Pengalaman Melihat Penampakan Sebuah Kerajaan Halimun dengan Keraton Perak di Tebing Keraton Bandung

20171003_054926

Spot Tebing Keraton. Dikasih pagar jadi nggak menarik ya, tapi ga dikasih pagar juga banyak orang bisa mati kepeleset, meski begitu ya banyak juga yang m

Di pagi-pagi buta sekali, ketika itu, di Kota Kembang, saya berangkat dari Fave Hotel Ciampelas menuju ke arah Tebing Keraton di Ciburial. Sepanjang perjalanan, saya ngobrol dengan sopir orang Bandung, Kang Ibing namanya, biasa dipanggil temannya Bibing. Kang Bibing sempat bertanya tujuan saya dan teman-teman pergi ke daerah Ciburial untuk apa. Saya bilang dong, buat keperluan stock tayangan Diplomat Success Challenge 2017 di TV ONE. Tanpa ditanya apa-apa lagi, Kang Bibing cerita soal kemistisan Tebing Keraton. Oh ya? Mistis? Mistis kenapa? Teman-teman saya mulai penasaran. Maklum, teman-teman saya ini lebih percaya tahayul ketimbang percaya cerita berlogika. Tapi nggak apa-apa lah, pengen denger juga gimana cerita mistis Tebing Keraton.

Menurut Kang Bibing, sebelum namanya menjadi Tebing Keraton, penduduk sekitar, dulu, lebih mengenalnya sebagai Cadas Jontor atau Pasir Jontor. Mungkin maksudnya Jontor itu semacam benjolan atau tonjolan yang menjorok ke jurang. Seiring berjalannya waktu kekinian, terjadilah hal-hal gaib yang menimpa warga setempat yang sedang berada di lokasi. Kejadian apa? Kesurupan karena melihat hamparan keraton dari atas Pasir Tonjor. Ah elah! Halu kali tuh warga abis nelen Magic Mushroom, gerutu saya dalam hati. Eh, teman-teman saya makin penasaran dengan cerita gaib, jadilah mereka banyak nanya ke Kang Bibing. Dengan senang hati pun Kang Ibing bercerita banyak.

Kang Bibing, sambil melajukan kendaraannya di kegelapan dinginnya kota Bandung, terus bercerita soal kegaiban Tebing Keraton. Katanya, tidak hanya satu dua orang yang melihat keraton dari Pasir Tonjor. Sudah beberapa warga melihatnya tanpa sengaja, dan setelah melihatnya, warga tersebut pun mendadak kesurupan. Kesurupan penunggu Tebing Keraton. Saya manggut-manggut kesel. Karena saya tidak suka cerita tahayul ngawadul. Kemudian, Kang Bibing bercerita lagi, katanya, dulu, ada warga setempat bermimpi didatangi penunggu Tebing Keraton. Penunggu ini meminta warga menyerahkan setandan buah kawung alias buah caruluk alias buah pohon aren. Warga setempat mengartikan mimpi tersebut sebagai permintaan tumbal atas nyawa manusia sebanyak tandan buah kawung. Suka-suka aja mengartikan mimpi yah.

Selain meminta warga menyerahkan setanda buah kawung, penunggu Pasir Jontor juga meminta warga mengganti nama tempat tersebut. Nama itu harus diganti sesuai dengan kemistisan yang selama ini dilihat beberapa orang yang datang dan warga setempat. Namanya harus menjadi Tebing Keraton. Bisa ajeee yeee penunggu punya ide.

Teman saya, yang sangat penasaran dengan kegaiban Tebing Keraton, bertanya dong ke Kang Bibing.

“Kita bisa melihat keraton?”

“Oh, nggak semua orang bisa melihat. Hanya orang-orang pilihan.”

“Yah, nggak seru donk,” balas saya nyinyir.

“Tapi, ada satu caranya, supaya bisa melihat keraton.”

“Gimana caranya?” Semua serentak bertanya.

Kang Bibing melanjutkannya. Katanya, pertama-tama, sebelum memasuki pintu gerbang, kita harus mengusap wajah kita sebanyak tujuh kali. Lalu memungut dua bunga puspa. Bunga puspa tersebut harus diusapkan ke kelopak mata sebanyak tujuh kali sambil meminta izin dalam hati untuk bisa melihat keraton ke penghuni Tebing Keraton. Biasanya, kalau sudah mengikuti petunjuk itu, hampir semua yang melakukannya, pasti melihat kerajaan di bawah Pasir Tonjor. Namun, semua itu harus dilakukan sendirian, tidak boleh berbarengan dan dilakukan sebelum matahari terbit serta ayam berkokok. Itu artinya harus dilakukan sekitar jam empat atau setengah lima. Ya, paslah. Toh, jalan dari hotel setengah empat.

Cerita Kang Bibing berhenti di lokasi parkiran Hutan Juanda. Katanya, mobil tidak bisa dan tidak boleh naik sampai ke lokasi dekat pintu gerbang Tebing Keraton. Dari parkiran semua pengunjung wajib memakai jasa ojek PP sebesar 40.000/orang. Lumayan yah, padahal biaya masuk ke Tebing Keraton tidak semahal itu pun per orang. Itu sih namanya memaksakan dalam kesempatan. Ya, nggak apa-apahlah. Namanya juga cari uang. Sah-sah saja bagi warga sekitar dan kecuali mau jalan kaki, silakan saja.

Saya dan teman-teman tiba di pintu gerbang itu sekitar setengah lima. Jalanan masih gelap dan sepi. Penduduk sekitar masih tidur di dinginnya Desa Ciburial dan warung penjaja makanan ringan pun ditinggal tiduran sang pemilik. Teman-teman saya, yang percaya tahayul habis-habisan ini rupanya tidak berani berjalan sendirian ke pintu gerbang yang masih tutup. Penjaganya masih harus dipanggil petugas. Ketika saya tanya, kalian beneran mau melihat keraton? Mereka geleng kepala sambil bilang, “Loe aja kalau mau!”

20171003_050708

Warung di subuh buta.

Ya, sudah kalau begitu. Saya melakukan ritual seperti Kang Bibing instruksikan. Sendirian di pintu gerbang sesaat setelah mendapatkan bunga puspa yang berguguran di tepi jalan. Tiba-tiba, beberapa detik setelah melakukan ritual dan membuka mata, saya melihat sesosok hitam besar tinggi di hutan dekat gerbang. Sesosok itu menatap saya dengan tajam di gelapnya hutan dengan pohon-pohon puspa tinggi. Sesosok itu melambaikan tangan sambil bicara pelan, namun suaranya terdengar berbisik di telinga saya, “Ayo, datanglah melihat kerajaan halimun.”

Saya melihat balik badan ke teman-teman yang sedang duduk di warung sambil merokok. Saya teriak, “Oiii! Di sini ada orang nih, badannya gede tinggi hitam dan nyuruh kita masuk!”

Mereka kesel,”Apaan sih lo! Nakut-nakutin aja!”

Saya bilang, “Seriusan iniiii!” ketika balik badan, sesosok itu sudah hilang.

“Auk ah!” mereka beneran ketakutan. Lhaa, katanya mau melihat keraton.

“Tunggu gerbangnya dibuka penjaga aja sama agak terangan dikit!” teriak mereka dari warung. Jarak saya dari gerbang ke warung itu hanya berjarak sekitar 20 meteran. Dan jarak pandang saya dari gerbang ke gelapnya hutan di Pasir Jontor itu ya 10 meteran.

Saya dan beberapa teman saya akhirnya menunggu penjaga gerbang Tebing Keraton itu sekitar setengah jam. Artinya, ya sekitar jam lima lebih, saya baru bisa masuk ke areal Tebing Keraton. Teman saya pun tidak berani langsung menuju ujung Tebing Keraton. Sementara saya, karena ingin melihat kerajaan dengan keratonnya, langsung menuju ke ujung tebing.

