Tempat nongkrong di Yogya untuk kamu yang memang tidak ingin MOVE ON!

20170930_232021

Di MOVE ON cafe ini, kalian semua bisa makan gelato segala rasa sampai kehilangan rasa.

Inget Yogya, inget belasan tahun lalu pernah mengalami rasanya perjatuhan hati berlama-lama sampai tidak bisa move on ke mana-mana. Perasaan kami seperti diberi perekat. Tak pernah bisa saling melepaskan diri. Itu kan belasan tahun lalu, ketika usia kami masih belia, berbalut seragam putih biru dan masih meminta uang jajan ke orang tua. Jrottt! SMP udah jatuh cinta aja gitu. Kelam banget hidup kita ini sissss!

Tapi, itu kan belasan tahun lalu. Kini, kita semua sudah semakin dewasa, matang dan tuwak! Tahu bagaimana caranya MOVE ON dari kehidupan masa lampau.

Jadi dimungkinkan Yogya itu kota Jatuh Cinta padat romantika kita berdua. Kita? Gue doank kelesss maksudnya. Ya, anggaplah saja begitu. Lupakanlah. Makanya hadirlah tempat nongkrong MOVE ON di Yogya. Bisa jadi untuk kalian yang ingin MOVE ON atau buat kalian yang tidak ingin MOVE ON. Buat kedua-duanya, di sinilah kalian bisa menikmati KETIDAKMOVEAN kalian. Ditemani menu keukopian, eh kayanya pernah denger tuh brand keukopian. Jualaann! Atau ditemani beubiran. Supaya sedikit romantis berbau manis, bisa juga menikmati keberduaan bersama geugelatoan segala rasa. Mulai dari Strawberry sampai Whiski. Tidak bikin mabuk kepayang, namun cukup mabuk cinta.

Susana hangat di sini begitu terasa di setengah remang-remang kota Yogya bernapas angin sendu menerpa rambutmu yang cantik. Ta elahhh! Bang! Rambut mana ada yang cantiikkkk! Ya, begitulah intinya. Kalian paham kan?

Jadi buat kalian yang ingin suasana kekinian di Yogya dan menghabiskan semua obrolan ngalor ngetan dalam semalam, mungkin MOVE ON CAFÉ YOGYA bisa jadi pilihan. Untuk kalian yang nggak bisa MOVE ON dan ingin MOVE ON. Haisshhh!

20171001_011015

MOVE ON CAFÉ YOGYA
Jl. Prawirotaman No.4-10, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153

20170930_231947

Karena hidup adalah quote. Eh, siapa tuh dua gadis Yogya.

20170930_232006

Nah, ini calon pengunjung yang ingin move on.

20170930_232029

Gelato yang nggak bikin move on.

20170930_232040

Kamera bergetar lihat sesuatu di sini.

20170930_232050

Tempatnya enak buat sendirian, berduaan, bertigaan dan ramaian.

20170930_232121

Bisa memesan kopi pun di sini.

20170930_232316

Paling enak beli bir dan kemudian dimasukin gelato. Kebayang kan horny-nya minum beginian. Heeehhh!

20171001_010618

Kalian akan merasa hangat masuk sini meskipun hati kalian sedang dingin.

 

“sonofmountmalang”

Advertisements

Flying Pig alias Babi Terbang Sunter, Kuliner Super Enak Khusus Penggila Babik!

Bagi sebagian golongan, babi itu haram. Bagi sebagian golongan lagi, babi itu halal. Bagi saya, babi itu binatang berkaki empat dan sering menjadi sumber cerita sebelum tidur buat orang-orang di rumah. Karena apa? Karena kehidupan di kaki Gunung Malang tidak pernah jauh dari konflik antara manusia dan babi. Di sana sudah bisa dibilang, musuh bebuyutan sejak jaman nenek moyang saya.

Tapi, itu babi hutan, babi berwarna hitam dan menyeramkan. Berbeda dengan BABI TERBANG alias FLYING PIG di Sunter. Itu babi pink lemah lembut dan menjadi santapan golongan penghalal makanan sejenis babi-babian.

