Mabok ngopi di Ujung Kulon

IMG_9150

Karena tidak ada bir di Ujung Kulon, selain haram, juga dilarang dan tidak dijual. Jadi manual brew coffee is a must!

“I Love You For Sentimental Reasons” Nat King Cole itu soundtrack yang pas untuk menelan jingga di secangkir kopi hitam bersama lenguhan-lenguhan ombak, bisikan-bisikan daun dibelai angin darat, di Ujung Kulon di mana kita semua bisa melarungkan ke-stress-an. Lupakan deadline, lupakan brainstorm, lupakan keynote, lupakan rasional creative dan jangan lupakan gajihan tapi yah.

Berhubung di Ujung Kulon tidak dijual bir, jadi disarankan membawa bir sendiri dari Jakarta, dan atau seperti saya, membawa seperangkat alat ngopi dan mem-brew sendiri demi menikmati senja jingga tidak membara di balkon rumah pohon. Ah! Asik sekali, bukan?

Ingin sesekali mencoba? Bisa banget. Hanya selemparan kutang dari Jakarta – Ujung Kulon. Jalannya pun hanya ada dua belokan. Belok kiri dan belok kanan. Ya, paling ada tanjakan dan turunan, tapi itu pun tidak akan terasa. Karena tujuannya mulia, yaitu menghiburkan diri di tempat sepi. Ya, anggap aja semacam tempat untuk berkontemplasi sambil memikirkan harus dibayar dengan apa menginap dua malam di Rumah Pohon ini.

Lupakanlah bayarnya pakai apa. Urusan belakangan. Sekarang, yang terpenting adalah, kita bisa duduk di balkon, santai, ngopi sembari diselingi ngobrol-ngobrol impian, bahwa kelak, suatu masa, ketika langit menjatuhkan emas dua ton di depan rumah, maka kita akan bangun rumah pohon di sisi pantai. Amin!

Jadi, gimana? Akan menikmati kopi di mana weekend ini dan akan kamu beri soundtrack apa weekend-mu?

Teruslah liburan meskipun kere habis-habisan!

IMG_9330

Virgillyan Ranting Areythuza, menikmati secangkir kopi penuh khidmat.nter a caption

IMG_9144

KOPI SENJA untuk kamu yang sakau KOPI.

IMG_9250

NGOPI bersama LAUT.

IMG_9297

Keringat kopi di siang hari. Siapa yang tidak tahan godaannya.

IMG_9314

Hidup tanpa kopi itu kaya pacaran sama pohon.

IMG_9318

IMG_9320

Di Honje Ecolodge tersedia kulkas, jadi kamu bisa bikin es untuk membuat ICE KOPI MOKAPOT!

“sonofmountmalang”

 

Advertisements

Piknik jiwa di Ujung Kulon

IMG_8739

BEST VIEW dari balkon rumah pohon HONJE ECOLODGE.

Nenek lo Ujung Kulon! Sampai juga di Ujung Kulon. Bukan untuk bertemu nenek. Karena nenek saya bukan dari Ujung Kulon. Melainkan bertemu semerbak aroma laut tenang bersama ombak-ombak santai, pasir-pasir berbaring menikmati siraman rohani dari laut sembari dipanaskan teriknya matahari yang memaksa keluar dari lingkaran awan.

Kedatangan saya disambut meriah. Ah, jadi malu. Rasanya seperti artis papan penggilesan. Senyum ramah pengurus penginapan, cuitan burung di pohon-pohon rindang dan tentu saja ajakan laut untuk segera menyatukan tubuh bersamanya. Untuk basah bersama. Lets goh!

Inilah, setitik, sempilan, serpihan sebagian dari segugusan pantai di Ujung Kulon. Sebuah teluk mini di Desa Kertajaya, tepat di depan penginapan Honje, saya bisa menikmati sejenak meditasi hati di atas pohon dari keriuhkeruhan suasana Jakarta dan kota-kota penuh serapah. Di sini, tepatnya, saya bisa membersihkan pikiran dan kembali bercengkerama dengan kesederhanamewahan semesta raya. Haishhh!

