Tag: cafe

6haridiBali (15) Jajan Jalan di Kajane

  Ini masih soal Ubud. Kelamaan jalan-jalan di Ubud, jadinya banyak banget tulisan Ubud ini Ubud itu. Berasa norak jadinya. Hahaha! Tapi saya harus menulis supaya blog ini tidak kosong. Tsahh! Lagi pula, tulisan tentang Ubud akan berakhir di sini. Sorenya, saya akan meninggalkan Ubud untuk menuju Pura […]

6haridiBali (12) Di Anomali Coffee, Malam Melelap

.alam kabir, kini, memintal kalam dari benang kelam menjadi secebir malam .kala itu ubud memeditasikan tubuhnya dari lelah jejak langkah para penjelalah .kontemplasi sunyi pohon dari cacakan matahari sehari, seraya melepaskan zat hidup terhirup .kehingarbingaran sepanjang jalan berganti ideologi seragam sepi .itulah ubud di malam hitam .namun ada […]

Menongkringan di Warung Kopi Kemang

  Kemang sedang menikmati persetubuhannya dengan badai. Jalanan menggenang, angin pontang-panting di daunan pisang sisi makam sebelah bangkai gedung. Pohonan menari hebat. Di bawah bangkai gedung seperesejuta jadi, berlindunglah seorang wanita muda berbaju serba putih. Dia mendekapkan kedua tangan ke tubuhnya sambil menatap derasnya hujan di atas rerumputan […]

Sesorean cinta di Semarang

Sesorean itu. Semarang di jalan Pemuda. Udara di kulit menghangat. Jalanan melenggang bersahabat. Jugalah merangkak matahari di atap bangunan jaman Belanda. Mendesak penciuman kopi mengharum dari pintu sebuah café. Sesorean itu, terkatung rasaku, antara ingin menyusuri sepanjang jalan Pemuda atau di balik kaca berpendingin saja aku mendekam. Ditemani […]

secangkir jurnal pahitnya hidup

 Putus cinta itu pahit. Cinta ditolak itu pahit. Cinta digantung juga pahit. Cinta yang bertepuk sebelah tangan pun sama pahitnya. Ditinggal pacar kawin lari dengan pria lain lebih pahit. Diselingkuhi itu pahit. Diduakan juga pahit. Terkena PHK itu pahit. Diabaikan pun pahit. Didiamkan, dikucilkan, dibuang, ditelantarkan, ditinggalkan, diceraikan […]

meredam gemang di congo

café adalah, keintiman dalam secangkir kopi, selarik syair, konstruksi ide-ide roman dan rasa-rasa manis tersaji di atas meja diiringi celatukan tentang kama, keeksistensian, gairah yang membancuh, tepian mata yang meruap tertelan petang. café adalah, di mana seluruh kefanaan tersuguh bersamaan senapas aku, dia, mereka dan rebas-rebas yang menyulangkan […]

bernapas di coffee breath

Saya bernapas karena kopi, atau karena kopi saya jadi bernapas? Ada yang tahu? Atau mungkin keduanya saling bertautan? Tidak tahulah saya soal filosofi ini. Lebih baik tidak perlu mengartikan apa pun tentang kopi, selain menghirup wanginya hingga ke saraf otak, mencicip pahitnya hingga menusuk ke langit-langit mulut dan […]

Sekotak Imaginasi di Rendezvousdoux

Jika saya ke Ubud, saya akan menyinggahi satu per satu tempat nongkrong sambil bersantai menikmati secangkiran kopi Kintamani di waktu merangkak selamban siput pesakitan. Saya berhenti di depan  Rendezvousdoux. Ini tempat istirahat dengan bacaan buku yang banyak. Memanjakan jiwa raga dengan merebahkan tubuh di sofa, membaca dan tentu […]