Penasaran dengan tempatnya, juga dengan rasanya kaya apa apa sih rasa-rasanya kulineran babi itu. Apakah rasanya kaya babi atau malahan kaya sapi. Untuk menjawab rasa penasaran, masuklah ke restoran Flying Pig Sunter. Tempat gede dan tidak begitu ramai. Well, ya jualan babi kan yang makan itu segmented. Saya saja yang tidak suka makan babi dan mengenal konsep haram, penasaran iseng mau makan. Hahahah!

Menunya buanyak. Hampir semuanya mengandung babi. Ya iyalah! Namanya aja Flying Pig. Kalau ada menu kambing, itu pengkhianatan bagi babi-babi yang telah berkorban disembelih. Jadi, karena hampir semua mengandung babi dan tidak ada babi yang halal, saya putuskan memesan PORK KNUCK CHEESE. Ya, minimal babinya mengandung cheese alias ada unsur sapi-sapinyalah. Nggak 100% haram kaann. Hahaha!

20170921_152341

PORK KNUCK CHEESE. Kenyang nggak tuh liatnya.

Sementara yang lainnya memesan makanan di kuali. Kaya bawa kaum obelix saja ya makan di Flying Pig ini. Makan saja di kuali. Minumnya jangan-jangan di ember.

Nah fokus ke PORK KNUCK CHEESE. Saya pikir hanya satu paha saja. Cukup untuk satu orang. Ketika datang, ya saaallaamm! Itu paha babinya ada tiga. Gimana makannya kalau tiga potong paha babi. Satu saja sudah kenyang melihatnya. Ini tiga sekaligus! Duh ampunnn. Perut saya sudah buncit. Tetapi apa daya kan, makanan sudah dipesan. PORK KNUCK CHEESE sudah menunggu di meja untuk dibumihanguskan. Pelan-pelan namun pasti, saya memakan PORK KNUCK CHEESE. Hmmm…! Gimana ya jelasinnya. Ini kan babi ya. Saya tidak suka babi. Tapi saya harus menjelaskan enaknya babi ini. Hahaha!

Jadi si babi Flying Pig ini, bagian luarnya garing, bagian dalam lembut dan sekali tarik, dagingnya terlepas dari tulangnya. Enaknya ketika makan itu dua porsi sambal matah langsung disiram ke atas PORK KNUCK CHEESE. Dijamin kepedesan. Itu juga trik saya untuk menghindari ketidaksukaan sama babi. Disarukan dengan pedasnya sambal dan gurih asinnya cheese. Alesaaann aja ya. Makan babi aja ribet.

Saran saya, kalau kalian ke Flying Pig di Sunter dan memesan PORK KNUCK CHEESE, pesanlah satu porsi untuk makan berdua. Kecuali perutnya terbuat dari gentong, satu porsi dilahap sendiri juga bisa.

20170922_070052

Harga ideal untuk makan berenam di sini yah. Sekalian kan tuh bisa cek alamat Flying Pig.

Gimana? Masih mau makan babi? Nggak takut haram? Ya udah, cobalah kuliner super enak di sunter, si Flying Pig alias Babi Terbang. Langsung saya kasih arahan jalannya nih. Baik kan.

“sonofmountmalang”

Jogja sebagai kota klathak gurih nyoynyoy – klathak mak adi

20171001_233735

Barisan kerasukan manusia. Tulang-tulang kambing yang kedinginan.

Jogja dijenguk malam. Udara menembus hembus. Setengah dingin. Jalanan mulai kosong. Kehidupan berpusat di Jalan Malioboro dan sekitarannya. Bulan malas di balik tipis awan. Sesayupan pesawat merobek keperawanan awan di malam pekat. Tiada hujan malam ini. Itulah syarat terbaik untuk menyusuri jalanan Jogja. Sekedar mencari sepenggal daging merah ditusuk jari-jari sepeda. Lantas dibakar di atas nyala-nyala bara. Sampai meregangkan aroma sedap ke semesta malam. Nyaring kodok di sawah sisa hujan genangan semalam. Bersahutan demi menyampaikan rasa kasmaran. Harap satu kekasih tertipu. Bercinta hingga membanjiri sawah.

20171001_234015

Warna daging kambing enam bulan. 

Sementara itu.