Terbayang, ‘kan? Betapa selama itulah rindunya saya, juga mungkin tujuh juta umat lainnya, untuk bisa menikmati piknik pikiran ini.

Gimana? Mau bergerak  ke ujung barat pulau jawa dan menikmati heningnya penginapan. Oh, tenang! Tidak usah takut ramai. Penginapannya hanya ada empat vila dan pengunjung pantai juga hanya penginap saja. Jadinya tidak secendol yang siapa pun bayangkan. Terasa memiliki pantai pribadi. Asal, jangan bugil ya, nanti diarak keliling desa.

Lalu, apa yang bisa dilakukan di Ujung Kulon? Khususnya di Honje. Banyak hal. Bisa menyeberang ke Pulau Mangir dan snorkeling, berenang, memancing atau menyeberang ke Pulau Peucang dan snorkeling, berenang, memancing. Bisa juga seperti saya, hanya duduk di balkon Rumah Pohon, turun ke pantai. Berenang, lapar, makan, haus, minum, makan, santai dan diulang sampai lupa harus kembali ke Jakarta. Hahaha!

Oh, tenang, masih ada keseruan lainnya yang mungkin ingin banyak orang lihat, tanpa harus menguras tenaga untuk mencapainya. Karena juga, tujuan ke sini hanya satu, LEYEH-LEYEH! Buat apa cape-cape yah:p

IMG_8729

Pojokan santai untuk ngemil di  rumah pohon.

IMG_8730

Sensasi tidur di atas pohon.

IMG_8732

Coba ditambah ayunan di sini yah.

IMG_8745

Senja yang kental.

IMG_8747

Untuk kalian yang berduaan, ini tempat yang asiklah sih. Cobain sensasi di rumah pohon goyang-goyang. Eaaa!

IMG_8748IMG_8749

IMG_8846

Bobo yuk!

 

IMG_8849

Pagi pagi buka jendela dan menghirup aroma laut pagi.

IMG_8864

Virgillyan Ranting Areythuza menikmati laut Ujung Kulon.

IMG_8946

Semakin ingin ke sini kan?

IMG_9127

Senjanya kurang sempurna, tapi cukup menyempurnakan wikenmu.

IMG_9128

Oh ya, jangan lupa bawa hammock yaaa!

IMG_9224

 

“sonofmountmalang”

 

Kota Seribu Curug

gunung-bunder100

Ya astagaaaa! Hampir lima tahun saya tidak nulis blog. Maafkan saya ya BLOOGG! Bukan niat saya menganggurkanmuuu, tapi aku sibuuuk bangett nyari uang buat membeli satu pulau di KEPULAUAN KARIBIAN! Hah!

Nah, demi menebus ketidak-blog-an saya selama bertahun-tahun, saya posting dengan tema “KOTA SERIBU CURUG!”

Kota apalagi kalau bukan Kota Hujan. Entah siapa yang sesuka-sukanya menjuluki Kota Hujan dengan Kota Seribu Curug. Namun setuju atau tidak, ya sudahlah terima saja dan coba iseng-iseng ke beberapa hutan di sekitaran Bogor. Dan anyway, Bogor itu luaaassss banget. Kalian keliling Bogor sebogor-bogornya tidak akan habis sebulan. Tidak percaya, coba saja.

Saya hanya iseng jalan santai ke Gunung Bunder dan beneran ya banyak banget curugnya, yang meskipun sebenarya di mana ada perbukitan dan sungai mengalir maka di situlah akan ada curug demi curug.

Ah, daripada banyak omong, cobalah kalian iseng ke Gunung Bunder – Taman Nasioan Gunung Salak Halimun, di mana kalian bisa mandi dari satu curug ke curug lainnya dan tentu bisa kemping!

Silakan! Ayo kita ngeblog lagiii!