Percaya tidak percaya, di remang-remang subuh jelang pagi buta, saya melihat hamparan keraton sebuah kerajaan megah yang disebut sebagai Kerajaan Halimun. Semua serba keperakan. Ini mungkin keraton yang dibangun dengan perak dan kental sekali atap bangunannya dengan warna hijau. Lampu-lampu di beberapa sudut ujung keraton kerlap-kerlip menyala. Lalu lalang orang-orang menunggani kuda. Rupanya itu penjaga Kerajaan Halimun. Di salah satu bangunan paling megah, terparkir kereta kencana yang semua meterialnya terbuat dari silver berkilau. Mereka nampak memiliki kehidupan sendiri. Seperti berada di dunia kita, namun mereka masih dalam bentuk kerajaan. Seluas mata memandang.

Ckckckc! Saya berdecak. Baru kali ini melihat sebuah kerajaan megah. Pantas saja disebut Tebing Keraton dan penunggunya sangat ngebet banget ingin nama Pasir Jontor diganti namanya dengan Tebing Keraton, karena memang dari ketinggian tebing ini, saya bisa menyaksikan sebuah keraton megah. Merinding sekaligus takjub. Tak disangka, dalam hidup bolak-balik ke Kota Bandung, yang memang secara sejarah merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Pasundan, baru kali ini bisa melihat kerajaan lengkap dengan keratonnya.

Namun, ketika sedang menikmati hamparan indahnya Kerajaan Halimun, tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “YUK FOTO BARENGG DONG!”

Sekejap saya melihat ke belakang, rombongan alay sudah tiba dan mereka mulai foto-foto sambil membuka baju, dan ketika saya membalikkan badan ke arah jurang, hamparan keraton masih ada. Cahaya siang pun rupanya sudah datang. Semburat fajar perlahan menyalak di balik gunung. Hamparan di jurang pun nampak tetap megah. Kerajaan Halimun masih tampak semakin jelas dibantu cahaya pagi. Namun, seiring berjalannya matahari pagi, Kerajaan Halimun akan perlahan menghilang. Karena memang mereka hanya akan menampakkannya pada pagi buta sampai matahari pagi saja. Esoknya akan kembali menampakkan diri lagi.

20171003_052153

Panorama Kerajaan Halimun dari Pasir Jontor.

 

20171003_061057

Pengunjung sedang menikmati Kerajaan Halimun. Sebagian sibuk ngedit untuk postingan di media sosial, dan sebagain sibuk foto-foto.

20171003_061104

Lihat kan, ini yang disebut Kerajaan Halimun dan Tebing Keraton merupakan menara pandang sang Kerajaan Halimun. Ehhh!

20171003_054247

Di bawah ini mengalir sungai dan terdapar air terjun kalau kalian menyusuri jalan setapak dari Hutan Juanda.

20171003_054304

Inilah Batu Jontor. Bahaya memang berdiri di sini, tetapi begitulah tantangannya dan di sini spot paling keren buat selfie. Weeee. Di bawahnya terdapat pertanian dan balong kayanya. Mungkin itu pertanian milik Kerajaan Halimun.

20171003_054339

Terpikir juga akhirnya membeli tanah di hutan pinus, tepat di sisi sungai. Bikin rumah langsung menghadap sungai. Isi salmon yang banyak dan bisa sarapan pagi salmon langsung mancing dari sungai. Kaya beruang gitu lah.

20171003_051914

Terbit matahari di timur ini akan segera menguapkan Kerajaan Halimun di bawah Pasir Jontor atau Tebing Keraton.

20171003_051933

Enter a caption

20171003_052834

20171003_052847

Nah, ini penampakannya.

20171003_052939

Rumah penduduk sebagian ditutupi halimun.

20171003_053523

Kan lihat kan Kerajaan Halimun begitu jelas di sini.

20171003_053636

Cahaya datang, kerjaan hilang.

20171003_055818

Bikin ayunanlah di sini.

20171003_055650

Bunga liar, namun tak seliar Bunga.

20171003_054353

Semua hanya sesaat.

20171003_052449

Nyembah alam semesta.

20171003_060209

Bercahayalah.

20171003_053244

Imut kaannnn?

20171003_054541

Ngopi sasetan.

 

20171003_052557

Semakin siang Kerajaan Halimun semakin hilang.

Gimana? Kalian percaya kan dengan cerita kemistisan Pasir Tonjor atau disebut juga Tebing Keraton yang disebarkan dari mulut ke mulut dan bikin orang penasaran? Atau, kalian percaya kan dengan penglihatan saya di Pasir Tonjor?

 

Kalian harus percaya, di Pasir Jontor atau Tebing Keraton, memang ada penampakan Kerajaan Halimun. Alias Kerajaan Kabut. Karena di hutan pinus itu, setiap pagi akan diselimuti kawanan kabut, hingga nampak hanya pucuk-pucuk pohon pinus yang terlihat. Soal kerajaan sesungguhnya, itu hanya karangan manusia, yang kebenarannya tidak pernah ada bukti visual dan terekam oleh alat apa pun.

Jika ditelaah secara logika, spot ini memang spot lumayan untuk selfie. Meski bukan spot terbaik di Bandung pun, menurut saya. Saya lebih suka Dago Pakar dan Dago Atas atau Bukit Moko jika bicara spot di Bandung untuk melihat pemandangan keren. Karena spot ini lumayan oke untuk selfie sementara, haruslah diciptakan kisah, supaya orang penasaran dan supaya orang tertarik. Begitu kan mekanisme untuk menarik minat wisatawan lokal. Harus dikasih bumbu mistis, gaib dan sedikit dikasih “penghuni” supaya orang-orang yang sukanya sembarangan berperilaku, sedikit bisa ngerem dan lingkungan di Pasir Tonjor pun bisa terjaga dengan baik. Ah, tidak juga. Alay-alay itu buang sampah bekas botol air mineral ya seenak udelnya aja. Memanjat pagar pengaman dan berdiri di Batu Jontor, yang sewaktu-waktu bisa menggelinding, ya dilakuin juga. Jadi, cerita mistis di Tebing Keraton rupanya tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap perilaku pengunjung.

Buat kalian yang memang penasaran dengan Tebing Keraton, demi juga menghidupkan spot-spot wisata di negeri ini, datanglah dan sekedar pamer diri di Instagram atau pun sosial media. Kan memang begitulah generasi milenial. Datang, cari spot bagus, cekrek, edit dan sebarkan. Weeee!

Hepi wiken dan gunakan akal sehat, jangan seperti kasus tabrak tiang listrik yaaa akalnya! Ehhh!

20171003_060011

Jendela rumah kita kelak beginilah. Amiiinnnn!

“sonofmountmalang”

Advertisements

Penampakan di Curug Cigamea yang Bikin Semua Orang Penasaran Berdatangan

20171029_105858

Penampakan dari jauh Curug Cigamea.

Curug, di beberapa daerah di Jawa Barat selalu memiliki cerita mistis, berpenghuni, didiami sesosok asing semacam hantu, jurig, ririwa dan menjadi tempat mandi bidadari ketika pelangi sehabis hujan melengkung dari utara ke selatan. Di kaki Gunung Malang, dulu, ada satu curug, yang kalau tengah malam tiba pasti terdengar suara perempuan mandi, berenang dan tertawa-tawa kegirangan. Jika dilongok menggunakan senter, suara hilang seketika dan besoknya yang nengok sawan alias demam. Itu di kaki Gunung Malang, berbeda lagi dengan penampakan di salah satu curug di Bogor, yaitu Curug Cigamea.

 

Kaya apa ceritanya dan penampakannya? Kita baca dulu tulisannya sambil menunggu visual penampakan di Curug Cigamea.

Curug Cigamea terletak di Pamijahan, Bogor, Gunung Bunder atau lebih banyak juga orang bilang Gunung Salak Halimun. Tidak jauh dari pintu gerbang selatan jika kalian masuknya melewati gerbang selatan. Kalau arah dari Jakarta sih enaknya lewat pintu gerbang utara. Melewati pintu gerbang utara alias Jalan Gunung Bunder itu lebih enak, kenapa? Karena banyak spot untuk berfoto dan berhenti menikmati suasana hutan. Kalau melewati gerbang selatan, cenderung lebih ramai dengan vila-vila dan rumah penduduk dan lebih padat kendaraan serta bis. Saya sarankan masuk melalui pintu utara sih. Kecuali bulan-bulan November 2017 ini. Tidak disarankan masuk lewat gerbang utara. Karena sedang dibeton jalan menuju ke hutan dan di dalam hutannya. Jadi mau tidak mau harus melalui gerbang selatan.