Di tengah pikuk hirup kodok, aku tak berhenti melepas pandang. Pada daging-daging menyerocos dibakar bara malam. Pada tulang-tulang korban kelaparan sepotong daging kambing. Tengkorak-tengkorak, pipilan daging-daging melekat di pipi kiri, tulang kepala dan lima panca indera. Semakin mengeruk nafsu manusia. Tergiur juga aroma dan warna kuah seribu rempah. Di dalamnya terdiam belulang daging diresapi bumbu rempah, dengan bara membakar lembut di pantat gentong panci besar. Berminyak, gurih dan panas. Kombinasi sempurna bersama kelam dan riang kodok-kodok di persawahan.

Inilah Jogja di malam temaram, Kota Klathak, julukan untuk mereka, kita dan semua pencinta mati sampai mati para kambing-kambing muda, perjaka dan perawan.

Kita terhenti sejenak di Klathak Mak Adi di Jalan Imogiri Timur. Menikmati tongseng gurih, klathak juicy, nasi panas dan siraman manis-manis teh panas.

Kenyang. Pulang. Terlelap.

Selamat mengelathak!

20171001_234522

Beginilah seharusnya malam Jogja dinikmati. Sederhana namun penuh energi kambing. Mbeeeee!

20171001_233728

Tongseng ini siap membuatmu melayang ke langit ke mana saja.

20171001_233821

Siap pesta kambing!

20171001_234651

Gleks!

20171001_233742

Tak usah takut kehabisan.

20171001_233800

Jangan sampai ada yang tersia-siakan dari bagian apa pun kambing ini.

20171001_234159

Teruslah membakar kambing mak adi:))

20171001_234210

Bayangkan aromanya.

20171001_234636

Menantang untuk dihabiskan semalam.

20171001_234626

Gurih. Panas. Juicy. Siapa coba yang bisa menahan godaan maut begini.

20171001_234719

Mereka konsentrasi makan. Laper pak bu?

 

20171001_234705

Sebuah kehormatan nih bisa makan Sate Klathak bareng Director Iklan paling heits sedunia iklan Indonesia:p. Eugene Panji.

“sonofmountmalang”

Makanan laksa paling enak di Cibinong

20170820_135405

Penampakan laksa enak di Pengharapan Cibinong.

Siapa yang suka laksa? Coba tunjuk tangan tinggi-tinggi. Sebelum membahas laksa mana paling enak sedunia. Ada baiknya kita mengenal asal usul laksa. Laksa, menurut mas-mas wikipedia, berasal dari bahas Sansekerta, yang artinya “BANYAK,” hal ini menggambarkan konten pembuat laksa melibatkan banyak sekali bumbu. Laksa sendiri merupakan makanan peranakan. Perkawinan Tionghoa dan Melayu. Makanya dikenal Laksa Penang dan kalau di Indonesia mungkin dikenal dengan Laksa Bogor dan Laksa Betawi. Dalam semangkuk laksa, kamu bisa menemukan lontong, daging ayam, telur ayam rebus, daun seledri, taoge, bihun, dan taburan bawang goreng. Tentunya kuah yang ketika diseruput itu saraf-saraf di lidah langsung memanjatkan doa dan puji-pujian ke alam semesta.

Tapi di sini saya tidak akan membahas Laksa Penang, Bogor atau Betawi, melainkan membahas salah satu laksa tertua di Cibinong. Konon, menurut mertua saya, laksa ini sudah ada ketika ia masih gadis ting-ting. Untuk mengenang masa keting-tingannya itu, dia pun mengajak saya kembali ke masa lalu, menikmati rasa khas Laksa, yang menurutnya itulah laksa paling enak sedunia Cibinong dan dunia perlaksaan.

Maka pergilah saya ke Cibinong, hanya untuk menikmati laksa tertua dan terenak. Nama rumah makannya “RUMAH MAKAN LAKSA CIBINONG PENGHARAPAN” dengan stempel “LAKSA CIBINONG ASLI” selain itu sepertinya laksa palsu.

20170820_141410

Plangnya cukup mencolok. Rumah Makan Laksa Cibinong Pengharapan.

20170820_135915

Kata mertua saya, Rumah Makan Laksa Cibinong Pengharapan ini belum berubah dari jaman baheula!

Menurut kabar yang tersiar, Laksa Cibinong ini sudah ada sejak tahun 50’an. Nah, nggak heran deh ya mertua saya masih gading ting-ting pada jamannya. Cukup tua juga untuk sebuah laksa. Mungkin sudah dioperasikan oleh generasi ke sekian. Kalau kata mertua saya, tidak ada yang berubah. Masih tidak begitu jauh berbeda bentuk rumah makannya meskipun usianya sudah puluhan tahun.

