di luar ini duduknya sedikit sore jelang malam.

_MG_3857

Selain bisa ngopi, di Sensa juga kita bisa membeli biji kopi yang sudah mereka roasting. Saya tadinya mau beli Bali Kintamani, cuma sayang lagi nggak ada stock. Jadi, ya nggak jadi beli. Untuk ukuran segini, katanya dijual sekitar 200an. Tergantung jenis kopinya.

20150502_122730

Teman untuk ngopi yang pas. Mau?

Jadi, gimana? Bosan dengan tempat modern di Kuta? Coba dulu mampir ke Sensa, yang merupakan cabang di Malang. Nahhh! Ke Malang aja yuk! Sekalian ke Bromo, melihat sunsrie mewah.

Yuyuyuyuyuyu!

“sonofmountmalang”s

Selamat datang, TURKISH COFFEE!

CEZVE. Turkish coffee.

CEZVE. Turkish coffee.

Selamat datang, CEZVE!

Selamat datang, keluarga baru, CEZVE – TURKISH COFFEE!

Salah satu benda yang mendapatkan cap Intangible Cultural Heritage dari UNESCO.

Kopi yang dihasilkan dari cara ini adalah super kelam, gelap pekat dan sangat kuat rasanya.

Tidak heranlahyah Turki punya proverb dahsyat tentang kopi, katanya “Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love.”

Marilah kita berkarya dengan CEZVE!

Yuk!

 

“sonofmountmalang”

 

 

 

Roromantisan di Kawah Putih

 

Karena cinta, pohon ini tetap hidup.

Tetap hidup karena cinta. Mungkin.

Kawah Putih merupakan salah satu kawasan wisata di Jawa Barat. Posisinya ada di Ciwidey. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna. Kawah ini berada pada ketinggian +2090 m dpl dibawah puncak/titik tertinggi Gunung Patuha.

Selain Kawah Putih, di Ciwidey juga ada banyak perkebunan kopi. Di beberapa tempat ngopi di Jakarta, Kopi Ciwidey sudah bisa ditemukan. Glek! Jadi pengen ngopi. Jadi pengen ke tempat yang dingin. Jadi pengen ke tempat yang berkabut. Yuk! Ah! Kita meluncur.

“sonofmountmalang”

kamu harusnya seseksi ini

ss

Jika ada perempuan seseksi ini, rasanya, aku rela gila karena cintanya! *murahan*

Apa yang kamu pikirkan tentang es, kopi dan susu?

Jika aku, memikirkan seseorang, perempuan tentu saja, yang memiliki cita rasa khas, seperti segelas kopi bersusu dingin, yang bisa dinikmati, bahasa kasarnya, atau dicumbui, bahasa sedikit halusnya, di ketika cuaca sedang memanas hingga merasakan titik ternikmat yang bisa dialami sepanjang hidup.

Dan.

Gila pun aku pasrah karena terlalu memberhalakannya, cinta yang berlebihan.

Bagaimana denganmu? Mau? Bukan mau gila karena cinta wanita serasa es, kopi dan susu dalam satu ruang dingin-hampa, tetapi memang menikmati segelas rasa saja, yang seperti perempuan super manis di pagi sewaktu surya cerah menerabas wajah dan tubuhnya.

Mari!

 

“sonofmountmalang”

 

Secangkir Aroma Surga di Alunan Malam Penuh Hujan

 

"Black is poetic."

“Black is poetic.”

Ketika malam sudah melangkahkan kakinya memelan dari langit ke bumi hingga terang-terang sore itu segera melangkah mundur secara teratur. Kidung dari para penyembah kegelapan, di bawah tanah, di dahan-dahan pohon dan di langit redup mulai dilantunkan. Gemawan berbentuk cawan-cawan hitam dan gema guntur melantur, semakinlah menyempurnakan diri, beriringan dengan meleburnya hujan di daun-daun dan atap teras rumah.

Malam ini, saya bersama alunan hujan, akan menyempurnakannya lagi dengan secangkir aroma surga dari Nusa Tenggara Timur, pemberian seorang teman. Surga yang begitu kelam, garang dengan aroma sekuat cinta saya pada perempuan-perempuan berbincu merah membakar bibir dan rok sutera tembus pandang. Surga yang disangrai dengan tungku batu dan api dari kayu bakar, menghasilkan kegarangan rasa dan kegelapan warna.

Saya menyiapkannya dengan gaya syphon untuk mendapatkan kualitas rasa dan aroma kopi yang selaras dengan rasa serta aroma sang malam.

Hasilnya, ada rasa getir yang menggentarkan. Ada aroma yang melesak ke sudut ruangan aram-temaram dan sela-sela indera penciuman yang menggelora. Sisanya, adalah momen menyelami makna sebuah malam dengan alunan pelan hujan dan secangkir surga dari Nusa Tenggara Timur yang akan menjadikan malam saya, malam ini, menjadi sangat panjang. Hingga pada akhirnya hujan mulai pasai bercinta dengan tanah dan bulan sesempurna wajah gadis lugu di kejauhan, memaksa awan-awan memudar dan ia berpendar terang di malam langit.

Siapa yang mau membunuh malam bersama secangkir surga dari Nusa Tenggara Timur? Yuklah! Kita melayar ke sana dan menyatukan diri bersama penduduk setampat untuk belajar melakukan ritual pembuatan kopi dengan insting yang membara dan jiwa yang menyalak. Bukan dengan mesin dan waktu yang terukur.

Yuk! Yuk! *kemudian membayangkan keindahan flores sambil merenungi bulan benderang*

 

“Black as night!"

“Black as night!”

"Heaven in syphon."

“Heaven in syphon.”

“The moon is friend for the lonesome to talk to.” ― Carl Sandburg

“The moon is friend for the lonesome to talk to.”
― Carl Sandburg *langit Cimanggis*

“sonofmountmalang”