Curug Cigamea tidak jauh dari gerbang selatan. Curug dengan track paling manusiawi rasanya. Sudah diberi jalan setapak dan anak kecil pun bisa berjalan. Cuma memang ada sedikit masalah di beberapa wisata Gunung Bunder. Masuk per orang itu sekitar 10.000 per orang ditambah tiket mobil 15.000/mobil. Kemudian ketika sampai di lokasi parkir Curug Cigamea, akan diminta lagi parkir mobil 10.000 dan tiket masuk per orang/10.000. Berlapis ya bayar membayar saja. Apa susahnya dikelola pemerintah dan kemudian dibuat bagus dan pembayaran satu pintu. Ehhh, lupa kalau kita tinggal di Indonesiaaaaa, sodara-sodaraaa!

Lalu, penampakan seperti apa yang seringkali muncul di Curug Cigamea? Penasaran?

Inilah penampakan di Curug Cigame…..!

Landscape Cigamea

Penampakan di Curug Cigamea.

 

20171029_114028

Ternyata debit airnya tidak begitu besar.

20171029_113027

Penampakan di Curug Cigamea.

20171029_112836

20171029_110841

Penampakan di Curug Cigamea.

20171029_111344

Bias kesannya sepi, padahal di bawah jejeritan bocah sama alay-alay rindu air.

20171029_111635

Nggak bisa ya ditata dengan rapih dan bersih.

20171029_112258

Penampakan di Curug Cigamea.

Landscape 2

Mau nyebur?

20171029_113630

20171029_113213

Coba ya kali di Jakarta kaya begini.

Landscape CIgame 2

Penampakan di Curug Kembar Cigamea.

20171029_114036

Bak mandi segede gini. SIapa mau?

Landscape Cigamea

Penampakan di Curug  Kembar Cigamea.

Penampakannya itu dalam bentuk manusia. Mereka bahagia sekali main di curug. Seolah-olah tidak pernah melihat air sebanyak itu. Hahahha! Kasihan yah. Weee! Di Curug Cigamea bisa dikatakan karena paling mudah diakses, jadi paling ramai pengunjung. Mulai dari orang tua, sampai anak-anak. Mereka tidak ingin bersebentar main di curug.

20171029_110836

Curug Cigamea.

20171029_113128

Enter a caption

20171029_111642

Semua orang sibuk foto.

20171029_111826

 

20171029_11214220171029_112150

Buat kamu yang energinya masih gede dan napasnya sekuat kuda, disarankan janganlah ke Curug Cigamea. Terlalu mudah dan terlalu ramai. Cobalah ke curug yang tracknya lebih susah dan menantang. Curug apakah itu? Tunggu jalan-jalan saya ke curug selanjutnya.

Cat. “Foto hasil Samsung S8 memang tidak bisa menyaingi DSLR, hanya saja pakai Smartphone ini segalanya jadi lebih praktis dan ringan dibandingkan harus bawa-bawa DLSR sebagong.”

 

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjuangan ekstra tenaga ekstra hati-hati di wisata alam Curug Seribu – Gunung Bunder


20171029_100849

Kalau kalian suka main di dingin-segarnya air berlimpah ruah sampai puas kedinginan, coba saja datang ke Gunung Bunder, Bogor. Kalian bisa bermain dari satu curug ke curug lainnya semampunya kalian.

Salah satu curug di Gunung Bunder yang wajib kalian kunjungin adalah Curug Seribu. Kenapa disebut Curug Seribu? Apakah di satu lokasi itu ada sekitar seribu curug? Atau biaya masuknya seribu? Atau ada cerita lain soal seribu?

Alkisah, jaman dulu, jauh sebelum Gunung Bunder menjadi tempat wisata untuk umum, banyak sekali cerita yang menyelimuti curug ini. Banyak yang bilang, di curug ini sering kali orang hilang begitu saja. Sering kali tiba-tiba yang datang melewati curug ini kesurupan. Bahkan banyak juga yang melihat penampakan. Cerita-cerita mistis berseliweran bertemakan curug ini dipelihara oleh penduduk di sekitar Gunung Bunder. Karena terlalu banyak cerita, kisah, kejadian dan hal-hal berbau gaib, maka lahirnya nama Curug Seribu. Seribu kisah mistis, seribu korban hilang dan seribu kejadian yang tidak bisa dijelaskan dengan akal waras.

 

20171029_102036

Tentukan pilihamu. Mau ke curug manakah? Curug Seribu atau Curug Sawer.

Curug Seribu, salah satu raksasa air yang terjun bebas dari ketinggian, menghajar dasar berbebatuan tanpa ampun, melahirnya cekungan dalam dan gulungang-gulungan disertai gemuruh tiada henti. Jika tidak bisa berenang, jangan SOTOY berenang di Curug Seribu. Bukan karena kemistisannya, akan tetapi ketidakberdayaan wisatawan amatiran menghadapi arus dan dalamnya Curug Seribu.

Untuk sampai di Curug Seribu pun tidak semudah kita jatuh cinta, tetapi sesulit mendapatkan cinta dari rasa jatuhnya kita pada seseorang. Perjuangan jatuh bangun, turunan terjal, batu-batu tajam dan pijakan-pijakan serapuh kita saat jatuh cinta dengan brutal. Batu-batu terasa licin berair-berlumut, seberlumut jomblo kalian berharap cinta datang begitu saja. Terkadang bisa saja kita terpeleset ke jurang, berbatu terbentur kepala hingga hilang akal dan mati seketika jika saja kalian tidak bisa menemukan pegangan untuk hidup. Tidak mudah memang jalan menuju Curug Seribu. Hati-hati di atas jalanan berbatu licin, turunan tangga kayu dan menyusuri setapak jalan di sisi tebing, di sisi jurang. Aturlah napas seperti ketika bercinta, tetap fokus ke jalan. Berpegang erat-erat seperti pertama kali orgasme di atas ranjang. Terus melaju seperti saat kalian mengejar perempuan, apa pun yang terjadi, apa pun bisikan dari sekitar dan apa pun suara di depan. Karena hanya itulah cara menuju Curug Seribu.

20171029_100626

Di beberapa spot dikasih spanduk peringatan.

Membutuhkan waktu sekitar satu jam dari tempat mobil terparkir. Menyusuri setapak jalan dengan aroma khas hutan, aliran sunga-sungai kecil, yang jika kalian haus, bisa segera diminum untuk membasahi tenggorokan dan menyegarkan lelahnya hidup kalian.

Di beberapa turunan terjal, saya berpapasan dengan beberapa anak muda. Mereka selalu bertanya hal sama, “Bang, sendirian aja bang? Nggak takut, bang? Di curug sepi lho bang.”

Dengan santai, saya bilang, “Udah biasa sendirian.” Salah satu di antaranya nyeletuk, “Yahh, jomblo nih si abang.” Dalam hati saya, “Bodo amattt!” sambil melanjutkan perjalanan.

Di satu spot, terdapat pos kecil. Di sanalah kita harus mendaftarkan diri dan membayar karcis 10.000. Ketika ditanya kenapa didata, katanya kalau hilang, kita tahu siapa namanya dan kalau mayatnya ketemu, minimal kita tahu harus dikirim ke mana. Hahaha! Sa aje kuya!

Setelah berjalan santai, mulai terdengar gemuruh keras. Pastinya sudah dekat. Oh, ternyata masih jauh. Suara gemuruhnya nyaris terdengar di jarak 500 meter. Saya semakin tidak sabar ingin segera melihatnya dan segera bercinta sampai lemas. Ahahah! Skandal MAKE LOVE di CURUG SERIBU.MP4 dong jadinya yah. Tolong jangan disebarkan kaya kasus seks anak UI dan anak Samarinda yang sedang nge-heits yaaaaa. Lagian saya tidak bercinta pun dengan siapa pun di Curug Seribu, hanya bersenggama bersama alam semesta, air yang mengalir deras dan bebatuan.