Bagaimana dengan rasanya? Untuk penggila laksa, ini laksa paling enak sedunia, paling enak se-Cibinong juga. Masih otentik dan tidak mengalami perubahan rasa enak dari dulu. Hmmm…! Layak dicoba. Harganya untuk makan bertiga ini tidak sampai 200.000. Dengan rasa yang enak, tidak menyesallah. Menurut saya lhooooo!

Kalau tidak begitu mengidolakan laksa, di Rumah Laksa Cibinong disediakan menu lain, yang tak kalah enaknya dari laksa. Saya mencoba beberapa menu sih dalam proses penggendutan badan setelah dalam setahun diet dan menghilangkan lemak sekitar tiga kilo. Saatnya kembali menggendutkan badan supaya nampak bersisi. Maka dicobalah laksa, soto betawi dan lontong cap gomeh. Ketiga menu ini enaknya bikin lupa daratan. Soto betawainya original menggunakan santan, bukan susu. Damn! Gurihnya sampai ke ubun-ubun. Itu sih koles pastinya. Tuwaks!

20170820_135904

Nggak heran kan perut buncit makannya segini gitu.

20170820_135434

Menu lainnya, soto betawai santan! Asli bikin mouthgarsme!

Jadi gimana? Mau mencoba laksa paling lezat dan paling enak di Cibinong? Cobalah sekali-kali bikin badan kalian gendut kembali di sini. Lokasinya gampang ditemukan, karena ini rumah makan cukup besar dengan plang yang bisa dideteksi mata-mata dengan perut kelaparan.

 

Buat yang penasaran pakai banget! Arahannya, kalau datang dari arah Jakarta lewat melalui Jalan Raya Bogor, posisinya ada di sebelah kanan jalan di jembatan layang. Jadi, kamu harus memutar balik di depan Ramayana. Kalau dari arah Jakarta melalui Tol Jagorawi, keluarlah di Citereup dan mengambil arah Cibinong. Sampai pertigaan belok besar kiri dan memutar balik di depan Ramayana. Ambil jalan menuju samping jalan layang. Pelan-pelan kalau sudah mau mendekati percabangan jalan layang ya. Karena posisinya tidak jauh dari perpecahan tersebut.

Kan jadi laper kannn! Yuk!

 

“sonofmountmalang”

 

Pecel ala Minyak Goreng Hitam!

"Berani makan?"
“Berani makan?”

Teman saya sering mengajak makan di warung pinggir jalan, warung tenda, warteg dan warung-warung pecel-pecelan di pinggir jalan, yang bukanya biasa malam.

Saya sering kali menjawab, “Sorry ya, tubuh gue, tenggorokan gue, udah nggak bisa nerima makan di tempat begituan. Pasti habis itu radang tenggorokan dan batuk.”

Teman saya selalu bilang,”Gaya lu! Biasa juga makan di pinggir got!”

Sebelum saya menyadari kesehatan itu penting, YES! Saya dulu doyan pecel lele, pecel ayam. Setelah sadar, saya sebisa mungkin tidak makan. Bukan masalah ayamnya. Bukan masalah lelenya. Tetapi masalah kebersihannya dan masalah minyaknya.

Menggoda sih. Memang. Sungguh. Semenggoda gorengan abang-abangan yang menjajakan tempe, tahu, pisang dan gorengan lain, dan sekali lagi, saya setengah mampus menahan godaan untuk tidak membelinya. So far cukup berhasil. Sudah lama saya tidak makan gorengan di pinggir jalan itu atau biasa juga ada di depan minimarket.

Lantas, kenapa sih sebegitu gayanya saya tidak mau makan di warung tenda jenis pecel-pecelan.

Pertama, tenggorokan saya sudah tidak bisa menerima gempuran makanan yang digoreng dengan warna minyak yang sudah kaya oli. Coba deh kalian, yang doyan makan di warung tenda, perhatikan minyak goreng di wajan. Seperti apa rupanya. Sementara saya di rumah, minyak goreng hanya dua kali pakai.