 

gunung-bunder142gunung-bunder131gunung-bunder120gunung-bunder112gunung-bunder109gunung-bunder107gunung-bunder106gunung-bunder99gunung-bunder89gunung-bunder84gunung-bunder77gunung-bunder61gunung-bunder56gunung-bunder53gunung-bunder49gunung-bunder46gunung-bunder45gunung-bunder38gunung-bunder35

“sonofmountmalang”

Foto Dongeng; Mancing Ikan di Sungai

20160625_105657

Salah satu hiburan anak kampung. 

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendongeng sebelum tidur soal memancing di sungai. Menggunakan joran super sensitif, benang pancing setipis helai rambut dan kail ukuran paling kecil. Ikan yang didapat pun ikan kecil-kecil. Paling besar ikan lele, mujair atau gabus. Sisanya ikan-ikan kecil yang ada di sungai.

Kenapa jorannya harus kecil dan super sensitif? Karena ikan-ikan yang nyangkut ke kail pun kecil, jadi getarannya sangat halus. Kalau jorannya besar, susah sekali perasaan untuk merasa-rasakan ada getaran.

Nah, ini waktu saya ke kaki Gunung Malang dan kebetulan anak-anak di sana masih hobi memancing.

20160625_110757

Siapa bilang di kali segede gini nggak ada ikannya:P

20160625_124429

Nah, ini LASUN nih si pemakan ayam. Larinya cepat dan nggak bisa ditangkap kamera pun.

20160625_111147

Dapat juga tuh ikannya. Ikan mini. Lebih kecil dari kelingking anak-anak itu sendiri.

20160625_111006

Yang kecil cukup nonton ajah yah!

20160625_110825

Banyak spot untuk memancing. Kuncinya satu: SABARRRR!

“sonofmountmalang”

imajinasi; sibuk bertani

IMG_6766

Pertanian di kaki Gede – Pangrango, Cibodas.

Lama tidak blogging. Saya sibuk bertani. Sibuk menanam padi. Sibuk menanam brokoli. Sibuk menanam berbagai jenis sayuran, buah-buahan dan mengurusin puluhan hektar tanah di perbukitan di kaki Gunung Gede – Pangrango. Saya sibuk bangun pagi, pergi ke ladang, mengurus tanaman dari hektar ke hektar. Sibuk duduk di depan saung sambil menikmati senja dan suara keciak sore. Sibuk panen dan sibuk menjualnya ke pasar. Saya sibuk bermain di air sungai, memancing di sungai dan sibuk menikmati bisingnya sungai serta suara-suara di kaki hutan. Sampai-sampai, segala kesibukan itu membuat saya lupa dunia maya dan lupa bagaimana caranya menulis di blog atau pun bersosial media. Karena, bersosial dengan alam jauh lebih menyenangkan, ternyata ya.

Sekian, khayalan kali ini. Ayo, kita ngayal lagi.

IMG_6765

Sungai jernih berair dingin, mengalir dari hutan Gede – Pangrango melintasi pertanian.

IMG_6762

Pengen punya rumah di sisi sungai ini.

“sonofmountmalang”

samsung project (41) ngegelinding ajah!

20160506_072402_Richtone(HDR)

Mau ke mana liburan panjang kali ini?

Banyak sekali jawabannya. Ada yang mau ke Bali. Ada yang mau ke Jogja, Semarang, Surabaya, Garut, Bandung, Bogor, Carita, Anyer, naek gunung dan segala jenis liburan lainnya, yang sudah fix lokasi dan penginapan serta tujuannya.

Kalau saya? Jawabannya, nggak tahu. Lihat mood besok saja, gimana maunya.

Tahunya, mood subuh buta membilang kalau saya harus segera memanaskan kendaraan dan biarkan roda menggelinding ke mana maunya.

Benar saja, roda menggelinding dari  Jakarta – Sukabumi – Cianjur – Padalarang – Bandung – Padalarang – Cianjur – Jakarta PP! Hasilnya, banyak berhenti, karena kebetulan jalan sendirian dan saking asiknya menikmati perjalanan nggak puguh, sampai malas memotret pakai DSLR segala. Alhasil, pakai Galaxy K Zoom. Simpel dan cepat.