Gemuruh semakin kencang dan cahaya matahari mulai terang di depan. Ketika sampai di gerbang terbuka Curug Seribu….

20171029_094924-01

Selamat datang Curug Seribu, dan nikmatinya dinginnya serta gemuruhnya yang bikin bulu ketek kalian menciut.

Selamat bermain air dan cobalah untuk TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN! Kalau buang sembarangan di Curug Seribu, gue doain kelelep! Kesel sama yang buang sampah sembarangan dan juga nggak dibersihkan sama pihak yang berwenang. Sekian….!

*Semua foto dan video menggunakan SAMSUNG S8.

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tempat nongkrong di Yogya untuk kamu yang memang tidak ingin MOVE ON!

20170930_232021

Di MOVE ON cafe ini, kalian semua bisa makan gelato segala rasa sampai kehilangan rasa.

Inget Yogya, inget belasan tahun lalu pernah mengalami rasanya perjatuhan hati berlama-lama sampai tidak bisa move on ke mana-mana. Perasaan kami seperti diberi perekat. Tak pernah bisa saling melepaskan diri. Itu kan belasan tahun lalu, ketika usia kami masih belia, berbalut seragam putih biru dan masih meminta uang jajan ke orang tua. Jrottt! SMP udah jatuh cinta aja gitu. Kelam banget hidup kita ini sissss!

Tapi, itu kan belasan tahun lalu. Kini, kita semua sudah semakin dewasa, matang dan tuwak! Tahu bagaimana caranya MOVE ON dari kehidupan masa lampau.

Jadi dimungkinkan Yogya itu kota Jatuh Cinta padat romantika kita berdua. Kita? Gue doank kelesss maksudnya. Ya, anggaplah saja begitu. Lupakanlah. Makanya hadirlah tempat nongkrong MOVE ON di Yogya. Bisa jadi untuk kalian yang ingin MOVE ON atau buat kalian yang tidak ingin MOVE ON. Buat kedua-duanya, di sinilah kalian bisa menikmati KETIDAKMOVEAN kalian. Ditemani menu keukopian, eh kayanya pernah denger tuh brand keukopian. Jualaann! Atau ditemani beubiran. Supaya sedikit romantis berbau manis, bisa juga menikmati keberduaan bersama geugelatoan segala rasa. Mulai dari Strawberry sampai Whiski. Tidak bikin mabuk kepayang, namun cukup mabuk cinta.

Susana hangat di sini begitu terasa di setengah remang-remang kota Yogya bernapas angin sendu menerpa rambutmu yang cantik. Ta elahhh! Bang! Rambut mana ada yang cantiikkkk! Ya, begitulah intinya. Kalian paham kan?

Jadi buat kalian yang ingin suasana kekinian di Yogya dan menghabiskan semua obrolan ngalor ngetan dalam semalam, mungkin MOVE ON CAFÉ YOGYA bisa jadi pilihan. Untuk kalian yang nggak bisa MOVE ON dan ingin MOVE ON. Haisshhh!

20171001_011015

MOVE ON CAFÉ YOGYA
Jl. Prawirotaman No.4-10, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153

20170930_231947

Karena hidup adalah quote. Eh, siapa tuh dua gadis Yogya.

20170930_232006

Nah, ini calon pengunjung yang ingin move on.

20170930_232029

Gelato yang nggak bikin move on.

20170930_232040

Kamera bergetar lihat sesuatu di sini.

20170930_232050

Tempatnya enak buat sendirian, berduaan, bertigaan dan ramaian.

20170930_232121

Bisa memesan kopi pun di sini.

20170930_232316

Paling enak beli bir dan kemudian dimasukin gelato. Kebayang kan horny-nya minum beginian. Heeehhh!

20171001_010618

Kalian akan merasa hangat masuk sini meskipun hati kalian sedang dingin.

 

“sonofmountmalang”

Bahagia itu sesederhana ketika bisa main di sawah sampai puas!

20171001_080400

Adem kaaann. 

Dulu…

Di kaki Gunung Malang, duluuu sekali, sawah tidak bisa lepas dari kehidupan penduduknya. Hampir semua penduduk memiliki sawah. Baik di depan rumah, sisi rumah atau pun belakang rumah. Bahkan yang jauh dari rumah pun banyak. Sawah di kaki Gunung Malang menjadi salah satu sumber penghidupan penduduk. Seperti halnya kebun teh, cengkeh dan kopi, sawah sangat penting bagi kehidupan penduduk di kaki gunung.

Selain menjadi sumber penghidupan yang bisa menghasilkan padi, sawah juga menjadi tempat kucing-kucingan, petak umpet dan keseruan lainnya bagi anak-anak di kaki Gunung Malang. Untuk bisa menjadi tempat petak umpet atau kucing-kucingan, penduduk menggarap sawah dengan beberapa tahapan. Mulai dari membajak, menebar benih sampai panen, semua anak-anak di kaki Gunung Malang pernah mengikutinya.

Tahapan pertama, menabur benih di sepetak sawah. Kalau sudah menabur benih beberapa hari dan benihnya sudah mulai tumbuh dengan baik, pemilik sawah melakukan tahapan kedua, yaitu membajak sawah dulu. Nah, membajak sawah di kaki Gunung Malang biasa menggunakan dua cara. Menggunakan tenaga manusia dan tenaga kerbau. Kalau sawah sudah dibajak, biasanya dibiarkan dulu beberapa hari.

Setelah beberapa hari, sawah sudah terairi dengan baik dan benih sudah tumbuh sekitar 20 centi meter, maka dikerahkan ibu-ibu untuk menanam pagi di sawah-sawah yang sudah dibajak tadi. Biasanya, seluruh sawah serentak ditanam di hari atau minggu yang sama. Tujuannya, selain bisa panen serentak, juga mengatasi hama serentak.

Selama beberapa bulan, para pemilik sawah mengawasi tanaman padinya. Memberinya pupuk. Mengontrol air. Menyiangi rumput liar. Sampai semuanya sempurna ke tahap siap panen.

Jelang ketika padinya sudah meninggi, itulah momen seru untuk bermain di sawah. Main petak umpet atau lebih seru lagi main kucing-kucingan. Jangan heran kalau setiap habis main di sawah kena omelan ibu. Baju pasti berubah warna menjadi coklat tanah dan penuh lumpur. Karena jatuh di sawah itu bagian dari keseruan main kucing-kucingan.

Sekarang, setiap kali melihat sawah atau dekat sawah, seolah ada layar tancap tembus pandang di depan mata, menayangkan memori penuh keseruan masa kecil. Jadi untuk mengenangnya, saya menyusurinya, mencium khas aroma sawah, menyentuh sisa-sisa embun pagi dan merasa-rasa, betapa bahagi itu begitu sederhana sewaktu kecil.

Selamat main-main di sawah!

 

 

20171001_075921

Masih terpesona dengan hasil kamera Samsung S8. Hahhaha. Norak!

20171001_083852

Tanaman ayam-ayaman salah satu makanan kesukaan burung pipit. Di sini juga biasa dililitkan getah khusus untuk menjebak burung.

20171001_084818

Tanaman di pematang sawah.

20171001_083412

Tanaman di pematang sawah.

20171001_083435

Tanaman babandotan. Berguna untuk menyembuhkan luka dan menghentikan pendarahan karena luka.

20171001_083440

Tanaman di pematang sawah.

20171001_083502

Tanaman di pematang sawah.

“sonofmountmalang”

Note: Semua foto diambil menggunakan Samsung S8 yang belum saya tulis juga, pengganti Galaxy K Zoom yang selama ini mendukung urusan blogging saya. Sedaaappp!