Kedua, saya juga kadang suka geli cara mencuci piringnya. Siapa yang tidak pernah melihat dua ember di pojokan belakang tenda. Satu isi ember untuk membilas dan satu ember untuk mencuci. Kebayang kan mau sebersih apa pun, tetaplah bakteri dan kuman ada di ember. Mungkin semakin banyak. Terkadang itu lah yang membuat ketika saya makan terus berpikir cara mencucinya.

Sekali lagi, bukan masalah pecel lele atau ayamnya ya.

Nah, akhirnya. Setelah lamaaaaaa sekali tidak makan hal seperti ini. Teman saya mengajak makan di Benhil. Katanya ada AYAM PENYET enak banget. Di kepala saya sih ayam pencet macam di LEKO sejenisnyalah. Rupanya, ayam penyet di pinggir jalan.

Oke. Saya ragu, namun lapar dan teman saya sudah memesan. Hmmm…!

Saya pesan ayam.

Dan tentu saja dong ya kekepoan saya dengan minyaknya seperti apa. Jadi, saya melihatlah adegan mereka menggoreng. Beneran nih dalam hati saya, bakalan sakit tenggorokan. Mau dibatalin, eh sudah digoreng. Mau nggak dimakan juga gimana jadinya.

Bismilah saja yah. Saya makan dan minum yang banyak.

Tidak perlu menunggu besoknya. Beberapa menit setelah saya makan, tenggorokan mulai protes. Gatal dan seperti ada sesuatu di tenggorokan yang membuat saya batuk-batuk.

Kalau sudah begini, minum vitamin, minum Brand’s Essence of Chicken dan minum air hangat yang banyak. Minum air lemon paginya dan makan gandum plus susu untuk beberapa hari ke depan. Supaya radang tenggorokan tidak terjadi.

Beruntunglah tidak parah efeknya, meksipun tenggorokan saya sampai sekarang masih terasa gatal.

Gimana? Kalian masih berani makan gorengan yang minyaknya sudah menghitam?

*Mungkin tidak semua mereka menggunakan minyak goreng sampai hitam. Mungkin lho ya*

 

“sonofmountmalang”

samsung project (34) Paviliun 28. Bar Jamu. Suwe Ora Jamu

Paviliun 28

Paviliun 28. Bar Jamu. Suwe Ora Jamu

Banyak tempat nongkrong, bergaul, ngobrol dan makan dan sejenisnya di Jakarta. Banyak yang hanya mencari keunikan tempatnya, sementara makanannya super biasa. Banyak juga yang mencari keenakan makanannya dan tempatnya biasa. Banyak yang mencari tempat makannya berbeda dan makanannya enak-enak.

Orang kita itu memang suka sekali mencari sensasi tempat. Semakin unik semakin menarik.

Mau yang unik, berbeda dan bosan dengan nuanasa kekopi-kopian? Cobalah mampir ke sebuah tempat rahasia di Jakarta Selatan. Di tempat ini, kalian bisa menikmati makanan enak sambil nonton minibioskop. Bisa melihat mini workshop atau pameran tentang kreatifitas. Bisa sewa ruangan mini bioskopnya untuk nonton bareng.

Suasananya enak. Santai. Live music dan atmosphere kreatif memenuhi ruangan. Dan kalau kebetulan pemilikinya, Eugene Panji, yang sang sutradara iklan kawakan sedang ada di tempat, mungkin kalian bisa berdiskusi panjang tentang kreatifitas atau film atau movement atau traveling atau apa saja.

Salah satu movement yang dibuat sang pemilik. Mungkin akan ada movement lainnya yang menginspirasi atau mengubah persepsi kita tentang Jakarta.

Mau coba?

Yuk! Mampir ke

Paviliun 28.

JALAN PETOGOGAN NO.25

GANDARIA UTARA

“sonofmountmalang”

Santai Bareng Ranting di Bandung

Churros dan kopi. Siapa yang tidak ingin coba. Bakalan ketagihan ini. Ke Bandung lagi aja yuk! Nongkrong di sini, upper east.

Churros dan kopi. Siapa yang tidak ingin coba. Bakalan ketagihan ini. Ke Bandung lagi aja yuk! Nongkrong di sini, upper east.

Dua bulan tidak ke Bandung, ada banyak hal yang berubah. Bukit-bukit hijau mulai berubah jadi deretan rumah-rumah mewah. Hotel-hotel baru terus tumbuh. Guest house semakin banyak pilihan. Tempat nongkrong ada di setiap pengkolan. Di setiap tanjakan. Kemacetan semakin seru. Polusi semakin tebal. Cuaca semakin panas.