Tapi, memang benar ya. Jalan-jalan, tanpa dibebani harus memotret itu, memang, jauh lebih menikmati. Kebayang kan, menikmati udara dingin saja, menikmati pemandangan yang membikin sejuk saja, itu sudah merasakan liburan paling menyenangkan. Tanpa harus juga dibebani posting atau check in di sosmed di setiap pengkolan berhenti. Cukup memarkir kendaraan. Keluar dan menikmati sampai kenyang. Melanjutkan perjalanan lagi sampai tidak tahu tujuannya apa. Aneh sih, tetapi itu nikmat sekali.

Coba, siapa yang pernah mencobanya?

20160506_064541

20160506_060154

20160506_07381220160506_07361720160506_072535_Richtone(HDR)20160506_072330_Richtone(HDR)20160506_072157_Richtone(HDR)20160506_07185320160506_06323120160506_06133920160506_055200

“sonofmountmalang”

Surat Cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (6)

20160326_125505-2

26.03.2016

Dear,

 Ranting….

 Selamat ULANG TAHUN!

*sorry ya baru nulis surat, sibuk pitching:))!*

Jika saja waktu bisa diputar ulang, aku ingin sekali lagi, merasakanmu belajar guling-guling, belajar merangkak dan belajar tertatih-tatih di antara meja-meja serta kursi. Tetapi ya Ting, waktu kan terus bergerak mengikuti poros semesta apa pun yang terjadi di galaksi ini, jadi aku tetap harus melihatmu terus bergerak dari usia dua detik, dua menit, dua jam, dua minggu, dua bulan dan seketika sudah dua tahun.

Dua tahun, Ting! Dua tahun! Kalau pacaran itu sudah berada di titik jenuh, atau jelang serius bicara nikah atau bubaran. Sementara, bersamamu ya, Ting, dua tahun hanyalah TITIK NOL, titik di mana semuanya hanyalah permulaan. Permulaan untuk segala hal. Saking permulaannya, kadang, aku butuh waktu untuk menerjemahkan keinginan dari bahasa absurdmu. Bahasa paling susah yang bisa aku duga-duga terjemahkan menjadi sebuah makna. Kadang salah memaknai, kadang pas, kadang jauh banget dari makna yang ingin kamu sampaikan dan kadang butuh mikir, well sorry ya mas bro. Akan ada saatnya ketika kita bisa saling bicara juga, bisa saling diam. Banyak hal alasannya, aku pernah menjadi anak dari seorang bapak dan tidak selamanya hubungan seperti sepasang ABG jatuh cinta di minggu pertama. Tapi kita nggak akan seperti itu kan ya, Ting. Ya ya ya! Janji ya! Aku janji deh ya.

Ngomong-ngomong, dua tahun sudah bisa apa ya, Ting? Banyak banget ya. Sudah tidak bisa dihitung. Tenang, masih banyak keseruan yang akan kita lakukan, karena kita harus terus bergerak menyelaraskan seiring jalannya waktu dan gerak galaksi.

Dua tahun, untuku dan untukmu, hanyalah sebagian permulaan dari sekian permulaan.

Selamat ulang tahun, ke dua, Virgillyan Ranting Areythuza! I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK!

20160403_111653-2

Jadilah PENJELAJAH!

“Raka, Sahabatmu!”

samsung project (40) siapa yang suka senja?

20160217_182705

Panorama ala ala K Zoom.

Coba.

Siapa yang tidak suka senja. Bahkan Seno Aji Gumira saja menulis cerpen maha gaib, “Sepotong Senja untuk Pacarku” Bahkan penyair jaman jebot hingga penyair karbitan jaman kekinian, pun doyan memuja senja. Mengukir kalimat seanjing mungkin, hingga mampu mengalahkan keanjingan senja itu sendiri.