 

Jogja sebagai kota klathak gurih nyoynyoy – klathak mak adi

20171001_233735

Barisan kerasukan manusia. Tulang-tulang kambing yang kedinginan.

Jogja dijenguk malam. Udara menembus hembus. Setengah dingin. Jalanan mulai kosong. Kehidupan berpusat di Jalan Malioboro dan sekitarannya. Bulan malas di balik tipis awan. Sesayupan pesawat merobek keperawanan awan di malam pekat. Tiada hujan malam ini. Itulah syarat terbaik untuk menyusuri jalanan Jogja. Sekedar mencari sepenggal daging merah ditusuk jari-jari sepeda. Lantas dibakar di atas nyala-nyala bara. Sampai meregangkan aroma sedap ke semesta malam. Nyaring kodok di sawah sisa hujan genangan semalam. Bersahutan demi menyampaikan rasa kasmaran. Harap satu kekasih tertipu. Bercinta hingga membanjiri sawah.

20171001_234015

Warna daging kambing enam bulan. 

Sementara itu.

Di tengah pikuk hirup kodok, aku tak berhenti melepas pandang. Pada daging-daging menyerocos dibakar bara malam. Pada tulang-tulang korban kelaparan sepotong daging kambing. Tengkorak-tengkorak, pipilan daging-daging melekat di pipi kiri, tulang kepala dan lima panca indera. Semakin mengeruk nafsu manusia. Tergiur juga aroma dan warna kuah seribu rempah. Di dalamnya terdiam belulang daging diresapi bumbu rempah, dengan bara membakar lembut di pantat gentong panci besar. Berminyak, gurih dan panas. Kombinasi sempurna bersama kelam dan riang kodok-kodok di persawahan.

Inilah Jogja di malam temaram, Kota Klathak, julukan untuk mereka, kita dan semua pencinta mati sampai mati para kambing-kambing muda, perjaka dan perawan.

Kita terhenti sejenak di Klathak Mak Adi di Jalan Imogiri Timur. Menikmati tongseng gurih, klathak juicy, nasi panas dan siraman manis-manis teh panas.

Kenyang. Pulang. Terlelap.

Selamat mengelathak!

20171001_234522

Beginilah seharusnya malam Jogja dinikmati. Sederhana namun penuh energi kambing. Mbeeeee!

20171001_233728

Tongseng ini siap membuatmu melayang ke langit ke mana saja.

20171001_233821

Siap pesta kambing!

20171001_234651

Gleks!

20171001_233742

Tak usah takut kehabisan.

20171001_233800

Jangan sampai ada yang tersia-siakan dari bagian apa pun kambing ini.

20171001_234159

Teruslah membakar kambing mak adi:))

20171001_234210

Bayangkan aromanya.

20171001_234636

Menantang untuk dihabiskan semalam.

20171001_234626

Gurih. Panas. Juicy. Siapa coba yang bisa menahan godaan maut begini.

20171001_234719

Mereka konsentrasi makan. Laper pak bu?

 

20171001_234705

Sebuah kehormatan nih bisa makan Sate Klathak bareng Director Iklan paling heits sedunia iklan Indonesia:p. Eugene Panji.

“sonofmountmalang”

Batik Arometarapi Al-Warits pertama satu-satunya di Indonesia dan di dunia!

20170927_091907

Batik tulis Al-Warits menggunakan pewarna alami. Warnanya cenderung soft dan pastel-pastelan.

Kerja! Kerja! Kerja! Sekalian melakukan perjalanan ringan-ringan singkat kali ini sampailah saya di Madura. Selain akan mencoba segala jenis restoran bebek khas Madura, yang salah satunya bebek terkenal di kalangan pencinta bebek, yaitu Bebek Sinjay, saya juga akan meliput seorang pengusaha muda asli Madura.

Indonesia pada umumnya dan Madura pada khususnya memang sangat kaya sekali dengan motif batik. Beda suku di Indonesia, beda motif, corak dan warna. Semuanya tergantung dari budaya di daerah masing-masing di Indonesia. Madura termasuk memiliki motif batik unik. Dengan corak warna mencolok mata, cenderung kuat warna-warnanya dan kalau pemilik batik setempat bilangnya, warna norak. Tapi sekali lagi semua itu karena budaya dan selalu memiliki pangsa pasarnya masing-masing.

Begitu pun batik-batik yang dipajang di salah satu pengusaha muda di Madura, Warisatul Hasanah. Dialah pemilik butik Batik Al-Warits – Batik Aromaterapi. Satu-satunya dan pertama di dunia yang mengenalkan batik aromaterapi. Batik wangi yang bertahan tahunan dengan harga cukup mahal. Bisa mencapai 3 sampai 5 jutaan. Bahkan Mungkin lebih dari lima juta. Woooww banget kan harganya.

20170927_094333

Salah satu batik beraromaterapi. Wangiiiii!

20170927_080854

Koleksi Batik Aromaterapi Al-Warits. Harga mulai tiga jutaan.

20170927_094246

Coraknya menarik ya. Sebagai penyuka batik, saya naksir. Tsahhh!

Warisatul Hasanah merupakan pemilik batik yang lebih terkenal di mancanegara dibandingkan di lokal Indonesia. Bukan karena motif batiknya, tetapi karena jenis batik dengan value added service-nya, yaitu dengan memberikan aromaterapi di salah satu proses pembuatan batik. Sehingga menciptakan batik yang wangi dan bertahan hingga tiga sampai lima tahun. Tergantung pada treatment-nya. Baik saat mencuci atau pun saat melakukan penyimpanan.

20170927_081209

Selain menjual batik, di juga dijual seperangkat perlengkapan perbatikan.

Kalau pun aromanya sudah pudar, Batik Al-Warits memberikan after-sales service. Batik bisa dikirimkan kembali ke Al-Warits, kemudian akan diproses ulang agar wangi kembali. Wangi yang bisa ditemukan di batik ada Melati Kraton, Cempaka, Ylang-Ylang, Kenanga, Tube Rose, Sandal Wood dan aroma lainnya.

Batik Al-Warits – Batik Aromaterapi milik Warisatul Hasanah bahkan sampai ke telingan Obama dan sempat diundang untuk bertemu. Namun nampaknya Warisatul Hasanah lebih sibuk dibandingkan Obama, jadinya dia menolak undangan bertemu orang nomor satu di USA pada jamannya. Hebat lho! Obama mau ketemu aja ditolak:P!

Selain memproses Batik Aromaterapi, di Al-Warits juga menjual dan memproduksi batik khas Madura dan Tanjung Bumi Bangkalan. Batiknya terbagi menjadi dua proses. Ada batik cap, ada juga batik tulis. Nah yang batik tulis pun dibagi menjadi dua. Batik tulis menggunakan pewarna tekstil dan batik tulis menggunakan pewarna alami dari buah-buahan atau pun daun-daunan. Batik tulis alami ini aman sekali karena juga sudah diteliti dan dibuktikan di Amerika. Kereenn kaannn!

Buat kalian pencinta batik dan ingin melengkapi koleksi batik, apalagi dengan batik aroma, bisa kuliner di Madura sambil belanja segudang batik.

20170927_081117

Pengen deh punya batik warna-warni gini buat dipajang di rumah. Ini batik cap.

20170927_092644

Banyak nanya tapi ga beli-beli:)).

 

 

20170927_090127

Saya suka sama warna batik tulis pewarna alami. Gemesin yah.

 

20170927_091517

Yang kiri ini batik tulis pewarna alami dan yang kanan batik tulis menggunakan pewarna tekstil.

20170927_091323

Batik tulis pewarna alami. Kamu pasti cantik secara lembut kalau pakai batik ini deh. Uhuy!

20170927_090053

Kalau cewek ke sini, apalagi penggila batik, dijamin kalap sih.

20170927_080641

Mau semua warna ini jugaaa!

20170927_080451

Beda kan rasanya kalau ke Joga dan ke Madura. Batik Jogja itu soft dan Madura gonjreng!

20170927_081027

Corak dan warna madura memang bikin mata terasa ramai!

 

Jalan Raya Klampis Timur Nomor 9, Bangkalan – Madura.