Dan ada satu hal, mungkin, yang tidak berubah. Mojang-mojangnya tetap bening-bening. Halah! Membuat udara Bandung yang semakin panas, rasanya jadi sejuk.

Semoga, pemerintahan Bandung sadar lingkungan dan berhenti mengacak-ngacak ruang hijau di Punclut atau pun Dago atau pun bukit-bukit hijau lainnya yang mampu meredam panasnya Bandung.

Okeh! Lupakan masalah Bandung. Saya cuma warga biasa yang tidak akan bisa mengubah kebijakan pemerintahan.

Seperti saya bilang tadi, setiap ke Bandung pasti ada tempat baru dan kali ini saya, dalam rangka merayakan ULANG BULAN RANTING YANG KE-6, mampir ke upper east café di Dago. Dago merupakan spot favorit saya untuk menginap dan duduk-duduk santai sambil ngopi dan melihat kota Bandung bermandikan cahaya ketika malam tiba.

Romantis, bukan?

Ranting belum mengerti arti nongkrong. Arti romantis. Arti mojang-mojang bening. Ini sih hanya kemauan saya saja. Alesannya Ranting ulang bulan. Ngeks!

Nah, kali ini tempat baru untuk nongkrong, yaitu upper east café. Tempatnya lumayan cozy dan menyajikan menu makanan berat, juga ringan. Plus ada kopi tentu saja. Meskipun tidak fokus pada kopi seperti Kopi Ireng. Dan sekali lagi, di Bandung, belum ada atau tidak ada tempat khusus yang menyajikan kopi-kopi dahsyat. Kali yak! Apa cuma perasaan saya saja.

Tapi kalau untuk urusan tempat nongkrong paling enak dengan pemandangan syahdu, ya Bandung juaranya. Dan yep! Nongkrong di upper east café enaknya saat malam. Berhubung saya bareng Ranting, jadinya hanya bisa siang-siang. Nanti deh ya, kalau Ranting bisa diajak nongkrong malam.

Yuk! Ke Bandung lagi.

Duduk di pojokan. Pacaran yuk di sini.

Duduk di pojokan enak. Pacaran yuk di sini.

Kata Madrenya Ranting, ini enak.

Kata Madrenya Ranting, ini enak.

Mau?

Mau?

Sahabt saya, Virgillyan Ranting Areythuza, selalu heboh kalau liat makanan atau pun minuman.

Sahabat saya, Virgillyan Ranting Areythuza, selalu heboh kalau liat makanan atau pun minuman.

Makan dulu ya. Bubur tepung beras merah. Kok saya berasa kaya emak emak. Ini emaknya kemana nih:))

Makan dulu ya. Bubur tepung beras merah. Kok saya berasa kaya emak emak. Ini emaknya kemana nih:))

Nyicip setengah sendok kopi. Pahit sih, tapi dia doyan.

Nyicip setengah sendok kopi. Pahit sih, tapi dia doyan.

“sonofmountmalang”

Lawang Wangi Lautan ABG Unyu!

Astagaaa! Cute ya. Hahaha! Ini entah siapa. Maaf ya kamu yang kena kamera saya. Habis kamu masuk frame, jadi kefoto. Nggak apa apa ya.

Astagaaa! Cute ya. Hahaha! Ini entah siapa. Maaf ya kamu yang kena kamera saya. Habis kamu masuk frame, jadi kefoto. Nggak apa apa ya. Susah nih kalau punya kamera centil:p.