Memangnya, apa yang menarik dari sebatang senja? Kalau saya, padahal saya sudah berkali-kali memotret senja, menuliskan sesuatu tentang senja, dan, kemudian, kali ini, saya memotretnya lagi dan menuliskannya sesuatu lagi. Benar-benar tidak penting tulisan ini yah.

Tapi, kan, selalu ada sudut pandang baru, yang bisa ditulis, tentang keseharian senja. Jika beberapa rentang waktu yang lalu, saya menuliskan senja dari kacamata bola mata seorang wanita, yang memantulkan senja memerah padam. Dan, jika beberapa jedaan waktu di masa silam, saya menuliskan senja yang mencahayai pipi syahdu seorang gadis terduduk di atas batu dekat pohon kelapa ketika daun di atasnya melambai-lambai dan ombak membela-belai.

Kali ini, saya menulis senja dari sudut pandang berbeda. Ngomong-ngomong, masih penting banget ya si senja ini ditulis. Memangnya, apa untungnya menulis soal senja ini. Dibayar juga tidak oleh senja. Ah, tapi, ya sudahlah yah. Hitung-hitung mempromosikan senja.

Kembali ke pertanyaann di atas. Siapa yang suka senja? Kenapa?

Kalau saya, kenapa suka senja? Karena eh karena, senja itu GRATIS!

Sekian.

Lhaaa?!

20160217_181337

Siap-siap dapet senja bagus.

20160217_182450_Richtone(HDR)

Siapkan kameranya.

20160217_182532

Ada bulan segala.

20160217_183021

Sempurna!

“sonofmountmalang”

Note:

Anjing merupakan ungkapan baru untuk sesuatu yang beyond keren! :))

Kabur dari Jakarta; Dari Jakarta Kembali ke Jakarta!

_MG_6039

Mau pesta duren. Jangan lupa abis itu makan sate kambing dan minumnya bir!

Kenapa, ketika berada di tempat baru, kita selalu bilang,

“Enak ya tinggal di sini!”

“Enak ya tinggal di pesisir pantai!”

“Enak ya tinggal di pegunungan!”

“Enak ya tinggal di tempat dingin!”

“Enak ya tinggal di pulau terpencil!”

Apalagi coba. Yang pernah ke Iceland, pasti bilang, “Enak ya tinggal di Iceland!” atau yang pernah ke tempat baru, pasti pernah terbersit kalimat itu.

Seperti kata pepatah dari monyet yang bergelantungan di pohon, sesuatu yang indah atau pun enak itu bisa kita nikmati ketika hanya sesaat saja. Bener juga tuh monyet. Nonton kembang api juga bosen kalau kelamaan. Orgasme juga bosen dan cape kalau kelamaan. Coba saja orgame seharian non stop atau nonton kembang api semalam suntuk. Ledeh deh tuh mata.

Makanya, saya percaya pepatah monyet. Sesuatu yang indah itu memang sewajibnya hanya bersifat sementara, supaya kita selalu merindukan momen itu lagi. Sama halnya juga bepergian ke tempat –tempat baru, sudah selayaknya kita hanya diperkenankan mampir sejenak saja, lalu pergi dan kelak, jika alam semesta mengizinkan, kita akan kembali menikmati pemandangan yang kita rindukan. Entah pantai, entah gunung, entah desa atau pun kota.

Begitu pun kemampiran saya di Lampung. Bersifat sementara. Untuk bisa menikmatinya lagi dengan antusiasme yang sama kelak, kini saya harus merelakannya pergi, segera meninggalkannya. Jika ada waktunya, saya akan kembali.

Jadi, marilah kita pulang ke Jakarta.

Sebelum mampir ke toko oleh oleh YEN YEN, kita makan dulu di rumah makan murah meriah. Makan kenyang berempat cuma bayar 175 ribu!

Pulang ke Jakarta, di sepanjang jalanan, bagi yang doyan durian, bisa berhenti kapan saja, sebab segala ukuran dan harga durian memancing pemangsanya di setiap tenda-tenda durian pinggir kanan kiri jalan.