Office : 031 3097457
HP : Simpati 081233334777 / XL 081805565382 / Simpati 081293402607 Pin BB 2A25B5B1.

20170927_104103

Di sini bisa dibeli juga ramuan KHAS MADURAAAA. Ayo siapa mau cobaaaa!:)

“sonofmountmalang”

 

Mau mendaki Gunung Papandayan? Ini harga baru untuk tiket masuk berwisata alam di Gunung Papandayan 2017!

 

DCIM/101MEDIA/DJI_0284.JPG

Kereennn kaann pemandangan KOTA GARUT dari ketinggian saat pagi hari. Yah, ketutupan awan. Foto dari DRONE DJI SPARK.

Kalau kamu menjelajahi sebuah kota di Indonesia, tidak akan pernah habis terjelajah dalam waktu sebulan. Itu pun kalau kamu traveler lokal. Kalau travelernya ke mancanegara, ya sudahlah yah. Abaikan tempat-tempat wisata lokal. Hap!

Karena kali ini perjalanan singkat sepaket dengan kemping di Papandayan, maka itulah berwisata alamnya pun tidak jauh dari Gunung Papandayan.

Papandayan Camping Ground20820170902_093228

Sekarang, berwisata di Gunung Papandayan sudah jauh lebih bagus dan rapih dibandingkan ketika saya berwisata beberapa tahun lalu, tepatnya Oktober 2012. Artinya sudah hampir lima tahun. Pada jaman itu, jalanan menuju Camp David atau areal parkir di Gunung Papandayan masih hancur. Lobang dan batu-batu besar membuat mobil kerja lebih keras. Itu dulu lho.

 

 

Setelah lima tahun, tepatnya, menurut penjaga, di sekitar 3 bulan lalu, jalanan menuju Gunung Papandayan sudah halus dan karena sudah dikelola oleh pihak swasta. Jadi, jangan heran jika pada tahun 2012 itu saya hanya bayar 5.000/orang dan mobil lupa berapa. Nah, sekarang harga tiket untuk berwisata alam di Gunung Papandayan jauh lebih mahal. Tapi dengan catatan, jalannya sudah bagus, parkirnya pun lebih luas dan lebih bersih. Harga tiket untuk PP alias tidak berkemah itu sekitar 30.000/orang dan jika berkemah menjadi 35.000/orang. Bagi saya, untuk menikmati wisata alam di Gunung Papandayan sih masih murah hitungannya. Toh, dolar sudah naik. Gaji orang juga sudah naik. Fasilitas lebih baik. Khususnya akses sangat mulus untuk dilalui segala jenis kendaraan. Namun tetap saja, ternyata masih banyak yang bilang, “Wah! Sekarang mahal yah tiket ke Gunung Papandayan.” Yah, kapan majunya wisata Indonesia kalau berpikirnya begitu terus. Haissh!

 

 

Lalu, apa serunya Gunung Papandayan? Buat pendaki pemula, Gunung Papandayan sih pas banget. Wong ranger-nya saja bisa bolak-balik mengantarkan wisatawan Camp David – Pondok Salada, Pondok Salada – Camp David. Trek paling manusiawi dan gampang dilalui. Saking gampangnya, sampai-sampai saya kali ini tidak naik ke Pondok Salada pun. Lho gimana sih? Maklmulah secara membawa dua anak kota yang nggak bisa kalau naek sedikit dan ketemu trek batu, bisa teriak-teriak mereka minta naik gojek.

20170902_093053

Geng kempingan di Papandayan Camping Ground.

Papandayan Camping Ground230

Setan melayan di jalanan Gunung Papandayan.

Papandayan Camping Ground210

Cheerrsss! Jangan lupa untuk senantiasa narsis di alam bebas.

Papandayan Camping Ground216

Lets go hiking! Virgillyan Ranting Areythuza.

Jadi, kali ini cukup sampai menara pandang saja. Berhubung juga sudah siang karena bangun kesiangan pun di tempat kemping. Padahal sayang banget sih, sudah bayar 30.000/orang dan tidak naik sampai ke hutan mati atau pun kawah utama Gunung Papandayan. Lumayan kan untuk stock foto atau video. Sekalian bahan vlogger atau pun blogger. Apalagi teman saya kali ini seorang vlogger paling canggih se-Cipete Raya dan sekitarnya, yang kalau me-review makanan saja menggunakan Drone DJI SPARK. Selfie pun pakai drone. Pokoknya apa-apa pakai drone. Beruntunglah di Gunung Papandayan nggak ada gadis mandi di kali. Bahaya kalau ketemu vlogger satu ini.

DCIM/101MEDIA/DJI_0298.JPG

Wefie kok jauh amat!

Salah satu hasilnya menggunakan Drone DJI SPARK. Gimana? Oke banget kaannn! Bikin ngiler pengen beli yaaa. Hahaha! Ya, sementara sambil mimpi pengen punya drone buat foto-foto dan video makin ciamik, yuklah kita berwisata alam di Indonesia dulu kelarin. Sambil memupuk uang, kita naik ke Everest yaaaa! Tsahhh!

Papandayan Camping Ground227

Gerbang menuju Gunung Papandayan sudah nampak bagus yah.

Papandayan Camping Ground223

Menara Pandang untuk bisa melihat pemandangan 360 derajat.

Papandayan Camping Ground208

Itu kawah Gunung Papandayan sih deket banget kalo jalan.

Papandayan Camping Ground206

Apakah kalian masih kuat gembol gembol tas buat naik gunung?

20170902_100946

Ini yang namanya turun gunung.

20170902_100543_Richtone(HDR)

Jaman dulu, di sungai ini, banyak gadis desa mandi.Ngarep kan loooo!

20170902_095938

Spot kemping di sini juga enak. Beli tanah aja di sini yuk! Kalau ini sih pakai Samsung Galaxy K Zoom. Salah satu smartphone yang kameranya keren super najis.

Papandayan Camping Ground146

Selamat pagi KOTA GARUTTTT!

Papandayan Camping Ground141

Pagi cerah. Nah, kalau ini pakai Canon 550 dan lensa Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5. Buat yang doyan mainan landscape dan harga nggak begitu bikin napas megap-megap.

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

 

 

Kemping murah meriah bersama legenda Ranca Upas – Ciwidey. Yuk! Ceh harganya.

RancaUpas0124

Spot di Ranca Upas paling ujung, paling jauh dan paling dekat dengan hutan dan lumayan paling jauh ke toilet juga sih. Tapi spot ini paling jauh dari keramaian.

Ada dua legenda yang diracik atas nama RANCA UPAS. Pertama, Ranca Upas berasal dari kata Ranca dan Upas. Ranca artinya rawa. Upas artinya pohon jenis Upas dari keluarga moraceae, yang dulunya, konon, di rawa ini banyak ditemukan Pohon Upas. Salah satu pohon beracun yang biasa digunakan untuk berburu di hutan, dengan mengoleskan racun ke ujung panah atau tombak. Nama Ranca Upas diberikan sesuai dengan kebiasaan ORANG SUNDA sih tepatnya, yang katanya, memberikan nama untuk suatu wilayah diidentikkan sesuai ciri-cirinya, kejadian atau kebiasaan. Alasannya sederhana, supaya mudah diingat. Yas, masuk akal sih.

 

Legenda kedua, menurut saya, ini paling menarik dari nama Ranca Upas. Kenapa? Karena legenda bisa lebih melegenda ceritanya. Jadi, katanya, dulu di daerah ini ada seorang tokoh perhutani orang WALANA. Pasti tahulah yah sejarah Lembang atau Ciwidey dan tempat-tempat gunung teh yang sarat dengan kompeni, di mana mereka memaksa penduduk lokal untuk menanam cengkeh, teh dan kopi. Nah, Si Upas ini menjelajah ranca, eh dia mati di ranca, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan.

RancaUpas0076

Pagi berkabut paling benar itu TEH PANAS atau KOPI PANAS!