Selalu ada tempat baru di Bandung setiap tahunnya. Setiap bulannya malah. Tidak pernah ada yang bertahan atau pun abadi di Bandung. Tempat lama akan ditinggalkan. Tempat baru akan diramaikan. Namun ada satu yang tidak pernah berubah di kota Bandung. ABG-ABG masih tetap unyu, lucu, bening dan menggemaskan. Logatnya masih Sunda. Tengok saja sekumpulan ABG di Lawang Wangi, tempat nongkrong yang belumlah terlalu lama. Bahasanya masih Sunda pisan. Obrolannya pun kacau balau. Saya hanya bisa menangkap, misalnya,”Aing. Anying. Bagong sia mah. Lope-lopean. Teuing. Kumaha aing. Gelo eta mah. Budak. Nembak cowok. Tataksiran. Kabogoh. Bobogohan.” Intinyamah, seruhlah nguping ABG ngobrol di Lawang Wangi. Cuma ya begitulah, namanya juga ABG. Kumpulnya cuma berlima, tapi suaranya seolah ada berlima puluh dan nadanya pada tinggi semua euy. Tapi, rupanya, tidak hanya ABG yang bisa heboh, emak-emak, ABG matang sekuliahan, kumpulan ibu-ibu muda dan kumpulan cewek-cowok dewasa pun tidak mau  kalah hebohnya. Lawang Wangi memang membuat semua orang yang datang menjadi ALAY. Hahahahah! Tidak peduli dari kelas mana pun. Untunglah saya menahan diri. Ya iyalah! Saya cuma berdua. Kalau heboh, ntar dikira gilak. Hahaha!

Bandung pun sedang diguyur hujan ketika saya datang. Menyenangkan sekali jika mendapati Bandung dalam kondisi basah! Apalagi berada di atas kota Bandung, seperti berada Lawang Wangi yang berasanya semakin dingin. Begh! Enak kan kalau pelukan di Lawang Wangi. Pelukan di balkon kayunya. Terus ciuman. Terus raba-rabaan. Terus…..! Basah semua! Halah! Ngayal gila!

Sayangnya, tidak ada sajian kopi menarik di Lawang Wangi. Mungkin, pendapat saya, memang tidak banyak tempat nongkrong di Bandung yang memberikan suguhan kopi sehebat di Jakarta. Pendapat saya saja. Paling mending ya Kopi Ireng. Jadi, saya hanya memesan minuman khas Lawang Wangi. Lumayan enak. Lagipula, apa pun yang dipesan di Lawang Wangi tidak lagi menjadi penting. Apa yang penting kemudian, adalah menikmati suasananya, menikmati pacarannya, menikmati pemandangannya, menikmati kabutnya, menikmati senjanya dan menikmai semuanya dengan harga, ya lumayan murah.

Berhubung Lawang Wangi semakin kaya pasar ABG, saya melipir ke Kopi Ireng. Sepi, dingin dan berkopi. Kurang asiknya, setiap kali ke Kopi Ireng, lagu yang diputer suka tidak nyambung dengan suasananya. Rock Melayu macam ST12lah, Peterpanlah dan musik sejenisnya. Harusnya, menurut saya, nuansa di Kopi Ireng itu bermusik sejenis Bossa Nova atau Light Jazz atau minimal Norah Jones-lah. Hujan, dingin dan kopi, apalagi coba kalau bukan jazz. Musik melayu is last century. Sorry ya, mas bro. Ini masalah selera. Hahaha! Pret!

Cukup di Kopi Ireng, saya pun kembali melakukan program pembuncitan perut di Warung Setiabudi dengan mengunyah SURABI PISANG COKLAT KEJU dan BAJIGUR! Begh! Teman hujan deras di kota Bandung memang pas banget makan beginian. Nikmat pisan atuh neng! Apo seh!?

Kenyang? Sudah. Kedinginan? Sudah. Cuci mata melihat ABG? Sudah. Ngopi? Sudah. Saatnya kembali menuju Jakarta. Eh, pas mau pulang, berpapasan sama KOPI ANJIS. Apalagi itu? Mampir nggak ya mampir nggak ya mampir nggak ya? Nggak mampir. Next time saya coba, ada apa di KOPI ANJIS? Apakah berisikan ABG-ABG unyu yang berhamburan dari Maranata? Entahlah. Masih misteri. Pret!

“sonofmountmalang”

6haridiBali (18) Membeli Mimpi di Warung Mimpi

Beli mimpi dapat uang segunung yuk!

Beli mimpi dapat uang segunung yuk!

Flexible Traveler. Itu paham atau pun agama atau aliran traveling yang saya anut. Saya bebas mau treveling ke mana saja. Hutan? Ayo! Gunung? Ayo! Pantai? Ayo! Desa, kota, sungai, pelosok dan apa saja ayo! Menginap di hotel bintang lima, empat, tiga, dua, satu sampai tak ada bintangnyapun hayok! Termasuk urusan makan. Hari ini kalau ada duit, makan di tempat mahal. Minumnya boleh bir atau wine atau minum emas kalau perlu juga boleh! Besoknya, makan di emperan jalan, asal bersih tentunya, juga hayo!