Doa saya, SEMOGA KETIGA TEMAN SAYA NGGAK TERGODA MAKAN DURIAN!

Namun, semesta berkata lain. Mereka tergoda juga makan durian. Bangke! Alamat bau durian dah. Tapi, beruntung, niat mereka membeli durian untuk dibawa ke Jakarta tidak jadi. Mereka makan di tempat sampai pada keliyengan. Tinggal minum bir aja tuh sama ditutup makan sate kambing.

Tiwaaasss!

Dan benar saja kan, sepanjang perjalanan, setiap kali sendawa, mobil pun dipenuhi BAU NAPAS DURIAN. Hoeeeeeks! Ampun dah ah! Nasib nggak doyan durian ya, disiksa bau durian aja rasanya udah kesel bingits!

Untuk meredam bau napas durian, saya ajak mereka ngopi. Tentu saja ngopi di tempat heits Lampung. Eh, susah ya nyari kedai kopi di Lampung. Datang ke dua tempat yang rekomen dari blogger banget, dua-duanya tutup. Lhaaa!? Gimana ceritanya ini, Lampung sebagai daerah terkenal penghasil kopi Robusta namun jarang banget ada kedai kopi, nggak kaya ke Pematang Siantar atau Aceh yah.

Karena kecewa sudah macet-macetan di Lampung demi menikmati kopi kedai kopi yang ternyata tutup, akhirnya kami memutuskan ambil jalan Trans Sumatra dan melesat menuju Bakauheni.

Mobil melaju dengan kecepatan tak terkira, menyalip truk, menyalip kontainer, menyalip bis, menyalip motor, menyalip penjual duren yang selalu ada lagi dan ada lagi, menyalip rumah, menyalip ratusan pohon, menyalip sepeda, warung dan orang-orang, lobang dihajar, tikungan ngepot, turunan digeber, tanjakkan digas abis-abisan sampai mentok, jalan lurus koprol-koprol dan akhirnya mendarat di kapal juga.

Kapal melaju dari Bakauheni menuju Jakarta. Kita pulang dengan aman, dengan perut kenyang dan pikiran senang.

Dan, ada cerita yang bisa diceritakan di blog dan untuk anak cucu kita kelak.

Sampai ketemu di KABUR DARI JAKARTA berikutnya!

Cau!

 

_MG_6037

Isi bensin di RM Ika. Enak dan murah.

_MG_6033

Ikan apaan ya lupa ini. Kayanya sih baronang ya. Atau kue. Sejenis dua itu.

_MG_6035

Nunggu makanan komplit. Abis itu kita gerak ala Piranha.

_MG_6042

Lanjut pada makan durian. Eeeeewww!

_MG_6045

Nih orang Jepang nih aneh juga ya, dia doyan makan duren.

20160207_182336

Goodnight. Have some rest!

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Kabur dari Jakarta; Menyusu(ri) Pulau Kelagian

 

 

 

_MG_5962

Salah satu spot! Plis, jangan buang sampah sembarangan di pulau, plisss! Yang di dekat sungai juga plissss jangan buang sampaahhh plisssss!

Kelagian, malamnya diguyur hujan, membuat kami khawatir, bangun-bangun di tenda, tendanya sudah berada di tengah lautan alias hanyut terbawa arus ombak. Tapi, ketika ditanyakan ke petugas, petugasnya jawab, “Ombaknya nggak pernah gede. Palingan sebentar lagi surut. Paling jauh sampe di situ,” petugas menunjuk ke batas ombak, yang jaraknya sekitar satu meter dari pintu tenda.

Baiklah!