 

Dari situlah muncul mitos, katanya, sebenarnya Si Upas ini masih suka ditemui oleh beberapa pencari kayu bakar. Jadilah mitos Ranca Upas sekaligus namanya menjadi nama wilayah Ranca Upas yang terus diceritakan dari jaman ke jaman. Sama lah halnya dengan mitos Tangkuban Perahu kan. Ya keles ada orang nendang perahu, kemudian perahunya kebalik dan jadi gunung. Heloowww! Tapi, itulah legenda. Sah-sah saja dikreasikan. Mungkin, kalau saya hidup di jaman legenda-legenda, saya palingan doyan MENGARANG SEGALA JENIS LEGENDA.

 

Terlepas dari serunya legenda tentang Ranca Upas, berkat namanya yang unik dan kebaikan bapak-bapak dari Perhutani yang sudah membuka Ranca Upas, kini siapa pun akhirnya bisa merasakan KEMPING MURAH di tempat dingin berkabut dan bebas menentukan spot kemping sesuka hati. Mau di bawah pohon-pohon Rasamala. Mau di samping danau kecil. Mau di dekat hutan. Mau di dekat parkiran. Mau di dekat toilet. Mau jauh dari toilet. Mau parkir mobil kemudian membuka tenda di belakang mobil. Bisaaa! Terserah kamu maunya kemping di spot mana. Tergantung mau jalan jauh bawa perlengkapan kemping kemudian terhindar dari keramaian atau selemparan kutang pink dari mobil sudah bisa kemping, namun kok terasa bukan kemping ya kalo masih bisa melihat deretan mobil parkir. Ehhh, terserah yang kemping donk. Suka-suka lah sih!

IMG_9758

Kampung Cai Ranca Upas. Lets goh!

RancaUpas0061

Cukup lumayan kan dinginnya kalau sore mulai berkabut.

RancaUpas0064

Menikmati kabut di sini sambil pelukan saja kalau ada pasangan. Kalau tidak, ya peluk pohon yang jomblo pun tak masalah. Yang penting hangat.

RancaUpas0123

Selain bisa mendirikan tenda di atas tanah, kalian juga bisa mendirikan tenda di atas semen. Ya, siapin kasur aja.

RancaUpas0109

Toilet sudah tidak berfungsi di spot paling ujung. Kalau cuma pipis ya bawa botol minum aja yah.

RancaUpas0062

Jalan setapak menuju spot paling ujung. Bisa dilalui motor kalau kalian mau minta tolong pengurus Ranca Upas untuk dibawakan alat-alat kemping ke spot paling ujung ini.

Lantas, apa yang wajib disiapkan untuk kemping di Ranca Upas?

  1. Bawa tenda dan perlengkapan kemping
  2. Tidak usah bawa tenda karena di Ranca Upas disewakan tenda segala ukuran dan tidak usah takut kehabisan, karena setiap warung menyewakan tenda dan perlengkapannya
  3. Bawa makanan dan sejenisnya untuk dimasak
  4. Tidak usah bawa juga nggak apa-apa, wong warungnya buka 24 jam
  5. Untuk menghangatkan badan di api unggun juga cukup membeli sebuntal kayu bakar seharga 15.000. Dua atau tiga buntal kayu bakar cukuplah sampai pagi kalau mau nongkrong terus di depan api unggun
  6. Bawa uang untuk beli-beli dan bayar tiket susulan, misalnya ngasih makan rusa atau main air di kolam. Nggak ngasih makan sama main air juga nggak apa-apa. Itu nggak penting-penting amat buat kehidupan kemping, kecuali mau narsis kalau loe udah pernah ngasih makan rusa dan foto bareng rusa di Ranca Upas. Alay!:))
  7. Kalau mau kemping lebih hemat lagi, bawa semua perlengkapan dan tinggal beli kayu bakarnya saja.
  8. Hindari ke toilet pada jam-jam genting. Kecuali mau nahan pipis atau nahan kebelet beol sampe lobang pantat melintir.
  9. Kalau mau berangkat kemping untuk personal atau keluarga, kayanya tidak perlu bertanya ke contact person-nya Ranca Upas, selain jawabnya lama, juga nggak begitu pentinglah. Kecuali untuk corporate atau komunitas dengan jumlah peserta ratusan yah. Nah baru deh koordinasi dengan pengurus Ranca Upas.
  10. Jangan terlalu berharap begimana mungkin ya, misalnya membandingkan Ranca Upas dengan Tanakita atau Legok Kondang atau camping ground milik swasta lainnya. Ini punya pemerintah/perhutani, jadi enjoy sajalah, sodara-sodara!
    RancaUpas0072

    Spot kemping di dekat penangkaran rusa. Di sini lumayan di tengah. Tidak ramai, juga ke toilet masih bisa dijangkau dengan jarak sekitar 300 meteran.

    RancaUpas0003

    Pemandangan langsung hutan. Sambil tiduran, ngemil dan membaca buku sudah bahagia.

    RancaUpas0068

    Jangan terlalu siang membongkar tenda. Kecuali hujan, lanjutkan saja kempingnya. Kalau terang benderang seperti ini, meskipun masih berkabut, udara di pegunungan cepat sekali panasnya.

    RancaUpas0088

    Siapkan api unggun pagi hari untuk menghangatkan diri.

    RancaUpas0009

    Bersama si bolang, Virgillyan Ranting Areythuza

    RancaUpas0191

    Is that you wolf merupakan bacaan ringan Virgillyan.

    RancaUpas0212

    Nahhh! Kalau bacaan berat ini sih dia cuma acting doank.

    RancaUpas0077

    Semuanya menyambut matahari. Anyway, bercak di kamera karena jarang dipakai itu bikin KZL!

    RancaUpas0059

    Kabut sore di Ranca Upas siap mendinginkan suasana hati kalian semua!

Terakhir tidak usah takut kehabisan spot kemping. Ranca Upas itu luaasssss! Sewaktu saya kemping, itu ada dua komunitas yang kemping. Pertama, komunitas KEMAH KELUARGA memenuhi blok utama, tepatnya di bawah pohon-pohon rindang Rasamala dan dekat pintu gerbang. Kedua, komunitas mobil Escudo. Selebihnya rombongan-rombongan keluarga, rombongan anak kampus, rombongan ABG galau dan rombongan anak SMA dan ya ada juga sih pasangan yang mau bercinta di dinginnya tenda suasana Ranca Upas. Sotoy sih! Eh, tapi juga siapa larang coba! Mau enak-enak kok dilarang.

Selebihnya, jangan berharap ketemu Si Upas!

Dan,

SELAMAT BERKEMPING MURAH MERIAH DI RANCA UPAS, CIWIDEY, BANDUNG – JAWA BARAT.

RancaUpas0228

Berangkaattt!

RancaUpas0005

Buat yang doyan ngopi, jangan lupa membawa seperangkat alat ngopi ke mana pun pergi.

RancaUpas0084

Teko isi teh hangat selalu selama 24 jam.

RancaUpas0010

Tiga hal yang wajib dibawa untuk isi perut dan menghangatkan badan. Kompor gas untuk masak, anglo isi arang yang bisa hangat 24 jam dan api unggun.

RancaUpas0120

Tidak usah takut kehabisan kayu bakar. Stock di 10-an warung masih banyak.

RancaUpas0006

Seperangkat alat masak.

RancaUpas0024

Kebayang kan aroma pisang goreng ditiup angin dingin. Gleks!

RancaUpas0031

Hayuk kita nyemil dan ngeteh!

RancaUpas0055

Masaknya pun yang simple dan cepat. Macam spageti kaya gini lah yah!

RancaUpas0140

Ngopi paling enak di Ciwidey. Manual Brew Aeropress. SIapa mau?

RancaUpas0142

Jangan lupa temannya si pisang goreng.

RancaUpas0056

Bawa jagung, singkong atau ubi untuk dibakar.

RancaUpas0231

Tiket masuk untuk tiga orang dewasa. All in one.

“sonofmountmalang”

 

Apakah Surga Sudah Pindah ke Ujung Kulon?

Screen Shot 2017-08-10 at 12.30.28 PM

Surga di Ujung Kulon?