Nah, kebetulan sekali, berhubung juga dompet udah kejang-kejang tidak karuan, saya diputuskan oleh kondisi dompet untuk makan di tempat murah meriah. Saya mencari sarapan kesiangan sekaligus makan siang juga di sekitaran jalanan Pati Jelantik, tempat saya menginap.

Ditemukanlah Warung Mimpi. Lucu juga ya namanya. Jangan-jangan dia menjual segala jenis MENU MIMPI. Menu mimpi keliling Indonesia. Menu mimpi punya resort pribadi dan menu mimpi-mimpi lainnya. Ngimpi aja sih. Toh, dia tidak menjual mimpi juga. Warung Mimpi menjual menu-menu sederhana untuk perut khas orang Indonesia dengan melihat kondisi keuangan traveler yang ingin sedikit ngirit.

Saya pun makan lahap. Berdua. Tentunya. Bersama partner jalan-jalan saya sekere sepenanggungan. Meskipun menunya sehat-sehat sederhana dan minumnya teh tawar hangat, anggap saja makan di Warung Mimpi itu sedang bermimpi menyantap masakan ala-ala eropa kelas bintang lima sebuah hotel di Seminyak, dengan minuman segelas wine dicampur bir dicampur Kang Jack Daniels. *oplosan absurd*

Jadi, buat kalian yang menganut aliran Flexible Traveler dan sedang menginap di sekitaran Seminyak dengan kondisi dompet ayan-ayan kejang, silakan mampir di Warung Mimpi.

Menunya sangat Indonesia sekali. Sangat Jawa sekali tepatnya.

Menunya sangat Indonesia sekali. Sangat Jawa sekali tepatnya.

Kelaparan dan nggak mau melihat kamera.

Kelaparan dan nggak mau melihat kamera.

Ini menu sehat saya. Yuk!

Ini menu sehat saya. Yuk!

“sonofmountmalang”

6haridiBali (17) Tekorkan Dompet di Tekor Double Six

Ayo makan di tekor biar dompetnya tekor.

Ayo makan di tekor biar dompetnya tekor.

Rupanya, perjalanan #6haridiBali itu belum kelar saya tulis semuanya. Masih banyak tempat-tempat yang belum diberitakan. Seperti Tekor Bali ini, yang posisinya ada di Double Six.

Di sini banyak disediakan menu-menu lokal khas Bali, juga ada menu ala Barat. Untuk hidangan lokalnya enak-enak. Harganya lumayanlah. Tidak terlalu mahal, juga tidak terlalu murah. Pas di kantong dan kenyang di perut.

Kalau ke Tekor ini jam-jam makan malam, misalnya jam 7an, siap-siap waiting list sampai 20 oranganlah. Lumayan laku dan ramai. Spot enak untuk ngobrol atau minum-minum santai.

Saya kebetulan memesan AYAM BETUTU. GRENG! Itu rasanya enak! Dan kenyangnya minta ampun. Untuk ukuran perut saya yang tidak bisa makan banyak, ayam betutu sebesar anak babi sih terlalu besar. Mungkin untuk kalian yang tidak begitu terbiasa makan banyak, pesan satu ayam betutu bagian dada untuk berdua sih pas, ditambah menu-menu ringan lainnya.

Tapi kalau bisa, cobalah pesan BEBEK BETUTU dengan bumbu pedas. Saya jamin! Kalian bakalan orgasme di tempat, kemudian setelah kenyang bisa nyebur ke Pantai Legian. Gimana? Mau BEBEK BETUTU? Atau AYAM BETUTU? Putuskan sendiri ya:p

Partner saya lagi nggak mau diganggu. Dia lapar berat katanya.

Partner saya lagi nggak mau diganggu. Dia lapar berat katanya.

Ayam betutu. Mau?

Ayam betutu. Mau?

Saran saya sih ya, buat yang suka bebek, cobalah bebek betutunya. Siap loncat-loncat deh tuh cacing di perut kegirangan.

Saran saya sih ya, buat yang suka bebek, cobalah bebek betutunya. Siap loncat-loncat deh tuh cacing di perut kegirangan.

Dan, sepertinya masih banyak nih sisa-sisa jalan-jalan yang belum terposting. Hihihihi!

 

sonofmountmalang