Benar saja. Paginya tiba, airnya surut, menyisakan sisa-sisa sampah yang terbawa arus gelombang. Kemudian, kami membereskan tenda. Saat yang lain sibuk foto-foto di dermaga sambil ngopi dan nyemil, saya memisahkan diri, mencoba mencari sesuatu yang unik di Pulau Kelagian. Harusnya sih, Pulau Kelagian ini dijelajah sampai ke hutannya, cuma takut juga kalau nggak ada pemandu, tiba-tiba nanti menginjak ranjau dan sejenisnya, mampuslah saya. Dan, harusnya juga, di arah barat pulau ini, setelah dilihat-lihat dari Google Earth sih, di arah barat Pulau Kelagian ini ada spot sepi, pasir putih dan mungkin lebih bersih karena nggak dilewati arus laut yang dilewatin sungai isi sampah.

Namun, berhubung hari memiliki keterbatasan, sementara mobil terkunci belum diapa-apain, perut lapar karena semalam cuma makan Indomie dan siangnya mau jalan-jalan di kota Lampung untuk mencari kedai kopi enak!

Jadinya, saya cuma menyusuri pantai di sebelah kanan dermaga, yang sama sekali nggak ada penghuninya dan nggak ada yang berani main, plus juga di baliknya hanya ada belantara savana.

Saya luntang lantung sendirian. Pantainya lebih landai dari pantai di dekat dermaga. Cuma memang tidak diurus. Sampah dibiarkan berjejalan di perbatasan pasir dan daratan. Sampahnya pun banyak yang bukan sampah alami. Banyak sampah plastik. Sengaja saya tidak foto sih. Saya foto yang bagus-bagusnya saja.

Mungkin di pulau ini butuh tenaga ekstra untuk membersihkan sampah-sampah yang terbawa arus. Mungkin jangan hanya membayar 50 ribu per tenda. Mungkin membayar 200 ribu per tenda untuk uang lebih para pembersih ekstra. Mungkin tidak usah ada warung rombong supaya less sampah di pulaunya juga. Mungkin harus lebih disadarkan lagi bagi semua pengunjung untuk peduli lingkungan.

Mungkin.

Karena saya bawel, mungkin saatnya pulang, meninggalkan Pulau Kelagian yang sedang dibersihkan dari sampah-sampah oleh petugas yang jumlahnya hanya dua.

Semangat!

Selamat tinggal, Pulau Kelagian! See you when i see you!

 

_MG_6009

Bangun pagi, air sudah surut. Papan kayu yang hanyut pun sudah menjadi dari depan tenda. Petugas sudah membersihkan sampahnya dan pengunjung mulai main air. Saya masih kriyep-kriyep!

_MG_5879

Kasihan juga si bapak ini yah. Setiap hari membersihkan sampah di pantai demi pantainya tetap terlihat cantik. Ayo kita kasih uang ke si bapak ini.

_MG_5880

Semangaattttt!

_MG_5896

Sementara foto-foto dulu buat meregangkan otot-otot yang kram karena tidur berempat di satu tenda.

_MG_5921

Pagi aja masih mendung nih yaaaaa.

_MG_5980

Ini lokasi saya jalan-jalan sendirian.

_MG_5928

Asik juga bikin rumah pohon. Tinggal digigit gigit segambreng semu rangrang aja sih.

_MG_5956

Ombaknya pelaaaann banget.

_MG_5964

Naek pohon, nongkrong di sini sampe bosan.

_MG_6017

Bisa juga kemping di sini sih yah. Lebih enak kayanya.

_MG_5927

Kalau jalan ke ujung sana lagi, itu bisa juga, cuma waktunya nggak ada.

_MG_5943

Masih asriiiii bangetttt!

_MG_5975

Saya suka pantainya, cuma nggak suka sisa sampah plastiknya.

_MG_5945

Jalan-jalan setengah jam demi nyari spot foto bagus.

_MG_5930

Melewati pohon-pohon yang melintang di pantai.

_MG_6000

Tembus pandang yah.

_MG_5950

Mau deh dikasih pantai bagian ini. Akan saya urus deh habis-habisan. Ya kelessss!

_MG_6031

Tanpa basa basi lagi, dengan perut lapar, LETS GO BACK to Dermaga Ketapang.

 

Note:

Jangan percaya tukang foot

“sonofmountmalang”