Kalau kamu mencari surga, tidak usah jauh-jauh untuk ibadah dengan tekun sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Hal yang paling sederhana untuk menikmati surga itu ada di mana, kamu cukup mengetik, “SURGA DI UJUNG KULON,” maka akan keluarlah tulisan orang-orang yang pernah merasakan yang dianggapnya surga, dengan judul atau caption bermacam-macam. Mulai dari, “Surga kecil di Ujung Kulon.” “Surga tersembunyi di Ujung Kulon.” Dan judul-judul yang berbau surga lainnya. Google menyediakannya sampai halaman dua, mungkin juga halamana tiga.

Pertanyaannya, apakah surga yang kita anggap sakral ini, memang ternyata ada di Ujung Kulon? Bukan di lokasi di mana kita kelak sudah mati? Lalu, apakah surga di Ujung Kulon itu akan dirasakan sama seperti surganya alikitab masing-masing agama? Kemudian, apakah di Ujung Kulon ada surga sungguhan? Atau pertanyaannya lebih mendalam. Apakah surga di Ujung Kulon di mana kaum lelaki memang bisa mendapatkan 72 bidadari cantik dan segala kebutuhan lainnya?

IMG_9209

Ini bukan surga di Ujung Kulon. Ini semberut cahaya pagi di pantai di Desa Kertajaya, di depan Honje Ecolodge.

Ya ampuuunnn! Pada serius banget sih bacanya. Tidak ada surga di Ujung Kulon, teman-teman sekalian. Kalau ada judul-judul yang berbau surga di Ujung Kulon, itu surga versi kita semua masing-masing. Toh, pada akhirnya, siapa pun, belum pernah ada yang merasakan, menikmati dan melihat surga seperti yang disebutkan di alkitab – alkitab mana pun. Jadi, siapa pun juga, bebas menerjemahkan surga masing-masing.

Sama halnya dengan surga di Ujung Kulon. Terkadang orang menyebut Surga di Peucang bagi yang ingin menikmati jernihnya air dan pulau liar. Bagi yang suka surfing, surga di Pulau Panaitan. Bagi yang suka petualang ke hutan, surga di hutan belantara Ujung Kulon untuk mendalami kekayaan hayati dan berburu foto Badak.

Bagi saya, Ujung Kulon bukanlah surga tersembunyi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bukan sih. Pula, jaraknya dibanding jalan-jalan ke Pulau Seribu, jaraknya cukup jauh. Tapi, sah-sah saja, siapa pun claim, bahwa Ujung Kulon bisa dijangkau dengan selemparan kolor ijo. Sah-sah saja kok.

Jadi, apa sih poinnya tulisan ini? Sebenarnya sederhana saja sih. Karena beberapa orang bertanya, memangnya di Ujung Kulon ada penginapan sebagus itu?

Karena sudah sampai pada pertanyaan itulah saya menulis kembali ulasan tentang Ujung Kulon, khususnya tempat di mana saya menginap. Soalnya, beberapa postingan saya tentang Ujung Kulon hanya highlight saja. Rupanya sebagian orang membutuhkan informasi pengalaman menginap di Ujung Kulon lebih detail. Ohh, baiklah…!

Ini kali pertama saya ke Ujung Kulon. Seperti pemikiran awal, sebelum memutuskan untuk menginap di suatu tempat, yang harganya cukuplah, saya terpikir untuk menginap di ujungnya Ujung Kulon. Tepatnya di Ujung Kulon Wild. Itu setelah saya tanya-tanya, harga sekitar 350.000/malam + AC dan 250.000/malam + kipas angin. Tempatnya oke sih, tapi kalau untuk membawa anak kecil kaya saya, kayanya akan sedikit rempong. Karena, kemungkinan, melihat dari foto-fotonya, selain keluarga, juga berisi komunitas motor dan kayanya akan ramai.

Jadilah saya memutuskan tempat yang lebih private, santai dan tanpa keriuhrendahan banyak penginap. Pilihan saya jatuh ke HONJE ECOLODGE. Lebih mahal dari Ujung Kulon Wild, tapi melihat foto-fotonya lebih asik. Saya putuskan di Honje Ecolodge. Mengambil paket dua malam. Khusus untuk weekend memang harus dua malam. Harga yang harus dibayar untuk dua malam itu sekitar 3 juta. Sudah termasuk makan sarapan pagi dan makan siang pas kedatangan. Selebihnya, makan siang hari berikutnya dan makan malam hari berikutnya, bayarlah. Masa mau gratis terus.

IMG_8728

Cukup untuk tidur bertiga bersama bocah. Jika ingin bertiga dewasa semua, bisa diminta nambah ekstra bed.

IMG_8734

Morning chit chat di rumah pohon. 

IMG_8857

Menatap hampa lautan. Tsaaah!

IMG_9165

Virgillyan amazed dengan banyaknya serangga terbang di sekitaran lampu.

IMG_9205

Rumah Pohon sungguhan. Kalian bisa gelayutan di pohonnya sih kalau mau.

IMG_8929

Tinggal kasih perosotan sih sebenarnya dari sini langsung ke laut.

IMG_9267

Momen paling nikmat inih!

IMG_9355

Main bersama laut, lapar, makan, ngantuk dan siap molor!

Kira-kira, total yang saya habiskan untuk menikmati RUMAH POHON di HONJE ECOLODGE selama 2 malam tiga hari plus makan itu sekitar 3,5 juta. Ya, okeh kan untuk tempat yang cukup private dan pantai yang tidak begitu ramai.

Kalau kalian membawa gerombolan si berat, santai saja. Di Honje Ecolodge, selain RUMAH POHON, juga ada penginapan yang bisa muat ramai-ramai. Ada Rumah Biru, Rumah Merah dan paling besar itu Rumah Kuning. Namun, jika ingin lebih khidmat berduaan, sebaiknya Rumah Pohon.

Soal makanan, jangan khawatir, saya termasuk rewel kalau makanan. Di Honje Ecolodge, menurut saya, makanannya lumayan enak dan segar. Karena ibu-ibu di Honje memasak sesaat sebelum kalian akan menyantap makanan. Kalau tidak ingin makan siang di Honje juga bisa, keluar saja sampai menemukan restoran. Bakalan PE ER banget pastinya. Saran saya, sudahlah, nikmati saja semua fasilitasnya. Oh ya, satu ya, kalau nanti nanya ada air terjun bagus, kemudian jawabnya ada tapi di hutan. Saran saya jangan ke sana. Itu bukan air terjun yaaa, man temannn! Hhahahah! Kasihan kaki gempor dan hasilnya di bawah ekspektasi. Sampai tadinya mau semangat foto, akhirnya kembali menyarungkan kamera.

Udah lah, yang paling bener banget, main air, snorkeling, banana boat-an, mancing atau main ke Pulau Mangir. Kalau ada waktu, sewa perahu untuk bermain di Pulau Peucang. Sementara malamnya bisa hunting foto MILKY WAY dengan kamera dan lensa yang ampuh untuk menangkap barisan bentangan bintang yang UANYING kerennya! Kasar ah bahasanya.

IMG_8805

Jangan lupa membawa kamera yang lebih proper dari ini yah. Hasilnya pasti lebih keren bisa mendapatkan Milky Way di Ujung Kulon.

IMG_9168

Langit laut pun penuh bintang!

IMG_9182

Orang Jakarta paling jarang bisa melihat bintang sebanyak ini. Jadi jangan heran kalau mendadak norak.

Selebihnya, nikmati saja liburan sambil tanpa berhenti ngunyah cemilan ringan atau pun berat.

Selamat menemukan SURGA versi kalian masing-masing. Weeee!

“Bagi saya, inilah surga, malaikat kecil, Virgillyan Ranting Areythuza, bocah petualangan, teman baru bertualang!”

IMG_9281IMG_9280IMG_9275IMG_9270IMG_9237IMG_9287IMG_9282IMG_9305IMG_9308IMG_9410IMG_9396IMG_9425IMG_8937

a-2IMG_9446

“sonofmountmalang”